NovelToon NovelToon
Korban Dua Cinta

Korban Dua Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Teen / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Celah di Balik Lensa

Matahari siang itu bersinar terik, memantulkan cahaya menyilaukan di atas lantai marmer teras belakang. Udara terasa gerah, namun Alya tetap berdiri di dekat pintu kaca yang menghubungkan ruang keluarga dengan taman dalam.

Matanya menatap lurus ke depan, tetapi fokusnya bukan pada jajaran tanaman hias mahal milik Reza, melainkan pada sebuah benda kecil berbentuk kubah hitam yang menempel di sudut langit-langit teras.

Lensa kamera CCTV itu berkedip pelan dengan lampu indikator merah yang statis. Menatapnya, mengawasinya, merekam setiap embusan napasnya.

"Mbak, saya taruh jus jeruknya di meja, ya," suara Ningsih terdengar sedikit keras dari arah ruang tengah, sengaja dibuat sealami mungkin agar terdengar wajar jika mikrofon kamera menangkap suara mereka.

"Iya, Ningsih. Terima kasih. Tolong sekalian ambilkan gunting tanaman di dekat gudang, ya. Aku mau merapikan beberapa daun yang kering," balas Alya dengan volume suara yang sama tenangnya.

Itu adalah kode yang sudah mereka sepakati pagi tadi.

Alya melangkah keluar menuju halaman rumput dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat, sedikit malas, seperti seorang ibu rumah tangga muda yang bosan dan tidak punya kerjaan.

Gaun terusan katun berwarna hijau pupus yang ia kenakan berkibar pelan ditiup angin siang. Di bawah pengawasan kamera, ia berjalan mendekati pot-pot bunga, membungkuk sedikit untuk memeriksa kelopak mawar, lalu berjalan lagi ke arah sudut kiri halaman.

Di dekat pohon kenanga besar yang rimbun, Ningsih sudah berdiri memegang gunting tanaman besar. Posisinya tepat membelakangi kamera utama yang terpasang di langit-langit teras.

"Bagaimana?" bisik Alya tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Ia berpura-pura menunjuk ke arah ranting pohon kenanga yang menjuntai.

Ningsih ikut membungkuk, seolah sedang mendengarkan instruksi majikannya. "Aman, Mbak. Dari sudut teras sana, lensa kamera tidak bisa menembus rimbunnya daun kenanga ini. Batas pandangannya terputus tepat dua meter sebelum pot gantung ini.

Jadi, kalau Mbak berdiri di balik batang pohon ini, di monitor Bapak, Mbak hanya akan terlihat seperti menghilang di balik rimbunnya daun."

Alya mengangguk samar. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. "Lalu pagar bambu di belakang pohon ini?"

"Aman juga," bisik Ningsih, jemarinya bergerak pura-pura memangkas daun kering.

"Pagar bambu ini berbatasan langsung dengan dinding pembatas komplek yang rendah. Di balik dinding ini ada gang buntu yang jarang dilewati orang. Kemarin saya sudah melonggarkan ikatan kawat di bagian bawah dua bilah bambu ini."

"Kalau Mbak geser sedikit, tubuh mungil Mbak bisa lolos dengan mudah. Dari gang buntu itu, Mbak tinggal jalan kaki lima puluh meter ke depan untuk mencapai jalan raya utama tempat ojek daring bisa menjemput."

"Bagus sekali, Ningsih," ucap Alya lirih. Ia mengambil alih gunting tanaman dari tangan Ningsih, lalu melakukan simulasi kecil. Ia berjalan wajar ke balik batang pohon kenanga, membiarkan tubuhnya sepenuhnya tersembunyi dari sudut pandang teras selama beberapa menit, seolah sedang sibuk memotong ranting di bagian dalam.

Di monitor pengawas, Reza hanya akan melihat istrinya berjalan ke sudut taman dan beraktivitas di sana. Alibi yang sempurna untuk latihan siang ini. Tidak ada gerakan yang mencurigakan, tidak ada kepanikan. Hanya rutinitas membosankan dari seorang wanita yang terkurung.

Setelah memastikan titik buta itu aman, Alya kembali ke kamarnya di lantai atas. Waktu perkuliahan tinggal seminggu lagi, dan ia tahu ia tidak bisa hanya mengandalkan jalur pelarian fisik. Ia harus memiliki alibi legal secara verbal yang bisa membenarkan hilangnya ia dari rumah di waktu-waktu tertentu, atau setidaknya, memberikan alasan mengapa ia membutuhkan uang lebih banyak dan pakaian yang berbeda.

