Perjalanan kisah seorang wanita, jatuh bangun dalam membangun karir dalam hidupnya, hingga akhirnya menjadi sosok wanita kuat dengan dukungan dari seorang laki-laki yang sangat berkuasanya.
Kehidupan yang penuh dengan luka, bahkan kepingan layar hidupnya ada yang hilang dari ingatan.
Sebuah Rahasia yang tak terduga akan ditemukan, bersama dengan sosok anggota keluarga Klan Nugraha yang tak lain adalah Aftan Brian Nugraha.
Misteri apa apa yang akan terkuak pada akhirnya?, yuk ikuti semua kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman Pertama
Masih dalam posisi membelakangi, Andin sedikit mengendorkan genggaman tangan Aftan.
Apa kau tidak percaya padaku?"
Aftan terdiam, lalu melepaskannya pelan-pelan.
"Kalau kau tidak percaya aku tidak pernah berbuat macam-macam seperti rumor di luaran sana, buktikan saja" lanjut Andin.
Entah kenapa Andin merasakan sakit luar biasa, tidak seperti saat di tinggalkan atau di khianati Sheila, tapi ini membuat Andin sangat marah, merasa harga dirinya terluka.
"Buktikan?, dengan apa?" Ucap Aftan berusaha mengerti apa maksudnya.
"Kita melakukannya sekarang juga, aku siap!" Ucap Andin lantang.
Aftan mulai mengerti arah tujuan apa yang dikatakan Andin, lalu menggerakkan tangan dan wanita yang berstatus istrinya itu terseret dan jatuh dalam pelukan.
"Kau ingin menguji ku?"
Andin terkejut, dan dengan gugup memberanikan diri menatap Aftan yang menembus manik matanya.
"Bukan begitu, tapi aku tidak ingin kau ragu akan diriku, hanya dengan cara ini aku bisa membuktikan semua ucapan ku, keperawanan ku akan menjawab semuanya bukan?"
Aftan terdiam, masih menatap mata Andin yang mulai menggenang, ada luka yang dirasakan dan Aftan sangat tidak suka akan hal itu.
Tubuhnya terangkat perlahan, dan kini sudah berada dalam rengkuhan Aftan, memposisikan perlahan, dan Andin sejenak menelan ludah, menahan debaran jantungnya dan terlihat gerakan gugup saat tubuhnya kini semakin hangat dalam dekapan.
"Apa kau benar-benar siap?" Bisik Aftan.
Deg
Andin membisu, bibirnya teras kelu dan di buat semakin merinding.
"Sekali lagi aku tanya, apa kau siap?" Kembali Aftan berkata.
"I iya, bukankah kau sekarang orang yang paling berhak akan diri ku?" Ucap Andin terbata.
Aftan tersenyum miring, teringat jelas di kepalanya bagaimana Andin menyerahkan dirinya untuk membuktikan kebenaran kata-katanya, bukan karena keikhlasan semata.
Perlahan Aftan berdiri, berjalan menjauhi Andin yang masih terdiam diatas tempat tidur.
"Kenapa?" Tanya Andin.
Tak ada jawaban, Aftan terus melangkah menuju kamar mandi dan masuk untuk menenangkan has-rat nya.
Bukan tidak tertarik, tapi justru sebaliknya, Aftan seketika di penuhi dengan hasrat yang tinggi saat bibir Andin berucap mempersilahkan Aftan melakukan kewajibannya.
Namun dirinya tidak ingin hal seperti itu dilakukan hanya karena untuk membuktikan sesuatu dan bukan karena sebuah perasaan yang harusnya hadir menyelimuti kegiatan sakral pertama kali.
Sementara Andin segera mengelus dadanya.
"Ya Tuhan, Syukurlah, Aftan tidak menuruti perkataan ku" gumam Andin yang seketika lega dan bisa sedikit tenang.
Sementara Aftan mengguyur tubuhnya dengan air dingin, meredakan semua hasrat dan pikiran liarnya, bagaimana pun pesona Andin tak bisa diremehkan, membuatnya sekuat tenaga menahan diri tak menerjang dan melakukan penyatuan.
Keluar dari kamar mandinya, matanya menyapu keadaan sekitar, dan dilihatnya Andin sudah tidak ada disana, mendesah perlahan, lalu memakai pakaian malam yang santai untuk persiapan tidur malamnya.
Tidak langsung berada diatas kasur, Aftan justru berjalan keluar untuk menikmati suasana indah di luar Mansion dari Balkon kamarnya.
Terdengar suara langkah kaki mendekati, lalu menoleh ke belakang, dan didapati sosok cantik yang hampir membuatnya hilang kendali kini berjalan ke arahnya sambil membawa dua gelas minuman.
"Apa ini?" Tanya Aftan, saat Andin menyodorkan satu untuk dinikmati.
