Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.
Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??
kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!
Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar
Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 6
Lyra duduk di kursi belakang mobil hitam keluarga Raven, wajahnya datar tapi dalam hatinya masih kebawa suasana interogasi di kantor polisi tadi. Magnus udah nggak nganterin lagi, jadi kali ini supir pribadi yang bawa dia pulang. Paul di mobil lain—sibuk urus laporan.
Begitu mobil berhenti di depan gerbang rumah megah keluarga Raven, Lyra turun pelan. Matanya sempat melirik ke balkon lantai dua—lampu ruang kerja ayahnya, Ratchet, masih menyala. Artinya, bapaknya belum tidur dan jelas siap menunggu kepulangannya.
Pintu depan dibuka. Benar saja, Ratchet sudah berdiri di ruang tamu, masih dengan jas putih dokter yang belum sempat dilepas. Wajahnya tegang.
“Lyra Raven,” suaranya datar tapi tajam, “kamu sadar jam berapa ini? Kamu tahu orang-orang di luar sana bisa saja mempercayai fitnah murahan itu. Dan kamu malah pulang larut malam, tanpa pengawasan.”
Lyra menghela napas, lelah, “Aku dipanggil polisi, Pa. Bukan clubbing. Kalau Papa mau marah, tunggu aku nggak bawa alibi dulu.”
Ratchet mendengus, jelas makin kesal.
Sialnya, Paul muncul dari pintu belakang bersamaan, seragam polisinya masih rapi. Dia berhenti sejenak, matanya menatap Lyra lalu menoleh ke arah ruang tamu—dan langsung freeze.
Karena di sana, duduk dengan santainya, Pharma. Jas dokter biru langitnya licin, rambut blond-nya basah seakan baru dari shower, dan senyum tipisnya seolah nggak ada masalah di dunia ini.
“Welcome home, Lyra,” suara Pharma terdengar lembut, sangat kontras dengan hawa dingin Ratchet. “Kebetulan aku tadi datang untuk ngobrol sama ayahmu. Dan, well… senang sekali kamu selamat dari keributan malam ini.”
Lyra diam, tatapannya menusuk. Dia ingat jelas di kehidupan sebelumnya, ini titik di mana Pharma mulai makin dekat sama Veronica. Hatinya mendadak panas—campuran marah dan frustrasi.
Paul maju, menaruh topinya di meja, “Pharma. Ngapain lo masih di sini jam segini?” Nada suaranya datar, tapi tegang. Rivalitas samar antara dokter flamboyan itu dan polisi dingin sudah sering jadi percikan di rumah ini.
Pharma cuma tersenyum samar. “Tenang saja, Kompol Raven. Aku bukan penculik atau kriminal. Aku hanya… rekan kerja senior ayahmu. Lagipula, apa salahnya menemani?”
Lyra melirik, sarkas terucap tanpa bisa ditahan:
“Temani? Oh, jadi sekarang kamu punya shift malam khusus di rumah orang lain?”
Ruangan langsung hening sepersekian detik. Paul mengangkat alis, Ratchet refleks menghela napas panjang, dan Pharma hanya menanggapi dengan senyum miring, matanya berkilat menantang.
“Kalau kamu maunya begitu, Lyra,” Pharma menjawab pelan, “aku bisa jadi shift malam tetapmu. Tergantung kamu terima atau tidak.”
Ucapan itu bikin darah Lyra berdesir—antara muak dan... sesuatu yang lebih rumit.
Malam itu suasana rumah Raven udah agak lengang setelah pulang dari kantor polisi. Lyra keliatan capek banget, duduk di sofa sambil narik napas panjang. Paul masih kayak polisi banget—nyatet, ngulangin kronologi, sambil liatin Lyra dengan tatapan nyebelin khas Prowl.
“Aku udah bilang, bukan aku yang nabrak,” suara Lyra datar tapi firm, jelas-jelas udah capek dituduh.
Paul geleng-geleng. “Bukan soal itu, Lyra. Kamu harus hati-hati. Orang bisa gampang manfaatin situasi buat ngejebak.”
“Ya terus mau gimana? Aku diem aja biar difitnah?” Lyra nyeletuk, matanya melotot sebentar.
Di pojokan, Cade lagi nyender santai ke pintu, senyum sinis. “Lucu juga ya, Raven bawa-bawa orang yang bisa bikin satu wilayah ribut.”
