NovelToon NovelToon
Duren Mateng

Duren Mateng

Status: tamat
Genre:Duda / Harem / Cinta Murni / Romansa / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 5
Nama Author: Ririn Puspitasari

Sequel dari PRIA 500 JUTA.

Alvaro, pria berusia 30 tahun ini kerap dijuluki DUREN MATENG yang berarti duda keren, mapan, dan ganteng. Pria ini memiliki seorang anak laki-laki yang berusia lima tahun, bernama Bima.

Tiba dimana Bima meminta kepada Alvaro untuk mencari wanita yang hendak dijadikan pengganti ibunya, terpaksa Alvaro pun berkencan dengan banyak wanita dan diberikan penilaian secara langsung oleh putranya sendiri.

Akankah Alvaro menemukan wanita yang cocok untuk dijadikan ibu untuk anaknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririn Puspitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Setengah Gila

Rania mengintip Alvaro, hingga pria tersebut menghilang dari balik pintu. Baru saja Rania hendak pergi, akan tetapi ia sempat melihat Alvaro kembali keluar dari rumahnya. Rania pun kembali mengintip dari lubang pintunya.

"Mau kemana dia?" tanya Rania penasaran. Ia pun kembali mengintip Alvaro.

Alvaro melangkah pergi, dengan setia Rania masih menunggu Alvaro hingga kembali. Entah mengapa ia merasa penasaran tentang kepergian pria itu setelah pulang bersama anaknya.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar jelas. Ia melihat Alvaro membawa sebuket bunga mawar putih yang begitu cantik.

"Mawar?" gumam Rania.

Rania terkejut karena tiba-tiba saja Alvaro berjalan menuju ke depan pintunya. Dengan cepat Rania pun berjalan menjauhi pintu.

"Ada apa itu? Apakah dia ingin memberikan mawar itu padaku?" gumam Rania yang mencoba menormalkan detak jantungnya.

"Bisa jadi memang benar. Mawar putih melambangkan sebuah ketulusan atau pun permintaan maaf. Mungkin saja dia ingin minta maaf padaku tadi," Rania bermonolog.

"Tapi kenapa dia tidak menekan belnya?" Rania pun berjalan perlahan, dan kemudian melihat ke arah lubang pintu. Ia tak menemukan keberadaan Alvaro di depan pintu itu.

"Apakah dia menaruhnya di depan pintu? Ternyata dia sangat pemalu," ujar Rania sembari mengembangkan senyumnya.

"Baiklah, kita mulai dari hitungan ketiga untuk membuka pintu. Tiga, dua, satu ...."

Rania langsung membuka pintu tersebut sembari menyunggingkan senyumnya. Betapa terkejutnya ia melihat Alvaro tengah berjongkok mengambil sesuatu dari depan pintunya.

Alvaro juga terkejut, Rania yang mendadak keluar dari rumahnya. Pria itu tersenyum kikuk sembari memperlihatkan gantungan tas.

"Apakah ini milikmu?" tanya Alvaro.

"Aku menemukan ini tergeletak di depan pintu," lanjut pria tersebut.

"Astaga, ternyata dia hanya memungut gantungan tas itu, bukan bermaksud memberikan mawar itu padaku," rutuk Rania di dalam hati.

"Ah iya, ini milikku. Aku mencarinya sedari tadi ternyata benda ini ada di sini," ucap Rania sembari tersenyum kikuk.

Dengan cepat, Rania mengambil gantungan tas miliknya dari tangan Alvaro. " Kalau begitu, terima kasih."

Rania kembali menutup pintunya. Ia benar-benar merasa malu karena pemikirannya yang tidak-tidak. "Kenapa aku bisa terlalu percaya diri. Dasar bodoh!" rutuk Rania seraya memukul pelan kepalanya sendiri.

Alvaro melihat Rania menutup pintunya dengan cepat hanya bisa tercengang. Pria itu mengarahkan pandangannya pada bunga yang saat ini tengah dipegangnya.

