NovelToon NovelToon
Handsome Ghost

Handsome Ghost

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Beda Dunia / Romantis / Hantu / Mata Batin / Komedi
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: Queena lu

Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Jarak yang Tak Pernah Terucap

Mobil Pak Arman melaju perlahan meninggalkan kawasan perumahan.

Lampu-lampu rumah yang tadi masih terlihat hangat satu per satu menghilang, digantikan jalanan yang semakin sepi. Pohon-pohon besar di sisi jalan berdiri diam seperti saksi bisu, bayangannya memanjang dan berayun setiap kali cahaya lampu mobil melewatinya.

Kiara duduk di kursi tengah baris kedua, tepat di belakang Pak Arman yang menyetir. Sedangkan om Hardi jalan lebih dulu di depan menggunakan motor.

Di sebelah Kiara, kursi roda Bima terlipat rapi, sementara Bima sendiri terbaring di jok belakang dengan tubuh disangga bantal. Wajahnya pucat, napasnya naik turun pelan, seolah tubuhnya sedang bertahan dengan sisa tenaga yang tak seberapa.

Aditya duduk di kursi penumpang depan, diam tak seperti biasanya. Tangannya bertaut di dada, tatapannya lurus ke depan. Tidak ada lelucon, tidak ada komentar sinis. Hanya keheningan yang berat.

Dan Sky....

Sky melayang di dekat jendela mobil, punggungnya menghadap Kiara.

Tidak menoleh.

Tidak menyapa.

Tidak melontarkan satu kalimat usil pun seperti biasanya.

Kiara menyadarinya sejak mereka keluar dari rumah Bima.

Dingin.

Bukan dingin karena marah yang meledak-ledak, melainkan dingin yang tenang, yang justru lebih menyakitkan. Sikap Sky sekarang sangat berbeda dari pertama kali mereka bertemu. Saat itu Sky cerewet, hangat, terlalu banyak bicara, dan selalu berdiri paling depan ketika Kiara merasa takut.

Sekarang… Sky seolah menjaga jarak.

Kiara menelan ludah, memalingkan wajah ke jendela.

Sebagai orang yang terbiasa mengandalkan logika dan tindakan, ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa perubahan sikap Sky tidak perlu dipikirkan terlalu jauh.

Dia marah. Wajar.

Aku nekat. Aku keras kepala, ujarnya pada diri sendiri.

Dia cuma khawatir.

Sederhana. Seharusnya sesederhana itu.

Tapi setelah dua minggu terakhir, dua minggu melihat dunia yang tidak seharusnya ia lihat, dua minggu Sky selalu ada di sisinya... Ternyata tidak mudah untuk bersikap acuh.

“Sky…” panggil Kiara pelan.

Tidak ada jawaban.

Sky tetap menghadap jendela, sorot matanya memantul samar di kaca mobil uang hanya bisa di lihat oleh Kiara. Aura di sekitarnya terasa tegang, seperti benang yang ditarik terlalu kencang.

Kiara menarik napas, mencoba lagi. “Kamu marah, ya?”

Sky menghela napas pendek, lalu akhirnya menoleh. Tatapannya tidak tajam, tidak juga lembut, hanya datar.

“Aku tidak marah,” jawabnya singkat.

Jawaban itu justru membuat dada Kiara terasa semakin sesak.

“Kamu dingin,” kata Kiara jujur.

Sky terdiam beberapa detik. “Aku sedang berpikir.”

“Biasanya kamu berpikir sambil ngomel,” balas Kiara refleks, nada suaranya pelan, hampir seperti bercanda.

Tidak ada senyum yang muncul.

“Kali ini aku tidak bisa,” kata Sky.

Kiara mengernyit. “Kenapa?”

Sky menoleh kembali ke jendela. “Karena ini bukan masalah kecil, Kiara.”

Mobil berbelok ke jalan yang lebih sempit. Lampu jalan semakin jarang, menyisakan gelap yang terasa lebih pekat. Kiara merasakan bulu kuduknya meremang, bukan hanya karena suasana, tapi juga karena kata-kata Sky.

“Kamu tahu aku tidak suka kamu ikut,” lanjut Sky. “Dan kamu tetap melakukannya.”

Kiara mengepalkan jarinya di atas paha. “Aku tahu.”

“Dan kamu tahu risikonya.”

“Iya.”

“Lalu kenapa tetap ikut?”

Kiara terdiam.

Jawaban paling jujur sebenarnya sederhana, karena Bima temannya, karena ia tidak bisa tinggal diam, karena ada rasa bersalah yang tak bisa ia jelaskan.

Namun ada satu jawaban lain yang berputar di kepalanya, yang bahkan ia sendiri belum berani mengakuinya.

“Aku tidak bisa berpura-pura ini bukan urusanku lagi,” akhirnya Kiara berkata pelan.

Sky menoleh cepat. “Ini bukan urusanmu.”

“Tapi aku sudah melihatnya,” bantah Kiara. “Aku sudah terlibat.”

