NovelToon NovelToon
Jebakan Sang CEO Wanita

Jebakan Sang CEO Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / CEO / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cinta Terlarang / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.

Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"

​Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.

​Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?

Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 16

Lampu-lampu di area kubikel staf Airborne Group sudah padam sejak dua jam yang lalu. Hanya tersisa pendar biru dari layar komputer dan lampu meja di ruangan Arga yang masih menyala redup. Di luar sana, gerimis tipis mulai membasahi kaca jendela gedung pencakar langit, membiaskan cahaya lampu jalanan Jakarta menjadi garis-garis yang muram.

Arga memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Di hadapannya, tumpukan berkas anggaran Proyek Sudirman berserakan. Semuanya sudah rampung tadi siang, sampai tiba-tiba sebuah memo dari meja Direktur Eksekutif - Siska - turun pada pukul empat sore. Siska mengubah parameter bahan baku dan vendor secara sepihak, memaksa Arga untuk menghitung ulang seluruh proyeksi keuangan senilai ratusan miliar itu dari nol.

"Ini gila," gumam Arga serak.

Ia tahu ini bukan sekadar revisi teknis. Ini adalah pesan. Sebuah pengingat dari Siska bahwa sekarang dia adalah pemegang kendali atas setiap detik hidup Arga.

Klik.

Suara pintu ruangannya yang terbuka tanpa ketukan membuat Arga tersentak. Ia mendongak dan menemukan Siska berdiri di ambang pintu. Wanita itu tidak lagi mengenakan jas formalnya. Ia mengenakan kemeja sutra berwarna sampanye yang sedikit longgar, dengan rambut yang dibiarkan terurai berantakan namun tetap terlihat menggoda.

"Masih bekerja, Arga? Kau memang tidak pernah berubah. Selalu menjadi budak perfeksionisme," ucap Siska sambil melangkah masuk.

Arga segera memperbaiki posisi duduknya, mencoba membangun kembali benteng profesionalismenya. "Revisi yang Anda minta sangat mendasar, Bu Siska. Jika tidak selesai malam ini, presentasi besok di depan dewan komisaris akan kacau."

Siska berjalan mendekat, langkahnya hampir tak terdengar di atas karpet tebal. Ia meletakkan dua cup kopi mahal di atas meja Arga. Aroma kopi arabika yang kuat seketika merusak aroma kertas dan tinta di ruangan itu.

"Istirahatlah sebentar. Aku tidak ingin manajer terbaikku jatuh sakit karena kurang tidur," Siska duduk di tepi meja Arga, sebuah posisi yang sangat tidak pantas untuk hubungan atasan dan bawahan. Salah satu kakinya yang jenjang berayun pelan, hampir menyentuh lutut Arga.

"Terima kasih kopinya, Bu. Saya bisa menyelesaikannya sendiri. Anda tidak perlu repot-repot berada di sini," jawab Arga tanpa menatap Siska. Ia terus memfokuskan matanya pada layar laptop, namun jari-jarinya bergetar saat mengetik angka.

Siska tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti gesekan sutra, merdu namun dingin. "Kenapa kau selalu memanggilku 'Bu'? Saat tidak ada orang lain di sini, aku masih Siska yang dulu, Arga. Siska yang tahu bagaimana kau menyukai kopimu dengan sedikit kayu manis."

"Dunia sudah berubah, Siska. Begitu juga kita," Arga akhirnya menatapnya dengan sorot mata yang tajam. "Aku punya istri yang menungguku di rumah. Dan kau punya suami yang memberikanmu jabatan ini. Jadi, tolong, biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku."

Siska terdiam sejenak. Sorot matanya berubah menjadi gelap sesaat sebelum kembali ke topeng ramahnya. Ia meraih salah satu cup kopi, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali di depan Arga. Namun, ia tidak meletakkannya begitu saja. Ia sengaja memutar gelas itu sehingga bekas lipstik merah menyala miliknya menghadap tepat ke arah Arga.

"Minumlah. Aku sudah mencicipinya, suhunya sudah pas untukmu," ucap Siska dengan nada penuh makna.

Ia kemudian berdiri, berjalan menuju pintu, namun berhenti di sana dan menoleh. "Jangan terlalu lama pulang, Arga. Tapi ingat, setiap angka yang kau ketik malam ini adalah milikku. Kau... bekerja untukku sekarang."

