NovelToon NovelToon
Pesugihan Ratu Ular

Pesugihan Ratu Ular

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-

Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.

Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 7

🍂🍂🍂🍂

Pendar keemasan fajar perlahan menerobos masuk dari sela-sela ukiran kayu jati kamar utama rumah joglo milik Bagas. Pemuda tegap itu perlahan membuka mata, menghela napas panjang sembari mengusap dada kirinya. Di bawah lapisan kulit mulusnya, denyutan hangat dari Pusaka Sisik Emas yang ditanamkan oleh Nyai Ratu terasa begitu nyata—merayapkan gelombang energi luar biasa yang membuat tubuhnya terasa sangat bugar.

Bagas bangkit dari tempat tidur, merapikan beskap harian yang dikenakannya, lalu berjalan menuju selasar depan. Pandangannya menatap hamparan sawah dan kebun jati miliknya yang membentang luas hingga ke kaki perbukitan. Dalam waktu singkat, usaha pertanian dan perkebunannya melesat sangat pesat. Bagas kini bukan lagi buruh miskin yang dipandang sebelah mata, melainkan sosok terpandang, kaya raya, dan paling berpengaruh di Desa Lemah Wungu.

Namun, kekayaan melimpah tidak sedikit pun mengikis sifat luhur Bagas. Ia tetap merangkul teman-teman lamanya—mereka yang dulu sama-sama bernasib miskin sebagai buruh harian—untuk mengelola sawah dan kebunnya dengan pembagian hasil yang sangat adil. Tak ada lagi kata kelaparan di antara warga yang bekerja dengannya.

"Mbah Sastro, terima kasih sudah datang lebih pagi," tutur Bagas ramah saat menyapa salah seorang petani tua yang sedang mengangkut pupuk organik di pelataran joglonya.

Mbah Sastro buru-buru menghentikan langkahnya, membungkuk dalam dengan wajah penuh rasa hormat. "Aduh, Den Bagas... Tidak usah sungkan. Saya yang berterima kasih sekali, karena Den Bagas sudah memberikan pekerjaan dan upah yang lebih dari cukup untuk keluarga saya."

Bagas menepuk pelan bahu pria tua itu sembari tersenyum hangat. "Jangan panggil saya begitu, Mbah. Saya ini tetap Bagas yang dulu, teman seperjuangan Anda di sawah."

"Kamu memang anak muda yang dermawan dan rendah hati, Nak," puji Mbah Sastro tulus sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.

Di sisi lain rumah joglo, kehangatan lain pun terpancar. Mbok Sumi, ibu Bagas yang dulu terbaring lemah membiru di atas balai-balai bambu, kini telah sembuh total tanpa sisa penyakit sedikit pun. Wajahnya yang dulu cekung dan pucat kini berisi, memancarkan binar kebahagiaan seorang ibu yang bangga pada anaknya.

Ibu Bagas dikenal di seluruh penjuru desa sebagai sosok wanita tua yang sangat dermawan. Hampir setiap pagi, Mbok Sumi dibantu beberapa warga memasak hidangan lezat dan menyiapkan bahan makanan segar berupa sayur-mayur hasil kebun sendiri untuk dibagi-bagikan secara gratis kepada warga desa yang membutuhkan.

"Ini ada sayur dan beras untuk dimasak siang nanti, Bu Lastri," tutur Mbok Sumi lembut seraya menyerahkan bungkusan bahan makanan kepada seorang janda tua di gerbang rumahnya.

"Terima kasih banyak, Mbok Sumi... Anda dan Bagas benar-benar berkah untuk desa ini," ujar Bu Lastri dengan mata berkaca-kaca menahan haru.

Mbok Sumi tersenyum manis, memeluk wanita tua itu. "Sama-sama, Bu. Ini rezeki dari Tuhan yang harus dibagi."

Dari kejauhan di pinggir jalan desa, sebuah dokar berukir indah berhenti perlahan. Di dalam dokar tersebut, duduk seorang gadis cantik berparas anggun dengan balutan kebaya katun halus berwarna merah muda. Dia adalah Sekar, putri tunggal dari Pak Kades—kepala desa setempat yang paling dihormati.

