Ambivalen adalah dua hal yang bertentangan seperti mencintai dan membenci sekaligus terhadap orang yang sama.
Kisah ini tentang seorang lelaki nasrani bernama Jonathan Yohve Sheehan yang mencintai gadis muslim bernama Mazea Arbiansyah.
Mereka dipertemukan di awal semester kelas XII GEOMATIKA dengan beberapa ketidak sengajaan yang berlanjut sampai kuliah.
Apakah Jonathan akan memendam rasa? Atau akan mengungkapkan rasa meskipun tau tidak akan bersama?
Atau Jonathan akan mencari gadis lain yang seiman? Apa justru mengikuti perasaannya?
Lalu bagaimana respon dari keluarganya jika mengetahuinya?
Jadi sempatkan waktu untuk membaca kisah mereka di novel dengan judul “AMBIVALENSI LOVE”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon musbich, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
🍐🍐🍐
Malam itu, bisma membiarkan putri nya pergi dengan laki laki bernama Jonathan itu. Meskipun dia tahu apa yang dipikirkan Jonathan. Pasti ada kebimbangan dalam dirinya antara memperjuangkan agama nya atau anak gadis nya. Memang itu yang ingin bisma tekankan saat ini agar hubungan yang tidak jelas itu segera berakhir dan tidak saling menyakiti.
Di sebuah taman kota, dalam kebisuan dua orang yang sedang duduk menghadap sebuah gereja menjulang tinggi yang sedang berdempetan dengan sebuah masjid besar megah. Jonathan menghembuskan napas nya berat, tidak ada satupun yang terucap dari bibir tipis nya.
“Apakah sesulit ini untuk bisa bersamamu?” gumam pria itu.
“Sudah ku bilang, kamu akan terluka setelah ini,” sahut perempuan di samping nya.
“Apa tidak bisa berdiri berdampingan seperti kedua bangunan itu tapi dengan keyakinan masing masing?” kata Jonathan frustasi dan hampir mengeluarkan butiran bening di ujung mata nya tapi dia tahan. Dia masih setia menatap gereja dan masjid yang berdiri bersebelahan itu.
“Apa kamu mulai lelah dengan hubungan kita?” Tanya zea dengan mata yang berkaca kaca.
“Tidak bisakah Tuhanmu mengerti jika aku hanya mencintai umat-Nya, aku tidak akan mengambilmu dari Tuhanmu. Aku juga tidak memaksakan agamaku terhadapmu,”
“Jika hatimu benar benar sudah lelah, aku ikhlas jika ini memang harus berakhir. Tidak akan ada jalan keluar. Tidak akan mungkin juga kita menjalani hubungan seperti ini selamanya,” kata zea lirih.
“Bukan hanya kita kan yang seperti ini? Di luar sana pasti banyak pasangan seperti kita,” kata jonathan menatap mata zea nanar.
“Banyak yang seperti kita, Jo. Banyak pula yang mengakhiri,”
“Apa kamu yang mulai lelah, zea?” Tanya laki laki itu masih dengan mata nanar nya.
“Apa aku harus bilang jika aku tidak lelah? Tidak ada satu kebahagiaanpun yang kita rasakan, hanya perseteruan dari orang orang yang kita sayangi,” perempuan itu masih mencoba menahan emosi nya supaya tidak menangis.
“Entahlah aku lebih mencintaimu atau lebih mencintai Tuhanku? Aku benar benar tidak bisa melepaskanmu,”
“Jangan katakan itu, Jo. Kamu membuatku sakit mengetahui kita tidak bisa bersama dan kamu tidak bisa melepasku,”
“Apa hanya cara itu yang membuat kita bisa bersama? Apa aku harus mempercayai keyakinanmu? Apa aku harus menghianati Tuhanku?” kata Jonathan mulai mengepalkan tangan nya menahan emosi yang meluap dari dalam diri nya.
“Kamu tidak perlu melakukan itu, kamu tidak perlu,” kata zea terisak.
“Jangan menangis, zea,” kata Jonathan mencoba mengusap pipi gadis nya dengan kedua ibu jari nya.
“Jika hanya itu jalan keluar nya, yakinkan aku jika Tuhanmu memang benar benar yang menyertaiku selama ini. Yakinkan aku apapun cara nya,”
“Sayangnya aku bukan perempuan islam taat, Jo. Aku bahkan terlahir dari keluarga dengan pengetahuan agama yang biasa saja, aku bukan anak ustad atau kyai. Aku juga minim pengetahuan tentang islam. Aku… aku bahkan tidak bisa mengajarimu tentang islam, kamu tau sendiri aku hanya melaksanakan sholat ala kadarnya,” kata zea sesenggukan.
“Aku sudah gagal sebelum berjuang, apa bisa islam sepertiku meyakinkan nasrani sepertimu? Yang bahkan pengetahuan alkitabmu lebih bagus dari caraku mempelajari alquran, aku tak punya kekuatan merobohkan keyakinanmu ,“ lanjut perempuan itu dengan emosi yang menggebu.
“Entah bagaimanapun cara nya, sudah ku katakan padamu dulu jadilah islam yang taat supaya bisa meyakinkanku. Aku sudah bilang sejak awal kita bertemu, sebelum aku mempercayai Jesus. Karena aku tau akhirnya akan seperti ini,”
“Jo…”
“Entah apapun caramu, zea. Jika perlu setelah lulus sekolah, kamu tidak perlu mengambil jurusan geomatika atau teknik sipil,”
“Kamu menyuruhku mengorbankan cita citaku menjadi surveyor? Aku ingin seperti mommy mu, itu cita citaku,” kata zea menahan tangis nya.
