Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Perjamuan benang merah
Malam itu, Surabaya seolah kehilangan nyawanya. Udara terasa sangat statis, pengap, dan berbau karat. Di sebuah perumahan yang biasanya tenang, rumah Netta berdiri seperti sebuah anomali.
Lampu-lampu jalan di sekitarnya berkedip tidak stabil, menciptakan irama yang tidak sinkron dengan detak jantung manusia.
Rendra memarkir motor Supra tuanya dengan terburu-buru di depan pagar rumah Netta. Tak lama kemudian, Bagas datang dengan napas terengah-engah, disusul Nadin yang memacu motor matiknya dengan kecepatan tinggi. Ketiganya berdiri di depan pintu rumah Netta, saling pandang dengan kecemasan yang nyata.
"Kalian merasakannya?" bisik Nadin, tangannya gemetar saat memegang ponsel. "Hawa ini... sama seperti di Lab TKJ kemarin, tapi sepuluh kali lebih tajam."
"Bukan cuma hawa dingin, Din," sahut Rendra sambil membetulkan letak kacamatanya. Postur bungkuknya terlihat sangat kaku, seolah ia sedang menahan beban yang menekan pundaknya dari atas. "Ini soal frekuensi. Kayak ada suara desis yang terus-menerus menagih sesuatu."
Mereka mengetuk pintu, dan Ibu Netta yang membukakan pintu tampak sangat lega melihat kedatangan mereka. "Syukurlah kalian datang. Netta... dia mengunci diri di kamar. Dia terus bicara soal 'benang' dan 'jahitan'. Ibu takut sekali."
Tanpa membuang waktu, mereka bertiga naik ke lantai dua.
****************
BAB 12: Perjamuan Benang Merah
Pintu kamar Netta tertutup rapat. Dari dalam, tidak terdengar suara tangisan, melainkan suara krek... krek... krek... yang konsisten. Suara kayu yang beradu dengan logam. Suara mesin jahit tua yang bekerja di tengah kesunyian malam.
"Net! Buka pintunya!" teriak Bagas sambil menggedor pintu kayu itu dengan tangannya yang besar. "Ini kita, Net! Bagas, Rendra, sama Nadin!"
Tidak ada jawaban. Rendra menempelkan telinganya ke pintu. Ia tidak hanya mendengar suara mesin jahit, ia mendengar suara bisikan Netta yang sedang menghitung.
"Debit... nyawa... Kredit... janji... Saldo... nol... saldo... nol..."
"Dia lagi ngitung neraca, tapi bukan angka," bisik Rendra horor. "Dia lagi terjebak di dalam logikanya sendiri yang dikuasai residu itu!"
Dengan sekali hentakan bahu Bagas, pintu kamar itu terbuka.
Pemandangan di dalam kamar itu membuat mereka terpaku di ambang pintu. Kamar Netta yang biasanya rapi dengan pernak-pernik warna pastel kini berubah menjadi labirin benang. Ribuan benang merah pekat melintang dari sudut plafon ke kaki tempat tidur, dari meja belajar ke arah pintu. Benang-benang itu tampak tembus pandang namun memancarkan cahaya redup yang mengerikan.
Netta duduk di tengah tempat tidur, matanya terbuka lebar namun pupilnya mengecil. Tangannya bergerak-gerak di udara kosong seolah sedang menarik benang yang tak terlihat. Yang paling mengerikan adalah bayangan Netta di dinding. Di sana, bayangan itu tidak duduk di tempat tidur; ia tampak berdiri di depan sebuah mesin jahit raksasa yang terbuat dari bayangan hitam, menjahit secarik kain yang menyerupai kulit manusia.
"Netta!" Nadin berlari mendekat, namun langkahnya terhenti saat kakinya menyentuh salah satu benang merah di lantai. Ia memekik kesakitan. "Dra! Benang ini panas! Kayak kawat pijar!"
