NovelToon NovelToon
Menyamar Demi Kamu

Menyamar Demi Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Idola sekolah
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Umi Nurhuda

Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.

Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.

Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.

​Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.

Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Sabotase dan Ancaman

​Dilan membawa komplotannya menyelinap ke lorong laboratorium komputer yang sedang kosong dan tidak terpakai. Demi menjaga keamanan jalur itu, ia menugaskan Naru untuk berdiri berjaga di depan pintu masuk koridor.

​Naru hanya mengangguk patuh dengan wajah lempeng, lalu bersandar di dinding koridor, mengawasi situasi luar dengan tatapan yang sulit diartikan.

​Di ambang pintu lab., Dilan langsung menatap Dika dengan tegang. "Lo udah matiin jalur CCTV untuk ruangan ini, kan?"

​"Aman, Bos. Gue udah cabut saklar pembagi daya IP Camera lorong ini dari boks panel di ujung sana," bisik Dika sambil menyeka keringat dingin di dahinya karena telah berhasil mencongkel penutup boks tersebut.

"Tapi di ruang monitor pusat pasti bakal muncul notifikasi Video Loss. Supaya nggak ketahuan satpam kampus, kita harus gerak cepat sebelum mereka datang ngecek!"

​"Alah, nggak bakal lama. Paling cuma butuh waktu tiga menit," sahut Dilan meremehkan. Ia langsung mengeluarkan segenggam bata dan gunting dari sakunya.

"Waktunya penghancuran," kekehnya.

​Ketiganya bergerak seperti kesurupan. Hanya dalam waktu singkat, lima komputer berspesifikasi tinggi milik Akademi sudah pecah monitornya dan kabel-kabel terputus akibat digunting oleh mereka.

"Ayo, cepet! Cepet!" bisiknya memberi perintah. "Habis ini kita balik kumpul sama yang lainnya supaya nggak dicurigai."

​Sesuai rencana licik Dilan, jebakan ini sengaja disiapkan khusus untuk memfitnah kuartet Multimedia. Setelah ini, Dika akan menyalakan kembali CCTV-nya. Lalu, dengan umpan sebuah perintah palsu, Dilan akan menjebak Nuha dan kawan-kawan untuk masuk ke lab kosong ini sendirian.

​Saat kuartet Multimedia masuk, mereka pasti akan syok melihat kondisi lab. Dan begitu mereka menyentuh komputer-komputer rusak itu karena panik, sidik jari mereka akan tertinggal di sana, sementara kamera CCTV di atas mereka sudah merekam keberadaan mereka di dalam ruangan.

Mereka bakal gagal bersenang-senang di Malioboro dan malah dihukum berat. Bahkan, kemungkinan terburuknya adalah mereka berempat bakal ditahan di sini saat anak-anak pulang kembali ke Solo.

​Di luar ruangan,

Naru yang mendengar grasak-grusuk dari dalam lab. hanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan teka-teki. Dilan mengira dia sedang mengendalikan permainan, tanpa sadar bahwa Naru sudah langsung melakukan skenario tandingan yang jauh lebih mematikan.

Setelah selesai melakukan sabotase, Dilan dan komplotannya buru-buru menyelinap keluar dari laboratorium. Tak lupa, kamera CCTV dinyalakan kembali seperti sediakala.

​Mereka segera bergabung kembali dengan rombongan besar yang tengah mendengarkan briefing dari guru pendamping untuk agenda jalan-jalan sore di Malioboro. Beberapa peraturan dibacakan, termasuk durasi waktu bebas selama tiga jam, di mana seluruh siswa wajib sudah berkumpul kembali di bus tepat jam tujuh malam.

​Saat guru masih sibuk berbicara di depan, Dilan menyenggol lengan Bagas, memberi kode. Bagas segera bergerak mendekati Dimas, salah seorang teman sekelas kuartet Multimedia untuk menitipkan pesan palsu.

​Detik berikutnya, Dimas sudah menghampiri mereka. "Nuha, lo dipanggil sama Kak Naraya di Lab. Komputer Ruang X. Katanya ada hal yang penting banget," katanya.

​"Hal penting?" Nuha mengernyit.

​"Iya," balas Dimas.

​Nuha saling berpandangan dengan ketiga sahabatnya yang sama-sama menunjukkan raut wajah heran.

​"Nggak apa-apa, Nuh. Kita temenin ke sana bentar. Waktu buat ke Malioboro juga masih banyak kok," angguk Sifa menenangkan.

​"Iya, baiklah. Thanks, Dimas."

​Melihat kuartet Multimedia mulai berjalan memisahkan diri dari rombongan besar, Dilan yang mengawasi dari jauh menyunggingkan senyum kemenangan yang kelewat sombong.

