Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Panorama pegunungan menyambut Senja dengan udara pagi yang bersih seperti lembaran baru yang belum sempat terjamah siapa pun. Titik-titik embun menggantung di ujung daun, memantulkan cahaya mentari yang baru bangun dari peraduan. Atmosfir saat ini terasa ramah bagi para penikmat alam.
Senja menarik napas panjang, membiarkan dingin merambat ke paru-parunya. Ada getar kecil di dadanya, bukan karena lelah ataupun sesuatu yang tak jelas muasalnya, melainkan karena perasaan lega. Hari ini seharusnya menjadi hari yang baik. Hari perayaan kelulusan. Hari penutup dari satu fase panjang bernama sekolah menengah keatas.
"Jaketmu kancingin dulu, Sen," ujar Deka sambil meraih kerah jaket Senja. Gerakannya sangat cekatan dan terlalu hafal. "Anginnya nipu. Kelihatannya adem, tapi nusuk. Nanti masuk angin."
Senja tersenyum, lalu mengangguk patuh. "Iya."
Deka memang selalu begitu. Perhatian dan sigap, seolah tahu apa yang Senja butuhkan bahkan sebelum Senja menyadarinya. Ia langsung menenteng ransel milik Senja sebentar ketika jalur menanjak, memastikan botol minum si gadis itu mudah dijangkau, dan berkali-kali menoleh untuk mengecek langkahnya.
Bagi Senja, perhatian extra Deka cukup untuk membuat kegiatan mendaki terasa aman, nyaman, dan menyenangkan.
Di belakang mereka, rombongan tertawa-tawa. Ada yang bercanda soal foto kelulusan, ada yang sudah membicarakan rencana setelahnya, seperti kuliah, kerja, pindah kota.
Jelita berjalan di sisi kiri, rambutnya dikepang rapi, memamerkan wajahnya yang cerah. Dia adalah sahabat Senja sejak lama. Seseorang yang banyak tahu kebiasaan kecil Senja, seperti cara Senja menggigit bibir saat gugup, cara Senja mengusap telapak tangan ketika cemas, cara Senja selalu berkata iya sebelum benar-benar bertanya pada dirinya sendiri.
"Eh, nanti di puncak foto rame-rame ya. Biar ada bukti kita pernah muda dan sok kuat," seru Jelita dengan antusias.
"Siap!" jawab beberapa teman bersamaan.
Senja hanya mengangguk kecil sembari tersenyum kecil. Ia tidak banyak bicara, tidak ingin menonjolkan diri. Tapi kehadirannya selalu ada. Dia memang tidak seperti Jelita yang sangat eksis di lingkungan sekolah.
Dulu Jelita sering berkata 'hadir itu sudah cukup'. Dan Senja memegang kata itu seperti jimat kekuatan untuk menghadapi dunia.
Rombongan mereka berhenti sebentar di pos kecil. Deka menyodorkan cokelat batang pada Senja. "Makan. Biar nggak lemes."
"Kamu dulu," kata Senja.
Deka tertawa pelan. "Kamu aja. Aku nanti."
Senja menurut saja. Ia membuka bungkus cokelat itu, lalu menggigit kecil. Manisnya melekat di lidah, tapi entah kenapa tiba-tiba dadanya terasa diketuk oleh denyutan rasa tak nyaman. Namun, Ia segera mengibaskan perasaan itu.
Jangan aneh-aneh. Ini hari bahagia.
Bisiknya di dalam hati.
Beberapa langkah dari mereka, Jelita menyenggol lengan Deka. "Woi, bantuin aku benerin tali sepatu dong. Dari tadi lepas-lepas terus. Bawa'anku berat nih, ribet."
Deka menoleh, lalu melirik Senja. "Sebentar ya."
"Iya," jawab Senja cepat. Terlalu cepat malahan.
Deka jongkok di hadapan Jelita, mengikat kembali tali sepatu itu. Keduanya tertawa kecil, saling meledek. Hubungan pertemanan mereka mulai dekat semenjak Deka berpacaran dengan Senja.