“Kamu hanya mengorbankan cita citamu bukan keyakinanmu, ambillah jurusan yang berkaitan dengan islam. Yakinkan aku secara perlahan,”
“Kenapa tidak kamu saja yang mengambil jurusan yang berkaitan dengan islam?” kata zea dengan nada mulai meninggi.
“Pikirkan KTPku, tidak mungkin kan seorang nasrani sepertiku mengambil jurusan itu. Selain itu mommyku tidak akan membiayai nya,”
“Kamu takut mommy mu?”
“Bagaimanapun dia mommy ku, zea. Aku masih bergantung padanya dalam segi finansial saat ini. Tidak bisakah kita berjuang bersama sampai aku benar benar meyakini apa yang keluarga mu yakini?” kata Jonathan masih memegang pipi gadis nya dengan dua telapak tangan nya.
“Lalu bagaimana jika nanti saat aku mempelajari islam, bagaimana jika aku bertemu dengan seseorang yang pengetahuan agamanya lebih tinggi dariku? Bagaimana jika aku jatuh cinta pada nya?” kata zea lirih.
“Apa kamu berani meninggalkan seseorang yang memperjuangkanmu sejauh ini? Aku pertaruhkan keyakinanku untukmu, apa kamu setega itu? Tapi jika itu terjadi, setidaknya bukan aku yang menghianatimu,”
“Jo… aku tidak mau, itu bukan yang ku suka. Aku tidak mungkin kuliah dengan jurusan itu,”
“Aku hanya ingin kamu yang meyakinkanku tentang agamamu. Apa kamu pikir aku suka keadaan ini? Aku mengorbankan keyakinanku, apa kamu tidak bisa mengertiku? Ada yang harus kita korbankan dalam hidup ini,”
“Kalau mau masuk islam ya masuk islam saja, jangan memaksaku belajar yang bukan keinginanku,”
“Aku tidak mau hanya sekedar masuk agamamu karena dirimu, aku ingin di saat meyakini sebuah agama itu karena memang benar benar meyakininya. Bukan karenamu, aku harap kamu paham itu,” kata Jo masih menatap mata gadis itu yang terlihat sayu.
“Kenapa? Kenapa tidak mau masuk islam karena aku? Aku akan sangat bangga jika kamu masuk islam karena aku, demi aku,” kata zea mulai terisak lagi.
“Aku takut jika aku mempercayai Tuhanmu karena kamu,”
“Kenapa?”
“Karena jika suatu hari kamu mengecawakanku, maka aku akan kembali pada keyakinanku dulu. Sama saja dengan bohong, itu artinya aku masuk agamamu hanya karena ingin menikahimu,”
“Bukannya memang karena itu?” Tanya zea dengan nada mulai meninggi.
“Apa kamu anggap keyakinan itu mainan? Hati ini tidak bisa dipaksa, meyakini sesuatu itu sama dengan mencintai sesuatu. Aku harap kamu paham akan hal itu. Cobalah mengerti perjuanganku,” kata Jo lembut.
“Lalu bagaimana dengan cita citaku?”
“Kamu bisa kuliah lagi jika sudah menjadi istriku nanti, aku penerus satu satu nya perusahaan daddyku,”
“Jo…”
“Ceritakan semua tentang agamamu padaku mulai sekarang, aku tidak bisa mempelajari nya sekaligus. Tapi aku akan mencerna setiap hal yang akan kamu beri tahu padaku,” kata Jonathan sambil menyelipkan anak rambut zea yang tertiup angin.
“Lalu bagaimana jika hatimu tidak juga mempercayai agamaku? Bagaimana jika di tengah jalan nanti tiba tiba kamu menyukai yang sesama nasrani? Bagaimana jika hatimu masih setia dengan kepercayaanmu yang sekarang? Apa ada jaminan untuk itu?” Tanya zea menatap Jonathan dengan nanar.
“Aku mencintaimu, apa kata itu tidak cukup? Aku melakukan ini karena aku ingin bersamamu, percayalah padaku,” kata Jonathan frustasi. Laki laki dingin itu mulai menarik gadisnya supaya berada dipelukannya.
“Seharusnya aku yang takut itu terjadi padamu. Aku takut kamu akan menemukan seseorang yang membuatmu terkesan melebihi aku. Seharusnya aku yang khawatir, bukan kamu,” kata Jonathan lagi masih membelai rambut gadis yang terisak di dada nya.
“Kenapa Tuhan melakukan ini pada kita?” gumam zea masih dalam isaknya.
“Tuhanmu atau Tuhanku?”
“Aku akan buktikan padamu Jo. Suatu hari nanti kita akan memiliki Tuhan yang sama, berangkat ke tempat ibadah yang sama dan berdoa dengan cara yang sama. Akan ku tunjukkan itu semua, tinggal menunggu waktu. Tidak akan ada lagi pertanyaan TUHANKU ATAU TUHANMU,”
“Aku tunggu itu, yakinkan aku, zea,” kata Jonathan sambil mencium pucuk kepala perempuan itu.
Like 🥝
comment 🥝
vote 🥝
Maaf jika terlalu alay ✌️😁
aku keliru bacanya. mulai baca dari Chelsea baru mundur 😁😁😁
tapi gak mungkin juga nabilla berani bilang klo dia hamil sama jo kan??????...yuk kita tuntaskan pronlem ini