NovelToon NovelToon
Jangan Menyesal Setelah Aku Pergi

Jangan Menyesal Setelah Aku Pergi

Status: tamat
Genre:Single Mom / Selingkuh / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Jalur Langit

Disa ingin memberi kejutan berupa kehamilan yang telah lama dinanti-nanti, tetapi dia malah mendapatkan kejutan lebih dulu dari Cakra. Cakra membawa pulang Risa yang sedang hamil anaknya.

Dari pada menerima Cakra, yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya, dan harus menerima Risa sebagai madunya, Disa memilih pergi dengan membawa anak Cakra yang dia sembunyikan.

"Jangan menyesal setelah aku pergi."

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Risa tidak menduga Cakra akan menanyakan kalung itu. Ia pikir setelah memberi, Cakra tidak akan mengungkit-ungkit. Sekarang, Risa harus memberikan alasan yang masuk akal supaya Cakra tidak curiga.

"Kalungnya .... "

"Kalungnya kenapa?" ulang Cakra, sebab Risa terdiam cukup lama. "Kamu nggak suka sama kalungnya? Mau ganti?" tawarnya.

Kepala Risa menggeleng pelan. "Bukannya nggak suka, Mas. Aku suka kalung itu, tapi aku gak bisa pakainya."

Penjelasan berbelit-belit itu membuat Cakra menautkan kedua alisnya sekaligus merasa heran. "Kenapa gak bisa pakai? Aku bisa bantu pakaikan kok kalau kamu kesulitan," tuturnya.

Cakra pikir Disa mengalaminya kesulitan saat ingin mencoba memakai kalungnya.

Risa menggigit bibirnya, otaknya terus berputar-putar mencari jalan keluar. "Masalahnya ... Kalung itu nggak ada di aku, Mas."

"Kok bisa?" sahut Cakra yang merasa semakin heran. "Kalau nggak ada di kamu, terus kalung itu di mana dong?"

Risa menatap Cakra bimbang dan ragu. Cakra pun dapat melihat keraguan itu di matanya. Ada sedikit gurat ketakutan di wajah Risa.

"Mas, aku mau ngomong tapi kamu jangan marah," mohon Risa.

Cakra menyipit, wajahnya penuh tanya.

"Sebenarnya kalung itu ... Hilang, Mas."

"Apa?!" Cakra memekik. "Hilang?!"

Risa memejamkan matanya sesaat sambil mengangguk. Siap untuk menerima amukan dari Cakra. Namun mengingat dirinya yang sedang hamil, ia yakin Cakra tidak akan berani berbuat kasar.

"Kok bisa hilang? Kamu taruh di mana? Coba diingat baik-baik," tandas Cakra. Terselip kemarahan di dalam suaranya. Siapa yang tidak marah jika sesuatu ia belikan hilang begitu saja? Apalagi sesuatu itu bukanlah barang yang berharga murah.

"Aku juga nggak tau gimana bisa hilang, Mas." Risa mencoba menjelaskan sambil berpura-pura seolah ia sedang mengingat suatu kejadian. "Seingatku ... aku taruh di atas meja waktu mau mandi."

"Masa bisa hilang sih padahal cuma kamu taruh di meja, di kamar kita."

Sepertinya, alasan yang Risa berikan tidak cukup kuat untuk membuat Cakra percaya. Kendati begitu, Risa tetap meyakinkan Cakra sesuai dengan alasan yang ia berikan.

"Iya, mustahil kan, Mas? Tapi kenyataannya kayak gitu. Waktu itu udah aku pake, terus aku mau mandi jadi aku lepas kalungnya dari pada kena sabun. Waktu aku selesai mandi, terus mau aku pakai lagi, kalungnya udah gak ada," tutur Risa begitu lancar, berusaha meyakinkan Cakra.

"Aku juga gak tau kenapa tiba-tiba hilang gitu aja. Sayangnya di kamar kita nggak ada cctv-nya jadi kita gak bisa tau gimana kalung itu bisa tiba-tiba hilang," lanjutnya.

"Menurut kamu ... Ada yang sengaja ngambil gitu?" Cakra mengernyit.

