Laras demi membahagiakan ibunya yang menginginkan cucu, rela menerima suami temannya yang dijadikan barang jaminan agar bisa mendapatkan uang yang banyak.
Seiring berjalannya Waktu, Laras benar-benar jatuh cinta pada suami jaminannya yang bernama Rayyan. Demikian pula Rayyan yang ternyata amnesia karena kecelakaan dan ditemukan oleh istri pertamanya( Naya) ia jatuh cinta pada Laras.
Mengetahui suaminya ternyata kaya raya, Naya ingin kembali pada suaminya dan melakukan berbagai usaha untuk memisahkan Rayyan dan Laras.
Akankah Laras bahagia dengan Rayyan? Siapakah yang akan dipilih Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.6 Pengantin Baru?
Laras terdiam berpikir dengan tenang. Bagaikan makan buah simalakama. Tidak datang maka dia akan kehilangan pelanggan, jika dia datang akan pergi dengan siapa itu yang bikin Laras bingung.
Tidak mungkin Laras membawa Rayyan karena mereka hanya menikah kontrak saja. Takutnya ke depan jika sudah tidak bersama, maka akan jadi kehebohan di media masa. Semua rahasia akan terkuak dan nama baiknya akan menjadi bahan bullian di media masa.
"Mbak kok melamun?"
"Hmm ... Mbak bingung, Gea. Benar-benar dilema," ucap Laras memijat pangkal hidungnya.
"Tenang, Mbak. Kan mbak ada Rayyan yang bisa bantu, minta aja bantuan nya. Toh gak ada yang kenal dia, yang penting semua selamat dulu. Jangan sampai nyonya Indira kabur dari butik kita."
"Rayyan kamu mau bantu mbak Laras kan?" tanya Gea langsung pada Rayyan tanpa basa-basi basi lagi. Gea tidak ingin kehilangan pelanggan yang merupakan istri orang paling berkuasa di kota itu bahkan di beberapa negara. Memiliki cabang bisnis di beberapa negara benua Asia, Eropa dan Timur Tengah.
"Bantu apa ya, Mbak Gea?" tanya Rayyan tidak paham dengan apa yang dibicarakan antara Laras dan Gea.
"Kamu hanya perlu menjadi pasangan mbak Laras di pesta nanti malam. Bagaimana, Rayyan?" jawab Gea tanpa basa-basi. Hanya Rayyan lah satu-satunya harapan kedua wanita itu.
"Tapi aku gak punya baju yang bagus untuk untuk ke pesta, Mbak," sahut Rayyan jujur. Memang selama ini dia tidak punya baju bagus selain kaos untuk jualan. Naya jarang membelikan baju hem atau kemeja untuk Rayyan.
"Kamu tenang saja, pokoknya kamu tinggal siapin orang aja gak usah yang lain. Nanti jam lima sore Gea akan ke sini lagi membawa jas dan kemeja buat Rayyan. Dan satu lagi, berapa ukuran sepatumu, Rayyan?" tanya Gea sembari melihat ke bawah kaki Rayyan. Gea merasa yakin untuk sepatu pun Rayyan juga tidak punya.
"Ukuran sepatuku 41, Mbak. Emang nanti malam harus pakai sepatu? Aku punyanya sepatu untuk lari itu, Mbak. Apa gak apa-apa pakai itu?" tanya Rayyan polos, memang yang dia punya hanyalah sepatu olah raga itupun yang sudah butut.
"Rayyan, sudah kamu tenang aja. Pokoknya mbak akan bikin kamu tampil berbeda malam ini. Mbak akan sulap kamu seperti seorang Presdir tampan yang ada di drama Korea itu, hahaha ... Mbak Laras, aku permisi ya, mau siapin semua. Nanti sore aku ke sini sekalian bawa gaun dan jas untuk kalian berdua," ucap Gea ngeloyor begitu saja.
Laras hanya melongo melihat tingkah absurd asistennya itu. Dari Gea lah Laras bisa menyelamatkan nyawa sang ibu.
"Mbak, aku mau potong rambut terlebih dahulu, biar tambah ganteng. Rambutku sudah panjang begini. Gak apa-apa kan, Mbak aku potong rambut?" ucap Rayyan bersemangat untuk menghadiri pesta nanti malam. Merasa dirinya akan bertemu dengan teman-teman Laras, maka Rayyan perlu merapikan penampilannya.
Laras menatap ke arah Rayyan yang memiliki rambut yang sudah agak panjang. Tampan sih, tapi karena kurang perawatan jadi terlihat kusam. Tiba-tiba timbul ide di dalam benak Laras, dia akan membuat Rayyan menjadi sosok yang bisa dibanggakan.
"Rayyan, ikut mbak. Mbak akan mengajakmu pergi ke suatu tempat. Di sana kamu akan terlihat lebih ganteng dan juga lebih bersih. Kamu tunggu di sini, mbak bil kunci mobil dan tas dulu," ucap Laras bangkit dari tempat duduknya. Rayyan menganggukkan kepala, sejujurnya dia tidak enak dengan Laras. Seharusnya lelaki lah yang mengajak wanitanya untuk perawatan, sedangkan ini terbalik.
