NovelToon NovelToon
Mrs. Only His

Mrs. Only His

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.

Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.

Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.

Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.

Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.

Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.

Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.

Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#2

Willem Daendels melangkah keluar dari penthouse dengan kemarahan yang masih mendidih di dalam dadanya.

Setiap entakan langkah kakinya di atas lantai marmer lobi atas mencerminkan ego yang terluka setelah Pertengkaran sengit dengan Suzanne.

Namun, begitu ia melangkah masuk ke dalam lift pribadi yang membawanya meluncur turun menuju basemen, kemarahan yang berapi-api itu seketika bermutasi menjadi kecemasan yang mencekik leher.

Kegusaran atas sikap membangkang Suzanne mendadak sirna, digantikan oleh rasa takut yang luar biasa akan kehilangan kendali atas wanita yang dipujanya.

Tangannya yang gemetar meraba saku mantel wol hitamnya, menarik keluar ponsel pintar miliknya dengan gerakan tergesa-gesa.

Dengan ibu jari yang bergerak cepat, panik, dan nyaris tidak sabar, ia membuka kunci layar dan mencari satu nama yang berada di daftar kontak favorit teratasnya.

Lydia Gonne.

Ia menekan tombol panggil dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

Nada sambung pertama terdengar, mengalun lambat dan menyiksa, beriringan dengan detak jantung Willem yang berpacu tidak karuan bak genderang perang.

Tidak diangkat.

Willem menjauhkan ponselnya, mengumpat pelan, lalu mencoba lagi.

Panggilan kedua. Nada sambung kedua, ketiga, hingga panggilan itu terputus secara otomatis dan dialihkan ke kotak suara yang dingin.

Sumpah serapah kasar lolos dari bibir Willem.

Rasa frustrasi yang membakar membuatnya lepas kendali; ia memukul dinding lift yang dilapisi cermin satin dengan kepalan tangannya, meninggalkan jejak uap samar dan bunyi dentuman keras dari buku-buku jarinya.

"Angkat, Lydia... kumohon, angkat," bisik Willem dengan suara serak yang dipenuhi keputusasaan.

Pintu lift basemen terbuka dengan dentingan halus.

Pria itu praktis berlari keluar, segera memasuki mobil sport mewah miliknya yang terparkir di slot khusus.

Deru mesin monster V8 meraung hebat, memecah keheningan lantai parkir bawah tanah yang dingin.

Dalam hitungan detik, ban mobil itu berdecit keras di atas beton sebelum melesat membelah jalanan kota Chicago yang basah dan licin setelah diguyur hujan gerimis malam ini.

Pikirannya benar-benar kacau, melompat-lompat di antara rasa bersalah dan murka.

Bayangan Lydia yang menangis sendirian atau merasa terluka karena konfrontasi dengan Suzanne membuat Willem kehilangan akal sehatnya.

Bagi pria itu, Suzanne Klatten tidak lebih dari seonggok batu sandungan kejam yang tidak punya hati, sebuah penghalang legal yang sengaja berdiri di tengah jalan menuju kebahagiaan sejati yang ia impikan bersama Lydia.

... * * *...

Di belahan kota yang lain, di dalam sebuah unit apartemen mewah berlantai marmer Carrara dengan dinding kaca masif yang menyuguhkan pemandangan langsung ke riak kelam Danau Michigan, suasana justru terasa begitu kontras.

Lydia Gonne sedang duduk bersandar dengan anggun di atas sofa beludru sewarna mawar tua.

Ia mengenakan jubah tidur sutra tipis yang mengepulkan aroma parfum vanilla mahal yang manis dan pekat di udara.

Di tangan kirinya yang lentik dengan kuku berpewarna merah menyala, terdapat segelas wine merah yang sesekali ia sesap dengan gerakan lambat, menikmati setiap sesapan seolah dunia sedang berputar sesuai dengan keinginannya.

Di atas meja kopi kaca di depannya, ponsel pintarnya terus menyala, meredup, bergetar, dan menampilkan nama "Willem" berulang kali dalam interval yang sangat rapat.

