Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pura-Pura Sakit
Keesokan paginya.
Pesan yang dititipkan Arkan benar-benar disampaikan oleh pelayan rumah kepada Kenzie, membuat bocah kecil itu panik. Tanpa pikir panjang, ia buru-buru menghubungi Rania dengan telepon rumah.
"Tante Rania... Daddynya Kenzie sakit. Daddy pengin makan bubur. Tante ke sini, ya?" pintanya dengan nada panik.
Rania mengernyit, menyahut dari seberang telepon, "Jangan panik, sayang. Bilang sama Mbak di rumah, minta tolong buatkan bubur untuk Daddy, ya. Tante nggak bisa ke sana."
Kenzie menggeleng keras meski tentu saja Rania tidak bisa melihatnya. "Nggak mau. Buburnya Mbak nggak enak." ujarnya keras kepala. "Cepetan, Tante! Daddy sakit banget..." kali ini suaranya mulai bergetar, bahkan terdengar isak kecil.
Rania menghela napas. Dasarnya memang nggak tega, apalagi mendengar suara panik Kenzie. Akhirnya, dia pun menyerah.
Di sisi lain, Rania baru saja selesai memasak nasi goreng untuk sarapan Galang dan Zidan. Ia langsung bergegas ke kamarnya, membersihkan diri sekadarnya dan bersiap pergi.
Begitu keluar dari kamar, ia berpapasan dengan Galang dan Zidan yang sudah rapi dengan seragam sekolah masing-masing.
"Tante mau ke mana?" tanya Galang, mengernyit heran. "Kaya orang kerja aja, rapi banget."
"Mulut kamu, Lang. Tante cabein juga nih." senggol Rania, setengah kesal.
"Lah, kok malah ngamuk?" Galang makin bingung.
"Zidan, ayo balik dulu ke rumah kamu. Daddymu sakit. Kenzie baru aja telepon tante." ucap Rania cepat, nada suaranya sedikit panik.
"Daddy sakit?" tanya Zidan datar.
"Iya... cepat ya, Tante tunggu di bawah." kata Rania sambil berlalu turun ke lantai bawah.
Zidan menoleh ke Galang dengan alis terangkat. "Sakit apaan? Tadi pagi masih nelepon gue, minta gue pulang sore ini. Suaranya juga sehat-sehat aja. Emang bisa sakit kilat?"
Galang hanya menghela napas, lalu menggeleng pelan. "Ckckck... Modusya Om Arkan, nggak gentle banget."
"Bokap gue modus lo bilang?" Zidan menoleh sekilas, alisnya terangkat.
"Ya iya lah. Lo pikir sendiri. Bokap lo pasti ngibulin Kenzie biar tante gue datang ke rumah. Cuma Kenzie tuh yang masih bisa diboongin bokap lo." sahut Galang sambil terkekeh.
Zidan menghela napas panjang. "Ckckck... gue bolos aja hari ini. Mau nonton drama bokap gue. Pasti seru." putusnya santai.
"Lah... stres." komentar Galang sambil menepuk jidat sendiri.
"Kacau."
Rania dan Zidan tiba hampir bersamaan di rumah Arkan, Rania dengan mobilnya, sementara Zidan datang menunggangi motor sport kesayangannya.
"Lho, Den Zidan nggak sekolah?" tanya Mbak Sum, pelayan senior rumah itu, dengan tatapan heran.
Zidan tak menjawab pertanyaan itu, malah bertanya balik. "Daddy di mana, Mbok?"
"Di atas, Den. Di kamarnya."
"Kalau Kenzie?" sahut Rania yang baru saja turun dari mobil.
"Di kamar Pak Arkan juga, Non." jawab Mbak Sum sopan.
Tanpa menunggu lebih lama, Zidan dan Rania langsung menuju lantai atas, melewati kamar tamu. Tepat saat itu, pintu kamar terbuka dan Axel keluar dalam keadaan sudah rapi berpakaian kasual. Rupanya dia akan pulang dulu sebelum berangkat ke kantor.
Axel mengernyit, matanya mengikuti langkah Rania dan Zidan yang berjalan cepat.
"Zidan sama siapa itu?" gumamnya pelan,
merasa asing dengan sosok perempuan yang bersama keponakannya. "Bukan body-nya Luna, tuh?"
Rasa penasaran mendorong Axel untuk bertanya. "Mbok, yang barusan sama Zidan itu siapa?"
"Itu, Pak... Non Rania. Tantenya Den Galang." jawab Mbok Sum sopan.
Sementara itu, di kamar utama lantai atas, Kenzie duduk manis di sisi tempat tidur, wajahnya terlihat cemas meskipun tak lepas menatap ayahnya yang tengah tertidur pulas atau lebih tepatnya, pura-pura tidur.
Beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka dan Rania serta Zidan masuk bersamaan.
"Tante Rania!" pekik Kenzie dengan riang. Ia segera turun dari tempat tidur dan berlari kecil menghampiri Rania.
Dengan sigap, Rania membungkuk dan menggendong bocah itu. "Kenapa, sayang? Daddy kamu sakit lagi, ya?"
Kenzie mengangguk polos. "Iya... nggak bangun-bangun, Tante." jawabnya dengan nada sedih.
Zidan memutar bola matanya. "Wah, ini sih parah, Tan. Tante buatin teh sama bubur dulu deh. Biar aku aja yang bangunin Daddy."