Risa tidak langsung menjawab, ia terdiam selama beberapa detik. Bukan maksudnya ingin menumbalkan para pekerja di rumah itu, tetapi Risa tidak ada pilihan lain selain mengangguk.

"Aku rasa gitu, Mas."

Kini, gantian Cakra yang terdiam. Mungkin saja ada yang sengaja mengambil kalung itu, pikir Cakra. Selain dirinya dan Risa, ada beberapa pekerja yang bekerja di rumah itu. Dua di antaranya diperbolehkan memasuki kamarnya untuk melakukan bersih-bersih.

Mungkin Cakra terpaksa harus menggeledah kamar mereka demi menemukan kalung Risa.

Setelah makan malam, ia memerintahkan satpam di rumahnya yang ia percayai untuk menggeledah kamar kedua pekerjanya yang biasa memasuki kamarnya.

Namun, kalung Risa tidak ditemukan. Kedua pekerja yang dituduh pun mengaku tidak berani mengambil barang milik majikan. Apalagi sebuah kalung yang harganya berlipat-lipat dari gaji mereka.

"Kami hanya seorang pekerja rendahan, Pak, bukan pencuri," Begitu kata mereka.

Cakra semakin bingung. Kedua pekerja itu sudah bekerja cukup lama, bahkan saat Disa masih tinggal di sana. Tidak pernah ada kasus seperti ini sebelumnya. Bersama Disa, semua selalu aman.

Dan tidak mungkin pula ada orang asing bisa masuk dengan mudah ke area rumah, apalagi hingga ke kamar. Rumah ini dijaga oleh dua satpam, keamanannya dari pencuri luar sudah terjamin.

"Ya sudah!"

Tak kunjung menemukan titik terang keberadaan kalung itu, Cakra mengajak Risa kembali ke kamar.

"Mas, kamu marah?" tanya Risa cemas. Posisinya menjadi tidak aman, ia juga takut melihat Cakra yang tiba-tiba berubah menjadi pendiam.

Diamnya Cakra berarti ada dua kemungkinan. Antara ia sedang marah, atau ia sedang memikirkan sesuatu yang tidak bisa Risa ketahui.

"Lupakan aja, Ris," jawab Cakra datar.

*

"Ini sebenarnya yang pengen makan di sini si jabang bayi atau emaknya?" Vina mencibir sambil memutar bola matanya. Hari ini, di saat ia sedang libur bekerja, Disa mengajaknya makan di restoran yang terbilang mewah.

Harga makanannya pun mahal-mahal. Kata Disa, dia ngidam. Ingin mengajak Vina makan di restoran ini. Kalau bukan karena Disa yang mau mentraktirnya, Vina tidak akan mau makan di sini. Sayang uangnya, euy. Mending makan di warungnya ibunya Disa. Selain murah, enak, juga sangat mengenyangkan.

"Dua-duanya," jawab Disa nyengir. "Dulu Mas Cakra sering ngajak gue makan di sini. Gue jadi .... "

"Apa? Kangen?" sambung Vina.

"Ya nggak kangen juga. Cuma ... Nggak mau kehilangan kenyataan kalau ternyata gue bisa makan di tempat ini gitu. Ngerti gak lo? Kalau gak ngerti pura-pura ngerti aja."

"Dih!" Vina mendengkus. "Jangan bilang lo juga kangen sama si Cakra," tudingnya.

"Nggak! Nggak ya!"

"Hilllliiihhh!"

"Beneraaaaannn."

"Masaaaaa?"

"Iyeeee."

"Eh, by the way, Rayyan ada chat lo nggak setelah dia minta nomor lo?" tanya Vina, tiba-tiba ia mulai membahas Rayyan.

"Nggak tuh. Nggak ada chat apa pun dari Rayyan," jawab Disa.

"Lah, terus dia ngapain dong minta nomor lo kalau gitu? Buat pajangan doang?"

Disa mengedikkan kedua bahunya. "Nggak tau," jawabnya cuek.

Disa sedang merasakan sesuatu yang bergerak-gerak sangat pelan di dalam perutnya. Sudah sejak semalam ia menyadarinya. Ia yakin, kedua bayi kembarnya mulai menunjukkan pergerakan.

