Emely seorang gadis yang terpaksa bekerja disebuah bar karena harus menjadi tulang punggung keluarganya. Dia harus menghidupi ibunya yang sudah tidak bekerja karena penyakit leukimia yang menyerangnya beberapa bulan terakhir, dia juga memiliki seorang adik laki - laki yang kuliah disalah satu universitas dengan mendapat beasiswa karena kepintar
annya. Sedangkan sang ayah lebih memilih meninggalkan ibunya, adiknya dan juga Emely. Hidupnya semakin menderita setelah pertemuannya dengan Davino Swam. Pria yang menganggap wanita sebagai mainanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Sara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
"Jangan terlelap Emely. Dia laki - laki brengsek. " Mantra yang Emely ucapkan dalam hati. Dia tidak akan tidur, begitu niatnya. Sedangkan laki - laki yang masih memeluknya itu, tidak terdengar lagi suaranya. Entah dia sudah tertidur atau hanya diam saja, Emely tidak tahu. Emely tidak ingin mengambil resiko untuk mengecek sendiri apakah pria itu sudah tidur atau tidak. Yang harus dia lakukan sekarang, hanya membiarkan pria itu benar - benar terlelap, agar dia setidaknya dapat menyingkirkan tangan pria yang masih memeluknya itu.
Sudah hampir dua jam Davino tidak bersuara. Itu artinya dia benar - benar sudah tidur. Tapi kenapa tangannya masih dengan erat melingkar ditubuh Emely? Berusaha lagi, Emely kembali mengangkat tangan Davino, menyingkirkan dari tubuhnya. Namun usahanya sia - sia. Tangan itu bahkan tidak bergerak sama sekali.
***
Emely menyesali keputusannya, ketika tadi dia mengecek apakah Davino benar - benar terlelap dengan cara membalikkan tubuhnya melihat Davino. Namun disaat dia berbalik, mata mereka bersih tatap. Hembusan nafas pria itu bahkan bisa Emely rasakan menerpa wajahnya. Karena jarak mereka yang begitu dekat. Emely yang salah tingkah, ingin membalikkan tubuhnya ke posisi semula. Namun sayang, pria itu lebih dulu menahan tubuhnya, membiarkan posisi mereka seperti itu.
Emely menunduk, tidak ingin melihat laki - laki yang masih menatapnya itu. Sedangkan laki - laki itu, berusaha menekan lagi rasa yang dengan susah payah ditahannya sejak tadi. Sebenarnya posisi mereka saat ini, sangat menyiksanya. Karena rasa itu lebih dan kian besar dari sebelumnya. Namun dia berusaha mengendalikannya, karena dia tidak ingin menambah ketakutan dimata gadis itu.
"Jangan tertidur Emely. Dia pria brengsek. " Bahkan sudah hampir 39 kali Emely mengucapkan mantra itu dalam hati. Namun seiringnya waktu, entah mengapa matanya tidak bisa diajak kompromi. Emely terlelap, dibawa alam sadarnya dia bahkan mengatakan mantranya secara jelas, membuat laki - laki yang masih terjaga itu menyunggingkan senyum.
***
"Mel bangun nak, ayo sarapan. " Astaga dia tertidur.
Suara ibunya membuat Emely bangun dengan terkejut.
Dia takut ibunya akan melihat ada seorang pria di kamarnya.
"Dimana dia? " Emely tidak menemukan sosok pria yang semalam dengan tidak tahu dirinya tidur di ranjangnya.
"Mel." Suara ibunya lagi.
"Iya bu, Emely sudah bangun." Emely langsung kearah pintu kamar dan membukanya.
"Ayo bersihkan dulu wajahmu setelah itu kita sarapan, ibu sudah buatkan nasi goreng. " Ucap ibunya lembut.
"Ibu masak? " Tanya Emely yang memang tidak pernah lagi mengijinkan ibunya bekerja. Memasak pun dilarang Emely. Emely takut ibunya akan drop lagi, jika terlalu lelah.
"Hanya nasi goreng nak. Sudah lama kan kalian tidak makan nasi goreng buatan ibu." Kali ini Emely mengalah, biarlah dia juga sudah lama merindukan masakan ibunya. Sebelum keluar kamar, Emely memastikan lagi keberadaan pria itu namun dia benar - benar sudah tidak ada.
