NovelToon NovelToon
ASLAN VALERION

ASLAN VALERION

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Penyelamat / Sistem
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: HUUAALAAA

Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 2

Aslan membuka matanya secara perlahan saat cahaya biru redup berkedip di sudut penglihatannya. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak, namun kesadarannya sudah pulih sepenuhnya.

[Peringatan: Target terdeteksi pada jarak 950 meter.] [Analisis Unit: 20 penunggang Harimau Putih. Formasi: V-Shape terbalik.]

Aslan turun dari dahan pohon tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Sepatu kulit buatannya mendarat di atas akar besar yang licin. "Sistem, aktifkan visualisasi jangkauan jebakan di area rawa," bisik Aslan.

Lantai hutan di depannya mendadak dipenuhi garis-garis hologram tipis yang hanya bisa dilihat olehnya. Garis-garis itu menunjukkan letak kabel liana dan area di mana gas rawa paling pekat berkumpul.

"Berapa lama sampai mereka mencapai titik mati?" tanya Aslan.

[Estimasi: 12 menit 40 detik jika mereka mempertahankan kecepatan saat ini.]

Aslan berjalan menyamping di atas akar pohon, mengikuti instruksi sistem untuk menyembunyikan jejak kakinya. Ia berhenti di sebuah gundukan tanah yang tertutup lumut tebal, tempat ia menyimpan beberapa botol tanah liat berisi gas rawa yang sudah dimampatkan.

"Kapten Voren pasti akan memimpin di depan. Jika aku bisa memisahkan dia dari pasukannya, peluang menang meningkat drastis," gumam Aslan.

[Saran: Gunakan frekuensi suara rendah untuk memancing Harimau Putih menjauh dari formasi.]

Aslan mengangguk pelan. Ia mulai memetik beberapa helai daun berduri dan melapisinya dengan cairan dari tanaman rawa. Jari-jarinya bergerak dengan ketepatan mesin, hasil dari sinkronisasi saraf yang terus meningkat.

"Voren adalah pria yang bangga dengan kehormatannya. Dia tidak akan membiarkan anak buahnya mati sia-sia jika dia tahu aku yang menantangnya secara pribadi," kata Aslan sambil menyarungkan belatinya.

[Peringatan: Jarak target 500 meter. Kapten Voren terdeteksi menghentikan pasukan.]

Aslan memanjat pohon lain dan bersembunyi di balik dedaunan lebat. Di kejauhan, ia bisa mendengar suara geraman rendah dari Harimau Putih dan gesekan baju zirah logam.

"Sistem, tetap dalam mode senyap. Jangan berikan peringatan suara kecuali ada ancaman fatal," perintah Aslan.

[Mode Senyap Diaktifkan.]

Dari atas pohon, Aslan melihat Kapten Voren turun dari tunggangannya. Pria tua itu berlutut dan menyentuh tanah, memeriksa bekas-bekas yang ditinggalkan Aslan dengan sangat teliti.

"Dia menyadari ada yang salah dengan jejaknya," bisik Aslan.

[Analisis Taktis: Peluang jebakan terdeteksi oleh Kapten Voren: 45%.]

Aslan menarik napas dalam-dalam. Ia memegang botol tanah liat pertamanya. Ini bukan lagi soal latihan fisik melawan monster, ini adalah permainan catur mematikan melawan mantan gurunya sendiri. Ia harus menunggu saat yang paling tepat untuk menarik pelatuk jebakannya.

Kapten Voren berdiri dan memberi isyarat tangan kepada pasukannya. "Tahan posisi. Area ini terlalu tenang untuk ukuran jantung Hutan Grendel."

Salah satu prajurit maju mendekat. "Apa ada masalah, Kapten? Kita harus segera menemukan pangeran sebelum matahari terbenam."

"Lihat akar pohon ini," kata Voren sambil menunjuk ke arah jalur Aslan. "Lumutnya tertekan, tapi tidak ada lumpur yang menempel. Seseorang sengaja membersihkan kakinya setiap kali melangkah."

Voren mencabut pedang besarnya dari punggung. "Pangeran Aslan yang saya kenal tidak memiliki keahlian gerilya seperti ini. Ada sesuatu yang berubah darinya."

Aslan memperhatikan dialog itu dari ketinggian. "Sistem, hitung sudut lemparan untuk mengenai botol gas tepat di tengah formasi mereka."

[Sudut Lemparan: 42 derajat. Kekuatan: 15 Newton. Angin: Statis.]

"Sekarang," bisik Aslan.

Aslan melemparkan botol tanah liat itu dengan gerakan cepat. Botol itu meluncur di udara tanpa suara. Saat botol tersebut menyentuh tanah di tengah pasukan, sebuah ledakan kecil terjadi dan mengeluarkan kepulan asap hijau pekat.