Alya duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya lama. Jari-jarinya terasa dingin saat membuka ruang obrolan dengan Reza. Ia harus menyusun kata-kata yang tidak memicu kecurigaan, sesuatu yang justru akan membuat Reza merasa menang karena berpikir istrinya telah sepenuhnya menyerah dan mencari kesibukan lain untuk menerima nasib.

Alya mengetik perlahan:

Mas, aku bosan di rumah terus. Bolehkah aku ikut kelas aerobik atau gym di sanggar khusus wanita dekat komplek? Trainernya juga perempuan semua. Aku butuh olahraga supaya tidak stres di rumah. Kalau Mas izinkan, aku minta uang tambahan untuk biaya pendaftaran bulanan dan beli baju olahraga.

Ia menekan tombol kirim. Napasnya tertahan selama beberapa menit.

Ponselnya bergetar lima menit kemudian. Jantung Alya mencelos.

Reza: Berapa biayanya?

Alya segera membalas: Pendaftaran dan bulan pertama satu setengah juta, Mas. Sudah termasuk seragam kaos tim dari sanggarnya.

Satu menit. Dua menit. Layar ponselnya menunjukkan notifikasi transfer bank masuk ke rekeningnya. Jumlahnya tiga juta rupiah. Dua kali lipat dari yang ia minta.

Reza: Aku sudah transfer. Ikut saja yang di dekat komplek. Ingat, jangan pergi ke tempat yang jauh dan jangan keluyuran setelah selesai. Pulang langsung ke rumah. Aku tidak mau mendengar laporan kau keluyuran lagi.

Alya menatap layar itu dengan senyuman pahit yang mengembang di bibirnya. Berhasil.

Reza mengizinkannya bukan karena peduli pada kesehatannya, melainkan karena itu adalah "solusi murah" untuk menjaga agar bonekanya tidak menjadi gila dan merusak reputasinya.

Bagi Reza, membiarkan Alya menghabiskan energi di sanggar aerobik khusus wanita sejauh satu kilometer dari rumah adalah hal yang aman. Itu menjauhkan Alya dari dunia luar yang sesungguhnya—dan yang paling penting, menjauhkannya dari kampus.

Alya segera turun ke bawah dengan langkah yang sengaja dibuat sedikit lebih ringan. Di ruang tengah, ia berpapasan dengan Aminah yang sedang mengelap vas bunga.

"Bu Aminah, Mas Reza mengizinkan. Sore ini aku mau langsung ke lokasi aerobik untuk mendaftar," ujar Alya dengan nada suara yang ditinggikan agar terdengar oleh mikrofon CCTV di dekat lampu gantung.

Aminah yang sudah paham langsung menoleh dan tersenyum lebar, berakting dengan sempurna. "Alhamdulillah, Mbak! Bagus itu, biar Mbak Alya ada kegiatan dan sehat. Naik apa ke sananya, Mbak?"

"Pesan ojek online saja, Bu. Kan dekat, cuma di depan gerbang komplek luar," jawab Alya.

Ada kepahitan kecil yang menyelinap di hatinya saat mengucapkan kata "ojek online".

Meskipun Reza mendandaninya dengan gaun-gaun mahal dan memberinya uang jajan bulanan yang setara dengan UMR karyawan swasta, pria itu secara sistematis membatasi ruang geraknya. Alya tidak difasilitasi kendaraan bermotor.

Tidak ada mobil pribadi untuknya, tidak ada sepeda motor. Jika ia ingin pergi, ia harus mengandalkan transportasi daring, yang artinya setiap riwayat perjalanannya tercatat di aplikasi—sesuatu yang sewaktu-waktu bisa diperiksa oleh Reza jika pria itu mau.

Namun, bagi Alya, ini adalah awal dari kelonggaran jeruji penjaranya.

Pukul empat sore, Alya sudah bersiap-siap. Ia mengenakan celana training hitam longgar dan jaket olahraga berwarna biru tua yang menutupi seluruh lekuk tubuhnya serta menyembunyikan sisa memar di lengannya. Rambut panjangnya dikuncir kuda dengan rapi.

Ia melangkah keluar melalui pintu depan, berjalan melewati teras, dan dengan sengaja menatap sekilas ke arah kamera CCTV di dekat garasi dengan wajah datar, memastikan Reza bisa melihat wajahnya yang bersih tanpa luka baru hari ini jika pria itu memeriksa rekaman.

Di depan pagar, sebuah sepeda motor ojek daring sudah menunggu. Alya naik ke atas motor, mengenakan helm yang disodorkan sang pengemudi, dan motor pun melaju membelah angin sore komplek perumahan yang asri namun terasa mati bagi Alya.

Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit untuk sampai ke Sangkar Hati, sanggar aerobik khusus wanita yang terletak di ruko dua lantai di luar gerbang utama komplek.

