"Kamu sudah menganggap anak kita adalah sebuah kutukan, maka suatu hari nanti dia akan benar benar menjadi sebuah kutukan untuk keluarga kamu mas!"
Itu adalah kata kata terkahir Riyanti yang bisa di dengar oleh suaminya Raditya ketika di tepi jurang.
Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa bisa seseorang bisa menjadi terkutuk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Raditya
"Kanaya ayo kita makan siang, aku lapar" rengek Shaquilla
"Iya, sebentar ya aku sedang mencatat beberapa laporan dulu, kamu telepon kak Sultan dulu deh" jawab Kanaya
"Tapi kan kita akan di ajak pak Raditya nanti" ucap Shaquilla dan Kanaya berhenti mengetik di laptop yang ada di mejanya.
Dia juga ingat ajakan Raditya tadi pagi, tapi dia juga ingin tahu pekerjaan Irsyad dan Sultan yang ada di pabrik itu karena Kanaya ingin tahu apakah di tempat Irsyad sama dengan yang ada di tempat Kanaya. Kanaya melihat banyak keanehan di pabrik itu, semua roti dan kue di sana terdapat asap hitam gaib dan Kanaya khawatir Irsyad juga Sultan memakan roti itu, bahkan Shaquilla juga di larang Kanaya untuk memakan semua yang berasal dari pabrik itu.
"Tapi mungkin pak Raditya lupa Qilla" ucap Kanaya
"Saya tidak mungkin lupa" ucap suara yang tiba tiba ada di belakang Kanaya.
Kanaya tersentak, dia melihat ke belakang dan ternyata Raditya sudah berdiri di belakangnya, bahkan Shaquilla juga terkejut karena dia merasa kalau tadi Raditya sama sekali tidak ada di sana.
"Pak" sapa Kanaya tersenyum manis.
"Ayo kita makan siang" ajak Raditya pergi lebih dulu.
Karyawan di sana tidak merasa terkejut karena mereka pikir Kanaya adalah saudara atau keponakan Raditya karena wajah mereka begitu mirip, bahkan ada beberapa karyawan laki laki yang sudah mulai menaruh perhatian pada Kanaya dan Shaquilla yang meskipun punya tubuh yang bohay tapi punya daya tarik tersendiri.
"Pak, Irsyad dan kak Sultan?" tanya Kanaya
"Mereka makan dengan karyawan lain" jawab Raditya
Raditya mengajak Kanaya ke salah satu warung makan di kampung itu, mereka langsung di sambut antusias karena pemilik warung itu mengenal Raditya yang sering datang ke sana untuk membeli makanan kesukaannya.
"Bu, tolong sediakan balado kentang tapi saya mau yang hati sapinya banyak, dan mau ikan setengah matang, kalian mau pesan apa?" tanya Raditya
"Qilla mau pesan ayam kecap sama capcay pak, tambah kerupuk" jawab Shaquilla
"Saya sama saja dengan Qilla pak" jawab Kanaya
"Jangan malu malu, kamu boleh pesan apapun" bujuk Raditya tersenyum manis tapi senyum itu justru membuat Kanaya merinding.
"Nak, Raditya sama sekali tidak menyukai makanan yang amis, dia tidak terlalu suka ikan dan hati sapi, tapi sekarang dia berubah" bisik Sanca hati hati karena dia sudah di berikan energi Adrian untuk menyamarkan keberadaannya di dalam tubuh Kanaya.
"Pak Raditya sangat menyukai hati sapi ya?" tanya Kanaya
"Iya, itu adalah makanan kesukaan ku, kamu jangan panggil pak, panggil saja saya Om atau mas... itu lebih bagus, kamu juga ya Shaquilla" jawab Raditya semakin membuat Kanaya merinding.
"Om saja sepertinya lebih cocok" jawab Kanaya dan Shaquilla mengangguk.
Mereka mulai makan, Kanaya melotot saat dia melihat sesuatu yang berubah dari dalam diri Raditya, tangan yang mengambil makanan itu terlihat berbulu dan juga giginya memiliki taring, Raditya makan seperti bukan dirinya dan Kanaya juga melihat ada bagian dari tubuh Raditya yang seperti menolak makanan itu dengan cara menggigit lidahnya tapi makanan itu terus di jejalkan oleh Raditya.
"Kenapa dia" batin Kanaya
"Ini cobalah, ini enak" bujuk Raditya menyodorkan hati sapi yang sama sekali tidak di sukai Kanaya tapi dia harus berpura-pura memakannya supaya Raditya tidak curiga.