"Apa aku hanya mimpi semalam. "
***
David datang ke apartemen Davino kakaknya, karena kemarin Davino meminta bertemu dengan adiknya itu.
"Duduk." Menyodorkan segelas kopi kepada adiknya yang baru saja sampai di apartemennya.
"Aku ada kuliah pagi ini kak. Kenapa kakak menyuruhku datang sepagi ini. " Gerutu David pada kakaknya yang bahkan sangat pagi sekali, kembali menghubungi adiknya itu. Memperingatkan adiknya itu untuk bisa datang ke apartemennya.
"Apa kak Davi tidak tidur semalam? Sehingga pagi - pagi sudah mengganggu orang saja. " Ucapnya dengan sedikit kesal.
"Ada yang ingin kak Davi tanyakan padamu Boy. Ingat jawab dengan jujur. Karena kau tahu sendiri kan, kak Davi paling tidak suka seorang pembohong. Apalagi yang bohong itu adik kakak. " David menduga - duga apa yang ingin ditanyakan kakak yang selalu membelanya itu.
"Bolehkah kak Davi bertanya sekarang? " David mengiyakan dengan ragu - ragu.
" Apa memar di wajahmu waktu itu karena murni ditampar gadis itu? " Deg. Kenapa kakaknya bisa menanyakan hal ini? Bukankah masalah ini sudah lama, sudah sebulan lebih diingatan David.
" Iya kak. " Ragu - ragu David menjawab. Bahkan dia tidak berpikir dulu sebelum menjawab.
" Kakak sudah bertemu gadis itu, dia juga sudah menampar kakak dan juga memukul kakak. " Kali ini kalimat Davino membuat David keringat dingin.
"Kau tahu hasil dan rasa dari pukulan dan tamparannya? " Davino men jeda ucapannya, membuat David semakin gugup. Menepuk pipinya. "Hasilnya tidak ada memar sedikitpun di wajah kakak dan rasanya tidak sakit sama sekali. " Ucap Davino dengan penuh penekanan di kalimat terakhirnya. David yang mendengarnya, menelan saliva nya susah payah.
" Apa dia memukulmu atau menamparmu? " Bukankah pertanyaan ini tidak adil. Jika dia mengatakan gadis itu memukulnya, Davino sudah mengatakan bahwa pukulannya tidak menimbulkan memar dan tidak sakit. Jika dia menjawab menampar, sama saja.
Tapi tumben - tumbennya kakaknya menanyakan hal ini padanya. Padahal jika dia mengadukan apapun pada kakaknya. Kakaknya akan membela dan memperingatkan siapa saja yang menyinggungnya tanpa perduli adiknya yang salah atau orang lain. Tapi sekarang kenapa dia ditanya masalah itu, seperti terdakwa saja.
"Hm itu..." Ragu - ragu David menjawab.
" Sebelum kau menjawab, kak Davi peringatkan sekali lagi. Jawab yang jujur, karena jawabanmu menentukan tindakan kakak selanjutnya." Davino memperingati.
"Sebenarnya dia hanya menampar aku kak dan tamparannya memang tidak sakit. Wajahku waktu itu... " David menarik nafas panjang. "Aku meminta temanku memukulnya. Agar kakak percaya dan membalas perlakuan gadis itu. Aku hanya ingin memberinya pelajaran karena telah mempermalukan aku di Bar. " Setelah mengucapkan kalimat itu, David kaget karena Davino memukul meja sangat keras.
"Kau beraninya mengelabui kakak. " David tertunduk, mendengar ucapan Davino yang setengah berteriak karena kesal.
"Aku bahkan sudah... " Davino tidak meneruskan ucapannya. Dia merasa bersalah, hal yang sama sekali tidak ada didalam daftar list karakternya.
" Pergilah dan mulai besok jangan harap kau bisa menggunakan fasilitas yang kakak berikan padamu. Uang sakumu juga akan kakak potong 50 % "
"Tapi kak. " Ingin protes, namun sorot mata Davino menghentikan kalimat adiknya. David memilih pergi karena dia tahu sejahat apa kakaknya jika sudah marah.
________
Mohon dukungannya... Jangan lupa di vote, di rate, di like dan di koment.