Paul langsung nengok, nadanya naik, “Cade, bukan urusan wilayahmu.”
“Eits, santai, Paul. Gue cuma ngingetin, kalau lo nggak bisa jagain satu orang aja, gimana lo mau jagain satu distrik?” Cade sengaja ngomporin, senyumnya makin lebar.
Alaric—Jazz—langsung maju, nyoba nahan ketegangan. “Udahlah, jangan panas di sini. Lyra baru pulang dari penculikan, bukannya istirahat malah kalian ribut.”
Lyra akhirnya berdiri, capek dengar debat yang ujung-ujungnya selalu nyeret namanya. “Aku naik dulu. Kalau mau adu argumen, jangan di ruang tamu, suaranya nyebelin.” Dia langsung jalan ke atas, ninggalin mereka.
Begitu pintu kamar tertutup, Lyra akhirnya ngehempasin diri ke kasur. Tangannya nutup wajah, pikirannya muter balik ke malam itu—waktu Magnus dateng tiba-tiba, borgolin penculik, dan tatapan matanya yang dingin tapi bikin aman. Entah kenapa, bayangan itu lebih nempel daripada semua drama ribut di bawah tadi.
---
---
Besok paginya, ruang rapat utama rumah sakit udah penuh sama aroma kopi dan kertas laporan. Kursi-kursi panjang diisi para dokter senior dan bawahan mereka. Ratchet duduk di ujung meja, jelas-jelas jadi pusat perhatian. Di sisi kirinya ada Aidil Revta (First Aid), sementara di kanan ada Iva Resna (Minerva), dua murid andalan yang serius banget nulis catatan.
Pharma datang belakangan, dengan gaya elegan khas dia, langsung duduk di kursi samping Lyra. Veronica udah ada lebih dulu, ngerapihin map biru di depannya.
“Baik,” suara Ratchet ngebuka rapat, tegas seperti biasa. “Hari ini kita akan membahas penanganan kasus gawat darurat yang meningkat beberapa minggu terakhir. Kita butuh koordinasi lebih cepat. Saya nggak mau lagi dengar ada pasien yang telat ditangani.”
Lyra diam aja, tangannya mainin bolpen. Tapi sesekali tatapannya nyelonong ke Pharma. Dokter itu kayak biasa, keliatan cool, fokus ke laporan medis, tapi aura “jaga jarak”-nya makin berasa.
Veronica angkat tangan duluan. “Dengan segala hormat, Dok, sebagian besar keterlambatan bukan dari tim medis, tapi dari laporan kepolisian yang terlambat masuk. Pasien datang tanpa keterangan jelas, bikin tim kita kelabakan.”
Ratchet mendengus, “Saya tahu. Itu sebabnya kita perlu bikin sistem komunikasi baru dengan pihak kepolisian. Kalau tidak, korban berikutnya bisa lebih parah.”
Lyra akhirnya ikut angkat suara. “Kalau boleh usul, kenapa nggak bikin tim kecil penghubung? Jadi setiap ada kecelakaan, polisi bisa langsung kontak satu nomor khusus. Kita gilir piketnya biar nggak numpuk di satu orang.”
Aidil sempat ngangguk setuju, tapi Veronica nyelutuk dingin, “Masalahnya siapa yang sanggup standby 24 jam? Jangan sampai yang jaga malah tumbang.”
Pharma yang dari tadi diem, akhirnya buka suara—nada suaranya datar tapi tajam. “Kalau memang ada yang nggak sanggup, lebih baik mundur dari awal. Rakyat butuh dokter yang siap kapan pun, bukan yang sibuk hitung-hitungan jam tidur.”
Kalimat itu bikin ruangan mendadak hening. Veronica langsung noleh, wajahnya agak merah. Ratchet menghela napas berat.
Lyra sendiri ngerasa jantungnya deg-degan. Kalimat Pharma itu nusuk banget—dan entah kenapa, dia merasa sindirannya nggak cuma buat Veronica, tapi… juga buat dia.
***
Beberapa jam kemudian, rapat akhirnya ditutup sama Ratchet. Dokter tua itu berdiri, ngetok meja sekali.
“Cukup untuk hari ini. Laporan detail dikumpulkan besok pagi. Disiplin kalian diuji mulai sekarang.”
