"Amelia kita sudah menikah, ingat perjanjian kita jika pernikahan ini hanya sementara. Aku menikahimu karena terpaksa.. jangan berharap banyak dari pernikahan ini. Aku pun tidak akan menyentuhnya."ucap Rudi.
Amelia gadis berasal dari desa kidul, bertemu dengan Rudi pria asal ibukota,ia seorang kontraktor yang sedang membangun jalanan di desa Amelia.
Amelia terpaksa menerima lamaran Rudi karena ingin melunasi hutang kedua orang tuanya.
Rudi terpaksa menikahi Amelia karena tunangannya Sarah hilang entah ke mana menjelang 1 minggu pernikahan mereka.
Sementara undangan sudah menyebar kemana-mana.
Untuk menutupi aib keluarga Rudi memilih Amelia untuk ia nikahi.
"Apapun persyaratannya aku terima yang terpenting uang yang kamu janjikan harus tepati..." jawab Amelia tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur silawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 24. menjemput Azizah.
Lutfiah dan Bramasta tak terima anak satu-satunya diperlukan tidak adil oleh mertuanya.
"Ini semua gara-gara Papa! Coba kalau Papa tidak menikah lagi, Azizah tidak akan menerima Karma dari perbuatan Papa.!" Teriak Lutfiah.
Bramasta menatap marah istrinya,ia tidak terima selalu disalahkan setiap musibah yang menimpa putri mereka.
"Kenapa jadi aku yang disalahkan? Tidak ada hubungannya aku menikah lagi, dengan masalah yang menimpa Azizah. Mertuanya saja yang tidak becus mata duitan. Berani sekali ia menyakiti hati putriku, lihat saja apa yang akan aku lakukan atas perlakuan keluarga Arman." Bram meninggalkan meja makan dengan hati yang kesal dan penuh amarah.
"Halo Arman.! Posisimu di mana sekarang?" Tanya Bram Dengan nafas memburu .
" Saya masih di kantor Pah." Jawab Bram dengan gugup.
Bagaimana tidak gugup suara mertuanya tegas dan dingin.
"Kamu tahu apa yang terjadi dengan istrimu?"Arman mengelap keringat dingin yang membasahi dahinya.
Tiba-tiba ia mengeluarkan keringat dingin padahal ruangan itu sangat dingin.
"Hari ini Azizah tidak ada telepon saya. Memangnya ada apa dengan Azizah Pah?"
Firasat Arman tidak enak,ia sangat yakin ibunya telah melakukan sesuatu terhadap istrinya...
"Ibumu telah mengusir anakku! Berani sekali, ibumu melakukan itu terhadap menantunya sendiri. Hanya karena ia akan mendapatkan menantu baru, dan kamu sebagai suami tidak ada otoritasnya sama sekali untuk melindungi istrimu. Azizah ini Putri kesayanganku, dari kecil ia sampai sekarang ia nggak pernah aku izinkan masuk dapur. Tidak pernah memasak makanan untuk dirinya sendiri, bahkan mencuci baju pun tidak pernah aku izinkan. Berani-beraninya ibumu menjadikan anakku pembantu." Nafas Bram memburu saat bicara dengan Arman.
Bram seperti singa yang akan menerkam mangsanya.
Arman pun nafasnya naik turun menahan amarah terhadap ibunya.
Dan ia pun mengutuk dirinya sendiri yang abai akhir-akhir ini dengan curhatan Azizah istri.
" Sumpah demi Allah Arman tidak tahu jika Ibu memperlakukan Azizah tidak baik. Saya akan pulang sekarang juga dan akan menyelesaikan masalah ini Pah." Arman mematikan komputernya dan merapikan kertas-kertas yang berceceran di atas mejanya.
Dengan langkah tergesa-getar Arman keluar kantor menuju parkiran, di mana motornya terparkir.
Arman bisa masuk di perusahaan elektronik ternama itu. Karena rekomendasi papa mertuanya..
Ia menarik tuas motornya. Roda dua brand Honda itu melaju kencang di jalan raya yang sangat ramai.
Sampai di depan rumah Arman memarkirkan kendaraannya begitu saja.
Tanpa mengucap salam ia mendobrak pintu yang tidak terkunci itu.
Semua keluarga sedang berkumpul membahas pernikahan Rudi dan Kamila.
