Blurb!
Tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak? Siap-siap telinga panas mendengar julidan mertua!
Nisa dan Dimas harus bertahan dari teror Bu Ratna, mertua sosialita gengsian yang menghalalkan segala cara absurd, demi menimang cucu. Mulai dari minum jus delima pencahar, hingga tidur di kasur giok penyiksa raga. Sanggupkah Nisa bertahan dibawah tekanan mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
_____🌺
"Nggak usah, Mas. Aku nggak apa-apa kok. Beneran. Mas berangkat kerja aja, cari duit yang banyak. Kan kata Mama, Mas harus banting tulang buat ngerawat manekin pajangan ini." Nisa menarik tangannya pelan dari genggaman Dimas, lalu berdiri merapikan piring kotor.
"Nisa, please. Jangan ngomong gitu."
"Berangkat, Mas," potong Nisa tegas tanpa menoleh lagi.
Dimas menghela napas berat, tahu betul jika Nisa sudah menggunakan nada datar seperti itu, tak ada lagi ruang untuk berdebat. Dengan langkah sangat berat, pria itu mengambil tas kerjanya dan keluar dari rumah.
_____🌺
Kamar Utama Nisa dan Dimas, Pukul 07.30 Pagi.
Nisa masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat. Ia berjalan menuju meja kerjanya, membuka layar laptop. Ada naskah bab novel terbarunya yang harus diselesaikan siang ini. Judul bab yang sedang ia ketik adalah 'Kebahagiaan Keluarga Kecil'.
Tangan Nisa terangkat, menempel di atas keyboard. Namun jari-jarinya tak kunjung menekan satu tombol pun. Tiba-tiba, pandangannya mengabur. Pertahanan yang sedari tadi ia bangun sekuat tenaga di depan suaminya, akhirnya runtuh berantakan.
Air mata menetes deras mengenai punggung tangannya. Bahunya bergetar hebat. Isakan tangis yang sedari tadi ditahan di tenggorokan, kini pecah di dalam kamar yang sepi.
Nisa memukul pelan dadanya sendiri yang terasa sangat nyeri. Kata-kata sang ibu mertua terus berputar-putar di kepalanya. Istri mandul. Egois. Nggak pantas jadi ibu. Barang rongsokan.
"Ya Allah ... apa memang Nisa seegois itu karena nahan Mas Dimas terus di samping Nisa? Apa bener kata Mama, kalau Nisa ini cuma benalu yang nggak ada fungsinya di keluarga ini?" rintih Nisa di sela-sela tangisnya.
Ia menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan semua rasa sakit hati yang selama tujuh tahun ini selalu ia bungkus rapi dengan tawa dan candaan saat membalas kejulidan mertuanya. Namun kali ini, tamparannya terlalu keras hingga menembus jantung pertahanannya.
_____🌺
Di ruang keluarga, Pukul 16.00 Sore.
Sore itu, suasana rumah mewah keluarga Bratadikara terasa sangat aneh. Biasanya, Bu Ratna akan mengomel panjang lebar menyuruh Nisa mengepel lantai depan atau sekadar protes soal teh sorenya yang kurang manis.
Namun sejak keributan di ruang makan pagi tadi, tak terdengar suara melengking wanita paruh baya itu sama sekali.
Ibunda Dimas itu sedang duduk di sofa ruang keluarga, pura-pura fokus menonton acara sinetron di TV. Namun matanya sesekali melirik curi pandang ke arah pintu kamar utama anak dan menantunya di ujung lorong. Sejak pagi tadi, Nisa sama sekali tidak keluar dari kamar. Bahkan makan siang pun menantunya itu tidak turun ke dapur.
Ada sedikit perasaan bersalah yang mengganjal di sudut hati terdalam ibu mertuanya tersebut. Ia sadar, omongannya pagi tadi memang sangat kejam dan melewati batas dari sekadar julid biasa. Ia termakan gengsi dan emosi buta.
