NovelToon NovelToon
SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Bagi Zei, dunia hanyalah hamparan lumpur sawah Desa Danau Keruh dan beratnya cangkul di pundak. Namun, segalanya runtuh dan lahir kembali ketika ia menyaksikan Turnamen Musim Semi. Di atas panggung kuarsa, ia melihat Qian Yue’er—sang "Permata" dari Sekte Cendrawasih—bertarung dengan keanggunan yang menyerupai tarian burung surga.

​Terpikat oleh keindahan yang mustahil itu, Zei menolak takdirnya sebagai petani. Menggunakan Qi elemen tanah yang kasar dan memodifikasi alat tani menjadi senjata, ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen. Di tengah cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya "pungguk merindukan bulan", Zei harus bertarung melawan rasa mindernya sendiri.

​Ini bukan tentang menjadi yang terkuat di kolong langit, ini tentang sebuah janji naif seorang anak desa: agar bisa berdiri di panggung yang sama dan melihat sang bulan menari sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARAH MALAM DI GANG SEMPIT

​Bau obat-obatan herbal yang menyengat bercampur dengan dinginnya udara malam menembus indra penciuman Zei. Ia berbaring kaku di atas dipan kayu ruang medis stadion, menatap langit-langit batu dengan napas yang masih terasa berat. Di atas dadanya, selendang sutra putih milik Qian Yue’er masih terselimut, memancarkan kehangatan batin yang perlahan tapi pasti menetralisasi sisa-sisa racun es yang membekukan meridian energinya. Namun, untuk saat ini, dantiannya masih terasa kosong murni. Ia tidak bisa mengalirkan sepeser pun Qi tanahnya.

​A-Lang duduk di samping dipan, dengan cemas menyeka keringat dingin di dahi Zei menggunakan kain basah. "Bertahanlah, Zei. Tetua Gu sedang mencari ramuan tambahan untuk memulihkan tenagamu."

​BRAKK!

​Pintu kayu ruang medis mendadak ditendang hingga hancur berkeping-keping. Tetua Gu melangkah masuk dengan terburu-buru, namun ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketenangan seorang pemabuk tua yang biasa. Wajahnya mengeras, penuh guratan keseriusan yang mencekam.

​"Bangun! Kita harus pergi sekarang juga!" desis Tetua Gu, suaranya rendah namun bergetar oleh urgensi yang mendesak. "Sekte Taring Besi sudah menyuap para penjaga stadion. Mereka mengunci semua pintu keluar utama dan bergerak ke mari. Aku bisa mencium bau karat besi dan belati beracun dari jarak seratus langkah."

​A-Lang membelalak horor. "A-apa? Di dalam stadion turnamen? Bagaimana mungkin mereka seberani itu?"

​"Turnamen sudah selesai bagi mereka, Bocah bodoh! Master Sekte mereka kehilangan jutaan keping emas karena taruhan, dan harga diri mereka diinjak-injak oleh Zei," potong Tetua Gu sembari menarik lengan Zei untuk duduk. "Bantu aku memapahnya. Kita gunakan jalur pembuangan limbah bawah tanah."

​Dengan sisa tenaga yang dipaksakan, Zei merangkul pundak A-Lang. Tubuhnya terasa seberat batu gunung, lumpuh total. Mereka bertiga bergerak cepat menembus pintu rahasia di belakang ruang medis, memasuki saluran air kotor yang sempit dan berbau busuk yang bermuara di luar dinding luar stadion.

​Namun, pelarian mereka tidak berjalan mulus. Baru saja mereka berjalan sejauh lima puluh meter di dalam lorong bawah tanah yang remang-remang, tiga bayangan manusia melompat turun dari lubang langit-langit. Mereka mengenakan pakaian hitam ketat dengan topeng besi berbentuk moncong serigala—pembunuh bayaran elit Sekte Taring Besi. Di tangan mereka, belati hitam yang dilumuri racun memantulkan cahaya obor dinding yang temaram.

​"A-Lang, bawa anak itu pergi. Biar mereka menjadi urusanku," ucap Tetua Gu, melangkah maju memblokir jalan lorong sempit tersebut.

​"Tapi, Senior—" Zei mencoba memprotes dengan suara parau.

