Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
selawe (25)
Matahari akhirnya benar-benar tenggelam, menyisakan langit senja yang berwarna ungu gelap. Di pinggir ladang, Han Jia dan Feng Shura terbaring di tanah dengan napas tersengal-sengal. Baju mereka basah kuyup oleh air sungai, dan tubuh mereka penuh lumpur.
Tapi di wajah Han Jia, terukir senyum lebar yang sangat puas.
"Hera..." panggil Han Jia dengan sisa tenaganya. "Laporan status."
"Misi Harian: Selesai tepat 2 menit sebelum batas waktu," lapor Hera. "Hukuman denda dicabut. Harga jual hasil buruan dikembalikan ke 100%."
Han Jia langsung bangkit duduk. "JUAL SEMUANYA SEKARANG!"
[Ding! Transaksi Massal Berhasil.]
[Terjual: 4x Serigala Angin, 1x Beruang Tanah Besi.]
[Total Pendapatan: 11.000 Poin & 1.100 Tael Perak.]
Mata Han Jia berbinar-binar melihat angka 11.000 itu. Akhirnya! Dia bukan lagi ilmuwan miskin. Dia sekarang adalah Buruh Tani kelas menengah ke atas!
"Shura! Kita kaya!" Han Jia mengguncang bahu Shura. "Kita bisa beli daging! Kita bisa beli kasur! Aku bahkan bisa membeli set gelas ukur kaca asli!"
Shura hanya tersenyum tipis. "Syukurlah. Asal jangan kau pakai uangnya untuk beli bibit yang bisa meledak lagi."
"Tunggu, Profesor," sela Hera. "Karena Anda menyelesaikan Misi Harian dengan kecepatan yang tidak manusiawi (kurang dari 15 menit), Sistem memberikan 'Kotak Hadiah Bonus Kecepatan'."
Sebuah kotak kayu kecil dengan pita emas jatuh dari udara, mendarat di pangkuan Han Jia.
Han Jia membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat empat biji benih. Dua berwarna oranye cerah, dua lagi berwarna merah tua.
[Item: Bibit Wortel 'King Size' (2 butir)]
[Item: Bibit Apel 'Ruby Giant' (2 butir)]
[Deskripsi: Varietas unggul non-mutan. Tidak memiliki efek sihir/elemen. Keunggulan: Rasa super manis dan ukuran hiper-volumetrik.]
"Hah? Non-mutan?" Han Jia mengangkat alis. "Maksudnya ini tanaman normal? Tidak ada listrik? Tidak ada racun?"
"Benar. Hanya sayur dan buah biasa. Tapi ukurannya... yah, silakan Anda lihat sendiri," jawab Hera.
Han Jia menoleh pada Shura. "Ayo tanam sekarang. Aku punya keahlian baru 'Manipulasi Genetik Dasar' sebagai Buruh Tani Lanjutan. Aku bisa mempercepat pertumbuhannya hanya dengan sentuhan."
Mereka berdua pindah ke petak tanah kosong di samping gubuk. Han Jia menggali empat lubang kecil, memasukkan benih itu, lalu menimbunnya.
Ia meletakkan telapak tangannya di atas gundukan tanah itu. Konsentrasi penuh. Cahaya hijau tipis keluar dari tangannya, kekuatan barunya.
"Stimulasi seluler aktif... Mempercepat mitosis... Memperbesar vakuola..." gumam Han Jia.
KRETEK!
KRETEK!
Tanah mulai retak. Bukan ledakan, tapi pertumbuhan yang sangat cepat.
Dalam hitungan menit, di depan mata mereka, tumbuh dua pohon apel yang batangnya kokoh seperti pohon beringin kecil. Dan di sebelahnya, daun wortel menjulang tinggi seperti semak belukar setinggi pinggang orang dewasa.
"Selesai!" Han Jia menarik tangannya. "Lihat buahnya!"
Shura mendongak. Di dahan pohon itu, menggantung dua buah apel merah yang sangat besar. Bukan sebesar kepalan tangan, tapi sebesar semangka! Kulitnya merah mengkilap, memantulkan cahaya bulan. Aromanya begitu manis hingga membuat air liur menetes.
Dan di tanah, bagian atas wortel itu menyembul keluar. Shura menariknya dengan sedikit tenaga.
PLOP!
Sebuah wortel oranye raksasa tercabut. Ukurannya sebesar paha orang dewasa! Bersih, lurus, dan berkilau.
"Demi Langit..." Shura memegang wortel raksasa itu dengan kedua tangan seperti sedang memegang bayi. "Han Jia, apakah ini senjata gada yang dicat oranye?"
"Itu wortel, Bodoh! Wortel dengan... emmm... deposit vitamin A yang masif!" Han Jia menepuk apel raksasa di pohon. "Dan ini apel dengan kadar fruktosa tinggi!"
Shura menggigit ujung wortel raksasa itu.
KRAUK!
Suara renyahnya terdengar sangat nyaring.
Mata Shura membelalak. "Manis! Dan sangat berair! Ini wortel paling enak yang pernah kumakan seumur hidupku!"
Han Jia tersenyum licik. Ia tidak memakan hasil panen itu. Otak bisnisnya sedang berputar kencang.
"Jangan habiskan, Shura! Itu sampel!" Han Jia mengambil wortel itu dari tangan Shura.
"Sampel?" Shura bingung. "Untuk apa?"
Han Jia menatap wortel raksasa dan apel sebesar semangka itu dengan tatapan penuh ambisi.
"Dengar, Shura. Kekaisaran meremehkan kita. Mereka pikir kita cuma petani gila di tanah tandus. Mereka mengirim tentara, mereka mengirim mata-mata."
Han Jia menepuk apel raksasa itu.
"Kita akan menyerang balik. Bukan dengan pedang, tapi dengan ini."
"Menimpuk kaisar dengan apel raksasa?" tanya Shura polos.
"Bukan, Otot Primitif! Ekonomi! Perdagangan!" Han Jia tertawa jahat. "Besok, kita akan pergi ke pasar ibu kota. Kita akan jual buah dan sayur ini. Kita akan tunjukkan pada mereka bahwa 'Buruh Tani' yang mereka hina ini bisa menghasilkan makanan kualitas dewa yang tidak pernah mereka lihat seumur hidup mereka!"
Han Jia mengepalkan tangannya. "Kita akan mengacaukan harga pasar! Kita akan membuat para bangsawan itu berlutut memohon untuk membeli satu gigitan dari apel ini! Dan saat itu terjadi... Poin kita akan mengalir deras!"
Shura menatap Han Jia yang sedang tertawa di bawah pohon apel raksasa, lalu menatap wortel di tangannya.
"Yah... setidaknya rencana invasi kali ini enak dimakan," gumam Shura sambil mengunyah sisa wortel di mulutnya.