Bentley Reagan Carter masih betah menjomblo di usianya yang hampir kepala empat karena gadis yang selalu posesif padanya.
Elna Alexandra Graham, seorang gadis yang mencintai adik dari sang ayah, dan tenyata cinta itu juga berlabuh di hati pria matang itu...
tapi Elna tidak tau ada rahasia apa di balik pria itu, apa mereka bisa bahagia? atau malah cinta mereka terhalang restu keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bertemu dan melepas rindu.
Devan hanya bisa menahan semuanya, terlebih wanita ini sudah hampir gila karena di penjara di ruangan gelap dan pengap itu.
"untuk apa kamu menemui Ben, dia akan menikah lusa, kau itu bukan apa-apa untuknya," kesal Devan.
"kau bohong, berarti kamu yang harus bertanggung jawab," teriak wanita itu.
karena marah mendengar itu, Devan menjambak wanita itu dan membenturkannya ke tembok beton.
dan mengakibatkan wanita itu langsung mati di tempat, "cih .... seharusnya aku membunuhmu dari awal, dan kau lihat senja, ini yang akan kau dapatkan jika berani berulah di sini, dan kita hanya perlu menunggu papa untuk hukuman mu," kata Devan melirik sosok gadis yang ketakutan di sudut ruangan gelap itu.
"ah... bereskan wanita ini,dan jadikan makanan hewan peliharaan kami, kalian tau bukan," kata Devan yang pergi dari ruangan itu.
"baik tuan," jawab para anak buah yang berjaga.
senja yang sudah hampir dua bulan di tempat itu, dua tak mengira jika keputusannya untuk menggoda Devan berakhir seperti ini.
dia bahkan tak mengira jika semua keluarga Graham yang terlihat begitu baik, memiliki kekejaman bengis di balik sikap yang mereka tunjukkan.
senja pun hanya berdoa, terlebih dia merasa hidupnya tak lama lagi, karena dia tau jika sebentar lagi kondisinya akan seperti wanita di depannya.
Devan sedang mandi karena membersihkan dirinya dari darah yang menciprat tadi.
setelah selesai, Devan memilih berjalan-jalan mengelilingi kota untuk membunuh waktu yang membosankan menurutnya.
tak terduga hujan malah turun cukup deras, dan terlihat ada seseorang yang sedang berjalan di bawah guyuran hujan.
Devan mengenali baju yang di kenakan, "hei masuk sebelum sakit!" teriak Devan.
melihat itu, gadis itu langsung masuk ke mobil Devan dengan kondisi tubuhnya yang sudah basah kuyup.
Devan pun langsung menginjak pedal gas mobilnya dengan dalam, sebelum gadis itu sakit.
dia membawa gadis itu ke rumah keluarga Graham, dan kepala pelayan pun memberikan handuk untuk Keduanya.
"pak Qin tolong buatkan sup ayam untuk kami, dan Fafa ikuti aku," ajak Devan.
gadis itu tak menaruh curiga terlebih Devan adalah om dari sahabatnya sendiri.
mereka masuk ke kamar tamu, "sudah cepat mandi air hangat, dan aku akan meminta pelayan mengantarkan baju baru untuk mu,"
"terima kasih om, dan terima kasih sudah mau menolong ku," kata Fafa sedih.
"baiklah, cepat mandi jangan sampai kamu sakit," kata Devan yang di angguki Fafa.
sedang Devan langsung menelpon anak buahnya, "cepat selidiki keluarga Wicaksono, dan secepatnya beri kabar padaku," kata Devan dari sebrang telpon.
"baik tuan," jawab anak buahnya.
Devan memberikan sebuah piyama milik melati yang masih baru pada seorang pelayan, dan memintanya untuk memberikan baju itu pada Fafa.
Devan sedang menonton tv sambil menikmati wedang jahe, dan Fafa keluar di antar seorang pelayan.
"terima kasih om," lirih Fafa.
"emm ... duduklah, dan minum susu mu dulu, sebelum kita makan," perintah Devan.
Fafa tak mengira jika pria ini begitu baik padanya, bahkan tak mengira jika dirinya akan mendapatkan pertolongan seperti ini.
