Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.
Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 SWMU
Matahari sore menyorot ruang kerja Nadia dengan warna oranye kemerahan, menciptakan siluet panjang di atas meja mahoni yang mengkilap. Kabar tentang "suku cadang" yang dibisikkan Yudhistira tadi pagi masih terngiang-ngiang, berdenyut di pelipisnya seperti migrain yang tak kunjung reda. Namun, Nadia tahu satu hal: di hadapan Bramantya, ia harus menjadi aktris terbaik. Ia harus menjadi mawar yang indah, meski akarnya sudah mulai meracuni tanah tempatnya berpijak.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Bramantya melangkah masuk, sudah melepas jasnya dan menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas terbuka. Penampilannya tampak lebih santai, hampir manusiawi, jika saja Nadia tidak tahu apa yang tersembunyi di balik ketenangan itu.
"Masih asyik dengan berkas-berkas ini?" tanya Bramantya. Ia berjalan mendekat, lalu berdiri di belakang kursi Nadia. Tangannya mendarat lembut di bahu istrinya, mulai memberikan pijatan ringan yang seharusnya terasa menenangkan.
Nadia memejamkan mata, berusaha keras agar tubuhnya tidak menegang. "Aku ingin memastikan laporan untuk peluncuran di Singapura tidak ada celah, Bram. Aku tidak ingin mengecewakanmu."
Bramantya terkekeh rendah, sebuah suara yang menggetarkan dada Nadia karena posisi mereka yang sangat dekat. "Kau tidak pernah mengecewakanku, Nadia. Justru aku yang merasa bersalah karena membuatmu bekerja terlalu keras di minggu-minggu pertama kita."
Ia memutar kursi Nadia sehingga mereka kini berhadapan. Bramantya berlutut dengan satu kaki di depan Nadia, sebuah posisi yang tampak sangat romantis dan penuh pengabdian. Ia mengambil tangan Nadia, mencium punggung tangannya dengan lembut.
"Malam ini, lupakan sejenak tentang Mahendra Group. Mari kita makan malam di luar, hanya kita berdua. Tidak ada asisten, tidak ada pengawal di dalam ruangan. Hanya kau dan aku," ucap Bramantya dengan tatapan mata yang begitu hangat, seolah ia benar-benar mencintai wanita di depannya.
Nadia memaksakan sebuah senyum malu-malu. "Ke mana kita akan pergi?"
"Ke tempat di mana kita pertama kali bertemu setelah kau kembali dari London. Kau ingat restoran kecil di pinggir sungai itu?"
Nadia mengangguk. Di sinilah letak kengerian Bramantya; ia mampu membangun momen romantis yang begitu sempurna di atas tumpukan rahasia yang mematikan. Pria ini tahu cara membelai hatinya sekaligus mencekik kebebasannya.
Makan Malam dan Duri yang Tersembunyi
Restoran itu telah dikosongkan untuk mereka. Hanya ada alunan biola yang memainkan lagu klasik dengan tempo lambat di sudut ruangan. Cahaya lilin menari-nari di wajah Bramantya, membuatnya tampak seperti pangeran dari negeri dongeng.
"Kau ingat apa yang kau katakan padaku malam itu?" Bramantya memecah keheningan sambil menuangkan wine ke gelas Nadia.
"Aku mengatakan bahwa aku takut tidak bisa mengimbangi langkahmu," jawab Nadia jujur. Mengingat masa itu, ia memang benar-benar terpesona oleh karisma Bramantya.
"Dan aku menjawab bahwa kau tidak perlu melangkah, Nadia. Kau hanya perlu berdiri di sampingku, dan aku yang akan membawa dunia ke hadapanmu." Bramantya meraih tangan Nadia di atas meja, ibu jarinya mengelus kulit halus Nadia. "Aku bersungguh-sungguh dengan ucapan itu. Semua yang kulakukan, semua ekspansi ini, adalah untuk membangun tempat yang aman bagimu."
Nadia merasakan gejolak di dadanya. Ada bagian dari dirinya—bagian yang masih mendambakan kasih sayang—yang ingin mempercayai kata-kata itu. Apakah mungkin Yudhistira salah? Apakah mungkin video itu memiliki penjelasan lain? Namun, ia segera teringat akan Bi Inah dan suntikan di paviliun.