"Nikmatilah hukuman kalian. Bentar lagi satpam bakal mergoki kalian di lab itu, dan kalian nggak akan bisa mengelak!" batin Dilan kegirangan, lalu berjalan jumawa memimpin komplotannya menuju keluar Akademi.

​Di koridor yang mulai sepi, langkah kaki Nuha dan ketiga sahabatnya mendadak terhenti ketika Naru tiba-tiba memanggil dan mencegah mereka dengan langkah ringan.

​"Sebaiknya kalian tidak ke sana," ujarnya datar. "Ruangan itu ... horor."

​"Heh?! Kok bisa?!"

Nuha langsung merinding.

​"Maksud lo apa, sih?" sanggah Asa ketus, menatap Naru dengan penuh rasa tidak percaya. Begitu pula dengan Sifa yang sejak awal sudah menaruh curiga karena tahu Naru adalah bagian dari komplotan Dilan.

​Fani ikut menimpali, "Jangan dengerin dia, Nuha. Kakak kamu lho yang manggil. Entar kalau nggak disamperin malah dimarahin."

​"Tapi ... katanya ruang itu horor?" cicit Nuha ragu, nyalinya ciut juga mendengar hal yang mistis.

​Melihat reaksi Nuha,

Naru sebenarnya ingin tertawa terpingkal-pingkal saat itu juga. Namun, ia mati-matian menahan ekspresinya agar tetap terlihat sedingin dan selempeng mungkin.

​"Biasanya, tempat umum yang sudah sepi sore-sore begini ... sering dipakai nongkrong sama hantu," tambahnya dengan nada suara yang sengaja dibuat rendah dan misterius.

​Nuha langsung terjengit di tempat. Ketakutan yang amat sangat membuat seluruh tubuhnya merinding disko, memicu sensasi geli yang menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubunnya sampai ia harus bergidik heboh.

​Melihat umpan horornya bekerja dengan sangat baik, Naru sengaja menirukan suara tawa mistis dengan volume super pelan, "Iihihihihi ... tuh, dengar, nggak? Mereka sudah mulai manggil-manggil nama kalian, apalagi agak remang begini suasananya."

​"HIYAAAAA!"

Nuha menjerit histeris.

"​Astaga ... gue kangen banget sama jeritan cemprengnya ini," batin Naru geli, hatinya mendadak menghangat secara ilegal. Rencana sabotase Dilan gagal total hanya dengan satu taktik horor murahan darinya.

​Tepat saat Nuha masih heboh ketakutan, dari arah aula ujung koridor terdengar suara bariton yang sangat familier memanggil mereka.

​"Woy, kalian berempat! Mau ke mana?!" Muha berjalan menghampiri adik dan teman-temannya dengan kening berkerut. "Bukannya langsung keluar, malah main-main di lorong sepi begini."

​Nuha yang masih syok langsung menunjuk kakinya yang gemetar. "Tapi ... kata Dimas tadi Kakak nyuruh aku ke Lab Ruang X, aku--"

​"Nggak ada. Berani banget dia bohongin kamu yang mudah kena tipu. Kakak dari tadi di aula," potong Muha cepat, lalu mengibaskan tangannya mengusir mereka. "Sana, cepat keluar! Jajan sana di Malioboro sebelum Kakak berubah pikiran dan larang kalian buat jajan!"

​Tanpa babibu lagi, Nuha yang ketakutan setengah mati langsung menarik lengan ketiga sahabatnya untuk lari tunggang langgang dari koridor itu, meninggalkan Muha yang kebingungan dan Naru yang diam-diam tersenyum puas di balik punggungnya.

Mungkin yang lebih serem Kak Muha kali.

​Muha melenggang pergi,

meski sebelumnya sempat melemparkan tatapan tajam dan penuh selidik ke arah pemuda Jepang itu. Naru tahu betul arti tatapan itu, sebuah peringatan sunyi yang cukup menegangkan dari seorang kakak yang protektif.

"​Di Jepang ada Kakek yang mengekangku. Di sini ada Muha yang rupanya cukup otoriter juga," batin Naru sambil berjalan mengekor di belakang dengan langkah santai. "Tapi ... di sini rasanya jauh lebih menyenangkan."

​Di samping Muha, Yuki yang ikut berjalan bersama mereka berseloroh ramah, "Anak sekolahan memang menyenangkan ya. Keceriaan mereka itu bikin gemas."

​Pluk!

