NovelToon NovelToon
WARISAN GALAXY: Pangeran Bintang

WARISAN GALAXY: Pangeran Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Murid Genius / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Mengubah sejarah / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

(NOVEL INI LANJUTAN DARI LEGENDA SEMESTA XUANLONG)

Tiga belas tahun telah berlalu sejak Dewa Bintang Tian Feng mendirikan Kekaisaran Langit, menciptakan era kedamaian di dua alam semesta. Namun, di Puncak Menara Bintang, Ye Xing, putra dari Ye Chen dan Long Yin, serta Cucu kesayangan Tian Feng merasa terpenjara dalam sangkar emas.
Terlahir dengan bakat yang menentang surga, Ye Xing tumbuh menjadi remaja jenius namun arogan yang belum pernah merasakan darah dan keputusasaan yang sesungguhnya.

Menyadari bahaya dari bakat yang tak ditempa, Tian Feng mengambil langkah drastis menyegel kultivasi Ye Xing hingga ke tingkat terendah (Qi Condensation) dan membuangnya ke Alam Bawah, ke sebuah sekte sekarat bernama Sekte Awan Rusak. Tanpa nama besar keluarga, tanpa pengawal bayangan, dan tanpa harta istana, Ye Xing harus bertahan hidup sebagai murid biasa bernama "Xing" yang diremehkan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 2

Alam Bawah, Benua Azure – Gerbang Depan Sekte Awan Rusak.

Ye Xing menepuk-nepuk jubah sutra putihnya yang kini kotor oleh debu tanah kuning. Dia menatap gerbang batu di depannya. Gerbang itu besar, namun penuh lumut dan retakan yang tidak terawat. Papan nama "Sekte Awan Rusak" tergantung miring, seolah akan jatuh kapan saja jika ditiup angin kencang.

"Sekte macam apa ini?" gumam Ye Xing, menahan rasa jijik. "Kandang kuda Istana Langit lebih mewah dari gerbang utamanya."

Dengan langkah percaya diri sisa dari kebiasaannya sebagai Tuan Muda Ye Xing berjalan menuju dua penjaga gerbang yang sedang terkantuk-kantuk.

"Minggir," kata Ye Xing angkuh. "Aku datang untuk melapor."

Salah satu penjaga, seorang pria kurus dengan mata licik yang berada di tingkat Qi Condensation tingkat 5, membuka matanya malas. Dia memindai Ye Xing dari atas ke bawah. Jubah sutra Ye Xing memang bagus, tapi sudah kusam karena perjalanan dimensi. Dan yang terpenting, Ye Xing tidak memancarkan aura kultivasi yang kuat.

"Bocah dari mana kau? Tersesat?" ejek penjaga itu.

Ye Xing mendengus, lalu melempar token kayu hitam pemberian Tian Feng ke arah penjaga itu.

"Buka matamu. Itu token dari leluhurmu. Panggil Ketua Sekte kalian untuk menyambutku."

Penjaga itu menangkap token tersebut. Dia membolak-baliknya, melihat kayu yang sudah lapuk, berjamur, dan retak. Tidak ada cahaya spiritual. Tidak ada ukiran emas. Hanya kayu busuk.

"Leluhur?" Penjaga itu tertawa terbahak-bahak. "Hei, Li! Bocah gila ini memberikan kayu bakar dan minta bertemu Ketua Sekte!"

Penjaga kedua ikut tertawa. "Mungkin dia pengemis yang mencuri baju orang kaya."

Plak!

Penjaga itu melempar token itu ke tanah, lalu menginjaknya dengan sepatu berlumpur. Dia meludah tepat di atas token pemberian Dewa Bintang itu.

"Enyahlah, Sampah. Kami tidak menerima rongsokan. Kalau kau mau mengemis, pergi ke desa di kaki gunung."

Darah Ye Xing mendidih. Wajahnya memerah padam. Seumur hidupnya, tidak ada yang berani menatap matanya, apalagi meludahi barang miliknya.

"Kau... berani menghina pemberian Kakekku?" Ye Xing mengangkat tangannya. Kebiasaan lamanya muncul. Dia berniat memanggil petir untuk menghanguskan penjaga kurang ajar ini menjadi abu.

Mati kau! batin Ye Xing.

Hening.

Tidak ada awan hitam yang berkumpul. Tidak ada petir yang menyambar. Langit tetap cerah dan menyedihkan.

