NovelToon NovelToon
AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20 terungkap

Siang itu Bianca datang ke rumah sakit seorang diri dengan mengenakan pakaian yang cukup sederhana dan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Sejak hubungannya dengan Adrian terbongkar, ia menjadi jauh lebih berhati-hati ketika berada di tempat umum. Tatapan orang lain terkadang terasa lebih menyakitkan daripada kata-kata yang diucapkan secara langsung.

Ia baru saja keluar dari ruang dokter kandungan setelah menjalani pemeriksaan rutin yang disarankan dokter beberapa minggu sebelumnya. Di tangannya terdapat map berisi hasil pemeriksaan dan beberapa vitamin yang harus dikonsumsi setiap hari.

Meski dokter mengatakan kondisi kehamilannya baik, perasaan Bianca tetap tidak sepenuhnya tenang.

Karena sampai saat ini, kehamilan tersebut belum membawa kebahagiaan seperti yang dulu ia bayangkan.

Sebaliknya, semakin hari justru semakin banyak kecemasan yang mengikutinya.

Saat berjalan menuju lift, Bianca tanpa sengaja mengangkat wajahnya dan langkahnya langsung terhenti.

Tidak jauh di depannya berdiri Anna, adik perempuan Adrian.

Wanita itu baru saja keluar dari kantin rumah sakit sambil membawa beberapa makanan untuk ibunya yang sudah berhari-hari menjaga ayah mereka.

Untuk beberapa detik keduanya sama-sama membeku.

Anna adalah orang pertama yang menyadari map pemeriksaan yang dibawa Bianca.

Lalu matanya bergerak ke logo klinik yang tercetak jelas di bagian depan map tersebut.

Klinik Kandungan.

Wajah Anna langsung berubah.

"Apa itu..."

gumamnya pelan.

Bianca seketika menggenggam map tersebut lebih erat.

Jantungnya berdegup semakin cepat.

Ia tidak pernah membayangkan akan bertemu anggota keluarga Adrian dalam keadaan seperti ini.

Terlebih di rumah sakit tempat ayah Adrian sedang dirawat.

Anna menatap Bianca dengan tidak percaya.

Kemudian pandangannya perlahan turun ke arah perut wanita itu.

Meski belum terlihat jelas, berbagai kemungkinan langsung bermunculan di dalam pikirannya.

Dan hanya ada satu kesimpulan yang membuat wajahnya semakin pucat.

"Kamu hamil?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Pelan.

Namun cukup membuat Bianca kehilangan kata-kata.

Keheningan yang terjadi beberapa detik berikutnya sudah menjadi jawaban yang cukup.

Anna tidak membutuhkan penjelasan lagi.

Tatapan terkejut di matanya perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.

Marah.

Kecewa.

Dan juga sedih.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, Anna segera berbalik dan berjalan cepat menuju ruang rawat ayahnya.

Pikirannya kacau.

Ia bahkan tidak sadar langkahnya semakin cepat dari biasanya.

Begitu tiba di ruang tunggu keluarga, ia langsung menemukan ibunya yang sedang duduk sendirian sambil membaca laporan kondisi kesehatan suaminya.

"Bu..."

Suara Anna terdengar gemetar.

Ibu Adrian langsung mengangkat wajah.

"Ada apa?"

Anna duduk di sampingnya.

Beberapa kali mencoba mengatur napas sebelum akhirnya mengucapkan kalimat yang membuat wajah ibunya langsung berubah.

"Aku baru lihat Bianca."

Mendengar nama itu saja sudah cukup membuat ekspresi wanita paruh baya tersebut menegang.

Namun kalimat berikutnya membuat seluruh tubuhnya membeku.

"Dia keluar dari dokter kandungan."

Laporan medis yang berada di tangan ibu Adrian perlahan terlepas.

Matanya membesar.

Untuk sesaat ia bahkan tidak mampu berbicara.