Para dokter pada beres-beres kertas. Aidil sama Iva keluar bareng sambil bisik-bisik, sementara Loen buru-buru kabur ke ruangannya (mungkin takut kena pelampiasan lagi). Lyra masih duduk sebentar, ngelap keringat dingin—kepalanya agak berat karena intensitas rapat.
Pharma berdiri anggun, mapnya dilipat rapi. Nah, Veronica langsung sigap jalan ke arahnya.
“Dok Pharma, tadi ide Anda luar biasa,” katanya dengan senyum lebar, agak dibuat-buat. “Kalau Anda setuju, mungkin kita bisa diskusi lebih lanjut? Saya ada beberapa data tambahan di ruang saya.”
Lyra yang lagi berdiri pelan, otomatis berhenti. Tatapannya ngikutin dua orang itu.
Pharma menoleh. Nggak ada ekspresi selain tatapan dingin seperti biasa, tapi bibirnya melengkung tipis. “Data tambahan, hm? Baiklah. Saya punya waktu sebentar.”
Bruh.
Hati Lyra langsung kayak ditusuk. Dia berusaha jaga ekspresi, tapi tangannya refleks ngeremetin bolpen di genggaman.
Veronica keliatan makin seneng karena berhasil “narik” perhatian Pharma. Mereka jalan berdua keluar ruang rapat, ninggalin Lyra di belakang. Suara sepatu hak Veronica ngeklik-klik sepanjang lorong, kayak sengaja dipamerin.
Lyra akhirnya buang napas keras. “Serius, ya? Gue ditinggalin lagi…” gumamnya lirih, hampir kayak ngomong ke dirinya sendiri.
---
---
Lyra butuh udara. Ruangan rapat itu udah terasa terlalu sempit sejak Veronica dan Pharma keluar bareng. Jadi dia mutusin buat jalan sebentar ke lorong yang agak sepi sambil bawa map laporan.
Tapi sialnya, langkah buru-burunya malah bikin dia nggak merhatiin arah. Brak!
Lyra nabrak seseorang di tikungan. Map yang dia bawa mental, kertas-kertas berhamburan jatuh ke lantai.
“Oh—maaf! Saya nggak lihat jalan…” Lyra langsung jongkok buru-buru, ngerapiin kertas.
Seseorang juga ikutan jongkok di depannya. Suara berat tapi tenang itu kedengeran jelas, “Tidak apa-apa, Nona. Harusnya saya yang minta maaf.”
Lyra ngangkat kepala. Lelaki dengan setelan abu-abu elegan, dasinya rapi, wajahnya dewasa dengan tatapan tajam. Dia keliatan beda dari para dokter kebanyakan—lebih berwibawa, aura politis banget.
Itu Profesor Trevania Candra—salah satu senator kesehatan yang sering didengar namanya Lyra dari ayahnya. Orangnya masih muda, 29 tahun, tapi udah punya reputasi besar di bidang kebijakan medis dan operasi.
Mereka berdua sama-sama ngambil kertas terakhir yang jatuh. Jari Lyra dan jari Revan ketemu di atas selembar dokumen.
Sekejap waktu berhenti.
Lyra refleks narik tangannya, wajahnya langsung memanas. “Uh—maaf…”
Revan ngulas senyum tipis, tatapan matanya dalam banget, seolah bisa nembus hati Lyra. “Tangan Anda dingin sekali. Anda baik-baik saja? Jangan sampai karena kerja terlalu keras, Anda jatuh sakit.”
Suara tenangnya beda jauh dari Pharma yang kadang ketus. Ada kehangatan yang bikin Lyra nggak enak hati, tapi sekaligus… nyaman.
Lyra cuma bisa angguk cepat sambil ngerapihin kertas, jantungnya udah deg-degan nggak karuan.
---
---
Langkah Lyra kembali ke ruang rapat terdengar tenang… tapi kali ini nggak sendirian. Di sampingnya jalan Profesor Revan Trevania Candra, senator muda yang biasanya cuma muncul di layar berita atau undangan acara formal. Aura dingin tapi berwibawanya langsung bikin semua kepala di ruangan menoleh.
Minerva sampai hampir ngejatuhin pulpen. Aidil reflek merapikan jas dokternya. Bahkan Ratchet, yang biasanya kalem, ngelirik dengan ekspresi kaget jarang terlihat.
