Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Brandon Dubois
Mereka kembali ke resor Bianca dalam keadaan mabuk, mabuk oleh alkohol sekaligus gairah. Percintaan panas itu berlangsung berjam-jam tanpa jeda. Bianca mengimbangi stamina pria lokal ini seolah tenaganya tidak terbatas.
Benar kata Lora, dia tidak boleh meremehkan pria Indonesia ini.
Setelah badai itu mereda dan suasana menjadi tenang, Bianca berbisik, "Mahesa, kau mendengarku? Aku ingin bicara."
"Bicaralah," sahut Mahesa tanpa membuka mata.
"Siang tadi, aku sudah memesan tiket pesawat komersial untuk pulang ke Paris."
Mahesa tersentak dan langsung membuka matanya. "Kenapa mendadak? Kau bahkan belum genap seminggu di Bali."
"Aku akan mencari ibuku. Wanita yang meninggalkanku saat aku masih berusia dua tahun."
"Lagi pula, aku sedang haid. Percuma, kau tidak akan bisa menyentuhku lagi."
"Itu bukan masalah, Bianca. Meski aku berengsek, aku paham siklus alami wanita. Tapi kenapa tidak menunggu Simon saja? Bukankah malam ini dia berangkat dari Milan?"
"Aku harus jujur padamu. Kemarin, saat kita menghabiskan malam di vilamu, aku meneleponnya. Dia sedang bersama seorang wanita, perempuan itu sedang mendesah. Dia membuatku kecewa, jadi aku ingin membalasnya. Biarkan dia datang ke sini dan mendapati aku sudah tidak ada."
"Lalu apa yang harus kukatakan padanya?"
"Katakan, temui aku di Paris. Aku akan memberikan alamatku padamu nanti."
"Ok, tapi tunggu, Bianca. Jadi kau sekarang haid? Kita tadi bercinta dalam keadaan kau haid?" Mahesa tak percaya. Baginya, baik dari segi kesehatan maupun pantangan moral di daerahnya, hal itu seharusnya tidak dilakukan.
Bianca yang sedang membersihkan diri di kamar mandi menyahut, "Tidak, baru saja kok."
Ia keluar dengan wajah malu-malu. "Aku lupa membawa pembalut dari Paris. Bisakah kau membelikannya di minimarket di ujung jalan tadi? Aku lihat mereka buka 24 jam. Merek apa saja, yang tanpa sayap."
Bianca memberikan cengiran lebar merasa tak enak, pemandangan langka setelah berhari-hari ia hanya menunjukkan wajah datar, dingin, dan sinis.
Mahesa tertegun sejenak, "Ternyata dia bisa tersenyum dan,, cantik sekali." Batinnya dalam hati.
Mahesa menatap Bianca dengan dahi berkerut sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia mengusap wajahnya, dan merasa geli melihat tingkah wanita yang baru saja bersikap sangat dominan namun kini justru memintanya melakukan tugas sepele.
"Jadi, setelah semua gairah gila tadi, kau memintaku mencari pembalut?" Mahesa menggelengkan kepala "Hanya kau yang berani menyuruhku begini." Mahesa menyambar kontak mobil dan mengenekan celana juga kemejanya.
"Merci, Mahesa."
Saat Mahesa pergi dan bingung mencari pembalut di minimarket, Bianca menyambar rokoknya. Padahal, dia masih memiliki cadangan beberapa lembar yang selalu ia bawa; permintaan tadi hanyalah alasan agar ia punya waktu sendiri.
"Lora... kau mendengarku? Aku haid. Itu artinya lima sampai enam hari ke depan, atau sampai benar-benar bersih, aku tidak bisa bercinta. Apa aku akan mati karena tidak bisa memberikan 'makan' pada cermin saat sedang haid?"
Tiba-tiba, permukaan cermin beriak. Sosok Lora muncul dengan sosok dirinya.
"Kau tidak mati secepat itu, Bianca. Tubuhmu sedang melakukan pembersihan, begitu juga dengan energiku," suara Lora bergema halus.
"Haid adalah di mana daya tarikmu justru berada pada puncaknya secara emosional. Jangan khawatir, rasa laparku itu bisa ditunda, tapi ingat... begitu darah berhenti mengalir, kau harus memberiku 'perjamuan' yang lebih besar dari malam ini sebagai gantinya."