"Apa maksudmu?"

tanyanya pelan.

Seolah berharap dirinya salah dengar.

Anna menundukkan kepala.

"Aku nggak tahu pasti."

jawabnya jujur.

"Tapi sepertinya... dia hamil."

Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.

Ibu Adrian memejamkan mata perlahan.

Dadanya terasa sesak.

Karena jika dugaan itu benar, maka keadaan yang sudah rumit akan menjadi jauh lebih buruk.

Pikirannya langsung tertuju pada Nadia.

Pada wanita yang selama bertahun-tahun berusaha menjadi bagian keluarga mereka.

Pada wanita yang menangis saat kehilangan calon anaknya.

Dan pada wanita yang kini sudah tidak lagi menjadi menantunya karena pengkhianatan putranya sendiri.

Air mata perlahan menggenang di sudut mata ibu Adrian.

Bukan karena bahagia.

Melainkan karena rasa kecewa yang semakin dalam.

"Jangan bilang apa-apa pada ayahmu."

ucapnya akhirnya.

Suaranya terdengar lemah.

"Sekarang jangan."

Anna langsung mengangguk.

Ia memahami maksud ibunya.

Kondisi ayah mereka baru mulai stabil setelah beberapa hari dirawat.

Berita seperti ini bisa kembali memperburuk kesehatannya.

Ibu Adrian menatap pintu ruang perawatan yang tertutup rapat.

Di balik pintu itu, suaminya masih berusaha pulih dari kekecewaan yang disebabkan putra mereka sendiri.

Dan kini, sebuah kenyataan baru kembali datang menghantam keluarga mereka.

Sebuah kenyataan yang untuk sementara harus tetap disimpan rapat-rapat, setidaknya sampai kondisi suaminya cukup kuat untuk menerimanya.

Bianca masih berdiri di dekat taman kecil rumah sakit setelah pertemuannya yang tidak terduga dengan Anna. Tangannya menggenggam map hasil pemeriksaan dengan erat, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang membuat dadanya semakin sesak. Ia tahu cepat atau lambat keluarga Adrian akan mengetahui kehamilannya, tetapi ia tidak pernah membayangkan semuanya terjadi secepat ini dan di tempat seperti ini.

Beberapa kali ia mencoba melangkah pergi, namun kakinya terasa berat.

Perasaannya kacau.

Ketakutan yang selama ini berusaha ia abaikan akhirnya datang menghampirinya.

Tidak lama kemudian terdengar langkah kaki tergesa dari belakang.

Bianca menoleh.

Dan wajahnya langsung pucat.

Ibu Adrian berdiri beberapa meter darinya dengan tatapan yang belum pernah Bianca lihat sebelumnya.

Bukan sekadar tidak suka.

Bukan sekadar marah.

Melainkan kemarahan seorang ibu yang merasa keluarganya telah dihancurkan sedikit demi sedikit.

"Jadi benar."

Suara wanita itu bergetar.

Tatapannya turun ke arah map yang masih berada di tangan Bianca.

"Kamu benar-benar hamil."

Bianca membuka mulut, ingin menjelaskan sesuatu, namun tidak ada kata yang keluar.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia merasa benar-benar tidak memiliki pembelaan.

Karena apa pun yang dikatakannya sekarang tidak akan mengubah kenyataan yang telah terjadi.

"Apa belum cukup?"

tanya ibu Adrian.

Matanya mulai memerah.

"Rumah tangga anak saya hancur."

"Nama keluarga kami jadi bahan pembicaraan."

"Suami saya sampai masuk rumah sakit."

Napasnya terdengar berat karena emosi yang selama ini dipendam.

"Lalu sekarang kamu datang membawa masalah baru lagi?"

Bianca menundukkan kepala.

Air matanya mulai menggenang.

Namun wanita di hadapannya tidak lagi memiliki belas kasihan.

Setidaknya tidak saat ini.