“Se—Senator Candra…?” Ratchet berdiri setengah, nada suaranya penuh hormat.
Revan cuma senyum tipis. “Tenang saja, Dokter Ratchet. Saya hanya kebetulan bertemu Nona Lyra di lorong. Beliau sedang membawa dokumen penting, jadi saya sekalian mengantarnya ke sini. Bukankah lebih aman begitu?”
Lyra, yang tadinya udah biasa diserang tatapan karena Veronica, sekarang malah jadi pusat perhatian dengan nuansa lain—bukan kasihan, bukan cibiran, tapi rasa hormat.
Pharma, yang dari tadi ngobrol mesra sama Veronica, langsung diam. Senyumannya kaku. Tangannya di meja ngepal kecil tanpa sadar. Matanya ngelirik Lyra tajam—ada sesuatu di sana: cemburu.
Veronica juga nyaris kehilangan topeng manisnya. Bibirnya terkatup, matanya sempet melotot kecil sebelum buru-buru diganti senyum palsu. “Oh… wah… kebetulan sekali ya. Lyra bisa-bisanya ditemani oleh… orang sebesar Profesor Revan.”
Lyra cuma senyum tipis, nada suaranya sarkas halus. “Namanya kebetulan, Veronica. Nggak semua orang perlu usaha keras untuk dapat perhatian.”
Ruangan langsung tegang. Aidil dan Minerva saling lirik, pura-pura sibuk dengan catatan.
Revan sendiri tenang banget, matanya menoleh sebentar ke Pharma yang lagi diam seribu bahasa. Tatapan singkat itu kayak bilang: kau bukan satu-satunya yang bisa ada untuk Lyra.
Ratchet akhirnya clearing throat, “Baiklah, kalau begitu, mari kita lanjutkan rapatnya…”
Tapi suasana udah berubah total. Lyra yang tadi selalu tersisih sekarang justru duduk dengan aura “tak tersentuh” karena ada Revan di pihaknya. Dan Pharma? Untuk pertama kalinya dia kelihatan kehilangan kendali
---
Rapat selesai. Suasana ruangan masih aneh—beberapa dokter pura-pura sibuk beresin map, tapi jelas kuping mereka pasang semua. Lyra keluar duluan, dokumen di pelukan. Nafasnya berat, tapi wajahnya tetap tegak.
Langkah cepat menyusul dari belakang.
“Hazel Lyra Raven.” Suara dingin tapi familiar itu terdengar.
Lyra berhenti. Menoleh pelan, mendapati Pharma berdiri dengan jas putihnya, senyumnya tipis tapi tajam. Veronica nggak ada di sampingnya—ini cuma antara mereka.
“Kamu sengaja, ya?” Pharma melipat tangan, tatapan matanya biru dingin menusuk. “Bawa-bawa Profesor Revan biar apa? Biar semua orang ngelihat kamu lebih tinggi daripada aku?”
Lyra mengangkat alis, suaranya datar. “Aku cuma kebetulan bertemu beliau di lorong. Lagipula, kalau kamu merasa tersaingi hanya karena itu… berarti ada masalah di dalam dirimu, bukan di aku.”
Pharma maju selangkah. Senyumnya hilang, nadanya lebih rendah. “Jangan main api, Lyra. Kamu pikir semua orang akan percaya kamu polos? Aku kenal kamu… terlalu baik.”
Sebelum Lyra sempat jawab, ada suara berat tapi tenang menyela:
“Dokter Pharma.”
Revan muncul dari arah lain, langkahnya mantap. Pandangan matanya tajam tapi tetap elegan, seperti seseorang yang terbiasa debat politik. Ia berdiri sedikit di depan Lyra, seakan membuat batas.
“Kalau saya tidak salah dengar,” lanjut Revan dengan nada sopan tapi menusuk, “Anda sedang menuduh Nona Lyra tanpa bukti jelas. Sebagai dokter sekaligus akademisi, bukankah seharusnya Anda lebih tahu cara menjaga kredibilitas? Atau memang… emosi Anda lebih dominan daripada profesionalisme?”
Pharma terdiam sepersekian detik. Matanya sempat beralih ke Lyra, lalu ke Revan. Rahangnya mengeras. “Ini urusan pribadi. Tidak ada hubungannya dengan Anda.”
