NovelToon NovelToon
Affair With My Bos

Affair With My Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Dahlia seorang istri yang sangat dikecewakan suami yang sangat dicintainya. Namun Dahlia tetap memilih untuk bertahan mempertahankan rumah tangganya. Dahlia tidak mau seperti ibu dan kakaknya yang menyandang status janda juga. Dahlia pun lebih memilih melampiaskan kekecewaan dan rasa sakit hatinya dengan menjalin hubungan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Belas

Melodi dan Richard tidak membiarkan papanya pulang dengan mudah. Ada saja yang dilakukan keduanya. Pak Adnan tidak bisa apa-apa selain mengikuti kemauan kedua anaknya.

Setelah selesai berdansa dengan Vera untuk yang entah ke berapa kali. Mereka duduk dan mulai makan sambil menonton setiap momen kebersamaan mereka sebagai keluarga yang sangat bahagia.

Melodi dan Richard mempersembahkan semua momen itu untuk kedua orang tuanya.

Sampai pagi Pak Adnan ada di sana, dia bisa pulang setelah Melodi dan Richard tidur karena lelah.

"Kamu bisa tidur di kamarku, Nan?."

Vera mencoba menahan Pak Adnan.

"Aku ada meeting pagi ini."

"Kamu bisa berangkat meeting dari ini, Nan. Berbahaya loh berkendara kalau kamu lelah."

Vera mencoba meraih pundak Pak Adnan tapi laki-laki itu sudah berhasil menghindar.

"Aku pulang."

Pak Adnan segera membuka pintu dan dia berjalan sangat cepat keluar dari hotel. Pak Adnan tidak langsung tancap gas, dia masih diam di mobil. Menajamkan penglihatannya yang terasa kabur. Merasa dirinya tidak baik-baik saja, maka dia pun meminta supir kantor menjemputnya.

Setelah sarapan dan merasa jauh lebih baik, Pak Adnan mulai memimpin jalannya meeting. Cukup memakan waktu meeting kali ini, namun bisa selesai juga dengan baik.

Pak Adnan yang baru sempat mengecek ponselnya sambil keluar ruang meeting dikejutkan dengan penampakan Dahlia yang sedang duduk di meja kerjanya. Berulang kali Pak Adnan menggelengkan kepala, siapa tahu itu hanya halusinasinya saja karena dia pun berencana untuk menghubunginya.

Nyatanya dia tidak berhalusinasi dan itu benar Dahlia saat perempuan itu sekarang sudah ada di hadapannya setelah membaca pesan yang dikirimnya.

"Kenapa masuk kerja, Ia?."

"Aku udah sembuh, Pak."

"Mana aku lihat."

"Nggak di sini juga dong, Pak, nanti ribet urusannya."

Lalu keduanya tersenyum.

"Maaf, aku nggak pulang, ternyata aku cukup kesulitan dengan kedua anakku yang sudah besar-besar."

"Nggak apa-apa, Pak, wajar aja kalau Pak Adnan bersama mereka."

"Ya, udah, jangan terlalu capek kerjanya."

"Siap, Pak."

Dahlia kembali ke meja kerjanya.

Dahlia yang sudah di lobi saat pulang kantor diminta Pak Adnan untuk menunggu di parkiran. Dia memainkan ponselnya sambil duduk di bangku yang ada di sana.

"Sayang, aku nggak mau pisah sama kamu."

Ryan sudah berlutut dihadapannya. Gugatan cerai yang dilayangkan Dahlia sudah diterimanya. Dan sekarang bentuk penolakannya.

"Aku minta maaf tapi aku bisa jelasin."

Perlahan Ryan meraih tangan Dahlia dan berhasil sebab tidak ada penolakan dari Dahlia.

"Aku dah Liana dijebak dengan obat-obatan yang dimasukan ke minuman kami saat meeting di luar. Itu hanya karena efek dari obatnya aja, sayang."

Ryan sangat berusaha menjelaskan keadaannya yang tentu saja itu bukan kebenarannya.

"Aku terlalu bodoh untuk menerima semua penjelasanmu. Tapi sekarang aku punya penilaian sendiri padamu dan Liana. Aku nggak akan persulit hubungan kalian, maka segera saja ceraikan aku."

"Nggak, sayang, aku nggak mau. Kita akan selalu bersama sampai maut memisahkan."

Kemudian Dahlia tersenyum.

"Aku percaya tapi itu dulu sebelum aku melihatmu main kuda-kudaan sama Liana."

Dahlia bangkit sambil menarik tangan, namun Ryan mengikutinya dengan bangkit juga.

"Itu karena kami dijebak, sayang."

Pak Adnan hadir di tengah obrolan suami istri satu mau cerai dan satunya lagi tidak mau menceraikan.

"Sayang, kata kamu, kamu udah nggak bersamanya."

Dahlia melangkah dan berhenti tepat di samping Pak Adnan.