​Muha tanpa perasaan menoel keras kepala sahabatnya itu menggunakan gulungan kertas rundown. "Lo lihat dari sisi mana, hah? Muka lo jangan kayak kakek-kakek mesum yang nggak kedip setiap ada anak cewek lewat." Sumpah demi apa pun, Muha tidak ingin sahabat keturunan Jepang ini mendadak punya fetish aneh terhadap anak SMA.

​"Sembarangan lo!" sanggah Yuki sewot sambil mengusap kepalanya. "Gue cuma bicara tentang kebebasan mereka! Rugi banget tahu kalau di masa-masa sekolah begini mereka nggak senang-senang."

​"Karena bagi gue, masa SMA itu masa yang paling indah. Masa di mana masalah terbesar lo cuma sebatas tugas sekolah atau cinta monyet yang bertepuk sebelah tangan. Lo bisa tertawa lepas sama teman-teman tanpa harus memikirkan beban tagihan, tekanan kerja, atau ekspektasi dunia luar yang menuntut lo jadi orang dewasa. Masa-masa penuh warna yang bakal selalu bikin lo kangen waktu udah tua nanti."

​Muha terdiam sejenak, meresapi kalimat puitis Yuki sebelum akhirnya mendengus tipis. "Terserah lo deh. Tapi kalau lo ketahuan godain adik gue atau teman-temannya, gue pastiin lo pulang ke Jepang tinggal nama. Sama kayak, DIA!"

Muha membalikkan badan. Menunjuk ke arah Naru dengan telunjuk yang sangat lurus dan tegas.

Naru menghentikan langkahnya, "Yare-yare ... Belum apa-apa udah dapet anceman setegas itu," keluh Naru dalam Hati. "Nuha ... Nuha ... Apa sih yang bikin aku jadi suka sama kamu, heran deh aku."

Disaat bersamaan,

ponsel mereka berdua berdering bersama.

.

.

. Next》Bab 22. Sampai jumpa besok 👋

1
Surya Alfian
WKWKWK "BAMBANG" gue ngakak.
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
Surya Alfian
gue kira mau dicipok ini ciwi, deg-degan woy!! 😳❤️ Kelihatan kalau dia udah mulai jatuh hati tanpa sadar.
Surya Alfian
Gue jadi pengen tahu pas Kakeknya nanti turun tangan bakal segila apa. 🍿😏
Surya Alfian
Ending-nya manis banget, asli bikin senyum. 😆💕 Waduh, fix ini mah udah masuk fase salah tingkah. 😂🌸
Surya Alfian
Scene Muha sama Nuha di meja makan tuh adem banget. 🥹☕ Kakaknya galak tapi kelihatan banget sayangnya tulus, sementara Nuha polos banget sampai bikin gue senyum-senyum sendiri. Chemistry kakak-adiknya enak dibaca.
Surya Alfian
Wkwkwk Naru ini licik level dewa.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Surya Alfian
😭📖 Doa Naru ke kakeknya kerasa tulus banget. Gue fix lanjut baca cuma buat tahu kenapa dia sampai harus minta "kebebasan". 🚀
Surya Alfian
🤔❤️ Dia perhatian banget sampai hafal detail-detail kecil tentang Nuha, tapi kalimat "cuma gue yang boleh memahami dia" itu vibes-nya agak posesif. Gue jadi penasaran dia bakal jadi green flag atau malah red flag nantinya. 👀
Surya Alfian
Dilan akhirnya kena mental. 😮‍💨👏
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
Muft Smoker
mereka lucuu kan ,, 😂😂😂😂 ,,



kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Mega Siregar
padahal sebagai seorang dokter jiwa seharusnya tahu bahwa memanjakan anak tanpa ada kasih sayang dan perhatian dan pengajaran tentang hidup dari orang tua, hanya membuat seorang anak menjadi rusak
ginevra
ketikannya.... sumpah alay banget ini dilan....
ginevra
kakeknya keterlaluan sih... nggak heran baru jadi nggak betah. kasih kelonggaran dikit lah ...
Xlyzy
sumpah keterlaluan banget, pengen tak ketuk pala nya pakek martil
Xlyzy
Jahat ih kalian jangan gitu lah aku ketuk nih kening nya kalau nakal
Filan
gimana kalau diajak pacaran sama Naru? apa dia ga mikir ke sana?
Kan dia suka sama Naru.
Miu.Nuha: iya nanti dilemanya disitu...
Nuha blm sadar kalo dia suka, dia cuma lagi seneng2nya jatuh cinta #eh
total 1 replies
Filan
btw, Muha ini emang gampang marah juga ya.
Filan
ya ampun, tidur dua hari?
Filan
'persahabatan' yang punya arti lain,
Filan
tanggung jawabnya macam apa, aslinya lu ga punya apa-apa.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!