Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Siapa yang Kau Remehkan & Hukuman Ringan
Meski keraguan masih bergemuruh di hatinya, Zhu Yun tak berani bertanya atau berkomentar lebih jauh. Ia hanya diam mengikuti dari belakang.
"Tuan Lin, izinkan saya memperkenalkan… ini…" Patriark Tianhe sedikit mencondongkan tubuh, hendak menjelaskan siapa sosok di sampingnya.
Namun Lin Qian hanya melambaikan tangan santai, memotong pembicaraan itu. "Aku sudah bisa menebak. Paman dan keponakan, kan?"
"Wah, luar biasa! Pandangan Tuan Lin memang tajam sekali!" Wajah Patriark Tianhe bersinar penuh kekaguman.
Padahal Lin Qian hanya tersenyum dalam hati. Itu sama sekali bukan ilmu rahasia. Melihat penampilan tua Patriark Tianhe, usia paruh baya Zhu Yun, ditambah rasa hormat yang begitu dalam dari Zhu Yun kepada lelaki tua itu — hubungan seperti paman dan keponakan adalah kesimpulan paling masuk akal.
"Tapi kebetulan sekali kalian datang," kata Lin Qian sambil mengubah topik. "Persediaan anggurku baru saja habis. Kalian pasti bawa oleh-oleh, kan?"
Permintaan itu langsung diucapkan tanpa basa-basi.
Tentu saja! Kami bawa!" Patriark Tianhe menjawab cepat ,lalu seketika ia teringat sesuatu. Aduh, terlalu terburu-buru datang sampai lupa bawa bekal.
Matanya langsung tertuju ke arah Zhu Yun. "Keluarkan Shengguo Dan yang kau simpan itu! Sekarang!"
"Apa?!" Wajah Zhu Yun berubah sedih dan keberatan berat. Shengguo Dan itu bukan sekadar anggur biasa. Itu adalah ramuan berharga yang butuh waktu setahun penuh untuk menghasilkan tiga botol saja. Harta tak ternilai yang bisa membuat tetua sekte lain berebut. Dan sekarang… disuruh berikan begitu saja pada manusia biasa?
"Ayo cepat! Jangan pelit begitu!"
Melihat Zhu Yun berberat hati, Patriark Tianhe makin tidak sabar. Ia bahkan menepuk kepala keponakannya itu dengan cukup keras.
Paman Bela Diri , tolong hargai sedikit harga diriku, bisik Zhu Yun meratap. Aku ini Ketua Sekte Lingxue! Kalau ada orang melihat aku diperlakukan seperti ini, ke mana perginya wibawaku?
"Harga diri apa yang kau bicarakan?" tegur Patriark Tianhe dengan suara rendah namun tajam. "Walau kau seekor naga sakti, kau harus tetap melilitkan tubuhmu dengan patuh di hadapan senior itu. Jangan banyak alasan!"
Ia kembali mengangkat tangan seolah mau memukul lagi.
Terpaksa, dengan tangan gemetar dan hati berdarah, Zhu Yun mengeluarkan tiga botol giok berisi cairan berwarna emas kemerahan yang memancarkan aroma harum dan energi kental.
"Lihatlah tingkahmu, pelit sekali persis anak kecil." Patriark Tianhe mengomeli sambil menyambar botol-botol itu. Seketika wajahnya berubah menjadi senyum paling ramah saat menghadap Lin Qian. "Senior Lin, ini… hanyalah minuman biasa dari tempat kami. Kurang enak pasti, tapi mohon diterima ya."
Lin Qian tersenyum santai. Ia langsung membuka satu botol, menyesap sedikit, lalu mengangguk jujur. "Rasanya lumayan segar. Cuma… kurang ada rasa khasnya sedikit."
Patriark Tianhe mengangguk berulang kali persis ayam mematuk padi. "Betul sekali! Senior benar! Memang masih kurang enak! Pandangan Senior paling tepat!"
Di samping itu, Zhu Yun hampir meledak menahan emosi.
Kurang rasa?! Kau bilang ramuan Shengguo Dan yang aku korbankan waktu setahun ini 'kurang rasa'?! Ramuan ini kalau diminum murid luar bisa langsung naik level! Kau tidak tahu berapa harganya?!
Ia makin bingung dan kesal. Tidak ada satu pun jejak energi atau kekuatan pada tubuh pemuda itu. Kalau saja Paman tidak ada di sini, sudah kuhancurkan dia jadi daging cincang.
Tapi melihat raut wajah serius pamannya, ia menelan semua kekesalannya.