Revan tersenyum tipis, tapi matanya dingin. “Selama saya ada di sini, selama Lyra masih rekan saya dalam tugas publik… maka urusannya otomatis juga dengan saya. Jangan salah paham, Dokter. Saya tidak akan membiarkan siapa pun menjatuhkan dia begitu saja.”
Lyra menatap Revan sebentar—hatinya hangat, meski wajahnya tetap kalem.
Pharma akhirnya hanya mendecak, menunduk sejenak, lalu berjalan pergi dengan langkah cepat. Dari jauh, Veronica yang tadinya menunggu di koridor langsung menghampirinya, berusaha menarik perhatiannya lagi.
Revan menoleh ke Lyra, nada suaranya melunak. “Kalau mereka mencoba lagi, katakan pada saya. Dunia ini terlalu keras untuk orang yang hanya bisa bertahan dengan sabar.”
Lyra menahan senyum tipis. “Aku bukan gadis lemah, Profesor. Tapi… terima kasih.”
Mata Revan menatapnya lebih lama dari seharusnya. Ada sesuatu di sana—perlindungan, ketertarikan, atau mungkin… ancaman bagi siapa pun yang mencoba menyentuh Lyra.
---
Pharma keluar dari lorong dengan langkah cepat. Jas putihnya berkibar, wajahnya dingin tapi jelas keliatan urat di pelipisnya menegang. Veronica yang dari tadi nunggu di dekat tangga langsung jalan cepat ngejar, heels-nya bunyi tak-tak di lantai marmer.
“Dokter Pharma!” panggil Veronica dengan nada manis, padahal jelas dia tahu mood Pharma lagi jelek.
Pharma berhenti mendadak, menoleh. “Apa lagi?” suaranya dingin, nyaris membelah udara.
Veronica nggak mundur. Malah senyum lebih lebar, seakan celah ini justru kesempatan. “Kamu nggak perlu kesal begitu… apalagi gara-gara si Lyra itu.” Ia mendekat, hampir menyentuh lengan Pharma. “Dia memang suka sok-sokan. Tadi itu jelas cuma drama, Profesor Revan kebetulan lewat dan—”
“Diam.” Satu kata, tajam. Mata biru Pharma berkilat, bikin Veronica refleks berhenti sepersekian detik. Tapi… bukannya takut, Veronica justru makin seneng.
Dia nyender dikit ke arah Pharma, suaranya diturunin biar lebih intim.
“Kemarahanmu itu justru bukti, kan? Kamu peduli sama dia… terlalu peduli. Tapi sadar nggak, Dok? Justru itu kelemahanmu. Lyra nggak pantas dapat perasaan itu. Dia cuma bikin kamu terlihat… manusiawi.”
Pharma mendengus pelan, nyaris kayak tawa dingin. “Manusiawi? Kata itu keluar dari mulutmu?” Tatapannya turun, menilai Veronica dari ujung kepala sampai kaki. “Jangan lupa siapa yang sering mendominasikan panggung dengan caranya sendiri. Kamu pikir aku butuh analisis picisanmu?”
Tapi Veronica tetap santai. Malah makin maju, jaraknya nyaris nol.
“Aku pikir kamu butuh seseorang yang mengerti sisi gelapmu… bukan orang polos yang bahkan nggak ngerti cara bertahan di ruangan penuh serigala.”
Ada jeda. Senyuman Veronica makin nakal, seolah-olah baru naro racun ke kuping Pharma.
“Aku, bukan Lyra.”
Pharma diam. Matanya nyempit, ekspresi antara marah, bingung, sekaligus… tertantang. Tangannya hampir terangkat, kayak mau dorong Veronica menjauh, tapi akhirnya dia cuma berbalik, ninggalin Veronica berdiri sendirian.
Veronica ngikutin punggungnya dengan tatapan penuh kepuasan. “Cepat atau lambat, Lyra akan jatuh sendiri. Dan saat itu terjadi… aku yang ada di sisimu.” gumamnya pelan, sebelum senyumannya berubah jadi licik.
---
---
Lyra keluar dari gedung rumah sakit, langkahnya agak berat tapi wajahnya tetap berusaha biasa aja. Angin sore Jakarta nyapu rambut hitam panjangnya. Baru aja dia buka ponsel, layar masih mati total. Sial, baterai masih kosong.