Sekar memandangi rumah joglo Bagas dengan binar mata yang tak sanggup menyembunyikan rasa kagum. Dulu, Sekar memang jarang memperhatikan Bagas karena pemuda itu selalu sibuk bekerja keras di lumpur sawah. Namun kini, sosok Bagas yang tegap, tampan berwibawa, serta dibalut kedermawanan yang begitu tulus berhasil mencuri perhatian dan menumbuhkan benih-benih asmara di dalam dada gadis cantik itu.

"Mbak Sekar... Kenapa minta berhenti di sini?" tanya Pak Kusno, kusir dokar yang menyadarkan lamunan Sekar.

Sekar tersentak pelan, pipinya memerah merona. "Eh... tidak apa-apa, Pak Kusno. Cuma... mengamati suasana rumah Mas Bagas saja. Ramai sekali ya, banyak warga yang datang."

"Oh begitu, Nona. Mas Bagas dan Mbok Sumi itu memang orang mulia. Tidak sombong meskipun sudah kaya raya," jawab sang kusir penuh kekaguman.

Sekar memberanikan diri turun dari dokar. Langkah kakinya yang anggun membawa tubuh moleknya mendekati pelataran rumah joglo Bagas. Kedatangan putri kepala desa itu tentu menarik perhatian warga sekitar.

"Selamat pagi, Mbok Sumi..." sapa Sekar manis seraya membungkuk hormat di hadapan ibu Bagas.

Mbok Sumi menoleh, tersenum sumringah melihat kedatangan gadis cantik itu. "Oh, Mbak Sekar... Selamat pagi, Cantik. Ada acara apa kok tumben sekali datang ke sini?"

"Tidak ada apa-apa, Mbok. Sekar cuma mau bersilaturahmi, sekalian mengantarkan kue wajik buatan Ibu untuk Mbok Sumi," jawab Sekar lembut sembari menyerahkan rantang ukir.

Bagas yang baru saja selesai berdiskusi dengan para pekerja sawah di selasar luar, melangkah mendekat saat mendengar suara asing yang merdu. Begitu mata Bagas beradu pandang dengan mata Sekar, suasana mendadak menjadi hening.

"Mas Bagas..." puji Sekar pelan, tersenyum malu-malu seraya menundukkan pandangannya.

"Mbak Sekar... Terima kasih sudah repot-repot mampir dan membawakan kue untuk Ibu," balas Bagas ramah, menyunggingkan senyuman tampan yang seketika membuat dada Sekar berdebar kencang.

"Tidak repot kok, Mas. Sekar justru senang bisa main ke sini. Kebetulan... Sekar sangat mengagumi kebaikan Mas Bagas dan Mbok Sumi dalam membantu warga desa," tutur Sekar dengan nada suara yang jujur dan penuh getaran asmara.

Mbok Sumi yang melihat interaksi dua anak muda itu tersenyum menggoda. "Aduh... cocok banget ya kalau ngobrol. Bagas, ajak Mbak Sekar duduk di selasar dulu, Nak. Ibu mau ke belakang ambilkan minum."

"Eh, tidak usah repot-repot, Mbok—" cegah Sekar enggan menyusahkan.

"Sudah, tidak apa-apa, Mbak Sekar. Mari duduk dulu," potong Bagas sopan seraya mempersilakan Sekar duduk di kursi kayu jati berukir yang ada di selasar rumahnya.

Sekar duduk dengan canggung namun bahagia. Matanya tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah wajah tegas Bagas. "Mas Bagas... sebenarnya sejak dulu Sekar tahu Mas Bagas itu pekerja keras. Tapi Sekar tidak menyangka kalau Mas Bagas bisa sesukses dan sedermawan ini."

Bagas tertawa pelan, suara tawanya terdengar begitu berwibawa di telinga Sekar. "Semua ini bukan karena kehebatan saya, Mbak Sekar. Ini cuma titipan dan rezeki yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh."

"Sifat rendah hati Mas Bagas itu yang bikin... banyak orang makin hormat," bisik Sekar pelan, senyum manisnya makin merekah menatap Bagas.

