Syal merah yang dikenakan saat melamar pekerjaan membuat Rara menjadi sasaran balas dendam CEO nya sendiri, alih-alih ingin mendapatkan kebahagiaan namun Rara malah mendapatkan siksaan yang pedih dari Sean suaminya serta atasannya di kantor.
Alasan apa Sean melakukan hal itu? ikuti ceritanya yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daffa atau Sean
Sean menatap Rara dengan tatapan yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata, baru saja bertemu namun Rara sudah meminta bercerai.
"Ra, tidak bisakah kita ulang dari awal lagi?" tanya Sean.
"Aku menyesal Ra, lima tahun Tuhan sudah menghukum aku, bukankah kalian juga sudah menghukum aku kenapa harus ada perceraian?" Sean tidak ingin bercerai.
Rara terdiam, dia hanya tidak ingin menyakiti Daffa karena bagaimanapun juga Daffa lah yang selama lima tahun ini menyembuhkan lukanya, dia rela merawat dirinya dan Albert layaknya pasangan.
"Aku mohon Ra," pinta Sean.
Sean berjongkok di bawah, menggenggam tangan Rara dengan erat berharap istrinya mau memaafkannya.
"Tapi kita sudah tidak bisa bersama mas," ungkap Rara dengan mata yang basah.
"Kenapa? kita bisa mulai dari awal lagi, aku janji akan berubah Ra seperti yang kamu mau," sahut Sean.
Sean meletakan kepalanya di atas pangkuan Rara, dia terus memohon dengan menangis, cintanya pada Rara sangat besar selama lima tahun sedikit pun cinta untuk Rara tidak pernah berkurang.
"Aku tidak bisa mas, meskipun kita tidak bersama kamu masih bisa mengunjungi kami, kamu masih bisa mengajak Albert jalan-jalan, makan dan lain-lain," bujuk Rara.
"Aku ingin kalian," timpal Sean.
Saat bersamaan Albert datang dan meminta Rara untuk membelikannya es krim.
"Mommy, aku mau es krim," kata Albert.
Sean beranjak lalu menggendong Albert.
"Ayo kita beli sayang," kata Sean.
Albert menatap Sean pasalnya mata Sean basah karena air mata.
"Paman menangis?" tanya Albert.
Sean menggelengkan kepala, tentu dia tidak akan mengaku kalau dirinya habis menangis.
"Mana mungkin paman menangis, paman kan pria sejati jadi mana mungkin menangis," elak Sean.
Albert mendekatkan kepalanya kemudian tangannya menghapus air mata yang masih menempel di bulu mata Sean.
"Jadi ini air apa?" tanya Albert yang masih belum puas.
"Itu air mata bahagia karena paman bisa bertemu mommy kamu," jawab Sean.
Tak ingin Albert terus bertanya Sean menurunkan anaknya lalu memesan tiga es krim, dia memesan yang porsi jumbo untuk dirinya maupun Rara sehingga membuat Albert iri.
"Astaga kenapa aku hanya dibelikan porsi kecil," gerutu Albert.
Sean yang mendengar gerutuan Albert memesan lagi yang porsi jumbo.
"Nih, jangan menggerutu lagi." Sean menyodorkan es krim rasa coklat porsi jumbo untuk anaknya.
Setelah membeli es krim mereka kembali ke bangku dimana Rara duduk, Sean memberikan es krim rasa stroberi untuk Rara.
"Es krim kesukaan kamu Ra," kata Sean.
Rara tersenyum lalu menerima es krim yang Sean berikan.
"Kamu masih ingat mas?" tanya Rara.
"Aku selalu mengingatnya Ra," jawab Sean.
*********
Rara sungguh galau, pertemuannya dengan Sean tidak menghasilkan apa-apa dirinya kini malah semakin larut dalam rasa cinta yang bertahun-tahun dia pendam, sikap Sean yang manis membuat cintanya mulai bersemi, akankah Rara merubah haluannya? entahlah.
Setiap hari Sean mengajak Rara untuk bertemu, awalnya Rara menolak karena dirinya tidak ingin menyakiti Daffa namun Sean terus memaksa apalagi Albert yang selalu ingin bertemu dengan Sean.
Tidak bisa dipungkiri ikatan batin antara anak dan bapak diantara mereka semakin kuat, Sean yang sangat menyayangi Albert memberikan apapun untuk sang buah hati bahkan dia mendukung Albert untuk menjadi peretas asalkan digunakan untuk hal positif.