"Aku ingin memberikan ini, tapi kenapa dia menutup pintunya begitu saja," gumam Alvaro.

Tangan Alvaro hendak menekan bel, akan tetapi pria tersebut mengurungkan niatnya. "Mungkin dia lelah karena telah bekerja seharian," ujar Alvaro yang memilih meninggalkan pintu tersebut dan berjalan masuk ke dalam huniannya.

Alvaro kembali menoleh sebelum ia benar-benar menutup pintunya. "Tapi dia juga bersalah, kenapa dia berpura-pura tidak tahu bahwa aku ada di depan kliniknya. Setidaknya dia harus membangunkan aku," gerutunya.

Bima menelengkan kepalanya, heran melihat ayahnya yang berbicara sendirian sedari tadi.

"Papa, apakah papa bisa berbicara dengan hantu?" tanya Bima dengan wajah polosnya.

"Hantu? Kamu melihat hantu, Nak?" Yang ditanyai justru bertanya balik.

Bima menggelengkan kepalanya. "Bima tidak bisa melihat hantu, Pa. Tapi Bima melihat papa berbicara sendiri sedari tadi," ucapnya.

"Ah itu ...." Alvaro mengusap tengkuknya, pria tersebut bingung harus bagaimana menjelaskannya pada jagoan kecilnya yang memang ingin serba tahu.

"Papa tidak berbicara dengan hantu. Papa memang sering berbicara sendirian seperti ini," timpal Alvaro.

"Papa seperti orang gila tadi," celetuk Bima.

"A-apa? Orang gila?"

"Iya, tadi saat nenek mengajak Bima bermain di depan rumah, Bima melihat ada orang yang berbicara sendirian. Bima tanya kepada nenek, dan nenek menjawab kalau itu adalah orang gila," jelas Bima.

"Setelah disamakan tutup panci, sekarang aku disamakan dengan orang gila oleh putraku sendiri," keluh Alvaro dalam hati.

"Tidak sepenuhnya orang berbicara sendiri itu merupakan orang gila, Nak."

"Kalau tidak sepenuhnya, berarti papa hanya setengahnya?" tanya Bima yang membuat Alvaro tak bisa lagi berkata-kata.

Alvaro hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Anak seumuran Bima memang sedang ingin tahu segalanya. Namun, memang ada kalanya pertanyaan itu sedikit membuat Alvaro kesal.

"Bima sudah makan malam?" tanya Alvaro.

"Sudah, Pa. Tadi Bima makan di tempat nenek," timpal Bima.

"Kalau begitu, sekarang Bima tidur ya, Nak. Hari sudah malam, lagi pula Bima besok harus berangkat ke sekolah," ucap Alvaro yang mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

"Baik, Pa. Selamat malam, Pa."

Bima langsung berlari menuju ke kamarnya. Pria itu menuruti ucapan dari ayahnya. Sementara Alvaro hanya bisa menghela napasnya dengan berat. Menghadapi anak seusia Bima memang membutuhkan kesabaran yang ekstra, karena di usia itu lah mereka lebih aktif untuk bertanya dan memperhatikan lingkungan sekitar.

Setelah melihat anaknya telah masuk ke dalam kamar, Alvaro pun berjalan menuju ke kamarnya. Tiba-tiba ponselnya berdering, Alvaro langsung merogoh benda pipih tersebut dari dalam sakunya. Ia melihat si pemanggil yang tak lain adalah saudara kandungnya. Seketika Alvaro teringat akan ucapan Alvira sebelumnya yang hendak meneleponnya.

Alvaro mengusap layar ponselnya itu. Lalu kemudian menempelkan benda pipih tersebut di telinganya, sembari melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda.

"Ada apa?" tanya Alvaro tanpa berbasa-basi.

