Fiora Gabriela adalah definisi nyata dari kesempurnaan. Sebagai putri tunggal dari dinasti bisnis raksasa, kecantikan dan kekuasaannya adalah mutlak. Namun, ada satu hal yang belum bisa ia taklukkan: hati Galang Dirgantara, pria dingin yang menjadi tunangannya demi aliansi bisnis keluarga mereka.
Bagi Galang, Fiora hanyalah wanita arogan yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang. Ia menutup hati rapat-rapat, sampai akhirnya ia bertemu dengan Mira—seorang gadis dari kalangan bawah dengan hidup penuh kemalangan. Sosok Mira yang rapuh membangkitkan sisi protektif Galang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Galang mulai berpaling, membiarkan rasa iba itu tumbuh menjadi cinta yang mengancam status Fiora.
Namun, Galang lupa satu hal. Fiora Gabriela bukanlah wanita yang akan menyerah begitu saja dan menangis dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gadis di tengah hujan
Saat itu Jakarta sedang diguyur hujan deras di malam hari. Galang, yang sedang dalam perjalanan pulang, fokus menyetir dalam keheningan mobilnya. Tiba-tiba, pandangannya menangkap gerakan mencurigakan di pinggir jalan yang sepi.
Citttt!
Galang mengerem mobilnya mendadak. Ia keluar dari mobil untuk memeriksa apa yang terjadi.
Di sana, di aspal yang basah kuyup, ia melihat seorang gadis dalam kondisi yang sangat memperihatinkan. Bajunya compang camping, tubuhnya menggigil, dan air matanya bercampur dengan air hujan.
Gadis itu, Mira, mendongak ke arah Galang. "Tolong.... tolong...."
"Anda kenapa?" tanya Galang, suaranya terdahulu oleh rasa panik dan khawatir yang jarang ia rasakan.
"Tolong saya dulu," mohon Mira dengan suara serak, tangannya terulur ke arah Galang.
Galang tanpa ragu membantunya berdiri. "Anda kenapa? Ceritakan pelan-pelan."
Mira yang tampak sangat ketakutan dan trauma, mencoba menjelaskan dengan suara tersendat. "Saya... saya hampir saja ingin diperkosa, Pak... mereka mengejar saya..."
"Astaga!" Galang terkejut mendengar pengakuan itu. Pria kaku yang biasanya tidak peduli pada sekitar itu kini merasa iba dan protektif. Ia segera membuka pintu mobilnya.
"Masuk! Anda aman sekarang, saya akan bawa Anda ke tempat yang aman," perintah Galang tegas. Ia menyuruh Mira duduk di kursi samping pengemudi, lalu dengan cepat menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari tempat kejadian untuk menyelamatkan Mira.
"Terima kasih, Tuan," bisik Mira dengan suara bergetar sambil memeluk erat jas milik Galang yang tersampir di bahunya.
Galang menatap lurus ke depan, fokus menyetir menembus derasnya hujan. "Tak apa. Saya akan membawamu ke apartemen saya yang kosong. Anda bisa beristirahat di sana sampai keadaan lebih baik."
Rasa iba yang belum pernah dirasakan Galang sebelumnya kini mendominasi logikanya. Ia tidak sadar bahwa keputusan membawa "gadis malang" ini ke privasinya adalah awal dari badai yang akan menghampiri hidupnya.
Di Sisi Lain: Butik & Salon Fiora
Berbeda dengan suasana tegang di mobil Galang, butik mewah milik Fiora terasa sangat hangat dan penuh keceriaan. Jojo dan Vanya yang sedang bersantai di sofa langsung berdiri saat melihat sahabat mereka masuk.
"Gais!" sapa Fiora ceria.
"Wihhh, Bu Bos datang!" seru Jojo dan Vanya serempak, menggoda sahabat mereka yang kini merangkap jadi sekretaris itu.
"Iya, nih. Gue mau ngecek data bulanan dulu bentar," jawab Fiora sambil meletakkan tasnya.
Saat berjalan menuju ruangannya, Fiora melewati area belakang dan melihat para karyawannya sedang duduk lesehan menikmati makan malam. Bukannya menjaga jarak, Fiora justru menghampiri mereka dengan senyum tulus yang membuat suasana makin akrab.