"Gas beracun! Pakai penutup wajah!" teriak Voren dengan lantang.

Para prajurit segera panik. Harimau Putih yang mereka tunggangi mulai menggeram liar karena sensitif terhadap zat asing. Beberapa harimau mulai melompat tak terkendali ke arah rawa.

[Peringatan: Tiga target memasuki zona kabel liana.]

Suara kawat yang menegang terdengar nyaring. Tiga ekor harimau terjatuh setelah kaki mereka terjerat kabel yang dipasang Aslan. Prajurit yang berada di atasnya terlempar ke dalam lumpur hisap.

"Tolong aku! Kakiku tidak bisa digerakkan!" teriak salah satu prajurit yang terperosok.

Voren menebas asap hijau itu dengan pedangnya. "Jangan berpencar! Tetap dalam formasi melingkar!"

Aslan melompat turun dari pohon tepat di belakang formasi pasukan. Ia tidak langsung menyerang. Ia sengaja menampakkan dirinya di depan Kapten Voren yang sedang waspada.

"Lama tidak bertemu, Kapten Voren," kata Aslan dengan suara tenang.

Voren berbalik dengan cepat. Matanya membelalak melihat penampilan Aslan yang sangat berbeda. "Pangeran Aslan? Kau masih hidup."

"Kau terlihat kecewa, Kapten. Apa Paman Kael menjanjikan hadiah besar untuk kepalaku?" tanya Aslan.

Voren menurunkan sedikit ujung pedangnya. "Saya hanya menjalankan perintah raja yang sah saat ini. Menyerahlah secara damai, Pangeran. Saya tidak ingin menyakiti Anda."

Aslan tersenyum sinis. "Raja yang sah? Kau tahu benar siapa yang membunuh ayahku di depan matamu sendiri."

"Politik kerajaan bukan urusan prajurit seperti saya," jawab Voren tegas.

"Maka kematianmu juga bukan urusan nuraniku," sahut Aslan.

[Simulasi Pertempuran Aktif: Kapten Voren akan melakukan tebasan horizontal dalam 3 detik.]

Aslan menarik belatinya. Ia melihat bayangan transparan Voren bergerak maju. Benar saja, Voren mengayunkan pedang besarnya dengan tenaga yang bisa membelah batang pohon.

Aslan merunduk sangat rendah. Ujung pedang Voren lewat hanya beberapa sentimeter di atas rambutnya. Tanpa membuang waktu, Aslan menendang lutut Voren dengan kekuatan yang sudah ditingkatkan oleh sistem.

Voren sedikit terhuyung namun segera menyeimbangkan diri. "Gerakanmu sangat aneh. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam setiap langkahmu."

"Aku sudah membuang keraguan itu bersama air sungai Aridelle," kata Aslan.

Para prajurit yang tersisa mencoba mengepung Aslan. "Jangan campur tangan! Ini adalah urusanku dengan muridku!" perintah Voren kepada anak buahnya.

"Kau masih menganggapku murid? Kalau begitu, ajarkan aku cara mati yang terhormat, Kapten," tantang Aslan.

[Status Sinkronisasi Saraf: 18%. Efek kelelahan: 0.5%.]

Aslan bergerak melingkar, memancing Voren untuk menjauh dari tanah yang padat menuju area rawa yang lebih lunak. Setiap langkah Aslan dipandu oleh sistem agar ia tetap berdiri di atas akar yang tersembunyi.

"Ayo, Kapten. Kenapa kau ragu? Bukankah kau yang mengajariku bahwa keraguan adalah musuh utama di medan perang?" tanya Aslan.

Voren menggeram dan kembali menyerang. Kali ini ia menggunakan teknik berantai. Pedang besarnya bergerak seperti badai logam yang tidak menyisakan ruang bagi lawan untuk bernapas.

[Analisis Taktis: Pola Serangan Berantai Terdeteksi. Saran: Lakukan serangan balik pada detik ke-7 saat posisi pedang berada di belakang punggung.]

Aslan menghitung dalam hati. Satu, dua, tiga. Ia terus menghindar dengan gerakan yang sangat efisien. Para prajurit penonton hanya bisa melihat kilatan biru di mata pangeran mereka setiap kali ia berkelit.

Enam, tujuh.

Aslan menerjang maju tepat saat Voren mengangkat pedangnya terlalu tinggi. Ia menusukkan belatinya ke celah baju zirah di bagian ketiak Voren. Darah merembes keluar mengenai pakaian Aslan.