Lydia hanya menatap layar yang berkedip-kedip itu dengan tatapan mata yang dingin dan penuh perhitungan.

Ia membiarkan panggilan itu mati, lalu membiarkannya menyala lagi saat panggilan baru masuk.

Ia sengaja melakukannya.

Ini adalah taktik lama yang selalu berhasil.

Sebagai seorang wanita yang mengandalkan pesona dan manipulasi, ia tahu persis bagaimana cara mengendalikan pria keras kepala seperti Willem Daendels—membuat pria itu merasa bersalah, panik, dan merasa berada di ambang kehilangan adalah kunci utama untuk mempertahankan kendali mutlak atas diri Willem dan seluruh fasilitas mewah yang diberikannya.

Bel pintu apartemennya mendadak berbunyi nyaring, diikuti oleh ketukan tergesa-gesa dan tidak sabar yang sangat ia kenali ritmenya.

Pelayan pribadi Lydia, seorang wanita paruh baya bernama Martha, berjalan dengan langkah ragu dan kepala menunduk mendekati area ruang tamu setelah memeriksa interkom.

"Nona Lydia, Tuan Willem ada di depan pintu depan. Beliau bersikeras ingin langsung masuk dan... berpenampilan sangat panik," lapor Martha dengan suara rendah, berhati-hati agar tidak memicu kemarahan majikannya.

Lydia Gonne mendengus kesal secara sepihak, menyembunyikan binar kepuasan di matanya saat ia memberi isyarat tangan agar pelayan mempersilakan pria itu masuk.

Ia meletakkan gelas wine-nya di atas meja kaca dengan dentingan pelan namun tegas.

Sebelum pintu terbuka, ia dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya, memutar bola matanya dan menampilkan gurat wajah yang bosan serta jengkel yang dibuat-buat, meski di dalam hatinya ia tahu bahwa umpan manusianya telah memakan kail dengan sempurna.

Pintu ganda apartemen terbuka, dan Willem langsung menerobos masuk seperti angin sembako sebelum Martha bahkan sempat membuka jalur sepenuhnya.

Penampilan Willem tampak sangat berantakan untuk ukuran pria borjuis; mantel wolnya tidak terkancing dengan benar, dan rambut klimisnya yang biasa tertata rapi kini agak mencuat tidak beraturan karena jemarinya yang terus-menerus menyisirnya dengan frustrasi selama perjalanan.

Matanya yang merah menatap liar ke sekeliling ruangan sebelum akhirnya mengunci pada sosok Lydia yang masih duduk bersandar di sofa dengan wajah cemberut, sengaja memalingkan muka ke arah jendela besar.

"Ada apa lagi menemui ku? Bukankah istrimu lebih membutuhkanmu di sana?" kata Lydia.

Suaranya terdengar ketus, dingin, dan penuh dengan penolakan emosional yang sengaja dirancang untuk memancing respons protektif dan rasa bersalah yang lebih dalam dari Willem.

Willem tidak memedulikan kesopanan lagi. Ia melangkah lebar, lalu langsung berlutut di lantai berkarpet bulu domba tepat di depan sofa Lydia.

Ia meraih kedua tangan wanita itu, menggenggamnya dengan sangat erat, seolah-olah jika ia mengendurkan cengkeramannya sedikit saja, Lydia akan menguap seperti asap dan menghilang dari hidupnya.

"Aku sudah mengatakan pada Suzanne untuk tidak ikut campur hubungan kita lagi, Baby. Aku sudah memperingatkannya dengan keras. Kumohon jangan lagi marah ya," kata Willem dengan nada yang begitu perhatian dan cemas.

Suaranya melembut drastis hingga ke titik terendah, sangat kontras dengan bentakan kasar dan makian penuh intimidasi yang ia semburkan kepada Suzanne di penthouse beberapa jam yang lalu.

