Sebagai seorang residivis pengangguran dengan otak agak sinting karena keseringan dipukuli, Saputra mencoba berbagai hal agar biaya perawatan Ibunya yang terbaring di RS dapat diperoleh.
Termasuk menjadi menantu di sebuah rumah besar dan setiap hari harus menghadapi tekanan dari sang Ayah Mertua.
Kenapa ia bisa menjadi menantu? Karena istrinya, Nadine, sedang hamil anak dari pria beristri. Tak ingin skandalnya diketahui, Nadine mengikat perjanjian dengan Putra untuk menjadi suami menutupi perselingkuhannya. Sebagai gantinya, Nadine memberi Saputra sejumlah uang untuk biaya operasi Ibu Saputra.
Situasi semakin kacau saat akhirnya Nadine ketahuan oleh istri si selingkuhan, bisnis ayahnya terancam bangkrut, dan saat itu mau tak mau Saputra harus menghubungi 'keluarganya'. Keluarga yang selama ini ia hindari, yang belakangan setelah Saputra keluar dari lapas, mereka malah mengejar-ngejar Saputra. Keluarga Bangsawan dari Monarki Konstitusional di Kerajaan Eropa yang memang selama ini mencari pewaris satu-satunya kekayaan triliunan dollar.
Bukan, ini bukan kisah cinta. Ini kisah petualangan. Nyari adegan uwu? Silahkan ke novel sebelah. Hwehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menutup Mulut Si Giman
"Putra! Woy bedul keluar lo!!" terdengar suara Giman berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan parang berkaratnya ke atas udara. Tampak beberapa sekuriti rumah sakit mencegahnya untuk maju sambil bersiap-siap menyergap Giman.
Nyatanya, IGD berada di area paling dekat dengan gerbang masuk RS, tapi Gimannya bahkan hanya bisa berdiri di luar pagar RS karena teriakannya mengganggu kenyamanan pasien.
"Pak, kalau bapak tidak bisa tenang, kami akan ambil tindakan," seru Dandru sekuriti.
"Gue kagak takut!! Panggil si Putra keluar! Gue mau bikin perhitungan! Mertua dan bininya sekalian sini gue jabanin!! Bicara baek-baek sama gue sini! Nih, si Giman udah dateng!!" seru Giman.
Semua yang berjaga di sana saling bertatapan dengan pandangan kesal. Terlihat sekali untuk berdiri saja si Giman ini kepayahan. Tenaga Kesehatan pasti langsung tahu kalau Giman berada di bawah pengaruh alkohol illegal.
Putra akhirnya turun dan menemui Giman di depan IGD, sementara Artemis dan Ivander langsung narik kursi untuk menonton adegan konyol sambil cengengesan.
"Siapa nih bro?!" seru Ivander bersemangat.
"Kagak tau, kita liat aja kenapa dia sampai teriak-teriak minta perhitungan sama si sinting. Gue pikir Calon Raja udah orang paling aneh, Ternyata ada yang lebih pekok lagi," kekeh Artemis.
Niatnya Saputra adalah menyaoa Giman baik-baik, seharusnya.
Tapi baru saja ia mencoba mendekat, Giman sudah mengacungkan golok berkaratnya ke arah Putra.
"Woy Bang!! Ati-ati!!" seru Putra kesal.
"Nying!! Gara-gara lo gue nggak jadi konglomerat! Gue yang narik tu cewek ke gang! Gue yang bikin rencana woy!"
"Bang, tenang dulu bang!" cegah Saputra.
"Enak aja lo main gasak aja cewek orang! Dia itu bisa jadi udah gue garap kalo gue nggak diajak ngomong sama lo woy!!"
"Jangan ngomong di sini bang!" desak Putra.
Putra sebenarnya berusaha melindungi Giman agar tidak sesumbar mengenai kesalahannya dulu. Karena kalau sampai Artemis tahu, kemungkinan terbaiknya si Giman dimasukin penjara. Tapi kemungkinan terburuknya ya disiksa dulu sama mereka sebelum dibunuh.
"Jangan-jangan… Oooooh jangan-jangan tuh cewek sebenernya hamil sama gue ya! Gue denger dia lagi hamil kan cuy? Nggak mungkin lo yang ngehamilin kan lo orang paling t0l0l yang pernah gue kenal. Jangan-jangan pas gue mabok, gue nggak sadar kalo gue udah ngelakuin itu ke si cewek seksi ya!! Makanya lo ambil alih soalnya lo ngiri kan!!" seru Giman.
Saputra melongo.
Ia bahkan tidak bisa berkata-kata lagi mendengar omongan ngawur Giman yang benar-benar diluar batas normal pikiran manusia.
"Apa sih Bang?" gumam Putra sambil berkacak pinggang. Ia yang tadinya berusaha sabar, malah jadi tersulut emosinya.
"Kalo gitu gue dong yang berhak jadi orang kaya?! Gue yang harusnya tinggal di rumah-"
Dan Giman pun sekali lagi terkapar di tanah.
Saputra mengernyit lalu menoleh ke sebelahnya.
Artemis dan pistolnya.
Menembak Giman di tenggorokannya.
Semua langsung berteriak histeris.
"Dia nggak mati kok, ya tapi nggak bakalan bisa ngomong lagi sih," desis Artemis dengan pandangan wajah malas khasnya.
"Bang, jangan main tembak aja dong," desis Saputra.
"Berisik, sih…" gumam Artemis sambil balik badan dan masuk ke dalam bangunan RS.
Sambil menggaruk kepalanya, Saputra menatap tubuh Giman yang tergeletak tak berdaya. Tenaga medis berdatangan untuk memeriksa kondisi Giman, beberapa orang berlarian membawakan tandu, dan para sekuriti malah mundur menghindari Artemis.
Putra berkacak pinggang sambil menggelengkan kepalanya, "Heheheheh, Nasibmu Bang Giman, ya tapi setelah ini sepertinya kamu nggak akan bisa minum-minum lagi, dan nggak akan bisa bicara kotor. Tuhan telah mencegah kamu untuk berbuat hal-hal yang lebih buruk. Berterima kasihlah padaNya."
kapan lanjut lg ?????
gara2 aku baca Jack rio krna dah lupa2 ingat nama yg ada disana aku sampe balik lagi kesini stlh mampir dulu dilapak neng Tessa 😤
alasan kedua, hampir semua buku punya benang merah ke buku kain, jadi kalau lagi kangen sama tokoh-tokoh lain, kadang mereka lewat jadi cameo di buku yang lain..
pokoknya, recommended no debat!!!!!!