"Iya, ini enak" jawab Kanaya tapi ketika Raditya menunduk untuk makan, dia langsung memuntahkan makanan itu.
"Nak..."
Suara asing tiba tiba terdengar dan Kanaya segera mengedarkan pandangannya ke setiap arah, tapi dia tidak melihat apapun dan siapapun yang memanggilnya di sana.
"Ayah, ada suara yang memanggil Kanaya" batin Kanaya
"Aku tidak mendengarnya nak, tapi mungkin itu bagian Raditya yang lain yang mengenali kamu" bisik Sanca.
Kanaya kembali makan sambil sesekali melirik ke arah Raditya! sekarang dia sudah makan ikan itu sampai bersih bahkan ikan itu terlihat sama sekali tidak di bumbui, hanya di rebus sebentar dan tidak di bersihkan, membuat Kanaya dan Shaquilla terganggu.
Tapi ketika mereka hampir menyelesaikan makan mereka, tiba tiba saja ada suara benturan kuat dari arah luar, ternyata di luar sebuah truk sudah menghantam mobil Raditya hingga hancur dan tak berbentuk.
Brak. Brak.
"Innalilahi!" kaget Shaquilla memeluk Kanaya.
"Ada apa ini?" tanya Raditya yang kesal acara makannya di ganggu.
"Pak, mobil bapak di tabrak truk pasir" jawab pemilik warung.
"Sial! aku tidak akan membiarkan orang itu hidup tenang karena sudah membuat mobil kesayangan ku rusak!" kesal Raditya segera keluar dari warung makan itu di ikuti Kanaya dan Shaquilla yang bahkan masih membawa piring makannya yang kedua kali nambah.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un" ucap Shaquilla membuat telinga Raditya sakit.
"Hei!" bentak Raditya melotot dan Shaquilla yang terkejut sampai menjatuhkan piring yang dia pegang.
Prang.
"Hiks... "
"Maaf Om, kami hanya reflek mengatakan itu" ucap Kanaya dan Raditya mulai melunak.
"Maafkan Om juga, Om hanya tidak suka mendengarkan semua kalimat itu, di tambah mobil kesayangan Om juga hancur" ucap Raditya mengusap rambut Shaquilla yang masih terisak.
Raditya meminta Kanaya dan Shaquilla untuk masuk kembali ke dalam warung sementara dia akan melihat supir truk yang sudah menabrak mobilnya. Wajahnya kembali terlihat marah setelah melihat supir itu masih hidup dan terjepit body mobilnya.
Shaquilla memang masuk karena dia di bujuk dengan makanan oleh Kanaya supaya tidak menangis lagi, tapi Kanaya kembali menyelinap keluar dan betapa terkejutnya Kanaya saat melihat supir truk itu sedang di pegang kepalanya oleh Raditya.
•••••••••••••••
"Beraninya kamu merusak mobilku!" bentak Raditya
"Ma... maafkan saya pak, rem mobil ini rusak dan saya juga tadi mengantuk" jawab supir itu sambil menahan rasa sakit di bagian bawahnya..
"Ngantuk? kalau kamu ingin tidur maka akan aku kabulkan, akan aku buat kamu tidur selamanya" ucap Raditya menyeringai.
"Pak Raditya, bagaimana keadaan supirnya?" tanya orang yang ada di bawah karena tadi Raditya yang memaksa ingin melihat kondisi supir itu.
Raditya mempengaruhi semua orang hingga mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam mobil truk itu karena si supir terjepit body truk, tapi mereka tidak tahu kalau Raditya sengaja melakukan itu supaya dia bisa mengambil energi kehidupan si supir untuk ilmunya dan untuk membalas kekesalannya karena mobilnya yang rusak.
"Dia sudah meninggal, panggil ambulans" jawab Raditya membuat orang orang itu berlarian.
"To... To... hhmmfff!"
Mulut supir itu di bungkam Raditya menggunakan handuk kecil yang tergeletak di dashboard, Raditya juga sudah mulai menekan kepala supir itu dan memejamkan matanya supaya tujuannya tercapai.
"Matilah! karena nyawamu bahkan tidak sebanding dengan mobil milikku!" bentak Raditya pelan sambil menekan ubun ubun supir itu hingga matanya melotot dan tak lama kemudian dia menjadi lemas dengan mata yang berubah menjadi putih semua.