"Bagaimana? Apakah kamu sudah mendapatkan perkembangan melalui wanita itu?" Alvaro meletakkan bunga tersebut di atas meja, lalu kemudian mendudukkan dirinya di sebuah kursi yang ada di kamar tersebut.

"Aku belum mendapatkan informasi apapun darinya," timpal Alvaro.

"Kenapa? Apakah kamu tidak bersedia membantuku?" tanya Alvira.

"Tolonglah, Varo. Hanya kamu lah yang bisa aku andalkan. Masalah perselingkuhan suamiku, hanya aku dan kamu lah yang mengetahuinya. Aku ingin kamu menyelidiki wanita itu. Apakah benar dia selingkuhan Andre atau tidak," tutur Alvira dengan nada yang sedikit kecewa.

Alvaro memijat keningnya. Di satu sisi, ia merasa kasihan kepada saudara kembarnya. Namun, di sisi lain, ia sangat enggan meladeni wanita yang bernama Shinta itu.

"Baiklah, aku akan membantumu. Semoga aku tidak salah menerka, memang dia lah wanita selingkuhan suamimu itu," ucap Alvaro.

"Sebelumnya, aku ucapkan terima kasih karena kamu bersedia menolongku. Suatu saat nanti, jika kamu membutuhkan bantuan dariku, aku juga akan dengan segera membantumu," ujar Alvira.

"Tidak perlu seperti itu. Kita saudara, sudah sepatutnya untuk saling membantu," balas Alvaro.

"Aku tutup teleponnya. Sepertinya suamiku baru saja pulang."

Tak lama kemudian, sambungan telepon pun terputus. Alvaro menatap mawar putih yang tergeletak di atas meja. Pria itu memijat keningnya seraya menghembuskan napasnya dengan kasar.

Alvaro mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.

"Halo." Suara wanita menyambut panggilan tersebut dengan lembut.

"Mari kita berkencan. Besok, aku akan menemuimu," ujar Alvaro.

Bersambung ....

1
Luhdita Apramesti
kok ga ada thor
Usmi Usmi
Alvaro kenapa tidak d selidiki sih
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ ͢ԝᴀᴋᷞɪᷦʟͧѕͣᴏͬᴍͩᴠͥʟᴀᴋ
Gimna rasanya tanpa seorang ibu🙂
Bagiku👉 Semua boleh pergi, asal jgn ibu🙌
Erina Munir
ga adaa thoor...yg ada abimanyu, cintaku berhenti di kamu ..thor..pindah kali ya thoor
Erina Munir
bima bner2 udh menepati janjinya k febby
Erina Munir
waah juni blom2 udh nyosor ajaa
Erina Munir
kocaak deh junii...juni lemot..apa telmi..😆😆😆👍👍
Erina Munir
otoor maah ..bikin yg baca jdi penasaraan
Erina Munir
hahaa alvaro klk ngomong kena banget...
Erina Munir
hmmm ...kena deh tuh omongan...mantab alviraa
Erina Munir
adaa deehh...othor pura2 deeh
Erina Munir
😍😍😍😆😆😆👍👍👍 kocak deh arumi
Erina Munir
hahaaa...aya2 waee
Erina Munir
naah gitu doong njuun....kerjaar terus sampe tertangkap...😆😆😆
Erina Munir
makaanyaa jngn busuk hatii dedoot...rassaiin luuhh.udh jatoh ketiban tangga pula...😄😄😄😄👍👍
Erina Munir
palung pska s dedot yg d ketok pake sepatunya shinta..rassaiin luuh dedot...gwe ketawaiin luuh
Erina Munir
ayoo juun cecer trrus...bikin supaya shinta jujur
Erina Munir
untung shinta cerdas..cepet bisa rau.naksud n tujyan s dedot itu ..pret luhh dedit..ngehalu aja terooos luuh...
Erina Munir
wadduuh psti dedi kasar sama shinta
Erina Munir
bnerr paje banget itu thorr bima lebih dewasa dripada njuun...😄😄😄👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!