"Astaghfirullah! Arman masuk rumah itu biasa kan mengucapkan salam, bikin kaget saja."protes Ainun.
"Ibu apakan istri ku? Tidak mungkin Azizah pulang ke rumah orang tuanya jika tidak ada sebabnya."tanya Arman dengan suara lantang..
Ainun gelagapan ia menatap firdaus dan Rudi. Tatapan itu tersirat minta bantuan pada firdaus suaminya untuk mengatasi masalah yang sedang ia hadapi dengan menantunya.
"Ibu tidak melakukan apa-apa. Azizah saja yang baper dan pulang kerumah orang tuanya karena ngambek. Kamu seperti tidak tahu sifat istrimu. Jika ngambek ia akan pulang ke rumah orang tuanya, dan mengadu yang tidak-tidak." Sanggah Ainun.
Arman menggelengkan kepalanya ia sangat hafal dengan Azizah. Walaupun ia sering pulang ke rumah orang tuanya karena ngambek. Tetap ia tidak pernah menceritakan masalah yang sedang ia hadapi dengan suaminya.
"Aku tahu istriku. Ia memang sering pulang ke rumah orang tuanya jika sedang marah..Tapi Azizah tidak pernah mengadu apa-apa kepada orang tuanya. Kali ini berbeda papa mertuaku sangat marah sekali saat meneleponku. Ia mengatakan Ibu telah memperlakukan Azizah tidak baik. Ibu tahukan? Siapa mertuaku." Arman yang sudah dikuasainya emosi tidak menghiraukan siapa lawan bicaranya.
Ia tidak sadar telah meninggikan suaranya pada wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.
" Ibu sadar gak perbuatan ibu itu telah menghancurkan rumah tangga anak sulung laki-laki kita... menantu itu dirangkul anggap seperti anak sendiri, jangan suka pilih kasih... saya heran dengan kamu tidak pernah berubah." ucap Firdaus dengan nada kecewa.
Ainun menahan marah dan malu dipermalukan oleh suami dan anaknya di depan calon menantu..
Kamila mengelus punggung tangan calon mertua dan merangkulnya.. wanita karbitan itu, berusaha memberikan ketenangan untuk calon mertua.
"Sabar bu sabar.. ini hanya salah paham saja, mungkin Mbak Azizah sedang capek. Dan ibu pun demikian biarkan saja dulu Mbak Azizah di rumah orang tuanya.. jika sudah adem hati Mbak Azizah pasti ia akan pulang ke rumah ini."ucap Kamila dengan nada yang sangat lembut dan halus.
Denada mencibir ia tahu jika calon adik iparnya itu sedang berusaha mengambil hati ibunya.
"Hiks..hik..Hiks.. ibu itu capek Mila. Selalu disalahkan oleh menantu dan suami ibu sendiri.. wajar dong jika Ibu minta tolong Azizah untuk belanja sayuran. Masa harus Dewi yang belanja dia kan anak perawan, apa kata orang anak perawan seperti ibu-ibu belanja sayuran."firdaus hanya bisa menarik nafas dalam mendengar keluhan istrinya.
"Memangnya jika Dewi belanja sayuran harga dirinya jatuh? Dan laki-laki tidak ada yang mau gitu dengan Dewi? jika ketahuan beli sayuran? Kamu aneh ajarannya, berbeda dengan ibu-ibu yang lain yang selalu mengajarkan anaknya mengerti dapur." Sahut Firdaus Firdaus .ia malu mendengar ucapan istrinya..
"Rudi..! rapat ini ditunda dulu. Besok kita lanjut lagi,masih banyak waktu untuk rapat keluarga. Sekarang bawa calon istri mu pulang ke rumahnya jangan tidur di rumah ini"perintah firdaus.
Ainun menatap firdaus dengan menggelengkan kepalanya ia tidak terima firdaus mengusir calon menantu kesayangan.
"Apa-apaan sih Bapak. Mengusir Kamila dan Rudi? Biarkan Kamila menginap di rumah ini."firdaus memberikan isyarat kepada Rudi supaya mengantarkan calon istrinya pulang.
Tanpa komentar Rudi menggandeng tangan Kamila untuk meninggalkan rumah orang tuanya.
Setelah calon menantu itu pergi, firdaus menatap lekat wajah Ainun.
