NovelToon NovelToon
Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Awal

Pagi itu, sinar matahari menyelinap lewat celah tirai tipis, menyentuh lantai dapur yang masih berantakan oleh sisa-sisa nasi goreng semalam. Kirana sudah bangun sejak subuh, tapi bukan karena mimpi buruk—melainkan karena tekad yang diam-diam mengeras sepanjang malam.

Ia menatap cermin sebentar sebelum memasak. Mata bengkaknya mulai memudar, dan meski tubuhnya masih lelah, ada sesuatu yang berbeda di sorot matanya: ketenangan yang lahir dari keputusan.

Hari ini, ia akan mengajukan permohonan perlindungan resmi.

“Ma, kita masak apa hari ini?” Gio muncul dengan kaos bergambar dinosaurus terbalik dan rambut acak-acakan.

“Nasi goreng lagi, Nak,” jawab Kirana sambil tersenyum. “Tapi kali ini, Mama tambahin sosis. Spesial.”

Gio bersorak kecil, lalu berlari mengambil pisau mainan—yang sebenarnya cuma boleh dipakai untuk potong daun bawang—dengan semangat pahlawan kecil.

Sementara mereka sibuk di dapur, ponsel Kirana bergetar. Pesan dari Bu Lusi:

#“Bu Kirana, dokumen permohonan sudah siap. Bisa datang ke kantor saya jam 10? Bawa KTP, akta kelahiran Gio, dan flashdisk tadi.”

Kirana menarik napas dalam. Ini langkah pertama yang tak bisa diputar balik. Tapi ia sudah siap.

“Gio,” katanya sambil menggoreng telur, “hari ini Mama harus pergi sebentar. Nanti Mbak Sari yang jaga kamu, ya?”

Gio mengerutkan dahi. “Kenapa Ma pergi?”

“Mama mau urus surat penting. Biar kita aman.”

Gio diam sejenak, lalu mengangguk. “Kalau aman, berarti nggak ada orang jahat datang?”

“Betul,” jawab Kirana, suaranya mantap. “Dan kalau ada, Mbak Sari sama Om Arka bakal jaga kamu.”

Mendengar nama Arka, Gio langsung ceria lagi. “Om Arka baik! Dia kasih aku stiker kemarin!”

Kirana tertawa kecil. “Iya, dia memang baik.”

***

Jam sembilan pagi, Kirana sudah siap. Ia memakai kemeja putih yang jarang dipakai—masih rapi, meski sedikit kusut di siku—dan menyematkan bros kecil berbentuk bunga yang dulu hadiah ulang tahun dari ibunya. Bukan untuk tampil cantik, tapi sebagai pengingat: (Aku punya akar. Aku punya harga diri.)

Di depan ruko, Arka sudah menunggu dengan motor tuanya.

“Aku antar,” katanya tanpa basa-basi. “Kantor Bu Lusi kan di Manggarai. Macet kalau naik angkot.”

"Nggak usah mas ,aku bisa naik ojol ." Kirana menolak halus tawaran Arka .

"Aku bisa jadi ojol untukmu ,Aku antar kamu ,tidak ada penolakan ."

Kirana ingin menolak—ia tak ingin merepotkan—tapi melihat tatapan Arka yang tegas namun penuh perhatian, ia mengangguk.

Perjalanan ke kantor hukum tak terlalu jauh, tapi cukup untuk membuat jantung Kirana berdebar. Ia duduk di boncengan, memegang tas kecil berisi dokumen seperti pelindung terakhir.

“Nervous?” tanya Arka, suaranya terdengar di atas deru mesin.

“Iya,” jawab Kirana jujur. “Tapi… kayaknya ini jalan yang benar.”

Arka hanya mengangguk. Tak banyak bicara, tapi kehadirannya cukup membuat beban di dada Kirana terasa lebih ringan.

Kantor Bu Lusi ternyata sederhana—ruang kecil di lantai dua gedung perkantoran tua, tapi rapi dan penuh rak buku hukum. Di dinding, tergantung foto-foto perempuan dan anak-anak yang pernah dibantu Bu Lusi. Semua tersenyum, meski matanya lelah.

“Silakan duduk,” kata Bu Lusi sambil menyalakan laptop. “Kita mulai proses hari ini.”

Selama satu jam, Kirana menjawab pertanyaan demi pertanyaan—tentang kronologi kekerasan, ancaman, kaburnya dari rumah, hingga usaha membangun hidup baru. Setiap jawaban ia ucapkan pelan, tapi jelas. Tak ada gemetar. Tak ada ragu.

