Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Galeri seni
Hening kembali menguasai ruangan luas itu setelah Elang pergi. Adrian masih berdiri mematung di depan jendela. Gantungan kunci di tangannya terasa dingin, namun sudut-sudut tajamnya seolah menusuk telapak tangannya, mengingatkannya pada setiap pengabaian yang ia lakukan selama ini.
Ia teringat malam itu, saat ia memberikan gantungan kunci tersebut kepada Erina dengan tawa ringan, tanpa peduli bahwa benda itu adalah pemberian tulus dari istrinya. Kini, benda itu kembali padanya sebagai sebuah tamparan. Arini tidak hanya pergi, dia mengembalikan semua memori yang telah dikhianati Adrian.
"Kamu terlalu rapi menyembunyikan luka ini, Arini," ucap Adrian parau.
Suaranya hilang ditelan suara pendingin ruangan. Ia merasa seperti pecundang yang baru menyadari nilai sebuah permata saat permata itu sudah jatuh ke dasar samudra.
Sementara itu, di sebuah kafe kecil di pinggiran kanal Amsterdam, suasana kontras menyelimuti Arini. Aroma kopi latte dan stroopwafel hangat memenuhi udara. Arini menyesap kopinya perlahan, membiarkan uap panasnya menghangatkan wajahnya yang memerah karena angin musim dingin.
"Arini? Kamu melamun lagi," suara Ryan memecah keheningan.
Arini tersentak, lalu tersenyum tipis. "Maaf, Ryan. Hanya merasa sedikit... aneh. Sudah lama aku tidak merasa setenang ini."
Ryan meletakkan cangkirnya, menatap Arini dengan intens. "Tenang karena suasananya, atau tenang karena kamu merasa sudah menyelesaikan sesuatu yang berat di Jakarta?"
Pertanyaan itu membuat gerakan tangan Arini terhenti. Ia teringat map cokelat yang ia titipkan pada pengacaranya sebelum berangkat ke bandara. Ia tahu, saat ini map itu pasti sudah mendarat di meja kerja Adrian. Ia bisa membayangkan wajah kaget suaminya atau mungkin, Adrian justru merasa lega? Pikiran itu sempat melintas, namun Arini cepat-cepat menepisnya.
"Aku sudah melepaskan bebannya, Ryan. Sekarang aku hanya ingin bernapas," jawab Arini mantap, meski ada sedikit getaran di nadanya.
Ryan mengangguk paham. Ia tidak ingin mendesak lebih jauh. "Baguslah. Kalau begitu, habiskan kopimu. Setelah ini aku mau mengajakmu ke suatu tempat. Ada pameran seni di dekat Dam Square, aku yakin kamu akan suka."
Kembali ke Jakarta.
Pintu ruangan terbuka kasar. Elang masuk dengan napas sedikit terburu-buru, membawa tablet di tangannya. Wajahnya tampak ragu untuk menyampaikan informasi yang ia dapatkan.
"Bagaimana?" tuntut Adrian tanpa basa-basi.
"Saya sudah mengecek seluruh jadwal penerbangan menuju Schiphol, Amsterdam, dalam 48 jam terakhir, Pak," Elang menjeda kalimatnya.
"Nama Ibu Arini tidak terdaftar di maskapai manapun dengan rute langsung maupun transit."
Adrian mengernyitkan dahi. Amarahnya kembali naik.
"Tidak mungkin! Dia pasti ke sana. Itu rumahnya!"
"Ada satu hal lagi, Pak," Elang menggeser layar tabletnya.
"Saya juga mengecek rute ke Singapura dan Sydney, berjaga-jaga jika beliau mengganti identitas atau memesan tiket secara mendadak. Hasilnya nihil. Namun..."
"Namun apa?!" tanya Adrian dengan tak sabar.
"Ibu Arini menggunakan paspor lamanya yang jarang Bapak ketahui. Dan sepertinya, beliau tidak menggunakan kartu kredit yang terhubung dengan rekening bersama. Beliau melakukan transaksi tunai atau menggunakan rekening pribadinya yang selama ini tidak pernah Bapak sentuh."
Adrian terhenyak. Ia terduduk lemas di kursinya. Arini benar-benar sudah menyiapkan pelariannya dengan sangat rapi. Wanita yang selama ini ia anggap 'penurut' dan 'mudah ditebak' itu ternyata telah membangun dinding yang sangat tinggi di antara mereka.
"Cari terus, Elang. Cari lewat teman-temannya, lewat siapa pun yang pernah berkomunikasi dengannya dalam seminggu terakhir!" bentak Adrian, namun suaranya lebih terdengar seperti keputusasaan daripada perintah.
"Baik, pak!" Laki-laki itu mengangguk dan segera keluar dari sana.
Setelah Elang keluar, Adrian meraih ponselnya. Ia mencoba mengirim satu pesan singkat, meski ia tahu centangnya mungkin tidak akan pernah berubah menjadi biru.
Arini, kita perlu bicara. Tolong jangan begini.