Senja membawa netranya menyusuri alam sekitar yang dikelilingi oleh pepohonan. Daun-daun berbisik lembut. Ia seakan tidak mendengar apa pun selain desir angin.
Pendakian berlanjut. Jalur mulai menyempit. Tanah lembap membuat sepatu mudah tergelincir. Senja berhati-hati dengan melangkah perlahan. Deka beberapa kali menoleh, memastikan jarak mereka tidak terlalu jauh. Setiap kali mata mereka bertemu, Deka mengangkat jempol. Senja membalas dengan senyum tipis.
Di satu titik, rombongan terpecah. Sebagian ingin mengambil jalur pendek untuk mengambil foto, sebagian tetap di jalur utama. Deka berdiskusi singkat dengan beberapa teman.
"Kita lewat sini aja, bentar doang," kata salah satu.
Deka menoleh pada Senja. "Kamu ikut aku atau nunggu di sini?"
Senja tampak ragu sejenak. Jalur pendek itu tampak lebih terjal. "Aku nunggu aja," putusnya setelah berpikir kilat.
"Bener?"
"Iya."
Deka mengangguk disertai senyuman. "Oke. Jangan ke mana-mana. Nanti aku balik."
Lagi-lagi Senja mengiyakan. Selalu mengiyakan. Selalu seperti itu.
Ia duduk di batu besar. Kedua kakinya diluruskan seraya mengatur napas. Dari tempat itu, ia bisa melihat sebagian jalur yang diambil Deka dan Jelita, keduanya ikut jalur pendek bersama dua orang lain untuk mengambil foto.
Senja mengeluarkan ponsel, membuka kamera, memotret dedaunan yang basah oleh embun. Di tempat seperti sekarang sinyal sulit dijangkau. Ia kembali menyimpan ponsel, lanjut menunggu.
Menunggu adalah sesuatu yang menyebal bagi kebanyakan orang, tapi itu justru pekerjaan yang Senja kuasai. Dia memang terlampau sabar.
Beberapa menit berlalu. Dua orang kembali duluan, tertawa sambil menunjukkan beberapa foto yang mereka ambil, tapi Deka dan Jelita belum tampak.
Senja berdiri, menajamkan pandang. Ia melangkah beberapa meter, memanggil pelan. "Dek?"
Tidak ada jawaban.
Angin bertiup, seakan membisikan rasa cemas di hati. Rasa itu seolah menuntunnya untuk tidak berdiam diri. Ia melangkah lagi.
Jalur pendek itu berbelok ke kanan, lalu tertutup semak belukar. Senja dirundung keraguan. Ia tidak ingin merepotkan. Akan tetapi... perasaan aneh itu terus menggelitik hati, mendesak diri untuk terus mencari tahu.
Ia menyibak semak dengan hati-hati. Namun, Suara itu datang lebih dulu, bisik-bisik lembut, tawa nakal cekikikan, dan dessahan yang tertahan.
Gerakan Senja terhenti. Jantungnya berdentum nyeri. Ia menahan napas seolah tak ingin keberadaannya disadari.
Di balik rimbun, Deka dan Jelita berdiri terlalu dekat. Tidak, bukan berdiri, tapi mereka sedang berpelukan, bercumbu mesrah. Sesuatu yang tak pernah Senja lakukan bersama Deka selama berpacaran selain berpegangan tangan.
Terlihat jelas tangan Deka sedang menggerayangi tubuh Jelita dengan bebas, tak sedikitpun sahabatnya itu menunjukkan sinyal penolakan, seakan dirinya saat ini adalah hidangan lezat yang disajikan di atas meja. Boleh disantap sepuasnya. Gratis.
Jelita tertawa manja. Kedua tangannya mengalungi leher Deka. "Dek… kamu sadar nggak sih? Senja itu baik banget, tapi ya ampun... bosenin."