"Saya tidak pernah berniat seperti ini."

ucap Bianca dengan suara bergetar.

"Saya juga tidak menginginkan semuanya terjadi seperti ini."

Kalimat itu justru membuat ibu Adrian tertawa pahit.

"Tidak menginginkan?"

ulangnya.

"Lalu kenapa kamu tetap mendekati suami orang?"

Bianca tidak mampu menjawab.

Karena pertanyaan itu terlalu tajam.

Dan jauh di dalam hatinya, ia sendiri tidak tahu kapan simpati berubah menjadi perasaan yang akhirnya menghancurkan banyak orang.

Emosi yang selama ini ditahan ibu Adrian akhirnya meledak.

Ia melangkah maju dengan mata yang dipenuhi kemarahan dan mengangkat tangannya.

Bukan untuk melukai dengan serius, melainkan sebagai luapan emosi yang sudah terlalu lama tertahan.

Namun sebelum tangannya sempat menyentuh Bianca, seseorang tiba-tiba muncul dari samping dan menahan pergelangan tangannya.

"Ibu!"

Suara itu terdengar keras.

Bianca dan ibu Adrian sama-sama menoleh.

Adrian berdiri di sana.

Wajahnya tegang.

Tatapannya penuh kepanikan.

Ia baru saja tiba di rumah sakit untuk menjenguk ayahnya ketika mendapat telepon dari Anna yang mengatakan ibunya sedang mencari Bianca.

Tanpa berpikir panjang ia langsung berlari ke area taman.

Dan yang dilihatnya adalah ibunya yang hampir menampar Bianca.

"Ibu, cukup."

ucap Adrian dengan napas yang masih memburu.

Namun tindakan itu justru membuat kemarahan ibunya semakin besar.

Wanita itu menarik tangannya dengan kasar lalu menatap Adrian tidak percaya.

"Kamu masih membelanya?"

Adrian terdiam.

"Setelah semua yang terjadi?"

Suara ibunya semakin meninggi.

"Ayahmu masih terbaring di rumah sakit."

"Nadia pergi karena ulah kalian."

"Keluarga kita berantakan."

"Dan yang kamu lakukan sekarang adalah melindunginya di depan ibumu sendiri?"

Beberapa pengunjung rumah sakit mulai menoleh.

Beberapa perawat yang melintas ikut memperhatikan dengan cemas.

Suasana yang awalnya tenang perlahan berubah menjadi keributan yang menarik perhatian banyak orang.

"Ibu, ini bukan tempat untuk membahas semuanya."

ucap Adrian berusaha menenangkan keadaan.

Namun kalimat itu justru terdengar seperti pembelaan di telinga ibunya.

"Bukan tempat?"

ulang wanita itu.

"Kalau bukan karena kalian, aku juga tidak akan berdiri di sini!"

Air mata mulai mengalir di pipinya.

Bukan hanya karena marah.

Tetapi karena kecewa.

Sangat kecewa.

Bianca yang sejak tadi berdiri diam hanya bisa menangis.

Semakin lama ia berada di sana, semakin jelas baginya bahwa hubungan yang dulu ia perjuangkan telah meninggalkan luka di terlalu banyak orang.

Bukan hanya Nadia.

Bukan hanya Adrian.

Tetapi seluruh keluarga mereka.

Di tengah keributan itu, beberapa petugas rumah sakit akhirnya mendekat dan meminta mereka menurunkan suara demi kenyamanan pasien lain.

Namun suasana sudah terlanjur kacau.

Tatapan orang-orang di sekitar terasa menekan dari segala arah.

Dan untuk pertama kalinya, saat melihat ibunya menangis di depan umum sementara Bianca berdiri ketakutan di sampingnya, Adrian merasakan sesuatu yang sangat menyakitkan.

Ia tidak lagi tahu siapa yang harus dibela.

Karena apa pun yang ia lakukan sekarang, selalu ada seseorang yang terluka akibat keputusan yang pernah ia ambil sendiri.