"Jangan sentuh fisiknya!" seru Rendra. "Kalian lihat bayangannya? Itu sumbernya! Residu Ibu Vema nggak menyerang tubuh Netta, tapi dia menjahit bayangannya agar Netta nggak bisa lepas!"
Bagas mengepalkan tangannya. "Terus kita harus gimana? Kita nggak bisa mukul bayangan!"
"Doa, Gas! Kayak di perpustakaan!" Rendra berteriak. Ia segera duduk bersila di lantai yang dingin, mengabaikan rasa takut yang mencekik tenggorokannya. "Buat lingkaran di sekitar Netta! Jangan sampai benang itu menyentuh jantung kalian!"
Mereka bertiga duduk melingkar di bawah jaring-jaring benang merah itu. Rendra memimpin dengan suara yang berat dan penuh tekanan. Ia mulai merapalkan doa-doa perlindungan dengan intensitas yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Setiap kali ayat suci berkumandang, benang-benang merah di ruangan itu bergetar hebat. Mereka mengeluarkan suara berdenging yang menyakitkan telinga, seperti suara biola yang senarnya ditarik terlalu kencang. Netta mulai meronta, tubuhnya terangkat sedikit dari tempat tidur seolah ada tali yang menarik punggungnya ke atas.
"Lepaskan... belum... selesai... jahitan... ini... milikku..." Sebuah suara serak dan dingin menggema di ruangan itu, bukan dari mulut Netta, tapi dari bayangan di dinding.
"Nggak akan!" seru Bagas, suaranya menggelegar menimpa suara gaib itu. Ia ikut berdoa dengan kencang, keringat mengucur deras di dahinya. "Netta itu teman kami! Dia bukan barang pesanan!"
Nadin memejamkan mata erat-erat, air mata membasahi pipinya. Ia bukan orang yang sangat religius, namun di saat ini, ia menyerahkan seluruh jiwanya pada setiap kata doa yang diucapkan Rendra. Ia membayangkan sebuah cahaya putih yang memotong setiap benang merah yang mengikat Netta.
Tiba-tiba, suara mesin jahit itu berhenti. Suasana menjadi sunyi senyap sejenak, hanya terdengar suara napas mereka yang memburu. Namun, kegelapan di sudut kamar mulai memadat. Bayangan wanita penjahit itu perlahan keluar dari dinding, menjadi siluet hitam yang tembus pandang namun memiliki berat yang luar biasa.
Sosok itu berjalan mendekati Rendra. Hawa dingin yang dibawanya terasa seperti menusuk tulang sumsum. Ia mengangkat tangannya yang panjang, dengan jari-jari yang ujungnya berbentuk jarum tajam.
Rendra merasa dadanya sesak, seolah ada beban ribuan ton yang menindihnya. Logika akuntansinya mencoba mencari jalan keluar. Keseimbangan... harus ada keseimbangan.
"Kamu menginginkan bayaran?" bisik Rendra di tengah doanya, menatap lurus ke arah sosok tanpa wajah itu. "Vema sudah menjauh! Hutang kami sudah lunas dengan menjauhnya kami dari dia! Kenapa kamu masih di sini?!"
Sosok itu berhenti tepat di depan wajah Rendra. Bau kain tua dan bau pemakaman menusuk hidung Rendra. Perlahan, sosok itu menunjuk ke arah buku jurnal Netta yang robek di meja. Di sana, benang-benang merah itu membentuk sebuah simbol: Lingkaran Lima.
Rendra menyadari sesuatu yang pahit. "Karena kita sudah berlima... kamu nggak akan berhenti sampai lingkaran ini hancur salah satu?"
Sebelum sosok itu sempat menyerang, sebuah cahaya terang muncul dari arah jendela. Bukan cahaya lampu, melainkan sebuah simbol perlindungan yang terpantul dari luar. Di kejauhan, di atas dahan pohon besar di depan rumah Netta, Vema berdiri. Ia tidak masuk ke dalam, ia hanya berdiri di sana dengan tas hitamnya yang terbuka, memegang sebuah cermin kecil yang memantulkan cahaya bulan tepat ke arah kamar Netta.