“Bagus,” kata Bu Lusi setelah selesai. “Dengan bukti ini, kita bisa ajukan permohonan penetapan perlindungan ke Pengadilan Agama. Prosesnya cepat—biasanya 3-7 hari kerja. Selama itu, jika Aris mendekat atau menghubungi kamu tanpa izin pengadilan, itu bisa jadi pelanggaran hukum.”

Kirana menelan ludah. “Dan hak asuh Gio?”

“Karena Gio masih di bawah tujuh tahun, secara hukum otomatis jadi hak ibu—kecuali kamu terbukti tidak layak. Dan dari semua yang aku lihat…” Bu Lusi menatapnya tegas, “…kamu justru contoh ibu yang layak.”

Air mata nyaris jatuh, tapi Kirana menahannya. Ia mengangguk. “Terima kasih, Bu.”

Sebelum pulang, Bu Lusi menyerahkan salinan dokumen yang sudah ditandatangani. “Simpan ini baik-baik. Kalau Aris datang, tunjukkan ini. Dan segera laporkan.”

***

Di luar, Arka menunggu sambil minum kopi dari gelas plastik. Saat melihat Kirana keluar, ia langsung berdiri.

“Semua lancar?” tanya dia.

Kirana mengangguk. “Iya. Sekarang… tinggal tunggu.”

Mereka kembali naik motor, tapi kali ini Kirana duduk lebih tegak. Angin Jakarta menerpa wajahnya, membawa aroma asap kendaraan dan harapan tipis yang mulai tumbuh.

Sesampainya di ruko, Mbak Sari langsung menyambut dengan senyum lega. “Alhamdulillah, Bu Kir pulang selamat!”

Gio berlari keluar, memeluk kaki Mama. “Ma! Aku bikin gambar buat kamu!”

Ia menunjukkan kertas bergambar dua tokoh—satu besar, satu kecil—berpegangan tangan di bawah pelangi. Di pojok kanan bawah, tertulis: (“Mama & Aku – Tim Paling Kuat.”)

Kirana memeluk Gio erat. “Ini gambar terbaik yang pernah Mama lihat.”

***

Sore itu, Kirana duduk di teras belakang, menatap langit yang mulai jingga. Arka duduk di bangku sebelah, minum teh jahe yang diseduh Mbak Sari.

“Kamu tahu,” kata Arka tiba-tiba, “dulu waktu kecil, aku sering lihat ibuku nangis diam-diam di dapur. Ayahku… kasar. Tapi dia nggak pernah kabur. Katanya, ‘nanti kamu nggak punya tempat tinggal.’ Tapi aku selalu berharap, andai saja dia punya keberanian kayak kamu.”

Kirana menoleh, terkejut.

“Jadi… makasih,” lanjut Arka, suaranya pelan. “Karena kamu nggak cuma selamatkan dirimu. Kamu juga jadi contoh buat orang-orang kayak aku—bahwa keluar itu bukan akhir. Itu awal.”

Kirana tak tahu harus berkata apa. Ia hanya mengangguk, lalu tersenyum—lembut, tulus, dan penuh pengertian.

Malam itu, sebelum tidur, Kirana mengecek ponselnya. Tidak ada pesan mencurigakan. Tidak ada nomor tak dikenal. Hanya notifikasi dari grup tetangga: (“Patroli malam dimulai jam 9. Jaga ruko masing-masing!”)

Ia menatap Gio yang sudah tertidur, lalu menyentuh dompet di saku,di dalamnya, ada kartu nama Arka, foto Gio, dan salinan dokumen perlindungan.

Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Kirana merasa tenang bukan karena ancaman hilang, tapi karena ia tahu: ia sudah mengambil langkah pertama.

Dan langkah pertama selalu yang paling berani.

Di luar, lampu teras menyala terang. Angin malam berhembus pelan. Tapi kali ini, Kirana tak menutup pintu rapat-rapat karena takut.

Ia menutupnya perlahan,karena yakin, besok pagi, dunia akan tetap menunggunya. Bersama Gio. Bersama teman-teman kecilnya. Bersama harapan yang kini tak lagi disembunyikan.

Karena ia bukan lagi korban yang kabur.

Ia adalah ibu yang berjalan selangkah demi selangkah menuju kehidupan yang layak untuk anaknya.

1
N Wage
lah tadi di kantong punya uang 800.000rb hasil nguli di pasar.sebelumnya punya uang 3 JT hasil nabung dr uang ngasih les.
Luwi Utami
nha... gitu dong.. kluar dr rumah yg terasa kaya nerak itu
MayAyunda: iya kak ,terimkasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!