"Han Yu, ambilkan dua kursi lagi," perintah Lin Qian.
Han Yu bergerak cepat membawa dua bangku kayu tua yang terlihat reyot.
"Haha… duduk santai saja sambil lihat matahari terbenam. Pemandangan bagus, udara segar, ditemani minuman… ini baru namanya hidup yang nikmat," kata Lin Qian sambil bersandar santai.
"Benar sekali! Hidup seperti inilah yang sejati!" Patriark Tianhe duduk sopan di pinggir bangku, wajahnya penuh kekaguman bercampur rasa malu. Ia tahu dirinya masih jauh dari pemahaman hidup sedalam Sang Senior.
Hmph! Zhu Yun mendengus pelan dalam hati. Kami ini tamu kehormatan, penguasa wilayah, dan kau malah menyuruh kami duduk di bangku tua reyot di depan pintu?! Siapa yang kau anggap rendah, hah?!
Ia hanya berdiri diam dengan wajah masam, tak mau duduk.
Sambil menunggu, pandangan Zhu Yun melayang ke samping. Di atas meja kayu tua, beberapa buku tebal bersampul sederhana tergeletak sembarangan. Tanpa pikir panjang, rasa penasaran — bahkan rasa meremehkan — membuatnya mengulurkan tangan hendak membolak-baliknya.
Ah, buku apa ini? Mungkin catatan biasa saja dari manusia biasa.
"BERHENTI!!"
Suara teriakan keras memecah suasana sore. Patriark Tianhe melompat maju secepat kilat, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Zhu Yun sebelum sempat menyentuh sampul buku itu.
Wajah Patriark Tianhe pucat pasi karena kaget dan marah. Orang lain mungkin tidak tahu — tapi ia sangat paham. Buku-buku itu bukan barang sembarangan. Itu adalah kitab yang mengandung Niat Bela Diri yang menggetarkan langit dan bumi. Meskipun Lin Qian meletakkannya seolah sampah, itu tidak berarti siapa pun boleh sembarangan menyentuhnya. Patriark Tianhe sendiri pun menahan diri sekuat tenaga untuk tidak memandang terlalu lama.
Dan sekarang keponakannya yang bodoh ini mau membolak-baliknya sembarangan?
"Siapa yang kasih izin kau pegang barang milik orang lain?!" hardiknya dengan suara gemetar menahan amarah.
Zhu Yun merasa sangat tersinggung. Sebagai Ketua Sekte yang dihormati ribuan murid, mengintip buku orang biasa menurutnya bukan masalah besar. Reaksi pamannya ini terlalu berlebihan.
Melihat situasi mulai tegang, Lin Qian yang tadinya santai tersenyum dan menggeleng pelan.
"Ah, tidak apa-apa kok," selanya santai. "Itu cuma barang rongsokan dan catatan usang saja. Mau dilihat silakan, tidak ada apa-apanya."
Patriark Tianhe menghela napas lega dan melepaskan cengkeramannya. "Kau dengar sendiri? Senior bilang boleh. Tapi ingat kelakuanmu!"
Zhu Yun mengernyitkan dahi, masih merasa aneh. Dengan gerakan santai seolah memegang debu, ia mengambil salah satu buku itu dan membukanya.
Tiga kata besar tertulis: "TINJU BERLIAN".
Seketika, tulisan itu seolah membesar di depan matanya. Niat bela diri yang murni namun ganas meledak keluar — berubah menjadi bayangan kepalan tangan raksasa, berubah menjadi binatang buas yang mengaum, dan langsung menerjang ke arahnya.
"APA?!"
Ia segera mengerahkan seluruh tenaga dalam dan kultivasinya untuk menangkis.
Sia-sia.
BLAM!!
"PFFT!"
Zhu Yun terhempas mundur beberapa langkah, mulutnya memuntahkan seteguk darah segar. Tubuhnya lemas tak berdaya seolah baru saja dipukuli habis-habisan oleh gunung bergerak.
"Hah… hah…"
Ia berdiri terhuyung, keringat dingin membanjiri wajahnya. Matanya menatap Patriark Tianhe penuh ketakutan dan tanda tanya.
Lin Qian menatap aneh pada Zhu Yun dan ber ganti menatap Patriark Tianhe..' Apakah mereka belum makan?"
batin Lin Qian
Patriark Tianhe sendiri juga tampak pucat. Saat Zhu Yun membuka buku itu, ia juga sempat melirik sekilas — dan niat bela diri itu datang seperti ombak laut yang mengamuk. Berkat ranah Raja Bela Diri yang kini ia miliki, ia hanya sedikit terpukul dan tidak sampai muntah darah.
