Di sudut tergelap Distrik Kumuh Oakhaven, Ren bertahan hidup sebagai pelayan di sebuah rumah bordil sekaligus tempat penampungan anak-anak telantar. Di balik fisiknya yang tampak biasa dan otaknya yang encer, Ren menyembunyikan kutukan sekaligus berkah: ia adalah keturunan Vampir terakhir yang murni, terpaksa menahan dahaga darah agar tidak memicu kecurigaan Gereja Suci.
Dunia Ren runtuh ketika sekelompok Ksatria Suci berzirah perak—yang seharusnya menjadi simbol kehormatan—membantai tempat tinggalnya demi menutupi skandal korupsi ordonya. Di ambang kematian, Ren merangkak ke ruang bawah tanah rahasia dan menemukan Crimson, roh pedang kuno yang haus darah. Demi membalaskan dendam dan mengubah takdirnya, Ren memulai jalannya sebagai Sword Master yang tidak biasa: memadukan teknik pedang legendaris dengan kekuatan darah yang terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.Ketakutan
*SHIIING!*
Suara gesekan bilah hitam *Crimson Edge* tiruan yang keluar dari sarungnya memotong keheningan Aula Penghakiman bagai suara terompet kematian. Garis-garis merah tua di sepanjang bilah pedang itu menyala terang, berdenyut selaras dengan detak jantung vampir Ren yang kian mengencang melalui *Blood Circulation* tingkat penuh.
"P-Penjaga! Eksekusi dia sekarang juga!" Kardinal Malakai berteriak panik, suaranya yang semula penuh keangkuhan kini bergetar hebat.
Dari balik pilar-pilar marmer, tiga puluh Ksatria Elit Ordo Perak—para petarung Tingkat 5 yang menjadi benteng terakhir Istana Putih—melompat turun dengan pedang dua tangan terhunus. Mereka membentuk formasi pengepungan melingkar, melepaskan *Holy Mana Breath* secara bersamaan hingga menciptakan dinding cahaya yang mengunci posisi Ren.
Ren berdiri diam, menatap kepungan itu dengan *smug* dingin yang acuh tak acuh. Otak cerdasnya mengalkulasi pergerakan mereka dalam hitungan milidetik.
"Formasi yang rapi," bisik Ren halus. "Tapi sayangnya... terlalu lambat."
*Dug!*
Jantung Ren berdenyut sekali dengan keras. Menggunakan akselerasi instan *Blood-Stride* tingkat penuh yang dipadukan dengan teknik getaran frekuensi tinggi, tubuh Ren mencair menjadi bayangan hitam yang melesat di antara dinding-dinding cahaya.
*CRASH! CRASH! CRASH!*
Tanpa ada yang bisa melihat gerakannya, Ren melintas di sela-sela barisan ksatria elit. Bilah hitam *Crimson Edge* miliknya memotong pergelangan tangan dan sendi zirah mereka dengan presisi kalkulatif yang mengerikan. Senjata-senjata emas mereka berjatuhan, berdentang keras di atas lantai marmer yang kini mulai tergenang cairan merah pekat.
Hanya dalam waktu lima detik, tiga puluh ksatria elit itu tumbang, mengerang kesakitan sambil memegangi luka mereka. Ren berdiri di tengah-tengah mereka tanpa setetes pun darah yang mengotori jubah hitamnya.
### Teror sang Predator
Ren membalikkan badannya lambat, menatap langsung ke arah Kardinal Malakai yang kini terduduk lemas di takhta perisainya.
Rambut perak abu-abu Ren bergerak sedikit diterpa angin energi yang meluap dari tubuhnya. Di bawah temaram Aula Penghakiman yang kini beralih mencekam, sepasang mata crimson Ren menyala seutuhnya dengan pendaran merah darah yang pekat. Satu matanya berkilat intens, melepaskan guratan energi streaks merah yang sangat tajam, mengunci mental sang Kardinal hingga ia tidak mampu menggerakkan satu jari pun.
Sesungging *dangerous smirk* yang begitu dingin terukir di wajah tampan Ren. Ia melangkah menaiki tangga marmer menuju tribun tertinggi, menyeret ujung pedang hitamnya hingga meninggalkan goresan dalam yang memercikkan api merah.
**"Hahaha! Lihat wajah-wajah pengecut itu, Ren! Mereka mengira bisa mengurung serigala dengan pagar benang!"** Crimson tertawa puas di dalam kepala Ren, tato di lengan bawahnya memancarkan pendaran hangat yang kian masif. **"Habisi tetua sialan itu dan klaim takhta ini!"**
Ren berhenti tepat tiga langkah di depan Kardinal Malakai. Ujung bilah *Crimson Edge* tiruan yang masih meneteskan darah suci para ksatria kini berada tepat di bawah dagu sang Kardinal, memaksanya untuk mendongak menatap sang predator puncak.
"Tuduhanmu tadi... mari kita ubah menjadi kenyataan," Ren berbisik halus, suaranya begitu tenang namun sarat akan otoritas absolut yang mencekik. "Mulai hari ini, Kekaisaran Suci Elisia tidak lagi dipimpin oleh dewan penakut seperti kalian. Karena tempat ini... sudah resmi menjadi wilayah perburuan baruku."aku akan mencari kalian dia mana pun kalian berada di tempat sekecilpun dapat ku temukan".