"Ganti pakaianmu.. kita datangi rumah besan untuk menjemput menantu dan cucu ku, semua ini salahmu yang tidak bisa adil jadi mertua.." Ainun menolak, ia gengsi ingin mendatangi rumah besannya, hanya untuk menjemput sang menantu.
Egoisnya sangat tinggi ia merasa dirinya benar dan menantunya yang salah...
"Kalau kamu tidak mau mengalah minta maaf pada menantumu dan besan. Aku pastikan tidak akan pernah hadir di acara pernikahan Rudi, biarkan hancur sekalian."ancam firdaus.
Akhirnya Ainun mengikuti perintah suaminya untuk silaturahmi ke rumah sang besan.
30 menit berlalu, kini Ainun dan firdaus sudah duduk berhadap-hadapan dengan Bram dan Lutfiah di ruang tamu rumah Azizah.
Sebelum memulai pembicaraan firdaus menghela nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan-lahan.
"Hmm.. Sebelumnya saya minta maaf untuk kesalah pahaman ini.. Atas nama istri saya, saya minta maaf Yang sebesar-besarnya pada besan. Bapak minta maaf ya,nak. Atas kesalahan ibumu." Ucap firdaus dengan nada pelan sambil menatap besan dan menantunya.
Bram dan Lutfiah diam tidak menjawab ucapan maaf dari firdaus besan mereka.
Mereka memberikan kuasa untuk Azizah yang menjawabnya.
"Bukan bapak yang buat kesalahan, melainkan ibu. Kenapa Ibu tidak minta maaf secara langsung padaku. Ibu yang telah mengusirku secara tidak hormat dari rumahnya. Bukan bapak."Azizah memang sangat menghargai Bapak mertuanya yang sangat baik.
Firdaus melirik Ainun dan memberi kode supaya ia minta maaf pada sang menantu.
Ainun tidak mau mengeluarkan kata-kata maaf dari bibirnya untuk Azizah.
"Sepertinya besan Ainun keberatan untuk minta maaf kepada menantunya. Tidak apa-apa, itu hak beliau untuk minta maaf. Saya tidak memaksa, sebagai orang tua saya punya hak untuk melindungi hati anak saya dari mulut pedas seperti silet. Dan mulai sekarang Azizah tidak saya perkenankan pulang ke rumah Pak besan. Selamanya ia akan tinggal di rumah ini. Saya tidak mau anak saya tertekan batin tinggal di rumah besan, saya membesarkan Azizah dengan cinta kasih dan harta. Nyamuk pun tidak saya izinkan untuk menggigit anak saya. Itu artinya tidak ada satu orang pun yang bisa menyakiti anak saya termasuk Ibu besan."firdaus menahan kesal bukan main melihat sikap Ainun yang tidak dewasa sama sekali dan keras kepala.
Arman dan Firdaus menatap lekat Ainun baru ia mau minta maaf dengan Azizah.
"Ibu minta maaf jika ada kata-kata ibu yang menyakitimu Azizah. Tidak ada maksud ibu ingin mengusir mu, Ibu bisa mengeluarkan kata-kata pedas itu. Karena kaget kamu melempar ibu dengan sayuran. Ibu merasa terhina oleh sikapmu, spontan kalimat usiran itu keluar dari bibir ibu. Sekali lagi Ibu minta maaf ya." Azizah melengos mendengar ucapan maaf mertuanya yang tidak tulus menurut Azizah.
Azizah diam ia tidak menjawab permintaan maaf dari ibu mertua.
"Azizah..Ibu mertuamu minta maaf, sebagai umat manusia yang mengerti agama dan etika. Kewajibanmu untuk memaafkan kesalahan mertuamu. Karena manusia tidak luput dari salah dan dosa." Sahut Lutfiah.
Azizah menjawab dengan menganggukkan kepala.
"Saya maafkan Bu.! Tetapi saya tidak mau pulang ke rumah Ibu lagi apapun alasannya. Dan saya tidak mau menggunakan seragam keluarga dari pihak laki-laki di hari pernikahan Rudi dan Kamila."hatinya sangat sakit saat sang ibu mertua membandingkan dirinya dengan calon menantu Baru..
Azizah akhirnya merasakan apa yang dirasakan oleh Amelia saat menjadi menantu Ibu Ainun.
Amelia selalu dibanding-bandingkan dengan Azizah dan selalu didzalimi oleh ibu mertuanya.