​"Pergi, Bocah! Jangan meremehkan orang tua ini!" Raung Tetua Gu.

​Untuk pertama kalinya, Zei melihat Tetua Gu melepaskan kekuatannya yang sesungguhnya. Tanpa menggerakkan tangan atau kakinya, hanya dengan satu hentakan napas batin yang dahsyat, aura tanah berwarna cokelat tua yang sangat pekat meledak dari tubuh pria tua itu. Struktur batu lorong bawah tanah bergetar hebat. BLARR! Langit-langit batu di depan mereka runtuh secara instan, menjepit dan mengubur dua pembunuh bertopeng besi di bawah puing-puing raksasa, sekaligus memutus jalur lorong.

​"Jalan lewat sini! Cepat!" seru A-Lang, menarik tubuh Zei menembus pintu keluar darurat yang menuju ke gang-gang sempit di luar stadion.

​Hujan gerimis mulai turun, membasahi jalanan setapak Kota Kecamatan yang sepi dan gelap. A-Lang terus memapah Zei dengan napas yang memburu, langkah kakinya tersandung-sandang di atas permukaan batu yang licin. Zei setengah terseret, merutuki kelemahan fisiknya sendiri yang saat ini tidak lebih berguna dari seonggok daging tak berdaya. Selendang putih Yue’er di dadanya basah oleh air hujan, namun kehangatannya masih terus berjuang mencairkan kebekuan di dalam dadanya.

​WUSH! WUSH!

​Langkah mereka mendadak terhenti di sebuah gang buntu yang diapit oleh dinding batu tinggi rumah-rumah bangsawan. Dari atas atap, tiga sosok murid senior Sekte Taring Besi mendarat dengan anggun, menutup satu-satunya jalan keluar dari gang tersebut. Salah satu dari mereka adalah murid inti yang membawa gada berduri besar.

​"Mau lari ke mana lagi, Tikus Sawah?" seringai murid bergada itu, menatap Zei dengan pandangan penuh kemenangan. "Hari ini, tidak ada arena, tidak ada wasit, dan tidak ada hukum yang bisa melindungimu. Master Sekte memerintahkan kami untuk membawa kepalamu kembali ke markas."

​Zei mencoba mengerakkan kakinya, namun ia langsung terjatuh berlutut di atas genangan air hujan. "A-Lang... tinggalkan aku. Lari..." bisik Zei, suaranya tercekat di tenggorokan.

​A-Lang menatap ketiga pembunuh di depannya dengan tubuh yang gemetar hebat karena rasa takut yang teramat sangat. Air matanya menetes bersamakan dengan aliran air hujan di pipinya. Ia adalah seorang yatim piatu, seorang pelayan kedai yang penakut, yang tidak pernah bertarung seumur hidupnya. Namun, saat menatap tubuh Zei yang tak berdaya di belakangnya—sahabat yang selalu melindunginya sejak dari Desa Danau Keruh—sesuatu di dalam jiwa penakut A-Lang mendadak mengeras.

​A-Lang membungkuk, memungut sebatang kayu tebal bekas runtuhan kusen jendela di dekatnya. Dengan tangan yang gemetar namun cengkeraman yang erat, ia berdiri tegak di depan tubuh Zei, merentangkan kedua tangannya.

​"Jika... jika kalian ingin menyentuhnya, langkahi dulu mayatku!" teriak A-Lang, suaranya melengking tinggi menantang maut di tengah deru gerimis malam.

​"Bocah tolol," dengus murid Taring Besi itu meremehkan.

​Dengan satu gerakan cepat, murid bergada itu melesat maju. Gada berdurinya diayunkan secara horizontal, menghantam dada A-Lang tanpa ampun. PRAKK! Kayu di tangan A-Lang hancur berkeping-keping, dan tubuh ringkihnya terlempar keras menabrak dinding batu sebelum akhirnya jatuh terjerembab di atas tanah.

​"A-Lang!" jerit Zei, matanya terbelalak lebar.

​Pembunuh itu tidak berhenti. Ia berjalan mendekati A-Lang yang merintih kesakitan dengan tulang rusuk yang tampaknya patah, lalu menendang wajah A-Lang berulang kali hingga darah segar menyembur, membasahi genangan air hujan di sekitar mereka. A-Lang tidak bisa lagi berteriak; ia hanya bisa memeluk kepalanya sendiri di atas tanah, mencoba menahan siksaan demi memberikan waktu bagi Zei.