"Bram," Nadia mencoba mengubah arah pembicaraan menjadi lebih ringan, "jika suatu saat nanti aku melakukan kesalahan besar... apakah kau masih akan menatapku seperti ini?"
Bramantya terdiam sejenak. Tatapannya berubah menjadi lebih intens, hampir gelap. "Kesalahan bisa diperbaiki, Nadia. Pengkhianatan adalah satu-satunya hal yang tidak memiliki obat. Selama kau setia, kau adalah segalanya bagiku."
Kalimat itu terdengar seperti janji cinta sekaligus ancaman mati. Bramantya kemudian mengangkat gelasnya. "Untuk masa depan kita di Singapura. Dan untuk kesehatanmu, yang paling utama."
Nadia berdenting gelas dengannya, merasakan cairan merah itu mengalir di tenggorokannya seperti darah. Kesehatanmu yang paling utama. Kata-kata itu kini terdengar begitu mengerikan setelah penjelasan Yudhistira tentang donor hati.
Kembali ke mansion, suasana terasa lebih rileks. Bramantya tampak dalam suasana hati yang baik. Ia bahkan menemani Nadia menonton film lama di ruang tengah sebelum akhirnya mereka naik ke kamar.
Saat Bramantya sedang membersihkan diri di kamar mandi, ponsel pria itu bergetar di atas nakas. Nadia melirik pintu kamar mandi yang tertutup, lalu dengan gerakan cepat ia melihat layar ponsel tersebut. Sebuah pesan singkat dari kontak bernama 'D':
"Subjek menunjukkan reaksi stabil setelah dosis ketiga. Kondisi hati sesuai target. Kita bisa menjadwalkan prosedur setelah acara Singapura selesai."
Darah Nadia terasa membeku. 'D' pasti dokter pribadi keluarga. Prosedur itu nyata. Pernikahan ini benar-benar sebuah peternakan organ manusia yang dikemas dalam kemewahan.
Nadia segera meletakkan ponsel itu kembali saat mendengar suara pintu terbuka. Bramantya keluar dengan handuk melilit pinggangnya, butiran air masih menetes di dadanya yang bidang. Ia tersenyum melihat Nadia yang sudah berbaring di tempat tidur.
"Kau tampak lelah, Sayang," ucap Bramantya. Ia ikut berbaring dan menarik Nadia ke dalam pelukannya. Aroma sabun cendana yang maskulin menyelimuti Nadia. Bramantya mengecup kening istrinya lama. "Tidurlah. Lusa akan menjadi hari yang emosional bagi kita semua."
Nadia berpura-pura tidur dalam pelukan suaminya. Ia bisa merasakan detak jantung Bramantya yang teratur di balik punggungnya. Ironisnya, pelukan yang dulu ia anggap sebagai tempat teraman di dunia, kini terasa seperti lilitan ular sanca yang sedang menunggu waktu tepat untuk menelan mangsanya bulat-bulat.
Keesokan paginya, mansion Mahendra dipenuhi aroma bunga sedap malam. Para pelayan sibuk mempersiapkan karangan bunga untuk dibawa ke makam Ibu Mahendra esok hari. Bramantya tampak sibuk dengan panggilan-panggilan telepon internasional, sementara Nadia memutuskan untuk mengunjungi Adrian di paviliun belakang.
"Nyonya, Tuan Besar memberikan perintah agar tidak ada yang mengganggu Tuan Adrian hari ini," cegat seorang pengawal di depan pintu paviliun.
Nadia mengangkat dagunya, menunjukkan otoritasnya sebagai nyonya rumah. "Aku membawakannya bubur kesukaannya. Lagipula, bukankah Tuan Besar mengatakan bahwa Adrian adalah tanggung jawabku juga? Apakah kau ingin aku melaporkan pada suamiku bahwa kau menghalangi perhatianku pada adiknya?"
Pengawal itu ragu sejenak, lalu menunduk dan membukakan pintu. "Hanya sepuluh menit, Nyonya."