Setelah pintu tertutup, Arga menyandarkan punggungnya dan membuang napas kasar. Ia menatap gelas kopi itu. Bekas lipstik merah di pinggiran gelas plastik putih itu tampak seperti luka yang menganga. Tanpa ragu, Arga menyambar gelas itu dan membuangnya langsung ke tempat sampah di bawah meja. Ia tidak sudi menyentuh apa pun yang telah dikotori oleh Siska.

~

Pukul sebelas malam. Arga memarkir mobilnya di basemen apartemen dengan perasaan lelah yang luar biasa. Namun, rasa lelah fisiknya tak sebanding dengan beban moral yang ia bawa.

Ia memeriksa dirinya di spion. Ia merapikan rambutnya yang berantakan, memastikan tidak ada noda atau aroma asing yang tertinggal. Namun, saat ia mendekatkan kerah jasnya ke hidung, ia membeku. Aroma parfum Siska, aroma lily dan musk yang berat, seolah menempel kuat di sana. Siska tadi sempat bersandar cukup lama di dekatnya.

Arga buru-buru melepas jasnya dan melemparkannya ke kursi belakang mobil. Ia memutuskan untuk tidak membawanya masuk.

Saat ia membuka pintu apartemen, ia mendapati lampu ruang tamu masih menyala redup. Nabila tertidur di sofa dengan sebuah buku hukum di pangkuannya. Di atas meja makan, piring-piring masih tertutup rapi, menunggu seseorang yang tak kunjung datang tepat waktu.

Hati Arga mencelos. Rasa bersalah menghantamnya lebih keras dari apa pun.

"Nabila..." bisik Arga pelan sambil mengelus dahi istrinya.

Nabila mengerjap, perlahan membuka matanya dan tersenyum lemas saat melihat Arga. "Mas? Kau sudah pulang? Jam berapa sekarang?"

"Maafkan aku, Sayang. Pekerjaannya benar-benar menumpuk. Ada revisi anggaran mendadak dari Direksi," ucap Arga. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti duri yang menyangkut di tenggorokan. Ia sedang mengatakan setengah kebenaran yang terasa seperti kebohongan utuh.

Nabila bangun dan meregangkan tubuhnya. "Tidak apa-apa, Mas. Namanya juga tanggung jawab. Kau sudah makan? Aku bisa panaskan ayam bakarnya sebentar."

"Tidak usah, Nabila. Aku sudah makan di kantor tadi," bohong Arga lagi. Padahal perutnya kosong melilit sejak sore. Ia hanya tidak ingin Nabila repot di jam selarut ini.

Nabila mendekati Arga, hendak memeluknya, namun Arga sedikit menghindar dengan dalih ingin segera mandi. "Aku sangat lengket, Nabila. Bau debu proyek. Aku mandi dulu ya?"

Nabila mengangguk, namun matanya menatap Arga dengan tatapan yang sedikit berbeda. Ada sedikit kilat kebingungan di sana. "Mas... kok jasmu tidak dibawa masuk?"

Arga terhenti di ambang pintu kamar mandi. Jantungnya berdegup kencang. "Oh, itu... jasnya terkena tumpahan kopi tadi di kantor. Masih di mobil, nanti besok aku bawa ke laundry saja."

"Oh, begitu. Ya sudah, mandi yang bersih ya. Aku siapkan bajumu."

Di balik pintu kamar mandi, Arga menyalakan shower dengan tekanan maksimal. Ia membiarkan air dingin mengguyur kepalanya, berharap rasa bersalah ini bisa luruh bersama air. Ia menyadari satu hal yang mengerikan. Siska tidak hanya menyabotase pekerjaannya, tapi Siska mulai menyabotase kejujurannya pada Nabila.

Siska telah berhasil memaksa Arga untuk mulai membangun rahasia-rahasia kecil. Dan dalam sebuah pernikahan, rahasia adalah rayap yang paling mematikan.

Keesokan paginya, saat Arga sudah berangkat lebih awal, Nabila turun ke basemen. Ia teringat jas Arga yang tertinggal di mobil. Ia berniat membawanya ke tempat dry cleaning langganan mereka di lobi gedung sebagai bentuk perhatian.