​Melihat sahabatnya dihajar dan bersimbah darah di depan matanya sendiri, sesuatu di dalam dada Zei mendadak pecah berkeping-keping. Rasa tidak berdaya, frustrasi, dan keputusasaan yang menumpuk sejak tadi mendadak berubah menjadi kemarahan murni yang membakar seluruh jiwanya.

​Cukup... CUKUP! raung Zei di dalam batinnya.

​Merespons luapan emosi ekstrem tersebut, selendang sutra putih Qian Yue’er di dada Zei mendadak bersinar terang, melepaskan seluruh energi hangatnya secara instan ke dalam jantung Zei. Sisa-sisa es yang membelenggu dantiannya langsung mencair dan hancur total dalam hitungan detik.

​Dipicu oleh kemarahan emosional yang meluap-luap, aliran Qi tanah di dalam tubuh Zei meledak secara paksa dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, warna energinya kini berubah total. Bukan lagi warna emas redup yang hangat, melainkan warna hitam kecokelatan yang sangat pekat, liar, dan penuh dengan aura kehancuran—sebuah manifestasi dari amarah bumi yang terkoyak.

​Zei perlahan bangkit berdiri di bawah guyuran hujan. Langkah kakinya kini tidak lagi goyah. Begitu telapak kakinya menyentuh permukaan batu gang sempit, lantai batu di sekelilingnya sejauh tiga meter langsung retak, hancur, dan ambas ke bawah secara instan akibat tekanan aura gravitasi yang luar biasa mengerikan.

​Ketiga pembunuh Sekte Taring Besi mendadak menghentikan aksinya. Mereka berbalik, dan wajah mereka seketika memucat saat melihat sosok Zei yang berdiri di kegelapan malam.

​Sepasang mata Zei kini tidak lagi hitam; manik matanya menyala dengan warna merah-emas yang berkilat kejam di balik tirai hujan. Rambutnya yang basah berantakan tertiup angin aura hitam yang berputar-putar di sekeliling tubuhnya seperti badai lumpur purba. Jubah rami cokelatnya berkibar keras, memancarkan niat membunuh yang begitu pekat hingga membuat udara di gang buntu itu terasa mencekam dan menyesakkan dada.

​Zei mengambil satu langkah maju ke arah mereka, meninggalkan jejak kaki yang hancur sedalam tiga inci di atas batu keras. "Kalian... harus membayar setiap tetes darah sahabatku dengan nyawa kalian."

​Malam itu, di dalam gang sempit yang gelap dan buntu, sang petani dari Desa Danau Keruh tidak lagi bertarung untuk memperebutkan gelar juara turnamen. Ia melangkah maju dengan murka bumi yang membatu, siap untuk melakukan pembantaian pertamanya di luar arena demi melindungi apa yang berharga baginya.

1
y@y@
👍🏾⭐👍🏻⭐👍🏾
y@y@
💥🌟👍🏿🌟💥
y@y@
👍🏿⭐👍🏻⭐👍🏿
y@y@
🌟👍🏾👍🏼👍🏾🌟
y@y@
💥👍🏿👍🏻👍🏿💥
y@y@
🌟👍🏾👍🏼👍🏾🌟
y@y@
⭐👍🏿👍🏻👍🏿⭐
y@y@
💥👍🏾👍🏼👍🏾💥
y@y@
🌟👍🏿👍🏻👍🏿🌟
y@y@
⭐👍🏾👍🏼👍🏾⭐
y@y@
💥🌟👍🏻🌟💥
y@y@
⭐👍🏾👍🏼👍🏾⭐
y@y@
👍🏿👍🏻🌟👍🏻👍🏿
y@y@
💥👍🏾👍🏼👍🏾💥
y@y@
⭐👍🏿👍🏻👍🏿⭐
y@y@
🌟👍🏼👍🏻👍🏼🌟
y@y@
⭐👍🏿👍🏾👍🏿⭐
y@y@
👍🏻⭐👍🏿⭐👍🏻
y@y@
👍🏾🌟👍🏼🌟👍🏾
y@y@
💥🌟👍🏼🌟💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!