Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 031 : Jiwa-Jiwa yang Dirindukan
Ketika derap langkah kaki mereka satu persatu mulai mendekati bangunan itu. Ada seorang wanita yang bersembunyi di balik jendela.
Dia berada di dalam sana. Hawa keberadaan yang datang ke arah bangunan itu. Bangunan yang kini menjadi tempat dia bersemayam. Hawa ini, auranya, serta jiwa-jiwa yang datang itu.
Setelah dua puluh tahun lamanya, pada akhirnya membuat wanita di dalam sana tersenyum.
Dialah Ijah, dia berada di alam ini dengan wujudnya sebelum mati. Sebetulnya bisa saja dia berwujud setelah mati.
Tapi, untuk menyambut kelima anaknya yang selamat, bagaimana mungkin dia akan menunjukkan dirinya yang menyeramkan.
Deppp
Deppp
Ijah berjalan pelan ke arah jendela. Dia mendekati jendela yang masih tertutupi oleh gorden. Dia menyibak gorden itu. Di sana, dia bisa melihat. Bagaimana kelima anaknya lari terbirit-birit ke arah rumah ini. Bangunan besar milik Parman dulu.
"Setelah kalian membuka pintunya, kalian akan bertemu lagi denganku. Anak-anakku!" kata Ijah.
Dia lalu kembali menutup gorden jendelanya. Bersamaan dengan hal itu. Farah, Haikal, Rifki, Desta dan Aldi bersama-sama mendorong pintu masuk utama bangunan besar itu.
Ketika terbukanya pintu itu, sembari ditemani dengan suara nafas mereka yang terengah-engah. Mereka terdiam, mereka membungkuk, mengatur nafas mereka satu persatu.
"Apa kita masih dikejar?!" tanya Desta kini sembari menoleh ke belakang.
Aldi yang berada di belakangnya pun menoleh. Dia memeriksa, tidak ada tanda bahwa mereka masih diikuti. Tidak ada apapun yang berada di belakang mereka.
"Oke," kata Aldi, dia kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Ke arah isi bangunan besar ini. Aldi memperhatikan sekeliling sebelum melanjutkan ucapannya.
Hmm.. Ini rumah! Setelah pintu utamanya terbuka. Mereka disambut dengan segala perabotan yang ditutupi oleh kain-kain putih.
"Bangunan besar ini, rumah ternyata!" kata Aldi. Mendengar itu, Farah segera menegakkan tubuhnya.
"Kata anak keenam, yang berarti itu adalah adiknya kita!" celoteh Farah, sorot matanya berbinar. Dia menatap ke arah Aldi yang kini juga menatapnya.
"Aku diberitahu oleh adik keenam. Bahwa, rumah ini dulu adalah rumah ayah kandung kita dan ibu kandung kita!" jelas Farah, mengingat dengan jelas segala memori yang ditunjukkan oleh adik keenamnya.
"Kenapa hanya kamu yang didatangi dan diberitahu oleh dia?" tanya Haikal menimpali penjelasan Farah.
Farah menunduk, dia bahkan tidak mengerti mengapa harus dia yang diberitahu? Sedangkan yang lain, tidak?
"Itu karena, yang seharusnya ditumbalkan pertama kali adalah Farah!" kata seorang wanita yang tiba-tiba saja datang dari belakang mereka.
"Hah!" pekik mereka berlima, refleks saja kelimanya langsung menoleh ke belakang.
Dan di sana, ada Rachel Gautama beserta dengan Thariq di sampingnya. Mereka berjalan sambil bergandengan. Mereka berdua datang mendekati Farah dan juga saudaranya.
"Haish, siapa lagi ini?! Tokoh baru lagi!" cicit Desta menatap kedatangan Rachel dengan tatapan yang sulit diartikan.
Mendengar itu, Rachel melipat kedua tangannya. Dia memiringkan kepalanya, menaikkan salah satu alisnya, tanpa ekspresi pun dia berkata pada Desta sekarang,
"Bocah!" panggil Rachel pada Desta. Desta yang ditatap seperti itu pun merasa risih. Wanita ini, sumpah, sekarang seperti akan berancang-ancang ingin mengajaknya duel.
"Apa?" tanya Desta singkat. Oke, sekarang Rachel mulai kesal rasanya.
"Aku lebih tahu perihal alam ini, daripada kamu. Jadi datangku, jangan kamu anggap sebagai petakamu!" tutur Rachel pada Desta.