Pesan itu terkirim. Namun, jauh di Amsterdam, Arini baru saja mengganti kartu SIM ponselnya dengan nomor lokal, lalu mematikan ponsel lamanya dan memasukkannya ke dasar tas. Ia berdiri, merapatkan syal pemberian ibunya, dan berjalan keluar kafe mengikuti langkah Ryan menuju keramaian kota yang asing namun terasa lebih seperti rumah daripada rumahnya sendiri.
Lonceng kecil di atas pintu kafe berdenting saat Arini dan Ryan melangkah keluar. Udara musim dingin Amsterdam langsung menyergap, membuat Arini sedikit merapatkan mantel wolnya. Ryan dengan perlahan bergeser posisi untuk menghalangi arah angin yang berhembus ke arah Arini.
"Dingin ya? Padahal belum puncaknya," ujar Ryan sambil tersenyum.
Arini menoleh, menatap kanal yang memantulkan cahaya lampu kota yang mulai menyala satu per satu. "Aku sudah lupa rasanya sedingin ini. Di Jakarta, yang ada hanya panas dan AC yang menusuk."
Mereka berjalan kaki menyusuri trotoar berbatu di sepanjang kanal Prinsengracht. Ryan tidak banyak bertanya, ia tahu Arini butuh ruang untuk mencerna keputusannya sendiri.
Namun, melihat Arini yang terus menggenggam erat tali tasnya, Ryan tahu sahabatnya itu sedang cemas.
"Arini," panggil Ryan lembut. Mereka berhenti di sebuah jembatan kecil yang melengkung indah.
"Kamu tahu kan, kamu nggak perlu lari selamanya? Di sini, kamu aman. Dia nggak akan bisa nemuin kamu semudah itu."
Arini menghela napas panjang, uap putih keluar dari mulutnya. "Ya, tentu saja. Namun kadang aku masih khawatir.. "
"Aku takut dia sedang marah sekarang, Ryan. Bukan karena kehilangan aku, tapi karena egonya terluka. Adrian tidak terbiasa ditinggalkan."
"Lalu kenapa kamu masih memikirkan perasaannya?" Ryan menatap Arini lekat-lekat.
"Biarkan dia marah. Biarkan dia hancur sesekali. Itu harga yang harus dia bayar untuk semua kebohongannya."
Arini terdiam. Ucapan Ryan ada benarnya. Selama ini ia terlalu sibuk menjaga perasaan Adrian hingga lupa bahwa hatinya sendiri sudah hancur berkeping-keping.
"Lihat itu," Ryan menunjuk ke arah sebuah galeri seni kecil di sudut jalan yang memajang lukisan-lukisan abstrak di jendelanya. "Dulu kamu pernah bilang ingin melukis lagi kalau sudah sukses. Sekarang kamu punya waktu seumur hidup untuk itu."
Mata Arini sedikit berbinar. "Kamu masih ingat?"
"Ya, tentu saja. Aku selalu ingat,"
Mereka berjalan lebih jauh, masuk kedalam ruangan pameran. Disalah satu sudut, terdapat sebuah lukisan foto hitam putih yang memperlihatkan sebuah burung yang ragu untuk keluar dari sangkar emasnya.
Arini terpaku di depan lukisan itu. Ia menatapnya dengan sedikit heran.
"Kenapa dia tidak langsung terbang keluar?" tanya Arini pelan, tepatnya untuk dirinya sendiri.
Ryan berdiri di sampingnya, memasukkan tangan ke saku celana. "Mungkin karena dia sudah terlalu lama di dalam sangkar itu. Dia lupa bahwa dia punya sayap. Dia perlu waktu untuk sadar bahwa langit itu nyata, bukan cuma pemandangan di balik jeruji."
Arini menyentuh kaca bingkai foto itu dengan ujung jarinya. "Aku... aku takut aku lupa cara terbang, Ryan."
Ryan meraih pundak Arini, memutarnya agar menghadap ke arahnya. "Kalau kamu lupa, aku yang akan jadi anginnya. Aku akan bantu kamu terbang sampai kamu ingat lagi caranya."
Air mata yang sejak tadi ditahan Arini akhirnya jatuh juga. Bukan air mata kesedihan seperti saat ia menemukan perselingkuhan Adrian, melainkan air mata kelegaan. Di kota ini, di hadapan sahabat laki-laki yang selalu ada untuknya sejak dulu, Arini merasa ia tidak perlu lagi berpura-pura kuat.
"Terima kasih, Ryan. Terima kasih sudah ada di sini," isak Arini pelan.
Ryan menarik Arini ke dalam pelukannya. Di tengah galeri seni di jantung Amsterdam, Arini akhirnya membiarkan dirinya rapuh.
"I love you, Arini. But i can't tell you,"
"Aku takut, itu bisa merusak persahabatan kita selama ini."
Ryan hanya bisa membatin pelan jauh di lubuk hatinya. Hanya ini yang bisa ia lakukan.
Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya, ponsel Arini yang berada di dalam tas masih terus bergetar karena panggilan dari Adrian yang tak kunjung berhenti, namun suara getaran itu tenggelam oleh suara musik klasik yang mengalun lembut di galeri tersebut.
Diumumkan kepada khalayak bahwa akan ada seorang yg akan merasa menyesal dikemudian hari karena kesalahanya sendiri.
Demikian... ttd😁