"Mbak-mbak, yang banyak makannya ya! Jaga kesehatan, kalau capek istirahat. Jangan dipaksa," ucap Fiora ramah. "Oh iya, besok uang gajinya cair ya!"
"Terima kasih Ibu Bos tercinta! Duh, Cece Fiora emang paling pengertian!" seru para karyawan kegirangan. Mereka tertawa bersama, suasana butik itu benar-benar terasa seperti rumah.
Fiora belum tahu apa pun. Baginya, malam ini hanyalah malam biasa yang penuh kebahagiaan. Ia tidak menyangka bahwa besok pagi, dunianya akan terguncang.
Di apartemen yang mewah namun terasa asing bagi Mira, Galang berdiri di dekat jendela, memperhatikan gadis itu yang masih terlihat gemetar.
"Saya akan membantu kamu," ucap Galang dengan nada yang jauh lebih lembut daripada biasanya. "Kamu bisa bekerja jadi asisten saya di kantor mulai besok. Jangan menangis lagi, kamu sudah aman di sini."
Mira mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatap Galang penuh haru. "Terima kasih... terima kasih banyak, Tuan. Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Anda dengan apa," rintihnya pelan. Galang hanya mengangguk pelan, merasa puas bisa menjadi pelindung bagi seseorang yang membutuhkan.
keesokan paginya......
Fiora sudah tiba di kantor sejak pukul tujuh pagi. Ia tampil segar dengan setelan kerja yang sangat modis, siap menunjukkan kinerjanya sebagai sekretaris sekaligus tunangan yang baik.
"Pagi semua!" sapa Fiora ceria saat melewati meja para staf.
"Pagi, Cece!" jawab para karyawan serempak.
"Pak Bos belum datang?" tanya Fiora sambil melirik ke arah pintu ruangan Galang yang masih tertutup.
"Belum, Cece," sahut salah satu resepsionis.
Fiora mengangguk kecil, lalu melangkah masuk ke dalam ruangannya yang menyatu dengan ruangan Galang. Ia mulai menyalakan laptop dan merapikan meja kerja Galang, membayangkan senyum pria itu saat melihat semuanya sudah siap.
Tak lama kemudian, pintu lobi terbuka. Suasana kantor yang tenang tiba-tiba berubah riuh oleh bisikan. Galang datang, namun ia tidak sendiri. Di belakangnya, mengekor seorang gadis dengan pakaian yang tampak baru namun terlihat sangat kaku. Para karyawan tampak bingung, mata mereka mengikuti setiap langkah gadis itu.
"Siapa dia?" bisik seorang karyawan. "Wah, dekat kali sama Pak Bos!"
Tiba-tiba, saat mereka hampir melewati meja sekretaris, Mira—yang entah sengaja atau tidak—tersandung kakinya sendiri.
"Aaa!" Mira memekik kecil dan tubuhnya terhuyung ke depan.
Dengan sigap, Galang menangkapnya. Galang merangkul pinggang Mira agar gadis itu tidak menghantam lantai marmer. Posisi mereka terlihat sangat dekat, Mira menyandarkan kepalanya di dada Galang dengan ekspresi ketakutan.
Fiora yang mendengar kegaduhan itu segera keluar dari ruangannya. Langkahnya terhenti seketika. Matanya membelalak melihat pemandangan di depan matanya.
"Omaygoat baby baby! Apa-apaan ini?!" teriak Fiora spontan, suaranya melengking memenuhi koridor kantor. Jantungnya berdegup kencang karena cemburu dan kaget yang luar biasa.
Darah Fiora mendidih, namun ia mencoba menarik napas dalam-dalam. Sisi cerdasnya berbisik, Tenang, Fio... tenang. Tanya dulu, jangan langsung ngamuk.
"Galang!" panggil Fiora dengan nada yang berusaha ia kontrol, meskipun matanya menatap tajam ke arah tangan Galang yang masih memegang pinggang Mira. "Bisa tolong jelaskan, siapa perempuan ini dan kenapa dia harus jatuh tepat di pelukan tunangan saya pagi-pagi begini?"