Farah yang mendengar itu pun membuang kasar nafasnya. Desta memang terkadang asal ceplos.
Tapi Farah yang sudah mengenali Rachel pun memilih menghampirinya. Farah berjalan ke arah Rachel dan Thariq, lalu berhenti tepat di depannya. Sambil menatap ke empat saudaranya. Dia pun berkata,
"Dialah yang membantuku! Ceritanya panjang, akan jadi setebal kamus rasanya jika diceritakan di sini. Tapi yang jelas, kita harus segera keluar dari sini!" jelas Farah memaparkan apa yang ada di dalam kepalanya.
Melihat raut wajah Farah yang begitu serius itu pun, Haikal dan Aldi memilih untuk percaya padanya. Begitupun dengan yang lain. Pada detik inilah, mereka semua akan mendengarkan apa kata Rachel Gautama. Sebab dia, adalah pawang ghaib, katanya.
"Jadi, kita akan apa?" tanya Aldi sekarang pada Rachel.
"Sekarang, tutup saja dulu pintunya!" kata Rachel memberi jawaban.
Mendengar itu, Rifki pun segera menutup pintu rumah besar itu. Ketika pintu itu mulai tertutup. Entah mengapa, aura di sana sekejap berubah menjadi sangat dingin, lebih dingin daripada biasanya. Di situ, Rachel bisa melihat dengan jelas perubahan ekspresi yang terjadi di antara Farah juga seluruh saudaranya.
"Kenapa mendadak jadi sedingin ini?" kata Rifki. Rachel tersenyum tipis dia tidak memberikan jawaban apapun. Dia membiarkan kesunyian kembali merayapi zona ini.
Hingga samar-samar Rachel merasakan keberadaan Ijah. Tetapi, ada satu pesan yang Ijah sematkan kepada Rachel. Mereka berbicara melalui ilmu batin. Di sana, Ijah berkata,
"Biarkan, mereka mencariku sendiri! Aku mau, mereka menemukan ibu mereka ini sendiri. Aku sudah lama menantinya. Aku ingin berjumpa dengan anak-anakku!"
Perkataan itu, jelas saja membuat Rachel tidak bisa berkutik. Sejenak, Rachel memperhatikan jari jemari Farah beserta seluruh saudaranya.
Dan di sana, mereka sama-sama menggunakan cincin. Cincin dari kayu kokka. Cincin yang sama, yang digunakan oleh Farah.
"Apakah, kalian bertemu dengan sesepuh?" tanya Rachel, sorot matanya tidak teralih dari cincin mereka.
"Ya, kami bertemu dengan seorang sesepuh. Ardin, orang yang berasal dari sini bilang jika, sesepuh itu tahu perihal belantara ini!" jawab Farah. Rachel menganggukkan kepalanya.
"Belantara yang kalian masuki ini, tekanan ghaibnya sangat kuat. Yang mati, bisa memanipulasi panca inderanya manusia. Dan inilah yang terjadi pada kalian, salah satu dari orang mati itu, memberi kalian kelima cincin. Beruntung sekali rasanya, kalian bertemu dengan salah satu mereka yang baik. Cincin-cincin itu!" kata Rachel, dia menunjuk ke arah cincin-cincin yang kini ada di jari telunjuk Farah dan Saudaranya.
Melihat arah tunjuknya Rachel, jelas mereka semua pun segera memperhatikan cincin mereka masing-masing.
"Cincin itu, adalah pelindung! Cincin itu jugalah, yang akan membuat kalian bisa menggunakan kemampuan ghaib kalian di sini. Pergunakanlah!" kata Rachel pada mereka.
Aldi yang masih mencerna perihal apa yang Rachel katakan pun segera bersuara,
"Maksudnya apa?" tanya Aldi pada Rachel kini.
"Temukan Ibu kandungmu, dengan kemampuan kalian masing-masing. Aku akan berjaga di sini. Karena, hanya darah dari rahim Ijah saja yang bisa datang kemari. Anak keenam, yang menemui Farah. Dia bisa datang kemari, tetapi jika, tubuh dia diambil alih oleh Iblis ketika masuk kemari. Sudah jelas, kalian semua akan dimakan. Jadi, aku akan membantu anak keenam itu dengan kemampuanku." tutur Rachel.
"Jika kami tidak bisa menemukannya?" kali ini Desta bertanya. Rachel segera menoleh ke arah Desta. Dia berkata,