Menggunakan kunci cadangan, Nabila membuka pintu mobil Arga. Jas itu tergeletak di kursi belakang. Saat Nabila mengambilnya, ia tidak mencium bau kopi yang tumpah seperti yang dikatakan Arga semalam.

Sebaliknya, ia mencium aroma parfum wanita yang sangat kuat dan sangat mahal. Aroma lily dan musk.

Nabila mematung. Ia membolak-balik jas itu, mencari noda kopi, namun jas itu bersih tanpa noda cair sedikit pun. Hanya aromanya saja yang sangat menusuk. Nabila mencoba berpikir positif, mungkin itu parfum rekan kerja yang lewat, atau parfum ruangan di kantor baru Arga.

Namun, saat ia hendak melipat jas itu, ia menemukan sesuatu yang lain di saku kecil jas Arga. Sebuah struk pembelian dari kedai kopi di kantor Arga, tertanggal semalam pukul sepuluh malam. Tertulis di sana, *2 Hot Latte - Cinnamon Addition*.

Nabila tahu Arga sangat menyukai kayu manis, tapi ia juga tahu Arga tidak pernah membeli dua kopi sekaligus untuk dirinya sendiri saat lembur.

Nabila memegang struk itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia mencoba mengingat wajah Arga semalam yang tampak sangat gelisah.

"Mungkin aku hanya terlalu sensitif," bisiknya pada diri sendiri. Ia mencoba menghalau pikiran buruk itu. Namun, benih kecurigaan yang telah ditanam oleh Siska secara sistematis kini mulai menemukan celah untuk tumbuh di hati Nabila yang tulus.

Agenda tersembunyi Siska telah dimulai. Dan tanpa Arga sadari, Siska tidak perlu berada di sana untuk menghancurkan kebahagiaan mereka. Ia cukup meninggalkan jejak-jejak kecil yang akan membuat Nabila perlahan-lahan meragukan pria yang paling ia cintai.

...----------------...

**Next Episode**....

1
Eva Karmita
alur ceritanya bagus bikin nano" ...
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰
Eva Karmita: sama" semangat 🔥💪🥰
total 2 replies
Eva Karmita
Arga ingat kalau sikap mu masih lembek kayak jelly harusnya kamu pikir dia kali menghadapi Siska tidak semudah dan segampang yang kamu bayangkan satu kali saja kamu buat kesalahan maka hancurlah rumah tangga yang kamu bangun dgn susah payah.... Nabila akan benar" pergi dari hidupmu dan kamu akan hidup dlm penyesalan seumur hidup
Eva Karmita
semoga Arga bisa melawan Mak lampir
Isee
semoga arga juga bisa menjalankan misi yg direncanakan nabila & jgn sampe ada jebakan tidur bareng siska.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
👀 calon mayit 👀
💪
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Siska otakmu konslet ya...kamu sendiri yang sudah menciptakan luka tapi anehnya malah menyalahkan orang lain 😤
Eva Karmita
😭😭 semangat Arga ingat ada wanita kuat dan tangguh dissimu
Eva Karmita
masa lalu yang menyakitkan 🥺
Eva Karmita
,dasar wanita iblis
Eva Karmita
Arga kenapa harus berbohong dengan istri mu sendiri 🥺😤
Isee
Nabila kenapa kamu ksh tau clue clue itu ke siska 😭😭😭 semoga nabila bisa membela arga & melawan siska sampai dpt hukuman
Eva Karmita
Arga jadilah laki" yg kuat jangan lemah dong.... masalalu harus di kubur untuk apa digali lagi tetaplah masa depan jangan menoleh kebelakang lagi
Isee
bener2 SAKIT si siksa, elu yg buat ulah, nyalahin orang lain.😡😡😡
👀 calon mayit 👀
nyeesek😭
Isee
semangat nabila 💪💪💪 lanjut kak
Miss Ra: siaaaap💪
total 1 replies
Isee
SARAP si siska😡😡😡😡
Isee
jika akhirnya agra gak berterus terang ke nabila, maka lepaskan agra tapi sebelumnya dampingi agra melawan siska sampai siska jatuh karna ulahnya sendiri & diceraikan sama pak roy.
Isee
wah DAEBAK 👍 nabila,,, dampingi selalu arga buat siska KEOK😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!