"Ayo, Ray. Mumpung emak ke pasar kita bisa pergi dengan leluasa," ucap Laras menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan ibunya. Jam menunjukkan delapan pagi waktunya Mak Harti pergi ke pasar. Sudah jadi kebiasaan Mak Harti belanja sayuran dan kebutuhan dapur untuk di masak keesokan harinya.
Rayyan mengangguk dan mengekor Laras dari belakang. Mereka berdua menaiki mobil Laras dengan Laras sebagai supirnya sedangkan Rayyan duduk di kursi samping Laras.
Rayyan terdiam, dia merasa pernah berada di posisinya saat ini. Dia duduk sama persis dengan posisinya saat ini.
"Mas Ray, kenapa kamu diam, Mas. Apa kamu tidak ingin ikut ke pesta itu?" tanya Laras mulai terbiasa dengan kehadiran Rayyan. Entah mengapa dengan Rayyan dia bisa begitu cepat nyaman, tidak seperti dengan lelaki lain yang menurut Laras itu tidak menyenangkan dan bikin trauma.
"Enggak ada, Mbak. Hanya saja saya merasa de Javu. Pernah berada posisi yang sama seperti saat ini," jawab Rayyan sembari memperlihatkan posisi duduknya.
"Mungkin saat itu mas Rayyan pernah naik apa gitu yang posisinya sama seperti saat ini," sahut Laras.
"Iya kali ya, Mbak. Duh kepalaku malah jadi pusing, Mbak," keluh Rayyan memegangi kepalanya.
Ciiit ...
Laras menepikan mobilnya dan berhenti.
"Mas Ray, gak apa-apa?" tanya Laras dengan khawatir.
"Sssh ... Gak apa-apa kok, hanya pusing dikit aja," jawab Rayyan sembari mengerjapkan kedua bola matanya.
"Mas, minum lah dulu. Aku ada obat pereda sakit kepala. Sebentar aku cari dulu, biasanya ada di dalam tas," ucap Laras membuka tasnya dan mengeluarkan obat pereda sakit kepala yang biasa ia pakai saat sakit kepala karena terlalu banyak lembur.
"Terima kasih, Mbak," jawab Rayyan menerima obat sakit kepala dari Laras. Setelah meminum obat itu, Rayyan sudah tenang dan kepalanya tidak berdenyut lagi.
"Sudah baikan? Kita pulang aja atau lanjut?" tanya Laras mengambil bekas bungkus obat dari tangan Rayyan.
"Lanjut aja, Mbak. Rayyan gak mau buat mbak Laras kecewa. Ini dah baikan kok," jawab Rayyan memejamkan matanya. Memori yang sempat singgah di ingatan Rayyan sudah tidak mengganggu lagi.
"Ya udah, nanti di sana kamu akan lebih rileks dan juga lebih bugar," ucap Larasati seraya menghidupkan kembali mobil Pajero sport nya.
Sepuluh menit kemudian mobil itu memasuki halaman salon pria dan wanita yang terpisah. Di sana melayani perawatan rambut dan treatment wajah.
"Ayo kita turun, kita manjakan diri kita agar lebih rileks," ucap Laras mengajak Rayyan turun dan memasuki salon mewah milik pelanggan butiknya.
"Selamat pagi, Mbak Laras. Tumben berdua, sama suaminya yak?" tanya si pemilik salon khusus datang menemui Laras. Mereka berdua sangat akrab, setiap kali pelanggan Laras mencari jasa MUA maka Laras akan mengarahkannya di salon dengan nama Azura Ladies and Gentl Salon-MUA.
"Pagi, Mbak Safa. Iya nih, kenalkan mas Rayyan. Dia suamiku, kami menikah baru kemarin," ucap Laras tanpa malu memperkenalkan Rayyan pada temannya.
Rayyan menatap haru pada Laras yang sama sekali tidak malu mengakuinya sebagai suami. Berbeda dengan Naya yang malu jika jalan bersama. Terkadang malah mengakui Rayyan sebagai kakaknya bahkan kalau dengan teman gaulnya, Naya mengakui Rayyan sebagai tukang kebun.
"Wah, aku ikut bahagia, Mbak. Sebagai kado dariku, pagi ini mbak Laras dan suami aku bebaskan perawatan di sini. Bagaimana?" ujar Safa pemilik salon.
"Yang benar? Wah rizki nomplok ini. Gak nyangka bakal gratis perawatan. Mas, kita dapat rizki nomplok ini. Kamu memang bawa hoki, Mas! Jarang banget lho aku dapat gratisan, bahkan belum pernah sama sekali. Eh, sekali ajak mas Rayyan malah dapat gratisan. Namanya rizki kan, Mas?" ucap Laras tanpa sadar memeluk lengan Rayyan.