Sequel Langit Senja Galata
Pernikahan adalah suatu hal sakral untuk menyatukan dua hati dalam satu ikatan janji suci. Lalu bagaimana jika pernikahan tersebut terjadi antara dua orang yang tidak pernah akur satu sama lain? Alvin adalah CEO yang dingin, sedangkan Nana adalah gadis yang terlihat sempurna tapi memiliki gangguan duck syndrome. Baik Alvin maupun Nana memiliki ke hidupan lain di balik layar, tanpa ke duanya tahu bahwa mereka adalah musuh bebuyutan di dunia cyber.
Adik Lunara Ayzel Devran tersebut tanpa pikir panjang menujuk gadis yang sedang duduk di samping sang kakak adalah calon istrinya. Hanya demi menghindari kehidupannya diusik oleh sang kakek yang telah membuat hati sang kakak banyak tersakiti.
“Aku akan menikah dengan Nana,” ucap Alvin.
Nana yang sedang minum terkejut, dia tidak sengaja menyemburkan minumannya.
“Onty jolok! Baju Ezza jadi bacah,”
Apa alasan Nana akhirnya menyetujui permintaan Alvin? Lalu bagaimanakah kehidupan ke duanya setelah menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di bilang double date
Alvaro datang paling akhir, dia baru saja selesai meeting siang itu. Dia bergegas menuju restoran tempat keluarga kecilnya makan siang, Ayzel memberitahu kalau Alvin juga sudah ada di sana.
“Sorry terlambat,” ucap Alvaro, dia meng3cup puncak kepala ke dua putranya yang sedang duduk di kanan dan kiri sang mama di kursi khusus bayi.
“Papa no cup...cup mama!” Altezza menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. Bocah itu melarang sang papa meng3cup pipi mama Ayzel.
“Ekhee...no...aaa,” Haziel ikut bersuara, bocah satu tahun tersebut seolah ikut setuju dengan ucapan sang kakak.
Ayzel terkekeh melihat ekspresi suaminya tersebut. “Please ya, nak! Anak papa yang ganteng, cerdas. Papa boleh colek mama dikit saja, ya!” pinta Alvaro dengan memelas.
“No...no...no, di lumah balu boleh. Di cini ndak boleh!”
Alvaro menghela napas, dia lantas duduk di samping putra sulungnya. “Di tempat umum tidak boleh, di rumah kalah saing. Apes sekali nasibku ini, menciptakan saingan sendiri. Mana ada dua kemasan saset pula,” gumamnya terdengar.
Alvin dan Nana tertawa mendengar kakak mereka menggerutu.
“Makanya, kak. Jangan nyiptain saingan sendiri, kasih adik cewe buat mereka. Kalau mereka sibuk sama adik cewe, kakak bisa berdua an sama mbak Zeze. Biar ada yang mirip mbak Zeze satu,” sahut Nana.
“Cukup satu perempuan saja di rumahku, Na. Cukup Zeze, biar kami bisa selalu meratukan Zeze. Memprioritaskan istriku tercinta,” ucap Alvaro memandang sang istri penuh cinta.
Nana dan Alvin merotasi bola mata dengan malas. “Bucin akut,” ucap Nana dan Alvin kompak.
“Kompak bener berdua, jangan-jangan jodoh. Eh? Bukannya memang Alvin bilang mau nikahin kamu ya, Na? Jangan-jangan kamu tolak,” ucap Alvaro setengah meledek.
“Nana sudah setuju,” jawab Alvin tetap dengan ekspresi datarnya.
Plak
Nana langsung melotot kearah Alvin, dia menggeplak lengan pria itu. “Sembarangan! Kapan aku bilang begitu?” protesnya.
"Ini bisa di bilang double date," ucap Alvin santai.
"Heuh? Dari tadi seenaknya terus," kesal Nana.
Alvin hanya mengangkat ke dua bahunya, dia asik memainkan ponselnya. Tidak lagi perduli dengan Nana yang mengoceh kesal padanya.
“Onty cama uncel belicik!” celetuk Altezza.
Alvaro terkekeh, dia mengusap kepala putra sulungnya tersebut. Nana dan Alvin langsung diam, mereka kicep kalau sudah berhadapan dengan putra pertama Alvaro dan Ayzel. Alvin yang datar dan dingin itu bisa kalah jika berurusan dengan Altezza, bagaimana tidak kalah. Alvin bahkan masih minta mainan pada ke dua orang tuanya saat dirinya seusia Altezza, sementara sang keponakan di usianya yang baru tiga tahun sudah memiliki penghasilan sendiri dari royalti game anak-anak yang dia buat.
“Berisik begini selalu kamu dan adek kangenin,” balas Nana tak mau kalah, meskipun ujung-ujungnya juga dia kalah dari Altezza.
“Onty bukan lindu cama aku dan adek. Tapi onty cedang kabul dali halmoeni dan halabeoji,” skakmat Altezza.