Tiba-tiba, suara khas terdengar di samping mobil hitam mewah yang udah nunggu di depan.
“Hazel Lyra Raven! Jangan bilang kamu jalan kaki pulang sendiri lagi.”
Itu suara Ratchet. Bapaknya sendiri, dengan jas dokter masih dipakai, dasinya agak longgar karena seharian rapat. Rambut hitamnya keliatan uban tipis, dan ekspresinya? Ya, jelas… mode marah.
Lyra menahan senyum kecil, mencoba kalem. “Aku nggak sempat kasih kabar, HP mati. Tapi aku bisa balik sendiri, Pa.”
Ratchet langsung nyeplos, “Balik sendiri? Kamu kira Jakarta ini taman bunga? Baru kemarin kamu hampir ditarik kasus tabrak lari. Mau ditambah lagi headline berita: ‘Putri Konglomerat Kedapatan Jalan Kaki Malam-malam’? Tidak akan terjadi selama aku masih bernapas.”
Pintu mobil dibuka paksa sama Ratchet.
“Masuk. Sekarang.”
Lyra akhirnya duduk di kursi belakang, nyender sebentar sambil tarik napas. Mobil jalan dengan halus, supir di depan diem aja, tahu diri. Suasana di dalam mobil agak tegang.
Ratchet nyolek pelipisnya, suara lebih rendah tapi masih ketus. “Aku dengar kabar… keributan di rapat tadi. Sama Pharma.”
Lyra langsung noleh, agak terkejut. “Pa udah tahu?”
Ratchet mendengus. “Kamu pikir gosip di rumah sakit bisa aku cegah? Semua orang ngomongin. Dan sekarang kamu juga udah bawa Profesor Revan ke dalamnya. Hebat sekali, Lyra. Kamu bikin seisi ruangan panas tanpa perlu nyentuh skalpel.”
Lyra nyender, matanya sayu, tapi senyum sinis muncul. “Aku nggak cari masalah, Pa. Mereka yang selalu narik aku ke masalah.”
Ratchet melirik putrinya sebentar, lalu buang napas panjang. “Aku tahu kamu kuat. Tapi jangan keras kepala. Dunia ini lebih jahat daripada sekadar debat di ruang rapat.”
Mobil masuk ke gerbang rumah megah keluarga Raven. Lampu halaman udah menyala, bikin suasana hangat tapi juga dingin karena sepi. Lyra turun, jalan masuk. Dari jauh, Paul keliatan duduk di teras, masih pake seragam polisi, sambil minum kopi.
Paul noleh, liat Lyra, liat mobil Ratchet, terus matanya sedikit melebar. “Jangan bilang… Pa yang jemput kamu lagi?!”
Ratchet udah jalan duluan, nggak peduli. “Tanya saja ke adikmu. Aku masuk dulu. Jangan bikin masalah baru, Paul.”
Paul ngelihatin Lyra penuh tanda tanya. “Serius, Noi… kamu nggak punya cara lain pulang kecuali drama tiap hari, ya?”
Lyra cuma nyengir miris. “Drama itu bukan aku yang bikin. Aku cuma pemain cadangan yang dipaksa naik panggung.”
---
---
Kamar Lyra sunyi. Lampu meja belajarnya aja yang nyala, nyorot ke buku catatan yang udah kebuka dari tadi tapi nggak dibaca-baca. Dia duduk di kursi, rambut hitamnya tergerai, sesekali mainin pulpen di tangannya.
Tok tok—suara pintu kamar Paul kebuka di ujung koridor, suara TV kedengeran samar. Tapi Lyra tetap diem di ruangannya sendiri, sibuk sama pikirannya.
Ponselnya akhirnya nyala lagi setelah dicas. Layar berkedip, notifikasi masuk. Lyra ngelirik malas… tapi alisnya langsung naik pas lihat nama pengirimnya.
Revan.
Pesan pertama singkat:
> “Sudah sampai rumah dengan selamat?”
Lyra ngecek jam—udah lewat jam sebelas malam. Tangannya berhenti sebentar, lalu ngetik balasan pelan.
> “Iya, terima kasih. Ayah yang jemput.”
Balasan Revan muncul cepet banget, kayak dia emang lagi nungguin.