Deka mendengus, menjeda aksi nakalnya tanpa melepas tubuh Jelita dari rengkuhannya. "Dia emang gitu dari dulu. Nurut. Aku tinggal ngomong dikit, langsung iya."
"Makanya... kamu pacaran apa punya pengikut sih?" lanjut Jelita, suaranya diturunkan.
Deka tertawa pelan, jelas sekali nadanya terkesan meremehkan. "Santai aja. Namanya juga pacaran SMA. Nikmatin saja dulu."
Jelita terkikik kecil. "Jahat banget sih. Nanti Senja marah loh."
Deka mengangkat bahu. “Dia aman. Nggak ribet. Tapi ya… aku nggak bisa hidup cuma sama yang aman-aman doang. Dia nggak agresif. Dua tahun pacaran belom pernah dia biarin aku grepekin badannya. Padahal bodinya lumayan, sayang dianggurin."
Jelita menyeringai bangga. "Berarti aku lebih seru dong?"
Deka mencubit gemas pipi Jelita. "Jauh."
Ucapan Deka meluncur pelan, tapi menghantam sanubari.
Senja tidak mendengar apa-apa lagi setelah itu. Dunia seketika hening, hanya gema jantung yang bertalu.
Kata-kata mereka terus berputar dalam memori, menghantam dinding kepalanya tanpa simpati.
Terlalu nurut. Membosankan. Kurang agresif. Semua predikat itu tak mampu ia tampik karena hatinya pun membenarkan. Akan tetapi, bukan berarti ia layak menerima penghianatan.
Ia mundur selangkah. Lalu selangkah lagi. Tanpa suara. Tanpa air mata. Tubuhnya bergerak lebih dulu, seperti tahu bahwa tinggal lebih lama di sana hanya akan melukai lebih dalam.
Senja berjalan menjauh.
Ia tidak kembali ke batu besar. Ia tidak memanggil siapa pun. Ia berjalan mengikuti jalur yang ia tidak kenal, menuruni tanah licin, menembus pepohonan yang semakin rapat. Setiap langkah terasa ringan dan berat sekaligus. Ringan karena ia tidak lagi menunggu. Berat karena dadanya dihimpit kecewa.
Angin bertiup lebih kencang. Kabut mulai turun perlahan, menelan jarak pandang. Namun, Senja tidak peduli. Ia hanya ingin pergi. Pergi dari gelak tawa Deka dan Jelita yang menusuk. Pergi dari penilaian yang membuatnya merasa kecil.
Ia berhenti sejenak, menekan telapak tangan ke dada. Napasnya patah-patah. Pikirannya teramat bising. Ia memejamkan mata, menghitung sampai sepuluh, berharap tindakan kecil itu bisa memberi ketenangan. Namun, ketika membuka mata, kabut telah menebal.
Senja menoleh ke belakang. Jalur yang ia lalui sudah tampak sama dengan jalur di depan. Pohon-pohon berdiri seragam, tak memberi petunjuk.
"Tenang," bisiknya pada diri sendiri. "Tenang..."
Ia merogoh saku, meraih ponsel. Layar menyala tanpa sinyal. Seketika menelan ludah pun terasa seret.
Senja melangkah lagi, memilih arah secara acak. Setiap langkah mengusir satu kenangan kecil, cara Deka mengancingkan jaketnya, cokelat yang disodorkan, jempol yang terangkat. Semuanya terasa seperti sandiwara yang diperankan terlalu rapi.
Hutan menjadi lebih sunyi. Hanya ada suara langkahnya dan napasnya sendiri. Dingin mulai merayap, menggigit pergelangan tangan, menyusup ke balik jaket.
Senja tidak tahu sudah berapa lama ia berjalan ketika ia akhirnya berhenti. Kakinya terasa pegal. Kepalanya mulai pening. Kabut menutup segalanya.
Hingga Senja menegang kala suara aneh tiba-tiba terdengar. Ia sontak menoleh ke belakang, arah sumber suara.
"Siapa di sana?"
Bersambung~~