Tatapan matanya dipenuhi dengan permohonan yang tulus dan ketakutan yang nyata, seolah-olah wanita di hadapannya ini adalah pusat dari seluruh semesta dan napas hidupnya.

Lydia, dengan gerakan dramatis yang dinamis, dengan kasar menarik tangannya dari menggenggam tangan Willem.

Ia berdiri dari sofa dengan sentakan cepat, menciptakan jarak beberapa langkah di antara mereka seolah ia merasa jijik.

Ia memunggungi Willem, berjalan mendekati dinding kaca, lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bersiap memulai babak pertunjukannya.

"Tidak! Aku tidak mau kau kemari dan terus-menerus menghubungiku seperti ini!" teriak Lydia, suaranya mulai dibuat bergetar, mencampurkan nada amarah murni dan tangis fiktif yang terdengar sangat meyakinkan di telinga Willem.

"Istrimu... istrimu yang terhormat itu sudah menuduhku pelakor di depan umum! Dia yang menjadi orang ketiga di antara kita! Kita sudah bersama sebelum perjodohan sialan itu ada! Kenapa dia berteriak aku yang menjadi pelakornya?! Kenapa aku yang harus menanggung semua hinaan ini?!"

Lydia berbalik dengan cepat, menatap Willem dengan mata yang mulai berkaca-kaca akibat air mata yang sengaja ia desak keluar.

Dadanya kembang kempis secara dramatis, menampilkan penderitaan seorang korban yang teraniaya.

"Pergilah! Kau harus pergi dari apartemenku sekarang juga!" teriak Lydia, suaranya meninggi.

"Katakan pada istrimu yang hebat itu bahwa aku mengikhlaskanmu! Aku tidak mau dituduh jadi perempuan murahan oleh keluarga Klatten! Kau tahu itu kan, Willem?! Aku bukan perempuan murahan!" teriaknya lagi, sangat emosional hingga seluruh tubuhnya yang berbalut sutra tipis itu bergetar hebat.

Melihat wanita yang dipuja dan dijadikannya sebagai dewi kecantikan itu menangis histeris dengan tubuh bergetar karena tindakan istrinya, seluruh benteng pertahanan dan akal sehat Willem runtuh sepenuhnya tanpa sisa.

Rasa bersalah yang teramat sangat seolah menghujam lubuk hatinya yang terdalam, menyiksanya dengan pemikiran bahwa ia adalah pria tidak berguna yang gagal melindungi mutiara indahnya dari kekejaman seorang Suzanne Klatten.

Dengan langkah panik, Willem mendekatinya, langsung menarik tubuh Lydia ke dalam pelukannya dan berusaha menenangkannya dengan segala cara.

"Hsss... maafkan aku, Baby. Maafkan ketidakbecusanku," kata Willem dengan suara rendah, dalam, dan penuh kelembutan yang menenangkan, memeluk tubuh Lydia dengan sangat erat seolah ingin menyatukan wanita itu ke dalam dirinya sendiri.

"Aku akan memarahinya lagi nanti begitu aku pulang. Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu, mendatangimu, atau mengancammu lagi dengan mulut lancangnya. Suzanne tidak ada apa-apanya dibanding dirimu, Baby. Dia tidak punya hak atas diriku."

Lydia akhirnya membiarkan dirinya "menangis" di dalam pelukan hangat itu, membenamkan wajahnya di dada bidang Willem yang terbalut kemeja mahal.

Air mata yang keluar dari sudut matanya saat ini adalah campuran sempurna antara kepuasan ego dan kemenangan manipulasi murni.

Sambil terisak pelan dengan ritme yang teratur, jemarinya yang lentik mencengkeram kemeja Willem dengan erat, lalu ia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata pria itu dengan tatapan mata yang mengunci dan penuh intimidasi terselubung.

"Ingat!!" kata Lydia dengan nada suara yang merajuk namun sekaligus memberikan perintah yang mutlak dan tidak boleh dibantah.

"Kau tidak boleh menyentuh perempuan murahan itu! Sedikit pun!"

