Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.
Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.
"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Ratu yang Kembali ke Takhta
Keesokan paginya, sebuah mobil sedan mewah berhenti tepat di lobi utama gedung pencakar langit Baskoro Corp. Pintu mobil terbuka, dan Nadia melangkah keluar dengan setelan kerja formal bernuansa hitam pekat dipadu dengan blus sutra putih di dalamnya. Kacamata hitam membingkai wajah cantiknya, memberikan kesan dingin, misterius, dan sangat berkuasa.
Di belakangnya, Adrian berjalan dengan membawa tas kerja kulit tebal, siap menjadi tangan kanannya.
Nadia mendongak, menatap logo perusahaan yang terpampang besar di dinding lobi. Baskoro Corp. Nama pria pengkhianat itu terpampang di sana, menggantikan nama aslinya dulu. Senyuman miring yang penuh dendam terukir di bibir Nadia.
"Dulu mereka membuangku dari atap gedung ini," bisik Nadia dengan suara yang sangat rendah, hampir tidak terdengar oleh Adrian. "Hari ini, aku melangkah masuk lewat pintu depan untuk merebut kembali semua yang mereka curi."
Begitu Nadia melangkah memasuki area lobi, keheningan mendadak merayap. Para karyawan yang sedang berlalu-lalang seketika menghentikan aktivitas mereka. Mereka berbisik-bisik, menatap tidak percaya pada sosok Chelsea Latief yang selama ini hanya mereka kenal lewat berita gosip sebagai sosialita manja, namun kini memancarkan aura intimidasi yang setara dengan CEO kelas kakap.
Nadia berjalan lurus menuju lift khusus direksi. Tujuannya hanya satu: ruang rapat utama di lantai paling atas, tempat rapat dewan direksi bulanan sedang berlangsung.
Di lantai paling atas, suasana di dalam ruang rapat utama terasa sangat tegang. Baskoro duduk di kursi ketua di ujung meja oval panjang, sementara para direktur dan pemegang saham lainnya tampak saling berbisik dengan cemas. Kursi di sebelah kanan Baskoro—yang biasanya kosong—kini telah disiapkan dengan papan nama baru: Chelsea Latief.
"Baskoro, apa kita benar-benar harus mengizinkan anak ingusan itu masuk ke dewan direksi kita?" bisik salah satu direktur senior yang merupakan antek setia Baskoro. "Dia bisa mengacaukan semua proyek rahasia kita."
"Dia punya sepuluh persen saham mutlak dari lelang kemarin!" desis Baskoro dengan rahang mengetat dan mata merah karena kurang tidur. "Secara hukum, kita tidak punya hak untuk melarangnya."
Brak!
Pintu ganda ruang rapat terbuka lebar. Nadia melangkah masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia melepas kacamata hitamnya dengan gerakan anggun, membiarkan sepasang mata bulatnya yang tajam menyapu seluruh orang di dalam ruangan tersebut.
Semua direktur spontan menegakkan posisi duduk mereka. Aura yang dibawa oleh Chelsea terlalu kuat untuk diabaikan.
"Selamat pagi, Tuan-Tuan dan Nyonya sekalian," sapa Nadia, suaranya jernih namun sedingin es. "Maaf membuat Anda semua menunggu pemilik saham terbesar ketiga di perusahaan ini."
Nadia berjalan menuju kursi di sebelah kanan Baskoro, lalu duduk dengan menyilangkan kakinya dengan santai. Adrian langsung berdiri di belakang kursinya, membuka laptop dan menyiapkan dokumen.
Baskoro mencoba mempertahankan wibawanya. Ia berdeham keras, lalu menatap Chelsea dengan senyuman palsu. "Selamat datang di Baskoro Corp, Nona Chelsea Latief. Kami berharap Anda bisa menyesuaikan diri dengan cepat, meskipun kami tahu latar belakang Anda... sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia bisnis."
Beberapa direktur antek Baskoro tampak tersenyum meremehkan mendengar sindiran tersebut.
Nadia tidak marah. Ia justru terkekeh pelan, sebuah tawa meremehkan yang membuat Baskoro seketika teringat kembali pada bayangan Nadia Kirana.
"Tuan Baskoro, Anda tidak perlu cemas soal kemampuan adaptasi saya," sahut Nadia sembari menatap Baskoro tepat di matanya. "Justru saya yang cemas dengan kemampuan Anda memimpin perusahaan ini. Berdasarkan berkas laporan kuartal terakhir yang saya pelajari tadi malam..." Nadia memberi isyarat pada Adrian.
Adrian dengan cepat menekan tombol, dan layar proyektor besar di ruang rapat langsung menampilkan grafik kerugian serta aliran dana mencurigakan dari proyek mega-pelabuhan logistik yang selama ini telantar.
"...perusahaan ini mengalami kebocoran dana hampir dua puluh persen di bawah kepemimpinan Anda," lanjut Nadia dengan nada suara yang tenang namun menusuk. "Dan tebak ke mana aliran dana itu pergi? Ke beberapa perusahaan cangkang di luar negeri yang fiktif. Bukankah itu disebut sebagai penggelapan aset, Tuan CEO?"
Seluruh ruang rapat seketika gempar. Para pemegang saham lain langsung menatap Baskoro dengan pandangan menuntut penjelasan. Mereka selama ini dibohongi oleh laporan keuangan palsu yang disajikan Baskoro.
Wajah Baskoro seketika berubah merah padam menahan amarah sekaligus kepanikan yang luar biasa. Ia menggebrak meja dengan keras. "Chelsea! Jangan lancang! Kamu tidak punya hak untuk menuduhku tanpa bukti yang sah di ruang rapat ini!"
"Saya punya bukti yang sangat sah, Tuan Baskoro," balas Nadia, ketenangannya berbanding terbalik dengan kemarahan Baskoro. "Dan sebagai langkah awal saya sebagai direktur baru, saya mengajukan mosi tidak percaya dan menuntut diadakannya audit investigasi menyeluruh terhadap seluruh proyek pelabuhan logistik mulai hari ini."
Nadia mengedarkan pandangannya ke arah para pemegang saham lain. "Siapa di antara kalian yang ingin menyelamatkan uang kalian dari kehancuran? Silakan angkat tangan dan setujui mosi saya."
Satu per satu pemegang saham independen yang selama ini tidak puas dengan kinerja Baskoro mulai mengangkat tangan mereka, menyetujui tuntutan Chelsea. Baskoro menyaksikan dengan mata terbelalak bagaimana kekuasaan mutlaknya di dalam ruangan itu perlahan-lahan mulai runtuh hanya dalam waktu sepuluh menit sejak Chelsea menginjakkan kaki di sana.
Nadia berdiri dari kursinya, merapikan blazernya yang tanpa cela. Ia menatap Baskoro yang kini menatapnya dengan pandangan penuh dendam yang membara.
"Rapat hari ini selesai, Tuan Baskoro," ucap Nadia dengan senyuman miring yang penuh kemenangan. "Nikmati kursimu yang empuk itu selagi bisa. Karena tidak lama lagi, aku sendiri yang akan menyeretmu turun dari takhta curianmu ini."
Nadia membalikkan badannya dan melangkah keluar dari ruang rapat dengan kepala tegak, meninggalkan ruang rapat yang kacau balau dan Baskoro yang napasnya memburu menahan murka. Langkah pertamanya di dalam kantor lamanya telah sukses besar; dia baru saja menanamkan bom waktu di jantung pertahanan musuhnya.