Daffa yang tau akan pertemuan Sean dan Rara tidak bisa berbuat apa-apa dia hanya berpura-pura tidak tau meski hatinya sangat hancur. Ketakutan kehilangan wanita yang selama ini dia jaga membuat Daffa rapuh hingga setiap malah dirinya hanya menangis untuk meluapkan rasa sakit dan takutnya.
Suatu malam, Rara mencari Daffa di ruang kerjanya disana dia melihat Daffa yang tertidur di meja, dia mencoba membangunkan Daffa agar pindah ke kamar.
"Mas pindah ke kamar gih." Rara menggoyang tubuh Daffa.
Mata Rara tertuju pada sebuah buku yang digunakan Daffa untuk alas kepala, di buku itu Daffa menuangkan semua isi hatinya.
Rara menangis membaca tulisan Daffa, selama ini Daffa lah yang berkorban untuk dirinya maupun Albert.
"Maafkan aku mas yang telah melukai perasaan kamu," kata Rara.
Rara kembali ke kamarnya dengan tangis yang pecah dirinya sungguh bingung harus bagaimana, Sean pemilik hatinya sedangkan Daffa pemilik raganya.
Keeoskannya Rara menghubungi David, dia ingin berkonsultasi pada David akan masalahnya, apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
"Mas kita ketemu yuk." Rara mengirimkan pesan singkat pada David.
David segera menghubungi Rara, nanti siang kebetulan ada meeting diluar jadi setelah meeting David bisa menemui Rara di tempat biasa mereka bertemu.
Waktu berlalu dengan cepat, Rara pergi untuk menemui David di tempat biasa, disana David sudah menunggu di ruangan VIP yang dipesannya.
"Mas," panggil Rara sesaat dirinya masuk ke dalam ruangan VIP yang dipesan David.
David tersenyum lalu meminta Rara untuk duduk.
"Duduklah Ra," pinta David.
Rara segera duduk lalu menatap David yang kini berada di hadapannya.
"Ada apa?" tanya David.
Rara menghela nafas, dia mulai menangis di hadapan David.
"Aku bingung mas, Sean datang membuat cintaku bersemi kembali sedangkan aku tidak mungkin meninggalkan mas Daffa, apakah harus aku miliki keduanya," jawab Rara.
David hanya tersenyum lalu dia menggenggam tangan Rara.
"Kalau itu aku tidak bisa membantu Ra, ikuti saja apa kata hati kamu, Sean dan Daffa sama-sama pria yang baik hanya saja Sean dibutakan oleh dendamnya," kata David.
"Tapi daripada kamu pusing, mending sama aku saja, aku ga kalah baik dan tampan," sambung David dengan terkekeh.
Rara beranjak lalu dia memeluk David, air mata David mengalir saat Rara memeluknya. Cinta yang dia rasakan pada istri Sean itu membuatnya tak kuasa.
"Andaikan aku tercantum dalam nominasi pilihan kamu pasti aku sangat senang Ra," batin David.
Meski David tidak bisa membantu namun David memberi gambaran pada Rara kalau Rara memilih Daffa maupun Sean.
"Jadi apapun pilihan kamu aku akan terus mendukung kamu Ra dan akan selalu ada untuk kamu," kata David.
"Terima kasih mas," sahut Rara.
Memang dilema tapi Rara harus tetap memilih, Sean atau Daffa harus dia pikirkan matang-matang karena ada Albert yang turut ikut pilihan Rara.
Kalau David sendiri sebenarnya condong ke Daffa karena bagaimanapun juga selama lima tahun ini dialah yang selalu ada buat Rara, cintanya sungguh besar untuk Rara bahkan cinta Sean kalah besar dengan cintanya.
Sepanjang perjalanan pulang Rara terus berfikir hingga tanpa dia sadari mobilnya telah sampai di depan rumahnya.
Sebelum masuk rumah, Rara duduk melamun di teras dia memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya karena tidak selamanya dia bisa menyembunyikan pertemuannya dengan Sean dari Daffa.
"Daffa dan Sean apakah harus aku miliki kalian bersamaan?"
ya ampun aqu sampek nanges
gk sanggup baca nya
yg bikin cerita yg di salah kan jngn rara