Tempat itu cukup ramai. Alunan musik berirama cepat terdengar berdentum hingga ke luar parkiran.

Alya turun dari motor, menyerahkan helm, dan melangkah masuk. Begitu melewati pintu kaca, aroma keringat, parfum buah-buahan, dan bedak langsung menyergap indra penciumannya.

Puluhan wanita dengan berbagai bentuk tubuh dan usia tampak sedang bergerak lincah mengikuti instruksi seorang trainer wanita berwajah tegas di depan kaca besar.

Alya berjalan menuju meja administrasi di sudut ruangan. Seorang wanita muda dengan pakaian olahraga ketat menyambutnya dengan ramah. "Selamat sore, Mbak. Ada yang bisa dibantu? Mau ikut kelas aerobik atau zumba?"

Alya tersenyum, mengeluarkan dompetnya.

"Sore, Mbak. Saya mau daftar kelas aerobik reguler untuk satu bulan ke depan. Jadwal sore pukul empat."

"Baik, boleh diisi dulu formulirnya, Mbak," ucap petugas itu sambil menyodorkan selembar kertas dan pulpen.

Sambil mengisi nama dan alamatnya, mata Alya bergerak liar mengamati sekeliling ruko. Lantai satu digunakan untuk kelas utama, sementara lantai dua tampaknya digunakan untuk ruang ganti, loker, dan kamar mandi.

Tempat ini memiliki pintu belakang yang terhubung langsung dengan area parkir motor bagian belakang ruko yang tembus ke jalan tikus menuju arah kampusnya.

Alya menyelesaikan pembayaran. Petugas administrasi menyerahkan sebuah kartu anggota berwarna merah muda dan sepotong kaos seragam olahraga sanggar berwarna kuning terang.

"Jadwalnya setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat jam empat sore ya, Mbak Alya. Datang sepuluh menit sebelum kelas dimulai," jelas petugas itu.

"Terima kasih, Mbak," jawab Alya.

Ia memegang kartu anggota itu dengan erat. Di dalam kepalanya, potongan-potongan rencana yang semula abstrak kini mulai mengeras menjadi strategi yang solid. Kelas aerobik ini diadakan setiap Senin, Rabu, dan Jumat pukul empat sore hingga lima sore.

Sementara jadwal kuliah malamnya di kampus swasta itu dimulai pukul tujuh malam pada hari yang sama.

Ada jeda waktu dua jam di antaranya.

Alya berjalan menuju kamar mandi di lantai dua ruko untuk mengganti pakaiannya dengan kaos seragam yang baru ia terima, mumpung ia masih di sana. Saat berdiri di depan cermin kamar mandi yang sepi, ia menatap kaos kuning terang itu.

Warna yang mencolok. Warna yang akan diingat oleh siapa pun yang melihatnya sore ini. Termasuk kamera CCTV di rumahnya nanti saat ia pulang.

Bagus, pikir Alya. Biarkan semua orang, termasuk Reza dan kamera-kamera sialan itu, merekam dengan jelas bahwa sore ini aku benar-benar pergi dan pulang dari tempat aerobik ini.

Ia menarik napas dalam-dalam, menatap matanya sendiri di cermin. Kilatan kepolosan yang dulu mendominasi wajahnya kini telah sepenuhnya digantikan oleh sorot mata seorang penyintas yang sedang menyusun langkah catur pertamanya.

"Seminggu lagi," bisik Alya pada pantulan dirinya sendiri. "Seminggu lagi, sangkar ini akan terbuka."

Ia merapikan jaketnya kembali, menyembunyikan kaos kuning itu di balik ritsleting, lalu melangkah turun untuk memesan ojek daring kembali ke rumah. Babak pemanasan telah selesai.

Sekarang, tinggal menunggu waktu untuk menggerakkan bidak yang sesungguhnya di bawah kegelapan malam tanpa suara.

1
falea sezi
kpn cerai
falea sezi
cpet buat cerai thor najis amat ampe Gita berbagi batangan reza😒
falea sezi
alya goblok🤣mending cerai sekarang lah bloon amat lu di jadiin serep cerai pergi jauh bego
Nihayatuz Zain
🦾
La Rue
ehm mencari celah dari Reza malah ketemu Diana. Tapi ini asumsiku saja, semoga saja tidak seperti apa yang terganbar diotakku 🤔🤭
Halwah 4g
wahhhhh...🤣🤣🤣 kecolongan q
Bp. Juenk: selamat menikmati kk
total 1 replies
M. T🌻
keren banget thor.
jangan lupa mampir yaa🤭
Bp. Juenk: siap. terimakasih
total 1 replies
Key Kastara
😍🔥✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!