Di dalam, ruangan itu sangat dingin. Adrian terbaring di tempat tidur, matanya terbuka namun kosong, menatap langit-langit. Nadia mendekat dan menyentuh tangan Adrian yang dingin.
"Adrian... ini aku, Nadia," bisiknya.
Adrian tidak menoleh, namun bibirnya bergerak pelan. "Lari... Nadia... lari sebelum dia membelahmu..."
Nadia merasakan air mata menggenang. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah alat perekam kecil yang diberikan Yudhistira. Ia menyembunyikannya di bawah bantal Adrian. "Aku akan mengeluarkanmu dari sini, Adrian. Lusa, saat Bram pergi ke makam. Bertahanlah."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari koridor. Nadia segera berdiri dan berpura-pura sedang menyuapi Adrian. Pintu terbuka, dan Bramantya berdiri di sana dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Kau sangat perhatian, Nadia," ucap Bramantya. Ia berjalan masuk dan berdiri di samping Nadia. "Adrian beruntung memilikimu sebagai kakak ipar."
"Aku hanya ingin dia merasa dicintai, Bram. Aku tahu betapa sulitnya kehilangan seorang ibu," jawab Nadia tenang.
Bramantya mengelus pipi Nadia. "Kau memiliki hati yang sangat besar. Terkadang aku khawatir hati itu akan menyakitimu sendiri."
Malam sebelum hari peringatan kematian, Nadia tidak bisa memejamkan mata. Ia sudah menyiapkan tas kecil berisi dokumen-dokumen penting yang ia sembunyikan di balik lemari. Yudhistira berjanji akan menjemputnya dan Adrian melalui gerbang belakang pukul sepuluh pagi besok, tepat saat Bramantya berada di pemakaman keluarga yang terletak di perbukitan jauh dari kota.
Namun, sebuah kejutan besar terjadi saat sarapan fajar.
Bramantya menyesap kopinya, lalu menatap Nadia dengan senyum yang tampak berbeda dari biasanya—lebih tajam, lebih dingin.
"Nadia, aku memutuskan untuk mengubah jadwal besok," ucap Bramantya santai.
Jantung Nadia berdegup kencang. "Maksudmu?"
"Aku tidak akan pergi ke makam sendirian. Aku ingin kau ikut denganku. Kita akan melakukan penghormatan bersama, lalu dari sana, kita akan langsung menuju bandara untuk berangkat ke Singapura lebih awal. Jet pribadi sudah siap pukul satu siang."
Nadia terpaku. "Tapi... tapi barang-barangku belum siap, Bram. Dan aku sudah berjanji pada staf yayasan untuk memantau persiapan terakhir di sini."
Bramantya meletakkan cangkirnya dengan denting yang keras. Suasana romantis yang ia bangun kemarin menguap begitu saja, digantikan oleh aura dominasi yang mencekam.
"Barang-barangmu sudah dikemas oleh para pelayan semalam. Dan staf yayasan? Mereka bisa bekerja tanpa diawasi selama beberapa jam." Bramantya berdiri, mendekati Nadia dan mencengkeram bahunya—kali ini tidak lembut. "Kau tampak keberatan, Nadia. Apakah kau punya rencana lain di rumah ini saat aku tidak ada?"
Nadia menelan ludah, menatap mata suaminya yang kini berkilat penuh kecurigaan. Rencana pelariannya bersama Yudhistira dan Adrian hancur berantakan dalam satu kalimat.
"Tentu saja tidak, Bram. Aku hanya... terkejut," bisik Nadia.
"Bagus. Sekarang, bersiaplah. Karena besok, setelah dari makam, kau tidak akan pernah melihat rumah ini dengan cara yang sama lagi."
Bramantya berlalu pergi, meninggalkan Nadia yang gemetar di kursinya. Di bawah meja, ponsel rahasianya bergetar. Sebuah pesan dari Yudhistira:
"Gawat, Nadia. Bramantya baru saja menambah dua kali lipat penjagaan di paviliun. Dia tahu kita merencanakan sesuatu. Jangan lakukan gerakan apa pun sampai aku memberi kode baru!"