Willem tersenyum tipis, guratan kecemasan di wajahnya perlahan mencair.

Ia justru merasa sangat tersanjung dengan kecemburuan dan sikap posesif Lydia yang ia terjemahkan sebagai bukti cinta yang luar biasa besar dan tulus kepadanya.

Ia mengusap sisa air mata fiktif di pipi mulus Lydia dengan ibu jarinya secara perlahan dan penuh kasih sayang.

"Iya, Baby, aku ingat! Aku selalu ingat janji kita. Aku tidak pernah menemui dia jika tidak terpaksa, apalagi menyentuhnya," ucap Willem dengan nada meyakinkan, tanpa ada keraguan atau penyesalan sedikit pun di dalam suaranya saat melabeli istri sahnya sendiri dengan sebutan yang merendahkan demi menyenangkan hati sang kekasih gelap.

Lydia menyandarkan kembali kepalanya di dada bidang Willem, menikmati pelukan itu sementara seulas senyum kemenangan yang dingin dan tersembunyi terukir sempurna di wajahnya yang jelita.

"Terima kasih, Honey," ucap Lydia dengan suara yang kembali manja.

Benar-benar sebuah potret romansa yang berjalan begitu indah, intim, dan penuh gairah di dalam apartemen mewah itu, namun semua itu dibangun tepat di atas puing-puing penderitaan, air mata, dan harga diri Suzanne Klatten yang baru saja dihancurkan berantakan oleh pria yang sama.

Lydia memainkan kancing kemeja teratas Willem dengan jarinya, berputar-putar seolah sedang mengingat sesuatu yang mengganjal dan mengusik ketenangannya sejak lama.

"Kapan kamu akan benar-benar menceraikannya?" tanya Lydia, mendongak kembali dan menatap lurus ke dalam manik mata suaminya orang itu dengan pandangan menuntut.

Willem menghela napas panjang dan berat. Gurat frustrasi yang mendalam mengenai status internal keluarganya mendadak muncul kembali di wajahnya yang tampan.

"Sebentar lagi, Lydia. Beri aku waktu enam bulan lagi," jawab Willem dengan nada penuh permohonan agar wanita itu mengerti posisinya.

"Ayahku... orang tua-tua itu belum sepenuhnya percaya padaku untuk memimpin Daendels Group secara mutlak. Dia belum menyerahkan posisi CEO dan seluruh hak suara saham utama untukku. Jika aku menceraikannya sekarang, atau memicu skandal pernikahan di tahun pertama, semua aset, posisi, dan warisanku bisa terancam dicabut dan dialihkan."

Lydia terdiam sejenak, matanya bergerak ke bawah, menimbang-nimbang dengan cermat keuntungan finansial, status sosial, dan kekuasaan yang akan ia dapatkan jika ia memilih untuk bersabar sedikit lebih lama lagi.

Enam bulan memang waktu yang lama untuk menjadi wanita simpanan di balik bayang-bayang, tetapi mahkota resmi sebagai nyonya besar Daendels yang sesungguhnya, dengan seluruh kekayaan tak terbatas yang menyertainya, jauh lebih menggiurkan daripada sekadar kemenangan instan yang picik.

Lydia akhirnya mengangguk pelan, menampilkan wajah pasrah yang penuh pengertian.

"Terima kasih, Honey. Aku mencintaimu, dan aku akan menunggu sampai waktu itu tiba," ucap Lydia, merapatkan tubuhnya.

Hubungan terlarang mereka sebelumnya memang masih mereka sembunyikan rapat-rapat dari publik dan radar keluarga besar Daendels hingga sebulan yang lalu—tepat saat usia pernikahan Willem dan Suzanne menginjak bulan kelima.

Pada malam itu, persis sebulan yang lalu, Suzanne yang mengira bahwa pernikahan mereka masih memiliki harapan untuk diperbaiki dan dibangun dengan benar, telah mempersiapkan diri dengan ketulusan seorang istri.