Ye Xing tertegun. Dia melihat tangannya. Segel itu... Dia lupa bahwa Tian Feng telah menyegel 99% kekuatannya. Saat ini, dia hanyalah kultivator Qi Condensation tingkat 3 dengan fisik manusia biasa.

"Mau apa kau mengangkat tangan? Mau menari?" Penjaga itu mendorong dada Ye Xing dengan gagang tombaknya.

Ye Xing terhuyung mundur, jatuh terduduk di tanah berlumpur. Rasa sakit yang tajam menjalar di dadanya. Sakit? Pikirnya bingung. Seorang semut baru saja menyakitiku?

"Dengar, Bocah," kata penjaga itu dingin. "Pendaftaran murid luar sudah tutup bulan lalu. Kalau kau tetap ingin masuk demi sesuap nasi, satu-satunya jalan adalah lewat pintu samping. Jalur Ujian Budak. Sekarang pergi dari hadapanku sebelum kupatahkan kakimu!"

Ye Xing mengepalkan tangannya erat-erat hingga kukunya menancap ke daging. Dia menatap token yang terinjak di lumpur itu. Dia ingin berteriak, ingin memanggil Jenderal Bayangan. Tapi dia ingat kata-kata Tian Feng: Tanpa nama Ye. Tanpa bantuan. Hanya kau dan takdirmu.

Dengan gigi gemeretak, Ye Xing memungut token kotor itu, membersihkannya dengan lengan bajunya, lalu berdiri.

"Ujian Budak..." desis Ye Xing, matanya yang kini berwarna hitam (disamarkan) menatap tajam penjaga itu. "Baiklah. Ingat wajahku. Suatu hari nanti, kau akan berlutut meminta ampun karena kejadian hari ini."

Penjaga itu hanya meludah lagi. "Banyak omong."

Halaman Belakang Sekte – Area Budak.

Bau keringat, kotoran, dan keputusasaan menyengat hidung Ye Xing begitu dia melangkah masuk lewat pintu samping. Ratusan anak muda berpakaian compang-camping sedang mengantri. Mereka kurus, kotor, dan matanya kosong.

Ye Xing, yang terbiasa dengan wangi dupa cendana surgawi, harus menahan napas agar tidak muntah.

"Barisan apa ini?" gumam Ye Xing.

"Barisan untuk makan siang... kalau kau bisa menyebutnya makan," jawab seorang anak di depannya tanpa menoleh.

Tiba-tiba, keributan terjadi di sudut halaman.

"Lepaskan! Itu punyaku!" suara teriakan anak laki-laki terdengar.

Ye Xing menoleh. Di dekat tumpukan kayu bakar, tiga anak berbadan besar sedang mengelilingi seorang bocah kurus kering. Bocah itu meringkuk di tanah, memeluk erat sesuatu di dadanya, menerima tendangan bertubi-tubi dari ketiga pengeroyoknya.

"Dasar tikus got! Serahkan rotinya!"

"Tidak! Ini jatahku untuk dua hari!" teriak bocah kurus itu.

Ye Xing mengerutkan kening. Mereka berkelahi... demi roti?

Di Istana Langit, Ye Xing sering membuang buah persik surgawi hanya karena ada sedikit goresan di kulitnya. Dia tidak pernah mengerti konsep "kekurangan".

"Hei!"

Tanpa sadar, Ye Xing melangkah maju. "Tiga lawan satu? Menyedihkan."

Ketiga pengeroyok itu berhenti dan menoleh. Pemimpin mereka, seorang anak gempal dengan gigi ompong, menyeringai. "Anak baru? Kau mau jadi pahlawan? Kami akan menghajarmu juga!"

Mereka menerjang ke arah Ye Xing.

Ye Xing tidak panik. Meskipun kekuatannya disegel, wawasan tempurnya tetaplah setingkat Soul Formation. Di matanya, gerakan anak-anak ini selambat siput.

Dia menyerang bahu kiri. Berat badannya condong ke depan. Keseimbangannya nol.

Ye Xing tidak menggunakan tenaga. Dia hanya menggeser kaki kirinya sedikit ke samping, lalu mengaitkan kaki kanannya ke pergelangan kaki si penyerang saat dia lewat.

Teknik Dasar: Pengalihan Arus.

Brak!

Anak gempal itu tersandung kakinya sendiri dan jatuh tersungkur mencium tanah dengan keras. Dua temannya terkejut dan berhenti.

"Enyah," kata Ye Xing dingin. Aura bangsawannya, meski tanpa energi, membuat nyali anak-anak kampung itu ciut.