Sejak hari pertama menangani perkara Revano Ravendra, Nadia bekerja dengan kecepatan yang bahkan membuat timnya sendiri kewalahan mengikutinya. Berbeda dengan biasanya yang akan mengambil waktu untuk menganalisis setiap kemungkinan secara mendalam, kali ini Nadia seolah memiliki tenggat waktu yang tidak diketahui siapa pun.

Hanya dirinya yang tahu alasan sebenarnya.

Ia ingin segera menyelesaikan semuanya.

Semakin cepat kasus ini berakhir, semakin cepat ia bisa meninggalkan firma, meninggalkan kota ini, dan menjauh dari semua kenangan yang terus menghantuinya setiap hari.

Selama beberapa minggu berikutnya, Nadia hampir tidak memberikan kesempatan kepada pihak lawan untuk bernapas.

Ia memeriksa seluruh transaksi keuangan mantan kekasih Revano, menelusuri komunikasi yang terjadi sebelum skandal tersebut meledak ke media, hingga menyusun kronologi yang begitu rinci sampai setiap celah kebohongan mulai terlihat satu per satu.

Tim investigasi yang bekerja di bawah arahannya bahkan berhasil menemukan bukti bahwa wanita tersebut menerima sejumlah dana dari pihak tertentu tidak lama sebelum konferensi pers dilakukan.

Semakin dalam penyelidikan berlangsung, semakin jelas bahwa perkara ini bukan sekadar tuntutan seorang wanita yang mengaku hamil.

Ada motif lain di balik semuanya.

Revano beberapa kali dibuat terkejut oleh cara kerja Nadia.

Wanita itu hampir tidak pernah membicarakan kehidupan pribadinya.

Tidak pernah mengeluh.

Tidak pernah menunjukkan emosi berlebihan.

Namun ketika bekerja, fokusnya benar-benar luar biasa.

Seolah seluruh dunia menghilang dan yang tersisa hanya perkara yang sedang berada di tangannya.

Suatu sore ketika tim hukum kedua belah pihak kembali dipertemukan untuk proses mediasi dan klarifikasi terakhir, Nadia datang dengan membawa seluruh bukti yang telah berhasil dikumpulkannya.

Map-map tebal memenuhi meja.

Dokumen transaksi.

Percakapan elektronik.

Laporan investigasi.

Dan beberapa kesaksian tambahan.

Semuanya tersusun rapi.

Mantan kekasih Revano yang sebelumnya masih terlihat percaya diri perlahan mulai kehilangan ketenangannya.

Setiap kali Nadia membuka bukti baru, wajah wanita itu semakin pucat.

Karena untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa semua kebohongan yang selama ini dibangun mulai runtuh di hadapannya.

Nadia tidak meninggikan suara.

Tidak mengintimidasi.

Tidak menunjukkan sikap arogan.

Justru ketenangannya yang membuat suasana semakin menekan.

Dengan suara datar dan profesional, ia menjelaskan satu per satu ketidaksesuaian dalam pengakuan pihak lawan.

Setiap jawaban yang diberikan langsung dipatahkan oleh bukti yang sudah disiapkannya.

Tidak ada ruang untuk menghindar.

Akhirnya, setelah hampir dua jam proses berlangsung, wanita itu mulai menangis.

Tangannya gemetar.

Wajahnya pucat.

Dan untuk pertama kalinya sejak kasus dimulai, ia menundukkan kepala.

"Saya mengakuinya."

Suara itu terdengar pelan.

Namun cukup membuat seluruh ruangan terdiam.

Air mata terus mengalir di wajahnya.

"Saya berbohong."

Revano yang duduk di seberang meja langsung menegang.

Meskipun selama ini ia yakin dirinya dijebak, mendengar pengakuan langsung tersebut tetap terasa berbeda.

Wanita itu terisak sebelum melanjutkan.