"Minumlah, ini minuman herbal yang sangat nikmat, akan membuat pikiran kita menjadi lebih fresh dan tenang"
Aftan tak menjawab, hanya mengamati sesaat, lalu mencicipi perlahan.
"Hem, lumayan, terimakasih"
Andin tersenyum senang, minuman yang di buat khusus rupanya cocok di lidah sang suami yang tampak begitu tampan dengan rambutnya yang masih basah.
"Benarkan, membuat kita merasa tenang?"
"Ada yang lebih bisa membuatku tenang sebenarnya"
"Apa?" Sahut Andin.
"Aku rasa kamu lebih tau" jawab Aftan menatap dada Andin yang terekspos lebih banyak karena baju dengan kerah lebarnya.
Andin langsung menghindar, dan Aftan hanya tersenyum tipis kembali mengalihkan pandangan menikmati angin malam.
Keduanya kini saling berdampingan, Andin mencuri pandang beberapa kali, dan Aftan menyadari hal itu.
"Hati-hati, Aku sangat tampan, jangan bilang kau menginginkanku"
"Apa?!" Andin tak menyangka akan perkataan Aftan yang masih tanpa menoleh kearahnya.
Dan Andin semakin terkejut saat wajah tampan itu justru kini menghadap langsung dan begitu dekat dengannya.
Kedua tangannya segera menahan dada Aftan yang terus maju mendekatinya.
"Tu tunggu, apa yang kau lakukan?" Ucap Andin gugup dan bingung mendapat perlakuan mendadak seperti itu.
Sementara Aftan terus bergerak maju, tangan Andin tak mampu menahan saat dengan perlahan Aftan mengelak dan kini berhasil menyapu bibir ranum itu dengan jari jemarinya.
Bibir hangat Aftan akhirnya menyapa, keduanya kini saling memagut dengan jantung yang sama-sama berdetak tidak karuan, Andin sedikit ragu dan tubuhnya terasa bergetar menerima pengalaman pertama dalam hidupnya.
Merasakan sensasi yang luar biasa, terasa begitu manis, lembut dan hasrat nikmat yang tak ingin di lepaskan begitu saja, keduanya justru semakin intens melakukannya.
Aftan seolah tidak meras puas, luma-tan dan cecapan semakin kuat dilakukan, namun dengan tempo tang lembut menikmati manisnya ciuman.
Akhirnya Andin sedikit mendorong, merasa nafas dalam paru-paru nya hampir habis, akhirnya terengah-engah saat kesempatan itu di berikan, dan justru hal itu membuatnya terlihat sek-si.
Tak meninggalkan kesempatan itu begitu saja, Aftan segera melakukannya kembali, tak ada penolakan, kali ini berusaha ludahnya menyusuri, ada yang aneh dirasakan oleh Aftan.
"Bagaimana mungkin ciumannya sangat kaku, dan sepertinya dia tidak tau apa yang harus dilakukannya, ini tidak mungkin" batin Aftan.
Dan dengan perlahan, Aftan menggigit bibir bawah Andin hingga akhirnya terbuka, disaat itulah lidahnya masuk dan menyapu kedalam sana, teras hangat dan nikmat luar biasa, tangan Aftan memegangi tengkuk Andin memperdalam luma-tan yang di lakukan.
Kembali Andin hampir kehilangan nafasnya, ada sensasi yang luar biasa membuatnya seolah mabuk dengan tubuh yang panas, Aftan pun memberikan kesempatan kembali.
"Apa kau lupa cara berciuman?" Tanya Aftan disela-sela tarikan nafas yang dilakukan oleh wanitanya.
Andin terkejut, wajahnya memerah, lalu mundur memberi jarak untuk menyadarkan dirinya, dan kemudian melihat Aftan sejenak yang tampak menatapnya aneh, hingga kesempatan itu digunakan Andin untuk berlari meninggalkan kamar menuju balkon yang masih terbuka.
Rasanya tak bisa di gambarkan dengan kata-kata, Andin merasa malu, namun juga begitu mendamba, pengalaman pertama yang dirasakan baginya sangat luar biasa.
Aftan terdiam, berusaha memahami dan menguatkan dugaannya, lalu teringat akan perkataan Andin yang menyuruhnya untuk membuktikan keperawa-nannya.
"Shiit!, mungkinkan dia benar-benar tak pernah melakukan dengan siapapun" gumam Aftan.
Seketika ada senyuman tipis yang terbit dari bibirnya, perasaan senang dan bahagia.
Dengan cepat Aftan mengalihkan pandangan, matanya menyapu meja yang ada di kamarnya dan menemukan bend pipih yang di cari.
"Lakukan tugas mu Leon, aku ingin perusahaan itu dan beri pelajaran pada mereka, terutama wanita itu"
"Baik, akan ku lakukan dengan senang hati" ucap sang asisten pribadi yang siap 24 jam kapanpun Aftan butuhkan.
Bersambung.