seorang gadis bernama Clarisa Oktaviani harus melahirkan seorang anak karena sebuah insiden yang tidak dia harapkan terjadi kepadanya.
Clarisa terpaksa berhenti kuliah karena memiliki seorang anak di luar nikah dan karena hal itu juga membuat orang tua Clarisa mengusirnya dari rumah dan meninggalkan kehidupan serba berkecukupannya.
mampukah Clarisa Oktaviani menjalani hidupnya bersama anaknya dalam kehidupan yang serba kekurangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
suara ledakan
Meski malam semakin larut, suasana di gedung acara pameran beberapa saat lalu berlangsung sudah sepi, hanya tinggal beberapa orang saja yang terlihat melakukan aktivitas mereka masing-masing, termasuk anggota kepolisian setempat.
ketika melihat seorang kakek keluar membawa tas jinjing, bara segera memanggilnya.
"kakek tunggu!" teriak Bara
kekek itu menghentikan langkahnya, lalu berbalik melihat ke arah Bara sambil menyipitkan mata. Malihat Bara berjalan kearahnya.
sesampainya di depan kekek itu, Bara bertanya dengan sopan.
"kakek, maaf jika saya menganggu, saya ingin bertanya sesuatu pada kakek." ucap Bara ramah.
"ya, tanyakanlah." jawabnya singkat.
"sebelum kakek masuk, apa kakek melihat lelaki berpakaian serba hitam disini?" tanya Bara sopan.
'tidak." sahut kakek itu sambil membuang muka
"Apa kakek yakin tidak melihatnya sama sekali." Adam menyela obrolan keduanya.
"Ya, saya tidak melihat seorangpun, ada di sini saat saya ingin masuk ke kamar kecil." jawab kakek itu dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan
Adam nampak terdiam ia memandangngi wajah kekek tua dihadapan Bara, entah apa yang ada dalam pikirannya.
"jika tak ada lagi yang ditanyakan, saya permisi, anak saya sedang menunggu saya." kakek itu berlalu melangkah pergi meninggalkan Bara dan Adam.
"Ikuti dia." perintah Adam singkat.
"untuk apa? kau saja, aku ingin mencari laki-laki yang menembak Abi" Bara menyahut dengan muka masam.
Adam menarik tangan Bara, mau tidak mau Bara harus memgikuti langkah Adam yang menjadi penguntit
"lepasakan tanganku" ucap Bara
"kau ini seorang ketua Asusiasi seni dunia tapi kerjaanmu di kairo menjadi penguntit".
" hahahhahaha" tawa bara pecah.
pemuda ini, di saat seperti ini ia bahkan masih sempat-sempatnya mengajak bercanda. Adam berbicara dalam hatinya dengan kesal.
"lihatlah dengan mata kepalamu mana ada seorang kakek berlari secepat itu" ucap Adam membuat Bara diam seketika.
"Realy." pekik Bara setelah meliat kearah kakek itu sedang berlari cepat. membuat Adam menutup telinganya.
tak menunggu waktu lama Bara berlari kencang menegejar kekek itu.
Adam menggelingkan kepalanya lalu memanggil salah seorang anggota kepolisian yang kebetuan sedang berada tak jauh darinya.
"bapak bisakah saya meminta kepada anda, untuk memblokir semua jelan keluar dari kota ini?" tanya Adam meminta bantuan.
"tentu pak, memang sudah tugas kami membatu masyarakat." sahut polisi bernama Ahmad fahrulrazi.
Ahmad mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu menelpon seseorang, nampak jelas ia sedang berbicara serius pada seseorang melalui sambungan ponselnya.
berapa menit kemudian. Ahmad memberi tau pada Adam, semua jelan menuju luar kota sudah dijaga oleh rekan-rekan kerjanya, mereka yang lewat harus melalui pemeriksaan ketat.
"Apa ada bukti yang anda temukan? atau seseorang yang anda curigai?" tanya Ahmad.
beberapa saat lalu saya bertemu dan berbicara pada seorang kakek, yang menurut pengamatan saya, orang itu sedang melakukan penyamaran, untuk keluar dari gedung ini.
"Aku menemukan ini" ucap Bara yang tiba-tiba datang dengan nafas tak beraturan. sambil mengacukan kain yang bergulung.
Adam mengurutkan keningnya melihat kearah Bara.
pa Ahmad mendekati Bara, lalu bertanya. "apa itu?"
"ini" ucap bara sambil meletakan apa yang dibawanya ke tanah dan membukanya terlihat sebuah postol berwarna hitam.