Nana mencebik, dia tidak bisa lagi membalas ucapan keponakan tampannya tersebut. Alvin bahkan tersenyum tipis saat melihat Nana yang tak berkutik, Alvaro dan Ayzel santai saja mendengar obrolan Nana dan Altezza. Sudah biasa bagi mereka menyaksikan perdebatan Altezza dan Nana, gadis itu memang suka menginap di rumah mereka dari pada pulang ke rumah appa Haejun.
“Apa lihat-lihat? Tidak usah di tahan kalau mau ketawa!” kesal Nana saat melihat Alvin.
“Dasar sensian," ucap Alvin datar.
Tidak berapa lama makanan yang di pesan mulai berdatangan, mereka akhirnya berhenti bicara dan mulai menyantap makanan masing-masing. Siang itu mereka layaknya dua pasang keluarga kecil, Ayzel bahkan sempat memperhatikan ke duanya. Terutama Nana, bagi Ayzel kenyamanan gadis itu adalah hal utama.
“Nai, aku harap kamu segera pulang. Kita harus membantu Nana,” batin Ayzel, dia harap sahabatnya Naira segera kembali. Entah di mana Naira, dia memilih pergi semenjak orang ke tiga masuk ke dalam keluarga kecilnya dengan Kim Roan.
Acara makan siang selesai, Alvaro melihat arlojinya. Masih cukup untuk dirinya mengambil waktu bermain bersama dua pangeran kecilnya tersebut, Alvaro mengangkat Haziel dari kursi bayi. Dia memindahkan putra ke duanya tersebut ke dalam twin stroller, sedangkan Altezza tidak mau duduk di stroller. Dia mau berjalan sambil di gandeng sang papa, layaknya father and son yang sedang menikmati waktu berdua.
“Tolong ganti diapers sama baju Altezza dulu, hubby! Aku mau ganti diapers sama bajunya Haziel,” pinta Ayzel diangguki Alvaro.
“Sini aku bawakan, mbak! Aku juga mau ke toilet,” Alvin mengulurkan tangannya meminta tas ransel kecil milik Altezza.
“Terimakasih,” ucap Ayzel pada sang adik, dia memberikan tas ransel kecil berisi perlengkapan Altezza.
“Ketemu di play ground ya, sayang!” ucap Alvaro. “Oke hubby,” jawab Ayzel.
Alvaro bersama dengan putra dan adik iparnya menuju toilet pria, sedangkan Ayzel bersama Nana membawa Haziel ke toilet wanita. “Yuk!” ajak Ayzel pada Nana.
“Lest go, baby boy. Kamu sudah bau acem, saatnya ganti baju.” Nana menggantikan Ayzel mendorong stroller Haziel.
“Bluuu...buu...baa...ekhe,” Haziel duduk di stroller sambil mengoceh, dia memegang mainannya.
Ayzel membiarkan adik iparnya tersebut mengambil alih strollernya, dengan begitu dia bisa sejenak meregangkan ototnya yang sedikit kaku setelah seharian mengurus ke dua putranya dan juga menyempatkan waktu memberikan konsultasi secara online.
Setelah beberapa waktu, mereka bertemu di playground. Alvaro berusaha menepati janjinya pada putra sulungnya, dia janji akan menemani Altezza bermain. Tadinya Altezza mau di temani belajar berkuda dengan sang papa, namun hari itu tampaknya si kecil harus puas hanya bermain di play ground karena waktu belum memungkinkan untuk berkuda.
“Papa, Ezza mau main itu!” tunjuknya pada trampolin.
“Boleh. Kita beli tiket dulu, boy. Baru boleh main itu,” ucap Alvaro, dia menuju loket untuk membeli tiket.
“Beli empat saja, kak!” ucap Alvin pada kakak iparnya.
“Kok empat sih? Aku juga mau ikut,” protes Nana.
“Kamu ikut aku saja! Ada yang perlu kita bicarakan,” jawab Alvin.
Nana mengerutkan dahinya, dia lantas menoleh pada Ayzel. Kakak iparnya tersebut mengusap lengan Nana. “Tidak apa-apa, pergilah dengan Alvin. Dia tidak akan berani melakukan apapun padamu,” ucapnya.
Nana mengangguk. “Kalau bukan karena mbak Zeze, aku tidak mau ikut.” Nana berlalu melewati Alvin.
Alvin menghela napas. “Bukan ke sana arahnya, nona. Tapi ke situ!” tunjuk Alvin kearah berlawanan dengan Nana pergi.
“Bilang dong. Mana aku tahu arahnya ke situ,” Nana berbalik arah.
“Diri sendiri yang tidak tanya. Malah nyalahin orang,” gerutu Alvin.
Nana berjalan dengan cepat, lebih tepatnya dia malu karena salah arah tadi. Alvin menyusul Nana setelah dia pamit pada sang kakak, Nana nanti akan pulang bareng Alvin. Jadi Alvin mempersilahkan sang kakak jika ingin pulang lebih dulu, Azyel pun mengangguk. Dia tahu sang adik mungkin ingin bicara serius dengan Nana.
tapi aku suka gaya Nana sih
moga kena stroke 🤣🤣🤣🤣
ga bisa nolak 🤣🤣🤣