Tapi sebagai mertua pemegang kekuasaan tertinggi di rumah itu, pantang baginya untuk mengetuk pintu kamar menantunya duluan dan meminta maaf. Itu sama saja menjatuhkan mahkota di kepalanya.
Suara kenop pintu kamar utama tiba-tiba berbunyi.
Ceklek.
Wanita tua itu buru-buru membuang muka, kembali fokus menatap layar TV seolah acara sinetron azab itu adalah tontonan paling menarik sedunia.
Nisa berjalan keluar dari kamarnya. Wajah wanita muda itu sangat datar. Mata Nisa terlihat bengkak dan sembab, hidungnya pun masih sedikit merah. Namun tak ada ekspresi marah atau sedih di wajahnya. Hanya kosong.
Nisa berjalan menuju dapur, menyalakan kompor, lalu memasak air panas. Ia menyeduh teh hijau di dalam cangkir keramik kesayangan sang mertua, meletakkan dua keping biskuit di atas tatakan kecil, persis seperti rutinitas sore biasanya.
Dengan langkah pelan, Nisa membawa nampan kecil itu ke ruang keluarga. Ia meletakkan secangkir teh itu tepat di atas meja kaca di depan Bu Ratna.
"Tehnya, Ma," ucap Nisa singkat. Sangat singkat. Nada suaranya pun sedingin es balok.
Bu Ratna berdehem pelan, merasa sangat canggung dengan aura dingin yang dipancarkan menantunya. Biasanya, Nisa akan menimpali dengan candaan atau menyindir balik.
"Ehem. Iya. Taruh aja di situ. Kamu udah masak buat makan malam belum? Dimas bentar lagi pulang pasti laper nyari nasi," ucap mertuanya itu mencoba mengetes ombak, sengaja memancing dengan nada agak ketus.
Nisa menatap mata ibu suaminya dengan tatapan kosong yang anehnya justru membuat Bu Ratna langsung merinding.
"Udah Nisa pesenin katering makanan online langganan Mas Dimas, Ma. Udah Nisa bayar lunas dari uang tabungan hasil ngetik novel Nisa sendiri. Jadi Mama tenang aja, uang gaji Mas Dimas bulan ini nggak bakal habis berkurang buat ngasih makan perut Nisa lagi. Nisa permisi masuk kamar dulu."
Tanpa menunggu balasan apa pun, Nisa membalikkan badan dan berjalan kembali menuju kamarnya. Pintu kembali ditutup dengan suara Brak! yang cukup keras.
Bu Ratna mematung kaku di atas sofanya. Cangkir teh yang baru saja akan wanita paruh baya itu ambil, terhenti di udara. Jantungnya tiba-tiba berdesir tak enak. Ia telah salah perhitungan.
Biasanya Nisa akan membalas dengan omongan tajam penuh komedi, tapi kali ini Nisa memilih diam dan membalasnya dengan tindakan dingin yang menusuk langsung ke harga dirinya sebagai orang tua.
Ibu mertua julid itu menelan ludah kasar. Sinetron azab mertua jahat di TV mendadak terasa sedang menyindir dirinya secara live.
"Aduh ... kok perasaanku jadi nggak enak begini ya? Apa omonganku tadi pagi emang kebangetan banget ya?" gumamnya pelan sendirian di ruang keluarga yang kini terasa sangat sepi dan dingin mencekam.
anda sebenarnya sayang ma Nisa Bu ,, cuma julid ma gengsi ny tu looo gede banget same nutupin rasa sayang yg sbenarny besar tu ,,
jgn sampai km menyesal Bu ,, ayooo baikan ,, jgn2 julid2an lgi ,, 😁😁😁😁😁🤭
semoga cepat2 dapet momongan yx Nisa ,, buat nyumpel mulut mertua mu yg gx da rem ny ,,
ad nilai plus ny nih Bu Ratna ,,
hadeh