"ikutlah dengan saya ke kantor polisi, disana sudah ada peluru yang kami ambil dari korban, kita akan mencocokannya" minta Ahmad
Adam dan Bara mengikuti pa Ahmad pergi ke kantor polisi, untuk di mintai keterangan, mengenai kasus penembakan yang baru terjadi.
sesampainya di kantor polisi, Adam menceritakan detik-detik terjadinya penembakan pada Abi.
dilanjutkan dengan Bara, yang menceritkan bagaimana ia mendapatkan barang bukti berupa pestol, yang terjatuh saat laki-laki yang ia kejar tersungkur ketanah.
ia berusaha mengelabuiku, dengan cara menjatuhkan barang bukti agar aku tak mengejarnya saat itu, dan benar saja ia berhasil kabur dariku ia bahkan menukar pakaiannya dengan seorang laki-laki muda yang ia temui dijalan, jelas Bara mengakhiri ucapannya.
drattttt... drattttt....
ponsel milik Ahmad bergetar, sebuah panggilan masuk dari salah satu rekan kerjanya.
Ahmad berbicara serius mambil sesekali matanya melirik ke arah Adam dan Bara.
setelah panggilan telpon terputus Ahmad memberitahukan pada Adam dan Bara, dibandara ada seorang yang mengaku tanagannya Luka parah, hinnga tak bisa melakukan pemeriksaan sidik jari, orang itu masih ditahan oleh rakan-rekan saya.
"kita kesana! aku mengigat dengan jelas suara peria misterius itu."ujar Adam
ketinganya beranjak pergi dari kebandara untuk memastiakan pelaku penembakan pada Abi.
sesampainya dibandara, dari kejauhan Adam dan Bara melihat laki-laki paruh baya, dengan tangan terlilit kain perban berbicara pada seorang anggota polisi.
Adam membisikan sesuatu bada telinga Bara, setelah itu Bara memberi respon dangan menganggukan kepala, Bara lalu berjalan mendahului Adam, Bara berlalu melewati polisi dan peria peruh baya yang sedang berbicara.
Adam dan Ahmad berjalan beriringan menuju peria paruh baya yang nampak serius berbicara pada polisi di depannya.
setelah Adam sampai di samping peria paruh baya itu, Bara segera berlari dari tempatnya menghapiri dan brukkkkk.
Bara menambarak Adam, dan Adam terjatuh menimpa peria paruh baya itu, hingga terjatuh replek tangan yang mengunakan perban itu menupang barat badannya.
melihat itu Adam dan Bara saling lirik satu sama lain.
"tangan itu tidak terluka" ucap Adam dan Bara hambir bersamaan.
Ahmad yang meliahat itu tidak tinggal diam, ia segera merintah peria paruh baya itu melepas perbannya saat itu juga, dengan nada suara tegas.
peria paruh baya itu medenggus kesal setelelah itu perlahan tangan yang satunya membuka perban dengan cepat.
dratttt....drattttt
hallo, ucap Ahmad mengangkat henponnya yang bergetar sorangan memberitakuan ada satu ingin menghidari poselnya pos penjagaan dan pemeriksaan.
Bara, Adam ! seru pa Ahmad ikut saya ke stasiun Bus sekarang"
"biar Bara saja saya akan tetap disini" tolak Adam sambil melirik ke Arah peria paruh baya, dan mengedipkan sebelah matanya ke Bara.
"baiklah" ucap Bara yang mengerti bahasa isyarat yang digunakan Adam.
beberapa menit setelah Bara dan Ahmad pergi.
Adam mengikuti peria paruh baya dan polisi, masuk ke ruangngan khusus pemeriksaan sidik jari.
sejak Adam ada, laki-laki peruh baya itu tak sedikitpun berbicara, ia menutup rapat mulutnya, matanya pun terus saja memandang ke setikarnya seperti mencari sesuatu.
Adam terus memperhatikan gerak gerik aneh laki-laki yang ada di dekatnya.
bertepatan dengan tangannya yang sudah hampir menyentuh alat pemeriksaan sidik jari, tangan yang satunya mengeluarkan benda kecil seperti gantungan kunci berbentuk bola kecil, lalu melemparnya seketika asap keluar dari banda itu membuat sesak dan pandangan semua orang yang ada dalam ruangan itu hilang.
beberapa menit setelah asap mulai menghilang mereka menyadari peria paruh baya itu tidak ada dintempat.
laki-laki itu berlari ke lapangan pesawat dengan napas terputus-putus dalam hitungan detik terdengar sebuah suara ledakan terdengar
doooooommmmm....
Adam dan polisi berlari ke arah sumber suara terdengar.
Risa dan Gio Adiknya Risa... Karena Sudah 7tahun berpisah dengan Risa.
.
sementara Ayah biologisnya Abimanyu..
keberadaanya Masih ngga jelas... beda dengan cerita yang lain biasanya Mereka cepat Dipertemukan... Dengan Abimanyu atau Risa.... Kalo soal Hermawan aku nggak peduli....
utk penulisan kata² asing lebih baik lihat kamus dulu