Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 (wolulikur)
Matahari bersinar cerah di atas "Benteng Han Jia". Di dalam tembok setinggi tiga meter itu, suasana sangat sibuk. Feng Shura sedang mencangkul tanah dengan kecepatan Buruh Tani Menengah, menciptakan alur-alur tanam yang rapi dalam hitungan menit.
Sementara itu, Han Jia berdiri di sudut paling belakang lahan, tepat di dekat hutan, memegang sebuah kartu emas dari sistem.
"Hera, kau yakin ini aman? Deskripsinya bilang 'Kompresi Spasial Tingkat Rendah'. Aku tidak mau masuk ke sana lalu tubuhku jadi gepeng seperti kertas," tanya Han Jia skeptis.
"Aman, Profesor. Ini adalah teknologi standar. Dari luar terlihat 2x2 meter, di dalam luasnya 10x10 meter plus basement," jawab Hera.
"Baiklah. Beli 'Modul Laboratorium Dasar'!"
Han Jia melempar kartu emas itu ke tanah.
POOF!
Asap putih mengepul. Ketika asap hilang, di sana berdiri sebuah... gubuk kayu mungil. Sangat mungil. Bahkan lebih mirip gudang penyimpanan sapu atau toilet umum daripada laboratorium. Atapnya miring, dan pintunya terlihat sempit.
Shura yang melihat dari kejauhan langsung tertawa terbahak-bahak. Ia berjalan mendekat sambil menyeka keringat.
"Han Jia! Kau menghabiskan 5.000 Poin untuk ini?!" Shura menepuk atap gubuk itu (karena dia tinggi, atapnya sejajar dengan bahunya). "Ini kandang anjing, kan? Atau tempatmu merenung saat sakit perut?"
Wajah Han Jia memerah. "Jangan menghina buku dari sampulnya, Otot Primitif! Ini adalah... emmm... Rumah Siput Ajaib! Masuklah kalau berani!"
Han Jia membuka pintu kecil itu dan melangkah masuk. Shura menggelengkan kepala, lalu ikut masuk dengan membungkuk agar kepalanya tidak terbentur.
Namun, begitu Shura melangkah melewati ambang pintu...
"Demi Langit..."
Mulut Shura menganga lebar.
Di dalam gubuk sempit itu, ternyata terdapat sebuah ruangan luas yang sangat bersih. Lantainya terbuat dari ubin putih mengkilap yang tidak ada debunya sedikitpun. Dindingnya berwarna perak metalik. Di tengah ruangan, terdapat meja panjang yang dipenuhi tabung-tabung kaca aneh yang melingkar-lingkar, gelas ukur, dan cairan berwarna-warni yang mendidih tanpa api.
Dan yang paling mengejutkan, ada sebuah tangga besi spiral menuju ke bawah tanah.
"Bagaimana mungkin... dari luar sekecil itu, tapi di dalamnya..." Shura meraba dinding metalik itu. Dingin. "Sihir ruang?"
"Sains, Shura. Manipulasi dimensi," jawab Han Jia bangga sambil mengenakan jas lab putihnya yang sudah lama ia simpan di inventaris. Ia membelai tabung reaksi dengan penuh kasih sayang.
"Akhirnya... bau antiseptik... bau bahan kimia... aku rindu rumah," gumam Han Jia dramatis, menghirup udara laboratorium yang baginya wangi, tapi bagi Shura baunya seperti rumah sakit campur jeruk nipis.
Han Jia menunjuk ke arah tangga. "Di bawah sana adalah gudang penyimpanan dingin dan ruang isolasi. Jika aku membuat monster gagal, kita kurung di sana. Di sini, lantai atas, adalah tempatku meracik 'bumbu dapur' spesial."
Shura mundur selangkah saat melihat cairan hijau yang meletup-letup di gelas kimia. "Han Jia, berjanjilah padaku satu hal. Jangan ledakkan tempat ini saat aku sedang tidur di gubuk depan."
"Tergantung seberapa stabil campuran Nitrat ini," Han Jia menyeringai. "Sudah, keluar sana! Aku mau menanam bibit baru. Tugasmu di lab selesai. Kembali jadi kuli!"
Mereka kembali ke lahan pertanian. Dengan semangat 'Buruh Tani Lanjutan', Han Jia mulai menanam bibit-bibit yang baru saja ia beli dari Sisa Poin Hasil Buruan.