"Mau bersama atau nggak, itu bukan urusanmu."

Kemudian dengan berani Dahlia memegang tangan Pak Adnan lalu mengajak laki-laki itu untuk segera meninggalkan area parkir. Pak Adnan menurut dan mereka sudah berada di jalanan.

"Kamu nggak berubah pikiran 'kan, Ia?."

"Nggak, Pak, apa yang aku lihat nggak akan menipuku. Walau sebenarnya, masuk akal juga sih yang dikatakannya, ada obat dalam minumannya dan Liana sampai mereka bisa main kuda-kudaan seperti itu di apartemen Liana."

"Bisa jadi juga, Ia."

"Tapi, Pak, aku nggak melihat itu saat mereka bercinta. Mereka seperti sama-sama sadar dan terbiasa dengan tubuh satu sama lain. Pokoknya beda deh."

"Oke, iya, iya."

"Memangnya Pak Adnan mau aku balik sama dia lagi?."

"Ya, nggak juga, Ia. Lebih baik kamu sama aku aja."

Pak Adnan tersenyum menggoda dan Dahlia membalasnya.

Di lain tempat, Ryan pulang dengan wajah marah dan tidak mau diajak bicara sama mamanya.

"Kenapa masmu?."

Ratna mengangkat bahunya.

"Nggak tahu aku, ma."

"Apa ada masalah di kantor?."

"Kayanya nggak sih, ibu Liana juga baik-baik aja sama aku sama Ricky. Nggak gimana-gimana."

"Coba aja mama ke kamarnya, siapa tahu mas Ryan mau bicara."

Mama mengangguk dan segera ke kamar Ryan mengikuti saran Ratna.

"Aku nggak mau diganggu, ma."

"Tapi mama mau bicara penting, Ryan."

Ryan menoleh, memperlihatkan wajah sembabnya yang masih basah.

"Kamu menangis?."

Ryan menghapus air matanya, tadinya dia mau menyembunyikan dari mamanya.

"Ada apa, Ryan?. Apa ini ada hubungannya dengan Dahlia yang nggak pulang-pulang?. Apa Dahlia berselingkuh juga?."

"Bukan hanya selingkuh tapi dia meminta cerai."

"Ceraikan saja dia!. Kamu bisa menikah dengan Liana. Iya 'kan?."

"Aku nggak cinta sama Liana, ma, aku cinta mati sama Dahlia. Aku mau tidur sama Liana karena dia membayarku, ma. Uang yang selalu aku kasih ke mama, ya, itu, uang dari hasil aku melayani Liana. Kalau mama nggak banyak ini itu, Ratna juga. Pasti aku nggak akan begini, ma."

Ryan meluapkan rasa marah dalam hatinya, dia tidak pernah mau mengkhianati Dahlia tapi keadaan keluarganya yang membuatnya mengambil jalan ini.

"Kenapa jadi nyalahin, mama?."

Mama langsung memasang wajah sendu, dia tidak mengira Ryan akan mengatakan itu. Padahal jika dilihatnya, Ryan sangat bahagia bersama Liana.

"Aku nggak sanggup memenuhi gaya hidup mama yang terlalu memaksakan diri. Aku selalu meminta Dahlia mengalah dan kadang nggak dapat uang nafkah dari aku, ma. Tapi aku bisa apa, ma, saat mama selalu mengatakan kalau aku harus berbakti dan membalas semua pengorbanan mama. Akhirnya pernikahanku dan Dahlia di ujung tanduk."

Mama terdiam, bungkam dengan apa yang dikatakan Ryan. Air matanya menetes, ternyata mama merasa sakit ketika disalahkan oleh putranya atas kehancuran rumah tangganya. Mama pun keluar dan menutup pintu kamar Ryan.

Memang ada yang harus bertanggung jawab atas rusaknya rumah tangganya bersama Dahlia, dan itu mamanya sendiri. Sudah tahu anaknya salah, bukannya diingatkan malah ikut menjerumuskan dengan menutupi kebusukannya.

Kembali pada Dahlia dan Pak Adnan yang sudah duduk santai di depan jendela.

"Aku harus pulang ke rumah mama kalau mama sudah kembali dari hajinya."

"Kenapa?."

"Aku sih belum tahu pasti, tapi mungkin mama udah tahu rumah tanggaku berakhir."

"Mau aku temani?."

"Jangan dulu! Nanti yang ada mama mengiranya perceraian itu karena aku ada laki-laki lain. Aku nggak yakin Ryan akan cerita sama mama tapi mama pasti akan percaya sama Ryan."

1
Yanti Gunawan
gak adil banget buat dahlia😫😭😭
Siti Sarifah
keren
Siti Sarifah
ceritanya selalu bagus, gk pernah gagal untuk membuat pembaca ikut larut dlm emosi dr cerita
Linda Yohana
Bagus novelnya
Yanti Gunawan
mbok yo d banyakin thor thor jangan pelit" up😫
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!