“Terlibat bukan berarti harus maju tanpa perlindungan,” suara Sky sedikit meninggi, meski tetap tertahan. “Aku ada untuk melindungimu, Kiara. Tapi kamu terus melompat ke dalam bahaya seolah-olah aku tidak penting.”

Kalimat itu membuat Kiara terdiam sepenuhnya.

Itu bukan tuduhan.

Itu luka.

“Aku tidak pernah menganggap kamu tidak penting,” ucap Kiara lirih.

“Tapi tindakanmu berkata lain,” jawab Sky cepat.

Keheningan kembali menyelimuti mobil.

Pak Arman tetap fokus menyetir mengikuti arahan om Hardi di depannya, seolah tidak menyadari percakapan yang terjadi di kursi belakang. Aditya melirik sekilas dari kaca spion, alisnya mengernyit samar, tapi tidak bertanya.

Kiara menunduk, menatap tangannya sendiri. Ia tidak pandai merangkai kata. Ia tidak terbiasa mengungkapkan perasaan dengan panjang lebar.

Sebagai orang yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan tindakan, ia justru kesulitan ketika harus berhadapan dengan emosi.

“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi,” akhirnya Kiara berkata. “Aku tidak mau lari.”

Sky menatapnya lama.

“Dan aku tidak mau kehilanganmu,” balasnya pelan.

Kata-kata itu jatuh berat di antara mereka.

Kiara mendongak. “Kehilangan… aku?”

Sky mengalihkan pandangan lagi. “Kamu tidak mengerti dunia ini, Kiara. Kamu baru melangkah satu kaki, tapi dunia ini tidak akan melepaskanmu begitu saja.”

Lampu mobil menerangi papan kayu tua di pinggir jalan. Tulisan di atasnya hampir pudar, tapi masih bisa terbaca samar:

Mbah Kromo — 2 KM

Jantung Kiara berdetak lebih cepat.

“Bara tidak akan diam,” lanjut Sky. “Dan Laras bukan sekadar makhluk astral yang jatuh cinta. Kamu berada di tengah konflik yang jauh lebih besar dari yang kamu kira.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Kiara pelan.

“Percaya padaku,” jawab Sky tanpa ragu.

Kiara tersenyum tipis. “Aku percaya.”

“Tidak,” Sky menggeleng. “Kamu mendengarkanku, tapi kamu tetap memilih jalanmu sendiri.”

Kiara terdiam. Ia tahu itu benar.

Mobil mulai memasuki jalan yang lebih rusak. Aspal berganti tanah, suara kerikil terdengar jelas di bawah ban. Pepohonan di kiri kanan semakin rapat, cabangnya menjulur ke atas jalan seperti ingin menutup langit.

Udara berubah.

Kiara merasakannya jelas.

Dingin, lembap, dan berat.

Sky menegakkan tubuhnya. “Kita sudah masuk wilayahnya.”

“Wilayah Mbah Kromo?” bisik Kiara.

Sky menggeleng. “Wilayah makhluk yang tidak suka manusia ikut campur.”

Kiara menelan ludah, menoleh ke arah Bima. Napas Bima terdengar semakin berat, alisnya berkerut seolah sedang menahan sakit dalam tidurnya.

“Sky…” Kiara memanggil pelan. “Kalau nanti aku kenapa-kenapa-”

“Jangan lanjutkan,” potong Sky cepat.

Kiara terdiam, lalu berkata dengan suara sangat rendah, “Aku tidak menyesal ikut.”

Sky menatapnya tajam. “Aku tahu.”

“Dan kalau harus mengulang,” lanjut Kiara, “Aku tetap akan ikut.”

Sky menghela napas panjang, seolah menahan amarah dan rasa takut sekaligus. “Kamu keras kepala.”

“Aku tahu.”

“Dan menyebalkan.”

“Sering dibilang begitu.”

Namun kali ini, Sky tidak tersenyum.

Mobil melambat, lalu berhenti di depan jalan setapak yang nyaris tertutup semak. Lampu depan menerangi gapura tua dari batu yang dipenuhi lumut.

Pak Arman mematikan mesin. “Kita sampai,” katanya pelan.

Kiara menatap ke luar jendela.

Hatinya berdebar.

Sky berdiri di sampingnya, lebih dekat dari sebelumnya. Meski masih dingin, kehadirannya terasa seperti dinding pelindung yang tak terlihat.

“Apa pun yang terjadi,” kata Sky lirih, “jangan menjauh dariku.”

Kiara mengangguk. “Aku janji.”

Namun jauh di dalam hatinya, Kiara tahu...

janji itu akan segera diuji.

Karena langkah berikutnya yang akan ia ambil di tempat Mbah Kromo

bukan hanya tentang menyelamatkan Bima.

Melainkan tentang seberapa jauh ia bersedia berjalan

di dunia yang kini perlahan menuntut keberadaannya.

1
kikyoooo
wah semangat! yuk saling support kak🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!