"Kapan nikah?"
"Udah mau 30 loh."
"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."
Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.
3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.
Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?
Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
"Jen, aku gak salah denger? Barusan kamu..."
Jena mengangguk mantap. "Kita nikah."
Meski sudah pengulangan untuk yang kedua kalinya, Budi tetap saja masih kaget, masih sulit untuk percaya.
“Sabtu depan, datang ke rumah, lamar aku."
Budi masih saja diam. Ini kejutan yang bikin ia lupa nafas dan lupa bicara. Sejenak, suasana di meja mereka seperti membeku.
“Tenang, nanti kalau butuh dana atau apapun, tinggal ngomong sama aku."
"Lamar, Jen?" Ulang Budi.
"Iya!" Jena melotot. "Masa harus aku ulang-ulang sih ngomongnya. Sabtu malam, datang pakai pakaian sopan, bawa buah tangan, dateng ke rumahku. Lamar aku."
Budi berkedip beberapa kali. "Tapi..bukannya orang tua kamu gak setuju sama hubungan kita ya?"
Jena menahan tawa, tapi akhirnya meledak juga. "Hubungan kita? Emang kita punya hubungan?"
"Mak, maksudku hubungan kerja?"
"Aku juga bingung, Papa tiba-tiba nyuruh kamu datang melamar. Aku kok ditantangin, ya ayoklah."
"Terus selanjutnya?" Budi takut ia sudah kejauhan mikir, kalau selanjutnya, ya nikah.
"Ya nikahlah."
"KITA!" Budi setengah teriak, menunjuk dirinya dan Jena bergantian. Beberapa orang disana, menoleh, sampai ia salah tingkah. "Ki, kita nikah, Jen?" Ia memelankan suaranya.
Jena mengangguk.
Budi terdiam beberapa saat. Jemarinya mencubit pahanya sendiri, ingin segera bangun jika ini hanya mimpi. Tapi...
"Kita nikah 3 bulan."
"Hah!"
"Iya, sesuai yang aku katakan tadi. Ya ini kerjaannya, jadi suami kontrak. Selama 3 sampai 5 bulan. Dan perbulannya, kamu dapat bayaran 10 juta. Enakkan? Kamu bisa dapat uang dari aku, terus kamu juga masih bisa jualan roti, dapat duit lagi. Dan...punya istri, tapi gak perlu mikir ngasih nafkah, malah dinafkahi. Kurang enak gimana coba?"
Budi tersenyum getir. Ternyata memang hanya mimpi Jena mengajaknya menikah, karena ini semua hanya pekerjaan, sekali lagi kerjaan.
Jena mengambil map dari dalam tasnya, meletakkan di atas meja. Isi dalam map tersebut, adalah perjanjian pernikahan antara dia dan Budi. Semalaman suntuk dia memikirkan isi perjanjian tersebut, dan pagi tadi, ia ketik dan langsung print.
"Buka, pelajari isinya." Jena mendorong map tersebut ke arah Budi.
Budi menelan ludah, lalu dengan jantung sedikit berdebar dan gerakan ragu-ragu, membuka map tersebut. Ia menatap lembar pertama yang berisi keterangan mengenai pihak pertama dan kedua. Selanjutnya, pasal-pasal perjanjian. Matanya bergerak membaca beberapa baris. Semakin lama membaca, semakin serius ekspresinya.
Ada beberapa pasal disana, yang harus pihak satu dan dua taati. Tentang bayaran, batasan kontak fisik, berperan di depan umum, dan dilarang saling ikut campur urusan pribadi masing-masing. Lembar kedua hingga tiga, masih lanjutannya, karena pasalnya ada lumayan banyak. Dan paling bawah, tempat untuk tanda tangan.
"Kalau menurut kamu ada yang perlu direvisi atau ditambahin, katakan saja." Jena memperhatikan Budi yang sedang fokus membaca. "Materai sudah aku siapin juga, kamu tinggal tanda tangan aja. Kita akan sama-sama untung disini. Setelah ini, kita gak akan pusing dengan pertanyaan kapan nikah. Aku gak perlu takut bakal sakit hati ditinggal selingkuh, dan kamu gak perlu takut gak bisa bahagiain anak orang. Sekali lagi, kita sama-sama untung. Sepuluh juta per bulan, lumayan gede loh."
Semua terdengar sangat menggiurkan, tapi...
“Santai aja, baca sampai selesai. Kalau kamu setuju, langsung tanda tangan." Jena mengeluarkan pena dan materai dari dalam tas.
Budi menutup map itu perlahan. Kemudian tanpa berkata apa-apa, ia mendorong map tersebut kembali ke arah Jena.
“Maaf.”
Jena mengernyit.
“Aku nggak bisa.”
Senyum di wajah Jena seketika menghilang. “Maksudnya?”
Budi menggeleng. “Aku menolak pekerjaan ini.”