"tuan, ini sup ayam pesanan anda," kata pak Qin.
"terima kasih pak, ayo Fafa malam dulu," perintah Devan
"iya om," jawab gadis itu.
keduanya pun makan berdua, bahkan Fafa yang sempat kepanasan karena kuah yang batu matang.
reflek Devan langsung mengusap bibir Fafa, "pelan-pelan, jangan buru-buru," kata Devan.
"iya om," kata Fafa gemetar karena malu melihat Devan.
sedang di mall, dua remaja itu sedang sangat bersenang-senang, setelah puas mereka pun memilih makan.
saat hari mulai petang, kedua remaja itu pulang, tapi saat sampai mereka kaget melihat Devan yang tidur di sandaran sofa.
tapi yang membuat kaget adalah gadis yang ada di sampingnya juga sedang bersandar sambil menutup mata.
"apa, kak Fafa, wah ... om Devan gercep euy..." kata Saga tertawa.
"sudah ayo masuk ke kamar saja lah, mungkin mereka kecapean, oh ya tadi katanya kak Fafa yang mengantar kak Elna kerumah sakit," tambah Evan menyeret saga ke kamarnya.
Elna baru saja sadar, tapi dia langsung menangis histeris, Naura kaget melihat Elna yang bersikap seperti itu.
"tenang Elna, jangan seperti ini," kata Naura memeluk putrinya.
"Mama ... tolong ajak aku menemui om Ben, dia ingin pergi dari ku ma, dia tak mau menoleh dan melihatku," panik Elna.
"tidak sayang, Ben akan segera pulang sebentar lagi, jadi kamu harus sehat ya sayang," kata Naura.
"tidak mau, aku mau melihat om Ben ..." tangis Elna.
"jangan seperti ini nak, kamu sedang hamil jadi kasihanilah dirimu dan janin mu," kata Naura pada putrinya.
mendengar itu, Samuel kaget mendengar ucapan dari istrinya itu, begitupun Elna.
"tapi kata opa Dito ..."
"apa kita akan mendapatkan cucu! aku jadi OPA!" teriak Samuel senang bukan main.
sedang melihat itu Naura kaget, pasalnya dia tak mengira itu adalah reaksi dari suaminya.
awalnya dia takut jika Samuel akan marah besar, tapi sekarang dia memeluk dirinya dan Elna.
"sayang, aku sesak nafas kamu memeluk terlalu kuat, dan kasihanilah putrimu yang sedang hamil ini," protes Naura.
"ah maaf, semoga ini cucu perempuan, dan aku akan membanggakan pada semua teman-teman ku," kata samuel.
"tunggu papa, tapi bagaimana bisa jika dia lahir tanpa ayah," kata Elna sedih memegang perutnya yang masih rata.
"ho-ho-ho, papa tak mungkin akan membiarkan itu terjadi, aku akan menyeret bocah sialan itu yang berani membuat mu seperti ini, jadi jangan sedih ya nak," kata samuel.
"terima kasih papa," jawab Elna memeluk Samuel.
"sudah tak perlu sedih, sekarang kamu mau makan apa, atau cucu opa yang di perut ini mau makan apa, pasti papa belikan," kata Samuel dengan begitu bahagia.
"aku mau ayam rebus yang enak, seperti yang pernah di belikan om Ben," jawab Elna.
"aku tau tempat itu, papa belikan ya sayang, kamu istirahat ya, ho-ho-ho aku akan jadi opa," kata Samuel yang begitu senang.
Elna dan Naura pun tertawa dan sambil berpelukan, mereka tak mengira jika Samuel bisa begitu bahagia.
Ben sedang berolahraga lari santai sendirian, tapi tiba-tiba dia mendengar sesuatu.
"papa ..."
suara itu menghentikan Ben, pria itu mencari sumber suara, "papa ..." panggilnya lagi.
"siapa?" kata Ben memperhatikan sekeliling.
dia melihat sosok Elna yang datang sambil mengandeng tangan yang begitu kecil.
Ben pun melihat senyum dari wanita yang begitu dia cintai dan rindukan itu.
"lihat itu papa!" tunjuk Elna pada Ben.