Namun, di tengah momen hangat percakapan mereka, mendadak udara di sekitar selasar rumah joglo berubah menjadi teramat sangat dingin. Angin sepoi-sepoi yang tadinya sejuk mendadak mati total, berganti dengan hembusan angin aneh yang membawa aroma wangi Bunga Melati yang teramat tajam dan menyengat—aroma khas dari Kerajaan Sendang Manten.

DEG!

Rajah Pusaka Sisik Emas di dada kiri Bagas mendadak berdenyut hebat dan membakar! Rasa panas yang teramat sangat menjalar mendadak menyiksa pembuluh darahnya, seolah-olah kulit dadanya sedang ditusuk oleh ribuan jarum membara.

Bagas meringis pelan, refleks memegangi dada kirinya seraya menahan napas. Wajahnya yang tadinya tenang mendadak pucat dan membasah oleh keringat dingin.

"Mas Bagas? Mas Bagas kenapa?" tanya Sekar panik, menggeser duduknya mendekat dan hendak memegang lengan Bagas. "Wajah Mas Bagas kok mendadak pucat sekali?"

"J-jangan mendekat, Mbak Sekar!" cegah Bagas dengan suara parau dan bergetar.

Saat jemari manis Sekar hampir saja menyentuh kain beskap Bagas, sebuah suara desisan gaib yang teramat nyaring dan penuh kemarahan bergema langsung di dalam kepala Bagas, memekakkan gendang telinganya.

“BERANI-BERANINYA KAMU MEMBIARKAN WANITA MANUSIA ITU MENDEKATIMU, BAGASSSS!”

Bisikan murka dari Nyai Ratu Ular terdengar bagai guntur yang menghantam batinnya. Peringatan keras dan janji terlarang dari peraduan gaib malam Selasa Kliwon mendadak terngiang jelas: Jangan pernah biarkan matamu, hatimu, atau tubuhmu tersentuh oleh wanita manusia mana pun! Jika janji itu kamu langgar, keselamatan ibumu dan wanita itu akan tercabut seketika!

"Mas Bagas... Mas betul-betul tidak apa-apa?" tanya Sekar makin cemas, matanya memancarkan rasa khawatir yang mendalam.

Bagas menarik napas panjang, memaksakan diri membuka mata dan menegakkan tubuhnya kembali. Ia sengaja menggeser duduknya menjauh dari Sekar, memasang wajah yang dingin dan formal untuk memutusi harapan manis gadis itu.

"Saya tidak apa-apa, Mbak Sekar," jawab Bagas dengan nada suara yang mendadak ketus dan berjarak. "Mungkin saya hanya lelah karena pekerjaan sawah. Sebaiknya... Mbak Sekar pulang sekarang. Tidak enak dilihat warga kalau putri Kepala Desa berlama-lama di rumah saya."

Sekar tertegun kaku. Perubahan sikap Bagas yang begitu drastis dan dingin bagai menyiramkan air es ke dalam hatinya yang sedang berbunga-bunga. Raut kekecewaan terpancar jelas di wajah cantiknya.

"A-anu... ya sudah kalau begitu, Mas Bagas," tutur Sekar dengan suara tercekat menahan sedih. Gadis itu berdiri, membungkuk pelan. "Sekar... Sekar pamit pulang dulu. Permisi..."

Langkah kaki Sekar yang gontai meninggalkan selasar rumah joglo diiringi pandangan penuh rasa bersalah dari Bagas. Begitu figur Sekar menghilang di pintu gerbang, rasa panas yang membakar di dada kiri Bagas perlahan-lahan mereda, berganti menjadi hembusan dingin wangi melati yang membelai lehernya dengan posesif.

Bersambung...

1
Yiruma Nitya
Jadi makin penasaran, gimana adegan pas ketemu sama Ratunya
Yiruma Nitya
Aku mampir ya kak, baca pelan pelan semangat buat kknya, ceritanya bagus 👍
Yiruma Nitya: Iya kak mampirin aku juga ya masih belajar, mohon bimbingan dan koreksinya🤭👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!