Voren meringis kesakitan. Ia mundur beberapa langkah sambil memegang lukanya. "Bagaimana kau bisa tahu titik buta dari teknik ini?"

"Sistemku melihat apa yang tidak bisa kau lihat, Kapten," jawab Aslan.

[Peringatan: Empat prajurit mulai menyiapkan panah dari arah jam sepuluh.]

Aslan segera berguling ke samping tepat saat empat anak panah menancap di tempatnya berdiri. "Sepertinya anak buahmu tidak patuh pada perintahmu, Kapten."

Voren menoleh ke arah pemanah dengan marah. "Kubilang jangan ikut campur!"

"Maaf, Kapten, tapi Pangeran Aslan terlalu berbahaya jika dibiarkan hidup!" teriak salah satu pemanah.

Aslan mengambil salah satu anak panah yang gagal mengenainya. "Sistem, aktifkan mode pelacak pada objek lemparan."

[Mode Pelacak Aktif. Target terkunci: Mata pemanah.]

Aslan melempar anak panah itu dengan kekuatan penuh. Anak panah itu meluncur dan mengenai tepat di mata pemanah yang baru saja berteriak. Prajurit itu jatuh tersungkur sambil memegangi wajahnya.

"Siapa lagi yang ingin mencoba?" tanya Aslan sambil menatap sisa pasukan.

Suasana menjadi sangat hening. Pasukan elit yang biasanya tak kenal takut itu kini mulai gemetar melihat seorang pemuda yang bisa membunuh dengan benda apa pun di tangannya.

Voren menatap Aslan dengan pandangan sedih. "Kau benar-benar sudah menjadi monster, Aslan. Kerajaan Valerion tidak akan pernah aman di tangan seseorang yang sedingin ini."

"Dunia ini tidak butuh pangeran yang baik hati, Kapten. Dunia ini butuh raja yang bisa menghancurkan pengkhianat," balas Aslan.

[Sinkronisasi Saraf: 20%. Fitur Baru: Overload Fisik Terbatas.]

"Sistem, berapa lama aku bisa menggunakan fitur overload?" tanya Aslan dalam pikiran.

[Durasi: 30 detik. Risiko: Kerusakan jaringan otot sebesar 15%.]

"Itu sudah lebih dari cukup untuk menyelesaikan ini," kata Aslan.

Aslan menatap Voren untuk terakhir kalinya. "Mari kita akhiri pelajaran hari ini, Guru."

Voren mengangkat pedangnya dengan kedua tangan. Ia tahu ini adalah serangan terakhirnya. Ia memusatkan seluruh tenaganya ke dalam satu tebasan vertikal yang mematikan.

"Serang!" teriak Voren.

Aslan mengaktifkan mode overload. Tubuhnya mendadak diselimuti aura biru yang intens. Gerakannya menjadi begitu cepat hingga ia terlihat seperti bayangan yang berpindah tempat secara instan.

Ia melewati Voren dalam sekejap. Suara dentingan logam terdengar nyaring di udara saat belati Aslan berbenturan dengan pedang besar Voren.

Aslan berdiri membelakangi Voren dengan posisi belati yang bersimbah darah. Voren tetap berdiri diam selama beberapa detik sebelum akhirnya pedang besarnya patah menjadi dua bagian.

Garis merah panjang muncul di leher Voren. "Kau... melampaui harapanku..." bisik Voren sebelum tubuhnya tumbang ke atas tanah rawa yang dingin.

[Target Utama Tereliminasi. Sisa pasukan: 16 personel.]

Aslan menoleh ke arah para prajurit yang masih terpaku. "Kalian punya dua pilihan. Mati di sini bersama kapten kalian, atau kembali ke istana dan beri tahu Kael bahwa malaikat mautnya sedang dalam perjalanan."

Para prajurit itu saling pandang. Mereka melihat mayat Voren dan pemanah yang tewas, lalu melihat Aslan yang berdiri dengan tatapan mata biru yang mengerikan. Tanpa sepatah kata pun, mereka memutar harimau mereka dan melarikan diri dari hutan secepat mungkin.

Aslan menyarungkan belatinya. Tubuhnya terasa sakit karena efek overload, namun ia merasa jauh lebih kuat dari sebelumnya.

"Sistem, hapus semua jejak keberadaanku di sini. Kita akan menuju perbatasan utara," perintah Aslan.

[Tugas Diterima. Memulai pembersihan jejak digital dan fisik.]

Aslan berjalan meninggalkan rawa beracun itu tanpa menoleh ke belakang. Perjalanannya menuju takhta baru saja dimulai, dan Kapten Voren hanyalah nama pertama dalam daftar panjang yang harus ia selesaikan.

1
anggita
mampir like👍aja Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!