Jena menatap Budi tak percaya. “Tapi tadi kamu sudah bilang setuju. Sepuluh juta loh, Bud. Sepuluh juta perbulan. Kamu bisa dapat 30-50 juta nantinya."
Budi tetap menggeleng.
"Tadi kamu udah bilang iya."
“Tadi karena aku belum tahu pekerjaannya apa.”
“Tapi kita udah deal di depan tadi, udah salaman." Jena mulai panik.
Budi menarik napas panjang. “Ini bukan sesuatu yang bisa dijadikan pekerjaan, Jena. Ini pernikahan.” Nada suaranya terdengar tenang, tetapi tegas. “Buat kamu mungkin ini cuma perjanjian yang bisa dibuat, dijalankan beberapa bulan, lalu selesai. Tapi buat aku, pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipermainkan.”
Jena terdiam.
“Pernikahan itu sakral,” lanjut Budi. “Ada janji, ada tanggung jawab, ada dua keluarga yang terlibat. Aku nggak bisa menikah hanya karena dibayar sepuluh juta per bulan, kemudian tiga atau lima bulan lagi kita pura-pura semuanya selesai dan bercerai.”
Jena mulai terlihat kesal karena penolakan Budi. “Kamu sendiri yang bilang, ‘Deal’, tadi," lanjut Jena. “Sekarang setelah tahu pekerjaannya, kamu mau menarik ucapanmu? Gak bisa gitu, Bud. Kamu juga pernah bilang, kalau aku butuh sesuatu, aku bisa menghubungi kamu.”
Budi menghela napas. “Jena...”
“Sekarang aku benar-benar membutuhkan bantuanmu.” Suara Jena mulai meninggi. “Tapi kenapa sekarang kamu malah menolak?”
Budi menatapnya. "Jena, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk selalu bisa bantu kamu, tapi kalau pernikahan, aku gak bisa. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipermainkan. Pernikahan itu janji yang dibuat di depan Allah. Janji yang disaksikan malaikat, bahkan langit sampai bergetar saat diucapkannya ijab kabul."
Jena mendengus. "Bayarannya kurang ya?"
"Astaghfirullah, Jen, bukan." Budi menggeleng. "Bukan masalah bayaran."
Jena menarik map itu dengan kasar. “Kamu tahu nggak, Bud? Aku datang ke sini karena aku percaya sama kamu." Ia lalu tersenyum simpul. "Tapi ternyata, kamu gak bisa dipercaya. Kamu gak menepati janji kamu untuk selalu bantu aku."
Kalimat itu membuat Budi sedikit terpukul. “Aku minta maaf.”
“Gak perlu. Aku gak terima maaf kamu." Jena berdiri sambil menggenggam map tersebut. “Harusnya dari awal, aku gak berharap terlalu banyak sama kamu." Ia menatap Budi dengan kecewa.
Budi menatap Jena dalam-dalam. "Jena, aku bisa berbohong di depan teman-teman kamu, bahkan di depan orang tua kamu. Tapi di hadapan Tuhan, aku gak bisa bohong."
Jena terdiam. Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling menatap.
“Maaf Jen, aku benar-benar nggak bisa.”
Jena membuang nafas kasar, mengambil tasnya yang tergeletak di atas kursi, lalu melangkah meninggalkan meja.
“Jena!" Panggil Budi, namun tak dihiraukan oleh wanita itu. Ia bangkit, mengejar Jena yang melangkah cukup cepat karena emosi. "Jena tunggu!"
Jena berhenti melangkah saat lengannya ditarik Budi. "Apalagi?" bentak Jena.
"Kali ini aku beneran gak bisa, Jen."
Jena menarik tangannya kasar hingga lepas dari cekalan Budi. "Mulai sekarang, kita gak akan ada urusan lagi." Ia lalu pergi.
"Jena!" Budi kembali mengejar Jena. Wanita itu sudah keluar kafe, berlari kecil menuju mobilnya. "Jena tunggu!" Ia menahan pintu mobil yang ditarik Jena.
"Kamu bilang gak bisakan? Ya udah. Aku akan cari laki-laki lain." Jena berusaha menarik handle pintu.
"Aku mau."
"Hah, beneran?" Mata Jena langsung berbinar, tangannya begitu saja melepas handle pintu. "Beneran kamu mau?"
"Aku mau menikah denganmu. Tapi..."
"Tapi apa, minta bayaran lebih?"
Budi menggeleng.
"Lalu?"
"Kita menikah, tapi bukan pernikahan kontrak."
"Maksudnya?"
"Kita beneran nikah."
"Hah!"
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sekarang di kasih kesempatan tidak akan di sia sia kan ,,,batasnya jam 7. Jena Budiman akan berubah jadi pangeran makanya jangan bermain dengan Pria niat baik
😄👍
pernikahan bukan permainan...