Ben mendekat, dia melihat sebuah tangan mungil yang mengandeng tangan Elna, tapi saat Ben ingin menyentuhnya dia melihat anak itu bersembunyi di balik tubuh Elna.
"papa ..." katanya dengan malu.
"cepat sembuh ya papa, kami menunggumu," kata Elna yang tertawa pada Ben.
saat Ben ingin memeluk Elna, gadis itu menghilang begitu saja, "Elna!!" teriak Ben yang terbangun dari tidurnya.
"kamu begitu merindukannya Ben," kata dokter Dito yang sedang memeriksa kondisi pria itu.
"iya om, bisakah kita segera pulang, aku tak bisa terus seperti ini, meski om mengatakan dia baik-baik saja, tapi aku belum melihatnya jadi aku belum yakin om," terang Ben memohon
"baiklah-baiklah kau menang, sore ini kita pulang, terlebih sepertinya papa mu juga sudah menerimanya kabar mengejutkan," kata dokter Dito tersenyum.
benar saja papa David sudah menyiapkan pesawat untuk mereka pulang.
"ada apa yang sebenarnya om? apa ada kabar buruk atau apa?" tanya Ben khawatir.
"tentang itu, kita bicarakan saat sudah di rumah, dan besan, tolong segera cek kondisi Ben, agar kita bisa segera pulang," kata papa David
"tentu besan," jawab dokter Dito
mana Mei hanya diam, dia hanya masih syok karena baru tau jika cucu pertamanya melakukan hal nekat.
terlebih karena dirinya hingga memaksa Ben dan Naura hingga melakukan hal buruk itu.
"sudah kamu harus tenang dan kita akan segera pulang, karena mama juga sudah merindukan semuanya," kata mama Mei pada putranya itu.
"iya mama," jawab Ben.
sore hari, semua sudah siap untuk pulang ke Surabaya, bahkan mereka tak memberitahu siapapun karena ingin memberi kejutan.
seperti halnya papa David yang terkejut setelah Samuel mengatakan jika dia akan menjadi seorang kakek buyut.
bahkan pria itu mengatakan dengan begitu senang terdengar dari suaranya.
tak butuh waktu lama untuk sampai di Surabaya, setelah semua pemeriksaan selesai.
mereka pun langsung menuju ke rumah mewah Graham, karena itu permintaan mama Mei ingin Ben tinggal di sana untuk perawatan sampai sembuh.
semua orang pun beristirahat karena sudah sangat larut, dan tak mungkin mereka ke rumah sakit malam itu.
keesokan harinya, mereka sarapan bersama, Devan, Saga dan Evan kaget melihat semua yang sudah berkumpul di meja makan.
reflek saga dan Evan langsung memeluk tubuh Ben, "om pulang, dan sudah sehat, kami merindukan mu," kata kedua pemuda itu.
"om juga merindukan kalian, ayo sarapan dulu, karena om harus ke rumah sakit lagi untuk terapi," jawab Ben.
Devan juga memeluk Ben, setelah memeluk mama Mei yang begitu dia rindukan.
sedang di tempat lain, Elna hari ini merasa begitu buruk, entahlah dia rasanya ingin terus menangis.
Ben dan rombongan sampai di rumah sakit dan langsung menuju ke kamar rawat Elna.
kursi roda Ben di dorong oleh asisten Mike, mama Mei dan papa David masuk terlebih dahulu dan menyala Elna.
sedang Ben masih menunggu di luar, papa David menjewer telinga Samuel, pasalnya pria itu kemarin mengatakan hal gila menurut papa David.
sedangkan mama Mei juga memeluk Elna, "oh ya, ada seseorang yang ingin bertemu dengan mu,"
sebuah kursi roda masuk kedalam kamar, sebuah senyum yang terlihat dan di rindukan oleh Elna.
Ben yang melihat Elna, tanpa sadar berdiri dari kursi roda dan mulai berjalan tertatih.
begitupun Elna yang langsung melepas infus dari tangannya dan berlari memeluk Ben.
"apa kabar honey ...."
"om honey ... aku merindukanmu," kata Elna menangis sesenggukan.