Kali ini, dia tidak menanam tanaman mutan (listrik/besi). Dia menanam Komoditas Pasar Super.
Labu Kereta Kencana (Giant Pumpkin)
Han Jia menanam biji labu itu. Dengan sedikit sentuhan tangan bercahayanya, tanaman itu merambat gila-gilaan. Dalam satu jam, muncullah labu-labu berwarna oranye cerah. Ukurannya? Sebesar roda gerobak sapi! Satu buah labu butuh dua orang dewasa untuk mengangkatnya.
Jagung Pelangi (Rainbow Corn)
Jagung ini batangnya tinggi dan kokoh. Saat dikupas, biji jagungnya bukan kuning, tapi berwarna-warni: Merah (rasa pedas), Biru (rasa manis), Kuning (rasa gurih). Ini adalah jagung camilan instan.
Cabai Rawit Mercon (Explosive Chili)
Ini untuk pertahanan. Bentuknya kecil, merah menyala. Han Jia memperingatkan Shura: "Jangan digigit sembarangan. Tingkat kepedasannya 100.000 Scoville. Kalau kau lempar ke tanah dengan keras, dia bisa meledak seperti petasan banting."
Menjelang sore, lahan 2 hektar di dalam tembok itu sudah penuh. Pemandangannya menakjubkan. Ada pohon apel raksasa, ladang wortel seukuran paha, labu sebesar roda, dan jagung warna-warni.
Shura berdiri di tengah ladang itu, merasa sangat kecil di antara tanaman-tanaman raksasa itu.
"Han Jia..." ucap Shura. "Jika kita bawa ini ke pasar besok... orang-orang tidak akan percaya ini makanan. Mereka akan pikir ini makanan raksasa."
"Biarkan mereka bingung! Kebingungan menciptakan rasa penasaran. Rasa penasaran menciptakan permintaan!" Han Jia tertawa jahat.
Tiba-tiba, Han Jia menatap wajah Shura dengan intens.
"Tunggu. Ada satu masalah teknis."
Shura meraba wajahnya. "Apa? Ada kotoran?"
"Wajahmu," Han Jia menunjuk hidung mancung dan rahang tegas Shura. "Kau terlalu tampan dan terlalu terkenal. Jika kau masuk ke ibu kota dengan wajah Jenderal Feng Shura, kita tidak akan jualan sayur. Kita akan dikejar pasukan kerajaan dalam lima menit."
Shura menghela napas. "Lalu aku harus bagaimana? Pakai topeng?"
"Jangan. Topeng mencurigakan. Kita butuh... emmm... Rekonstruksi Wajah Sementara."
Han Jia berlari ke laboratorium barunya dan kembali membawa sebuah pot kecil berisi lumut hijau tua yang lengket.
"Duduk, Shura."
"Kau mau apakan wajahku?!" Shura mundur ketakutan.
"Diam! Ini cuma lumut perekat dan bulu yak hutan! Aku akan membuatkanmu kumis dan jenggot palsu yang sangat alami!"
Lima menit kemudian, Feng Shura yang tampan dan gagah telah berubah. Wajahnya kini dipenuhi berewok lebat yang berantakan, alisnya dibuat lebih tebal menyambung, dan ada tahi lalat palsu besar di pipi kirinya.
Han Jia mundur, menatap hasil karyanya dengan puas.
"Sempurna. Kau tidak lagi terlihat seperti Jenderal Feng Shura."
Shura melihat pantulan dirinya di ember air. Ia meringis ngeri.
"Aku terlihat seperti perampok gunung yang belum mandi setahun, Han Jia."
"Bagus! Nama samaranmu adalah... Mamat. Mamat si Buruh Angkut." Han Jia menepuk bahu 'Mamat'. "Bersiaplah, Mamat. Besok subuh kita berangkat ke Ibu Kota. Kita akan guncang pasar mereka dengan Labu Raksasa dan Jagung Pelangi ini!"
Shura alias Mamat hanya bisa pasrah. Dari Jenderal Besar, turun jadi Buruh Tani, dan sekarang jadi Mamat si Perampok Gunung.
Hidup benar-benar roda yang berputar, dan Han Jia adalah porosnya yang gila.