Ia paham betul alasannya. Sekte Lingxue mengutamakan jalan yang lembut dan berkesinambungan — Tai Chi yang pernah ia lihat dari Lin Qian justru cocok dengan jalan itu. Tapi Tinju Berlian ini adalah teknik kekuatan murni yang keras dan menghancurkan. Kebalikan mutlak dari ajaran mereka.
Dan lebih dari itu , Patriark Tianhe yakin sepenuhnya: ini adalah teguran ringan dari Lin Qian karena Zhu Yun terlalu angkuh tadi.
Lin Qian sendiri sama sekali tidak menyadari gejolak hebat di antara dua orang itu. Ia hanya merasa angin sore mulai makin dingin. Ia berdiri dan berkata santai, "Udara makin dingin nih. Kenapa kalian tidak masuk saja ke dalam? Lebih hangat di sana."
Setelah berkata begitu, ia berjalan santai masuk ke kios dan menghilang di balik pintu.
Begitu sosok Lin Qian lenyap dari pandangan, Zhu Yun langsung menoleh ke Patriark Tianhe dengan wajah masih pucat dan gemetar.
"Paman… apa yang baru saja terjadi?!"
Patriark Tianhe menunjuk wajah keponakannya dengan jari gemetar karena marah dan kecewa. "Kau… kau biasanya pintar dan bijaksana! Kenapa jadi sebodoh ini hari ini?! Tadi kau baru saja melewati gerbang neraka — dan hampir menyeretku ikut mati bersamamu!"
"Tapi Paman… dia jelas tidak punya energi kultivasi sedikit pun! Tubuhnya biasa saja, napasnya biasa saja… bagaimana mungkin buku bekasnya bisa memukulku sampai muntah darah?!" seru Zhu Yun tak percaya.
"Hmph!" Patriark Tianhe mendengus keras. "Kau bilang dia manusia biasa? Kau bilang dia tidak punya kekuatan? Dengarkan baik-baik — bahwa kau tidak bisa melihat kekuatannya, itu bukan berarti dia lemah. Itu karena tingkat penglihatan mu yang terlalu rendah! Bahkan aku sendiri pun tak bisa menembus kedalaman kekuatan nya "
Ia mendekat dan berbisik berat. "Senior adalah Ahli Tingkat Dewa yang sudah mencapai puncak tertinggi: Kembali ke Kesederhanaan. Semua kekuatan disembunyikan sampai tak terlihat sama sekali. Buku-buku di sana? Itu baru sampah bagi Senior— tapi bagi kita, itu kitab suci yang bisa merobek langit!"
"Dan luka yang kau dapatkan barusan? Itu teguran kecil karena kau sombong dan kurang ajar. Untung saja itu hukuman ringan. Kalau senior 'mau, kau sudah jadi debu sejak tadi!"
Zhu Yun terdiam kaku. Rasa dingin menjalar dari tulang belakang sampai ubun-ubun. Ingatan tentang rasa sakit saat membuka buku itu masih terasa nyata. Ia sadar — ia baru saja menertawakan dan meremehkan sosok yang mungkin jauh lebih hebat daripada seluruh leluhur sektenya digabungkan.
Ia menampar pipinya sendiri dengan keras.
Bodoh! Bodoh sekali aku ini!
"Paman… tapi kenapa sosok sehebat itu mau tinggal di kota kecil ini? Di kios tua reyot begini?" tanya Zhu Yun masih sulit percaya.
Wajah Patriark Tianhe berubah serius dan penuh rasa hormat. Ia menatap ke arah pintu tempat Lin Qian masuk, lalu berkata pelan namun penuh keyakinan.
"Menurut dugaanku… Senior ini hanya sedang bermain-main di dunia manusia biasa. Beliau sedang menjalani hidup biasa untuk mencari pencerahan. Dan kita sangat beruntung bisa bertemu beliau."
Patriark Tianhe ragu sejenak, lalu menelan ludah sebelum melanjutkan dengan suara bergetar.
"Tapi ada kemungkinan lain… kemungkinan besar beliau ada di sini karena sedang menunggu sesuatu. Atau menunggu seseorang."
Zhu Yun menahan napas, matanya terbelalak.
Rasa hormat dan rasa takut kini memenuhi seluruh hatinya. Ia sadar — nasib Sekte Lingxue mungkin kini sepenuhnya bergantung pada kesan baik sosok di dalam kios sederhana itu.
-----Bersambung Bab 10 ------