> “Bagus. Saya sempat khawatir, mengingat situasi tadi siang. Kamu harus hati-hati, Lyra. Ada orang yang jelas tidak ingin kamu berdiri di tempatmu sekarang.”
Lyra ngelus kening, hatinya berdebar pelan. Tatapannya kosong ke layar, sebelum akhirnya ngetik:
> “Saya sudah terbiasa, Profesor. Dunia ini memang nggak suka lihat saya tenang.”
Ada jeda sebentar. Lalu muncul lagi balasan dari Revan.
> “Bukan soal terbiasa. Tidak semua orang bisa selamat hanya dengan sabar. Kadang, kamu butuh seseorang di sisi kamu. Kalau sewaktu-waktu mereka mencoba menjatuhkanmu lagi… ingat, kamu bisa hubungi saya kapan pun.”
Lyra berhenti ngetik. Jemarinya ngegantung di atas layar, matanya menatap kata-kata itu lama. Ada sesuatu di dada yang hangat, tapi juga bikin bingung. Dia menggigit bibir, lalu akhirnya balas singkat:
> “Terima kasih, Profesor. Saya akan ingat.”
Titik tiga muncul—Revan ngetik lagi. Lyra nahan napas, jantungnya makin kencang.
> “Dan satu hal lagi, Lyra… jangan biarkan orang lain membuatmu merasa kecil. Aku ada di sisimu.”
Lyra terdiam. Senyumnya muncul samar, meski matanya terasa panas. Dia taruh ponsel di meja, rebahin kepala di bantal, menatap langit-langit.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Lyra merasa… nggak sepenuhnya sendirian.
---
Siang itu, ruangan rapat kampus masih penuh bisik-bisik. Banyak mahasiswa nyebar gosip tentang apa yang terjadi kemarin. Nama Lyra keangkat terus, nyambung sama Veronica yang sengaja bikin-bikin cerita.
“Eh, katanya sih Revan tuh perhatian banget sama Lyra,” bisik salah satu cewek.
“Ya iyalah, keliatan jelas kemarin. Veronica aja dia ladenin, masa Lyra nggak?” sahut yang lain sambil ketawa.
Lyra yang baru masuk ruang sidang mahasiswa langsung ngerasain tatapan orang-orang. Dia tarik napas panjang, senyum tipis seakan nggak peduli, padahal dalam hati rasanya kayak lagi ditusuk jarum.
Di meja depan, Pharma udah duduk sambil buka laptop. Dari wajahnya keliatan jelas—dia nggak suka sama suasana ini. Matanya nyorot ke arah Lyra, lalu ke arah sekelompok mahasiswa yang bisik-bisik. Tapi sebelum Pharma sempat buka mulut, pintu ruang rapat kebuka.
Revan masuk.
Seketika ruangan langsung hening. Langkahnya tenang, tatapannya tajam, aura dosen “keras tapi karismatik” bener-bener bikin semua orang diem. Dia jalan lurus ke meja depan, lewat deket Lyra.
“Selamat siang,” ucap Revan datar. Tapi pas matanya ketemu sama Lyra, dia sempet berhenti sepersekian detik. Tatapan singkat itu kayak ngasih kode: Aku di sini.
Pharma yang liat itu langsung ngeh. Dia nutup laptopnya pelan, tapi tangan ngepal di bawah meja. Wajahnya datar, tapi mata dinginnya jelas nggak bisa nutupin rasa cemburu.
Veronica yang duduk agak belakang malah makin caper. Dia sengaja angkat tangan, nanya hal remeh ke Revan.
“Profesor, soal dokumen kemarin saya masih bingung… bisa tolong jelasin ulang, ya? Saya kurang nangkep.”
Revan nengok sebentar, terus jawab singkat, “Kamu bisa tanyakan ke asisten dosen. Itu bukan hal yang perlu dibahas di forum ini.”
Semua orang langsung melongo. Veronica mukanya kaku, jelas malu. Beberapa mahasiswa malah senyum-senyum, nahan ketawa.
Lyra nyaris nggak percaya barusan. Hatinya campur aduk—antara lega banget sama… deg-degan, karena Revan bener-bener pasang badan.
Pharma memperhatikan ekspresi Lyra. Semakin dia lihat, semakin jelas: ada sesuatu antara Lyra dan Revan. Dan itu bikin bara cemburu dalam dirinya makin sulit ditahan.