Mereka memapah pemimpinnya dan lari sambil mengumpat.

Ye Xing menghela napas, membersihkan debu di bahunya, lalu melihat ke arah bocah kurus yang masih meringkuk di tanah.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Ye Xing kaku. Dia tidak terbiasa menolong orang lemah.

Bocah itu perlahan membuka matanya. Wajahnya lebam, bibirnya pecah. Tapi matanya... mata itu jernih dan keras kepala, seperti serigala yang terpojok.

"Terima kasih..." bisik bocah itu. Dia duduk, lalu membuka tangannya.

Di sana, remuk dan kotor terkena tanah, ada sepotong roti keras yang sudah berjamur hijau di beberapa bagian.

Ye Xing menatap benda itu dengan jijik. "Kau bertaruh nyawa demi... sampah itu? Buang saja. Itu racun."

Bocah itu menggeleng kuat. Dia mematahkan roti itu menjadi dua. Dia membersihkan bagian yang paling kotor dari salah satu potongan, lalu menyodorkannya pada Ye Xing dengan tangan gemetar.

"Kau menyelamatkanku. Ini... bayarannya," kata bocah itu polos. "Namaku Lin Xiao."

Ye Xing terdiam. Dia menatap potongan roti berjamur di tangan kotor Lin Xiao.

Di Istana Langit, "bayaran" untuk jasanya biasanya adalah artefak tingkat dewa atau pil keabadian. Sekarang? Bayarannya adalah setengah potong roti busuk.

Tapi saat melihat mata Lin Xiao, Ye Xing menyadari sesuatu. Bagi Lin Xiao, setengah roti ini lebih berharga daripada artefak dewa manapun. Ini adalah hidupnya.

Perut Ye Xing berbunyi keras. Tubuh manusianya yang tersegel menuntut energi. Dia lapar. Rasa lapar yang belum pernah dia rasakan seumur hidup.

Dengan ragu, Ye Xing mengambil roti itu. Dia melihat jamur hijau di pinggirannya. Dia menutup mata, membayangkan itu adalah kue bulan buatan ibunya, lalu menggigitnya.

Keras. Pahit. Apek.

Rasanya mengerikan. Ye Xing hampir memuntahkannya. Tapi saat dia menelannya, rasa hangat menjalar di perutnya yang kosong.

Ye Xing membuka matanya. Dia menatap Lin Xiao yang sedang melahap bagiannya dengan lahap.

"Namaku Xing," kata Ye Xing pelan, membuang nama marga agungnya. "Dan ini adalah makanan terburuk yang pernah kumakan."

Lin Xiao tertawa, memperlihatkan giginya yang berdarah. "Selamat datang di Sekte Awan Rusak, Xing. Di sini, rasa enak adalah mimpi. Rasa kenyang adalah kemewahan."

Ye Xing mengunyah sisa roti di mulutnya. Rasa pahit itu tertanam di lidahnya, menjadi pelajaran pertama yang jauh lebih berharga daripada ribuan gulungan kitab suci di menara gading kakeknya.

Jadi ini rasanya menjadi manusia, batin Ye Xing. Kakek... kau benar. Aku tidak tahu apa-apa.

Di bawah langit sore yang muram, Pangeran Bintang dan Pengemis Kurus itu duduk bersandar di tumpukan kayu, membagi sepotong roti berjamur, memulai persahabatan yang kelak akan mengguncang semesta.

1
Nanik S
Mantap Tor 💪💪💪
Nanik S
Dua Preman siap beraksi.. 👍👍👍
MyOne
Ⓜ️🔜🆙🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙎‍♂️🙎‍♂️🙎‍♂️Ⓜ️
Mamat Stone
😈🔥🐲🔥😈
Mamat Stone
💨⚡💨⚡💨
Mamat Stone
/Smirk//Smirk//Smirk/
Mamat Stone
/Joyful//Joyful//Joyful/
MyOne
Ⓜ️😡😡😡Ⓜ️
Nanik S
Keren beneran keren aksi sepasang Preman 🤣🤣🤣
Mamat Stone
/Cleaver//Cleaver//Cleaver/
Mamat Stone
/Hammer//Hammer//Hammer/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Nanik S
Maaantaaaap 💪💪💪
Nanik S
Ternyata Mei menakutkan juga
Mamat Stone
/Smirk//Smirk//Smirk/
Mamat Stone
/Joyful//Joyful//Joyful/
Nanik S
Dua bocah kecil yang Asyi tapi punya nyali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!