"Tapi Tante harus periksa dulu, siapa tahu..."
"Percaya aja. Langsung bubur, Tan. Biar aku yang urus." potong Zidan cepat.
Akhirnya Rania mengangguk. Dia dan Kenzie keluar dari kamar menuju dapur.
Begitu pintu tertutup, Zidan menggeleng pelan sambil menghampiri tempat tidur. "Dad... serius deh, modus Daddy nggak banget." gumamnya.
Arkan langsung mendengus pelan. Kelopak matanya terbuka, menatap Zidan dengan pandangan malas. "Ngapain kamu nggak sekolah?"
"Lho... Daddy kan sakit banget. Masa anakmu tega ninggalin? Nanti Zidan dikutuk jadi anak durhaka." jawab Zidan santai sambil menyengir.
"Sana, sekolah! Ini urusan Daddy. Nggak usah ikut campur!" sungut Arkan.
Zidan menyilangkan tangan di dada. "Sepuluh juta."
Arkan menyipitkan mata. "Apa?"
"Sepuluh juta, dijamin Tante Rania nggak bakal tahu kalau Daddy cuma akting. bisik Zidan, penuh kemenangan.
Arkan mendesah kesal. "Kamu malak Daddy, Zidan?"
"Pilihan, Dad. Mau tante Rania tahu Daddy bohong, atau... damai dengan sepuluh juta? Kalau tante Rania tahu pasti ngambek nanti, Dad."
Arkan menatap anaknya lama. Kesal. Tapi juga... kalah.
"Fine. Daddy transfer. Sekarang pergi. Sekolah."
Zidan menyeringai puas. "Sip. Daddy emang dermawan. Jangan lupa kirim hari ini. Zidan berangkat sekarang."
Setelah Zidan pergi, Arkan menghela napas panjang sambil menatap langit-langit kamar.
"Gue ngapain..." gumamnya heran dengan tingkahnya sendiri.
Rania dan Kenzie bergegas menuju dapur, melewati ruang makan tanpa sempat memperhatikan sekitar. Mereka terlalu terburu-buru, hingga tak sadar ada Axel yang sedang duduk santai di sana.
Axel mengernyit heran melihat dua sosok itu melintas begitu cepat. Ia sempat menoleh ke arah pelayan, tapi ruang makan sedang kosong. Tak ada yang bisa ditanyakan.
Tak lama kemudian, Zidan datang menyusul dan langsung menarik salah satu kursi untuk duduk di dekat Axel.
"Nggak sekolah?" tanya Axel, heran melihat Zidan yang tampak santai padahal jam sudah cukup siang.
"Bolos jam pertama nggak dosa besar, Om." jawab Zidan santai sambil mengambil air putih. "Om nginep, ya?"
Axel mengangguk pelan. "Mana Daddy kamu? Bukannya kamu nginep di rumah teman?"
Zidan menaruh gelas, lalu menjawab dengan nada malas, "Pertama, Daddy di kamar lagi caper sama cewek cantik. Kedua, aku terpaksa pulang karena Daddy alay."
Axel menatapnya dengan bingung. "Maksud kamu apa, Zi?"
Zidan menyandarkan tubuh ke sandaran kursi dan mulai menjelaskan. "Intinya, Daddy lagi caper sama tante sahabatku. Kayaknya naksir berat. Bisa jadi calon mamiku nantinya."
Axel mengernyit. "Serius kamu?"
"Om, ada yang lebih serius dari seorang Arkan pura-pura sakit demi dibuatin bubur sama cewek incarannya?" Zidan menaikkan alis, ekspresinya penuh arti.
Axel terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan, masih tak percaya. "Bapak kamu... Arkan? Serius?"
"Nyatanya gitu." balas Zidan sambil mengangkat bahu cuek. Ia mulai menyantap sarapannya dengan santai, seolah semua itu hal biasa.
"Pagi..." sapa seseorang dari arah ruang dapur, membuat Axel dan Akmal refleks menoleh bersamaan.
Tamu tak diundang itu rupanya Luna, perempuan yang selama ini digadang-gadang oleh Rosa akan menjadi istri Arkan. Dengan pakaian rapi dan dandanan tipis, ia masuk dengan langkah percaya diri, seolah rumah itu sudah menjadi bagiannya.
Axel langsung mengernyit, sementara Zidan hanya melirik sekilas lalu kembali ke sarapannya dengan ekspresi datar.
"Loh, Lun?" gumam Axel pelan, setengah tak percaya.
Luna tersenyum manis. "Eh, ada lu juga, Xel. Gue bawain sarapan kesukaan Arkan, titipan dari tante Rosa. Arkan di mana?" tanyanya santai, seperti biasa.
Axel melirik Zidan sekilas, mencoba membaca reaksi bocah itu tapi Zidan tampak tenang, bahkan cenderung cuek. Ia melanjutkan sarapannya seolah tak ada tamu tak diundang yang muncul.
Sialan. Sekali Arkan berulah, langsung berurusan sama dua perempuan sekaligus. Axel mengusap wajahnya perlahan. Dalam hati, ia mengutuk kelakuan sahabatnya yang satu itu.
Beda dengan Axel yang was-was, Zidan justru terlihat seperti sedang menikmati situasi. Dalam kepalanya, ia berharap Luna akan tahu sendiri bahwa Daddy-nya kini sedang mengejar Rania. Biar perempuan itu berhenti menggatal dan sadar diri.