"Anak itu bukan anak Revano."

"Aku melakukan semuanya karena dijanjikan uang."

Kalimat itu terasa seperti akhir dari seluruh drama yang selama berminggu-minggu memenuhi media dan mengganggu kehidupannya.

Ruangan mendadak sunyi.

Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan.

Tidak ada lagi yang perlu dibuktikan.

Kasus tersebut pada akhirnya selesai jauh lebih cepat dari perkiraan banyak orang.

Setelah seluruh dokumen penyelesaian ditandatangani dan para pihak mulai meninggalkan ruangan, Revano masih duduk di tempatnya.

Tatapannya mengikuti sosok Nadia yang sedang membereskan berkas-berkasnya.

Tidak ada ekspresi kemenangan di wajah wanita itu.

Tidak ada kebanggaan.

Tidak ada kepuasan.

Padahal ia baru saja menyelesaikan salah satu perkara paling rumit dalam waktu yang sangat singkat.

"Selamat."

ucap Revano pelan.

"Kasus ini selesai karena Anda."

Nadia hanya tersenyum tipis.

Senyum yang terlihat sopan namun menyimpan kelelahan yang sulit dijelaskan.

"Kasus ini selesai karena fakta berada di pihak Anda."

jawabnya tenang.

Kemudian ia menutup map terakhir dan berdiri.

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu bekerja tanpa henti, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Karena satu beban akhirnya terangkat.

Satu janji akhirnya terpenuhi.

Dan satu langkah lagi membawanya lebih dekat pada keinginannya untuk meninggalkan semua masa lalu yang selama ini terus membayanginya.

Namun tanpa disadari Nadia, seseorang di ruangan itu justru mulai memperhatikannya lebih dari sekadar seorang pengacara.

Karena di balik ketegasan dan kecerdasannya, Revano mulai melihat seorang wanita yang sedang berusaha bertahan setelah hatinya dihancurkan oleh kehidupan.

1
Mundri Astuti
emang ...ga ngotak si klo mo berkhianat, kan semuanya kena imbasnya, tu perempuan pilihan kamu
Mundri Astuti
ulah Bianca lagi ke nya, klo Iyya bener" ni org, masih aja ga da kapok"nya, oi ni tuh semua juga krn kamu
Mundri Astuti
si Adrian yg diingetnya calon anaknya yg sama Bianca, yg sama Nadia ga sama sekali, padahal sama" darah dagingnya juga, coba anak yg dikandung Bianca meninggal kira" gimana tu org yak🤔
Mundri Astuti
diiihhh bisa bisanya ngomong gitu, habis menghancurkan semuanya...karmanya yg kejam thor buat tu duo dajjal
Mundri Astuti
bagusnya pasangan duo laknat ini masuk bui, dan dpt sangsi sosial, selama ini Nadia yg kena getahnya padahal mereka yg berbuat
Mundri Astuti
woahhhh pasangan duo laknat ternyata...sama" mencapai ambisinya sendiri
Mundri Astuti
semoga lekas terungkap, dan karma tu duo dajjal
Mundri Astuti
hati" Anna, kamu dah bicara terbuka, semestinya di simpan dulu sendiri sambil cari bukti..klo dah begini bakalan panik pelakunya dan mencoba menghilangkan brg bukti
Mundri Astuti
Adrian romannya yg nyelakain ayahnya sendiri...fix double kill ni mah karmanya thor
Mundri Astuti
mudah"an Nadia jadi sama Revano yg lebih segalanya, biar tau rasa si Adrian ...beuhhh Nadia tuh lebih berharga dari selingkuhannya
Mundri Astuti
Thor kasih Adrian dan selingkuhannya karna yg double kill, masih ga ada penyesalan dan ga ngerasa bersalah banget dia, padahal dia tau Nadia juga mengandung anaknya, dan posisinya sendiri krn pengkhianatan ya...

coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!