Vema sedang membantu dari jauh, meski ia tetap menjaga "sekat" yang dibuat ibunya.
Melihat gangguan dari Vema, sosok bayangan itu menggeram murka. Doa Rendra, Bagas, dan Nadin semakin menguat, diperkuat oleh pantulan energi dari Vema di luar sana. Satu per satu, benang merah di kamar itu putus dengan suara denting yang keras.
Cring! Cring! Cring!
Setiap kali benang putus, Netta tersentak hingga akhirnya ia jatuh terkulai di atas tempat tidurnya. Bayangan hitam penjahit itu perlahan memudar, tersedot kembali ke dalam sudut-sudut gelap ruangan, meninggalkan hawa amis yang memuakkan.
Suasana kembali normal. Lampu neon di kamar kembali menyala terang. Benang-benang merah itu lenyap tanpa bekas, seolah hanya sebuah ilusi massal.
Netta terbangun dengan napas tersengal. Ia langsung memeluk lututnya, gemetar hebat. "Dra... Bagas... Nadin... dia tadi mau jahit mulutku... dia bilang aku terlalu banyak bicara..."
Nadin langsung memeluk Netta erat. "Sshhh... sudah nggak apa-apa, Net. Kita di sini. Kamu aman."
Bagas mengusap wajahnya yang pucat. "Gila... aku pikir kita bakal mati beneran tadi. Bayangan itu... dia beneran mau nyentuh kita."
Rendra berdiri perlahan, punggungnya terasa sangat sakit. Ia berjalan menuju jendela dan melihat ke arah pohon di depan rumah. Vema sudah tidak ada di sana. Hanya ada dahan yang bergoyang tertiup angin malam.
"Vema tadi bantu kita," ucap Rendra pelan.
"Dia datang?" tanya Netta tak percaya.
"Cuma dari jauh. Dia nggak berani masuk," Rendra menatap ke arah meja belajar Netta. Buku jurnal yang tadinya robek kini kembali utuh, namun di sampulnya tertinggal sebuah bekas luka kecil berbentuk lubang jarum.
Netta mengambil buku itu dengan tangan gemetar. "Ren... dia bilang 'Hutang Jasa: Nyawa' tadi. Tapi kenapa sekarang hilang?"
Rendra mengambil napas panjang. "Karena Vema yang membayarnya dari luar. Tapi aku takut... ini cuma pembayaran cicilan, Net. Bukan lunas."
Malam itu, mereka berempat tidak pulang. Mereka menginap di ruang tamu rumah Netta, saling berjaga dengan lampu yang tetap menyala terang. Mereka menyadari bahwa teror ini bukan lagi soal sekolah atau jurusan. Ini adalah tentang hidup dan mati yang dijahit ke dalam sebuah realitas yang tak kasat mata.
Dan bagi Sarendra, "audit" yang sebenarnya baru saja dimulai. Ia tahu bahwa Ibu Vema tidak akan tinggal diam melihat "pelanggannya" diganggu, dan sang Pelanggan Besar di sekolah pasti akan segera bertindak karena jalur energinya kembali terhambat.
"Besok," ucap Rendra di tengah keheningan ruang tamu, "kita cari tahu siapa yang sebenarnya memesan tas paling merah di sekolah ini. Kita harus selesaikan akarnya sebelum Netta—atau salah satu dari kita—beneran jadi 'kain' jahitan selanjutnya."
Di luar, suara adzan Subuh mulai berkumandang, membawa secercah harapan di tengah kegelapan yang baru saja mereka lalui. Namun di dalam hati mereka masing-masing, benang merah itu masih terasa melilit, menunggu waktu yang tepat untuk kembali mengencang.
ada apa dgn vema
lanjuuut...