Suzanne bersiap menyerahkan dirinya secara utuh untuk menjadi istri Willem seutuhnya, mencoba memenuhi kewajiban batiniah demi membangun fondasi rumah tangga yang normal.

Namun, malam itu justru menjadi malam penghinaan terbesar dan paling traumatis bagi Suzanne.

Willem mendorong tubuhnya menjauh dengan tatapan jijik, menolak sentuhannya mentah-mentah dengan kata-kata dingin yang menusuk ulu hati: "Aku tidak pernah mencintaimu, Suzanne. Dan aku tidak mau mengkhianati tubuh dan perasaan perempuan yang benar-benar kucintai."

Itulah kenyataan pahit yang harus ditelan Suzanne.

Sebuah penolakan brutal yang menghancurkan sisa-sisa harga diri dan kehormatannya sebagai seorang wanita di dalam kamar pengantin mereka sendiri.

1
nayla tsaqif
"duaarrr!!! Nya knp pke tanda baca sih thor,, berasa di kagetin sama bang eiden
😌
Ainun Mahya
lanjutkan karyamu kakak author💪💪💪
Rosdianah: Ma'aciww kak reader 🫶🥰
total 1 replies
Shankara Senja
Kadang suka kasihan sama anak yg menikah karena perjodohan atau hutang budi..dan lebih kasihan lg bertahan dng menyakiti hatinya demi ortu yg kek gini ini ..
Rosdianah: huhuhu iya banget kak🥲
total 1 replies
Mia Camelia
yah nora jadi jahat gitu ya, kasian anne terpojok terus🤣🤣🤣
Rosdianah: wkwkwk😅🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ulat bulu licik udah mulai keluar nih, aduh semoga aiden gk kena jebakan lgi😔🤔
Rosdianah: huhuhu🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo ngaku aja sih aiden klo cewe itu anne 🤣🤣🤣
Rosdianah: Dicoret dari KK kaaa🤣 bini orang soalnya 🤣🤣🤣
total 1 replies
Debu Nakal
thor... tlng kasih tahu suzzy, suruh nongol tuh anak. ni ku dh nungguin ampe berjamur tp dianya ka gak nongol2 😅🤣
Rosdianah: huhuhu seminggu ini author sibuk Di dunia nyata🙏🏻
total 1 replies
nayla tsaqif
Gk bpk gk anak,, sikapnya dewsa sebelum waktunya,,, 😌😌😌 good boy!
Rosdianah: kesayangan author dan kak reader 🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo thor bikin wiliiam cemburu🤔
Rosdianah: siap kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ih gemes deh aiden so sweet banget🥰😄
Rosdianah: hihi biar jadi kesayangan kak reader 😅
total 1 replies
Mia Camelia
waduh siapa lagi nih🤔
Rosdianah: Paparazi kak🤭😅
total 1 replies
Mia Camelia
ngebayangiin nih kalo mereka beneran udh jadian, pasti romantic banget🤔😂
Rosdianah: author juga suka ngebayangin kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
😄😄😄
Rosdianah: ma'aciww sekali Komentar nya adalah semangat author 🤭😅🥰
total 1 replies
Mia Camelia
omg 🥰🥰🥰 aiden gentlemen bangat sih😄😄😄
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍
Rosdianah: brondongnya kak Reader 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo aiden lindungiin anne, 🥰😄
Rosdianah: Author Jabanin 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayoooo berontak anne, kejar tuh berondong👍🤣
Mia Camelia
wah aiden udh mulai panas nih sisi obsesif nya, pingin liat klo brondong ngejar2🥰🥰🥰
Rosdianah: hahah author Jabanin kak🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
wiliam kaya nya udh mulai kepoo sm suzanne🤔🤔
nayla tsaqif
Ceritanya brondong terus, thorr,?? , ada cerita sugar duda gk...?? 🤭
Rosdianah: Nanti Author buatkan kak reader 🤭🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Vexana istri bang landon,, 😌
Rosdianah: sorry typo ya Kak Reader 🙏🏻 syukur diingatin 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!