"Fiora," tegur Galang dengan nada dingin yang biasa, berusaha melepaskan pegangannya pada Mira meskipun gadis itu masih tampak bersandar lemas.
"Ini siapa Pak Bos? Nempel banget kayak perangko!" kata Fiora dengan penuh penekanan. Matanya menatap tajam ke arah tangan Galang, lalu beralih ke wajah Mira yang menunduk ketakutan.
"Dia asistenku," jawab Galang singkat tanpa merasa berdosa.
Fiora menatap Galang dengan ekspresi tidak percaya, lalu beralih menatap Mira yang masih tampak tidak nyaman. "Omaygoat! Asisten Bapak? Pak Bos, sekadar mengingatkan, sekretaris Bapak itu saya."
Mira, merasa menjadi pusat perhatian yang tidak diinginkan, sedikit bergerak menjauh dari Galang.
Fiora melangkah mendekat, "Ohhh... halo Nona. Jadi asisten baru Pak Bos, ya?" ucapnya, suaranya terdengar manis namun ada nada lain di baliknya.
Galang mengernyitkan dahi. "Fiora, hentikan. Mira baru saja mengalami sedikit insiden."
"Insiden apa, Galang? Kelihatannya dia baik-baik saja," balas Fiora, matanya masih tertuju pada Mira.
Fiora kemudian berbalik menuju mejanya, ekspresinya berubah serius. Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi pesan, mengetik pesan singkat:
Fiora: Ada hal menarik di kantor hari ini. Sepertinya akan ada 'proyek' baru yang perlu kita diskusikan. Jojo, Vanya, rapat darurat di butik jam makan siang nanti.
Fiora memiliki firasat bahwa kehadiran Mira di kantor bukan hanya sekadar sebagai asisten. Ada sesuatu yang mencurigakan, dan Fiora tidak akan mengabaikannya.
Fiora hanya bisa mengelus dada melihat Galang yang begitu sigap membantu Mira duduk di sofa ruangannya. Galang bahkan sampai menyuruh ob untuk mengambilkan air hangat.
"Astaga... astaga... kurang apa gue?" gumam Fiora lirih sambil bersedekap. Ia memperhatikan Mira dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Gue kira pilihannya yang lebih dari gue, ternyata debu jalanan."
Fiora melangkah mendekat saat Galang sedang membelakangi mereka untuk mengambil berkas. Ia menatap Mira dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.
"M-I-R-A," Fiora mengeja nama di kartu identitas sementara gadis itu dengan nada dingin. "Kamu... awas aja ya kalau berani deket-deket sama Galang. Kamu nggak tahu berhadapan sama siapa."
Tepat saat itu, Galang berbalik. Entah karena kaget atau memang sengaja mencari perhatian, tiba-tiba Mira terjatuh dari sofa ke lantai dengan suara yang cukup keras.
"Aduh!" rintih Mira sambil memegang pergelangan kakinya, matanya mulai berkaca-kaca menatap Galang.
Ihhh, norak banget. Lemah! batin Fiora sambil memutar bola matanya malas. Ia tahu betul trik murahan seperti itu.
"Fiora! Apa yang kau lakukan pada Mira?!" bentak Galang. Ia langsung menghampiri Mira dan membantunya berdiri dengan wajah penuh kekhawatiran.
Fiora tersentak, namun ia tetap berdiri tegak dengan wajah angkuh. "Saya? Saya tak menyentuhnya sama sekali, Galang!" jawab Fiora dengan nada tegas dan berkelas.
Ia menatap Mira dengan jijik lalu kembali menatap tunangannya. "Tangan ku tak akan menyentuh debu. Jadi jangan tuduh aku melakukan hal rendah seperti itu."
"Tapi dia jatuh saat kamu mendekatinya!" Galang tidak mau kalah, suaranya meninggi.
Fiora hanya tersenyum sinis. "Mungkin lantai kantor kamu terlalu licin buat orang yang nggak biasa jalan di atas marmer mahal. Aku permisi, Pak Bos. Banyak kerjaan yang lebih penting daripada drama jatuh-jatuhan ini."
Fiora berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah mantap. Begitu sampai di mejanya, ia langsung merogoh ponsel. "Vanya, Jojo! Cari tahu semua tentang cewek bernama Mira. Sekarang!"