"Ngapa lo senyum-senyum? kesambet?" tanya Vina yang memperhatikan gelagat aneh Disa. Mirip seperti orang gila baru, kalau kata Vina sebab Disa kebanyakan senyum-senyum sendirian.

"Nggak apa-apa, lagi seneng aja," Disa menjawab tanpa memberitahukan yang sebenarnya.

Lagi-lagi, ia teringat Cakra. Bukan karena kangen atau apa, tetapi sebagai ibu hamil, Disa juga ingin dimanja dan diperhatikan oleh suami. Seperti yang sedang ia lihat di meja lain.

Wanita hamil yang perutnya sudah membesar sedang disuapi oleh suaminya. Tapi Disa sadar diri, ia tidak pernah bisa seperti itu.

Mendadak, ponsel Disa bergetar. Ia mendapatkan satu pesan masuk dari nomor asing. Namun, dari pesan yang terbaca ia bisa segera tahu siapa orang yang mengirim pesan kepadanya.

"Kamu suka kalung ini?"

(Rayyan)

Kening Disa mengernyit tipis. Buat apa Rayyan mengirim gambar kalung, kemudian menanyakan apakah Disa menyukainya atau tidak? Disa jadi bingung harus menjawab apa.

"Suka."

Rayyan hanya menanyakan apakah Disa suka atau tidak, kan? Ya sudah, Disa jawab saja seperti itu. Ya memang Disa menyukai kalung yang Rayyan kirim. Itu bagus, sepertinya limited edition.

Setelahnya, tidak ada balasan apa pun lagi dari Rayyan. Aneh, Rayyan hanya tanya seperti itu, dan kemudian ... Senyap.

"Pulang, yuk? Bosen nih," ajak Disa. Vina mengangguk.

Makanan mereka sudah habis tak bersisa. Keduanya pun memutuskan untuk langsung pulang.

Di pintu masuk restoran itu, Disa sungguh tak menyangka akan bertemu dengan seseorang yang pernah menjadikannya ratu di hidupnya.

Cakra.

...****************...

1
Mu Shofihin
bagus dan seru ceritanya ga bosenin untuk typo tolong Thor
Sky: 😭😭😭 maaf kak, buanyak sekali typonya ya ya Allah
total 1 replies
Zinnia Larasati
Keren 👍
Anne Siregar Siregar
di bongkar secepat nyA kak
Ummee
plot twist apa ini?
Ernawati Prakerja
disa yg dicintai,aku yg berbunga bunga
Dini
bagus ceritanya,,semangat berkarya trs thor
Dini
ga d dunia lain,ga d dunia nyata sahabat sering jd maut🤣
niktut ugis
Rayyan thor🤗
Sky: kak, makasih ya koreksinya. ternyata banyak sekali typonya hehee 😭
total 1 replies
niktut ugis
Vina thooorr 🤗
niktut ugis
Vina lah
niktut ugis
weleh nenek lampir Yuni nangis
niktut ugis
andai... andai mu telat cak.. cak
niktut ugis
ya salam captain pilot Rayyan ya x ngelamar di RS 😀
Sky: wkwkw 🤣 kagak romantis banget ya
total 1 replies
echa purin
👍
Khusnul Khotimah
luar biasa
niktut ugis
disa manggil Rahmi.. ibu atau mama? 🤔
Aleendra
bagus
Ika Yanti Unyil
disa yg baik hati menemukan kebahagiaan sejati.ketika disatukan dengan mantannya di waktu abg,rayyan.
kakak beda ibu yang pernah menjadi duri dalam rumah tangganya juga sudah menemukan kebahagiaan.tinggal vina si sahabat dan mantan suaminya yang masih dlm masa pedekate.
ceritanya bagus thor.setiap babpanjang dengan bahasa yg enak dibaca dan cerita yang mengalir.
terus semangat berkarya thor ❤️ 🥰 ❤️ 🥰
sweetpurple
kerenn
Muniati94
jangan" anak yg d kandung Risa bukan anaknya Cakra melainkan anak org lain🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!