"Pulanglah ke Paris. Cari ibumu. Tapi ketahuilah, semakin jauh kau berlari mencari masa lalu, semakin kuat aku akan menarikmu kembali ke masa depan yang sudah aku tuliskan."
"Aku tidak butuh pengakuannya. Aku hanya ingin membuat anak yang paling dia sayangi menjadi budakku. Apa dia punya anak tiri laki-laki dari suami keduanya? Aku baca di wikipedia, dari suaminya seorang diplomat itu, ada. Jangan dari rahimnya, itu sama saja kami sedarah."
Lora menyeringai,
"Kau belajar dengan cepat, Bianca. Balas dendam memang lebih gurih daripada sekadar gairah. Ya, pria itu ada. Namanya Brandon Dubois. Dia adalah segalanya bagi wanita itu. Brandon adalah kebanggaan keluarganya."
Lora mengusap permukaan kaca, menampilkan sekilas sosok pria muda berpenampilan aristokrat di jalanan Paris.
"Temui dia. Tapi ingat, saat kau menyentuh Brandon nanti, kau tidak hanya melakukannya untukku, tapi untuk memuaskan kehancuran yang kau simpan sendiri selama ini."
"Usia 28 tahun, kurator seni muda yang jenius dan baru saja membuka galeri pribadinya di distrik Le Marais, dengan rahang yang tegas, mirip dengan ayahnya namun memiliki sorot mata yang jauh lebih rapuh, jenis kerapuhan yang akan sangat mudah kau hancurkan, Bianca."
Lora tertawa kecil, "Dia tidak sekadar kaya dari warisan. Dia adalah 'anak emas' keluarga Dubois. Properti, koleksi seni langka, dan reputasi tanpa cela. Ibumu memuja dan menyayanginya lebih dari apa pun. Baginya, Brandon adalah hasilnya membangun hidup yang sempurna setelah membuangmu." Bianca merasa perih, namun memang begitulah Aline.. dia pun tak punya waktu untuk drama keluarga.
Lora melanjutkan informasinya. "Dia pria yang sopan Dia adalah mangsa yang sempurna untuk seorang agnostik sepertimu."
"Berikan aku info lainnya yang lebih dari sekedar aib, jika dia punya." Bianca
"Brandon punya seorang adik perempuan, darah daging ibumu sendiri, namanya Camille. Brandon sangat menyayanginya karena Camille menderita depresi berat dan kecenderungan menyakiti diri sendiri."
Bianca terpaku sejenak, tak menyangka jika adik tirinya depresi.
"Ibumu menyembunyikan Camille dari publik demi menjaga citra keluarga sempurnanya. Jika kau ingin kartu as."
Lora menyentuh kaca, memperlihatkan bayangan seorang gadis muda yang pucat tampak hancur. "Hancurkan Brandon melalui rasa cintanya pada Camille, dan kau akan melihat ibumu memohon di kakimu."
"Kenapa dia depresi? Pantas saja Brandon menjadi tumpuan terakhir karena Camille tidak bisa diharapkan," gumam Bianca.
"Dia depresi karena ia bisa 'melihat' apa yang orang lain tidak bisa, Camille mewarisi sedikit sensitivitas dari garis darah ibumu, garis darah yang sama dengannmu tapi dia tidak memiliki kekuatan untuk mengendalikannya. Dia merasa dihantui oleh bayangan yang tidak nyata, sementara ibumu menganggapnya hanya sebagai aib mental yang harus disembunyikan."
"Kejam sekali Aline," desah Bianca lelah menyebut nama asli ibunya, Vivianne Dubois. "Tidak heran, dia saja mampu membuangku, bukan tidak mungkin dia melakukan hal yang sama pada Camille."
Bianca beranjak dari cermin saat mendengar deru mesin mobil memasuki garasi resor. "Cukup, Lora. Mahesa sudah kembali membawa pembalutku. Terima kasih informasinya. Aku harus beristirahat karena pesawatku berangkat pukul sembilan pagi. Simon diperkirakan baru tiba di Bali besok pukul sebelas siang."
Ia menyunggingkan senyum tipis yang dingin. Rencananya sudah matang meninggalkan Simon yang mengkhianatinya di Bali, sementara ia terbang menuju Paris untuk menghancurkan hidup Aline melalui Brandon.