Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 ~ Benarkah Tidak Khawatir?
Marvin menatap ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup. Bahkan sudah hampir satu jam lamanya Raina berada di dalam. Mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang dilakukan Raina di dalam sana. Marvin memegang tongkatnya, berjalan terpincang dengan bantuan tongkat ke arah pintu kamar mandi. Mengetuknya pelan.
"Sedang apa kau di dalam?" Tidak! Ini bukan perasaan yang biasanya. Marvin tidak pernah merasa khawatir berlebih selain pada Amira. Tapi sekarang, hatinya tiba-tiba gelisah dengan jantung yang ikut berdebar kencang. "Raina, kau tidak mati di dalam 'kan? Buka pintunya!"
Marvin mencoba untuk memutar gagang pintu, namun masih terkunci. Tidak ada suara di dalam selain suara keran air yang menyala. Marvin berjalan keluar kamar dengan kesulitan. Berteriak memanggil pelayan, dan pak Sopir. Mereka datang dengan terburu-buru.
"Ada apa Tuan?"
"Dobrak pintu kamar mandi, sejak satu jam lalu dia berada di dalam dan belum keluar"
Pak Sopir mengangguk, dia segera masuk ke dalam kamar dan pergi ke ruang ganti. Sementara Mbak Eni juga cukup panik mendengar ucapan Marvin, dia membantu Marvin untuk duduk di tempat tidur.
"Tuan tunggu disini, biar saya cek keadaan Nona"
Ketika Mbak Eni masuk ke ruang ganti, dia malah terdiam melihat Pak Sopir yang juga hanya diam saja tak bergeming, dengan Raina yang keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi. Raina malah lebih terkejut karena kehadiran dua orang ini di ruang ganti.
"Mbak, Pak, ada apa ini?" tanya Raina dengan membenarkan jubah mandinya di bagian dada, takut tidak benar-benar tertutup. "Kenapa kalian masuk kesini? Kak Marvin dimana?"
Pak Sopir dan Mbak Eni saling menatap, mereka bingung tapi akhirnya Mbak Eni tersenyum. Dia menghampiri Raina. "Nona tidak papa? Kenapa lama sekali berada di dalam kamar mandi?"
Raina mengerjap pelan, mengingat apa yang dia lakukan selama di kamar mandi, dia hanya menangis dan meluapkan segala sesak yang dia rasakan. Tapi tidak mungkin juga Raina mengatakan yang sebenarnya.
"Aku hanya ketiduran Mbak, tidak sengaja tertidur. Kenapa memangnya? Kalian kenapa sampai kesini?"
"Tuan Muda yang memanggil kita, katanya suruh melihat keadaan Nona yang sudah lama berada di kamar mandi. Sepertinya Tuan Muda takut jika Nona kenapa-napa di dalam" ucap Mbak Eni.
Raina hanya diam, ingin sekali dia tertawa mendengar ucapan Mbak Eni. Bahkan melihat wajah berserinya, seolah dia ikut bahagia jika Marvin benar-benar sudah peduli padanya. Tapi, pada kenyataannya mereka bahkan akan segera berpisah.
"Yasudah Mbak, aku mau ganti baju dulu. Mbak dan Pak Sopir bisa keluar saja"
Setelah mereka keluar dari ruang ganti, Marvin langsung bertanya dengan wajah yang serius. "Mana dia? Kenapa kalian keluar hanya berdua saja?"
"Maaf Tuan, tapi Nona ti-"
"Apa? Dia tidak mati di dalam 'kan?"
Mbak Eni lagi-lagi menahan senyum melihat Marvin yang sangat panik. Meski pria itu lebih terlihat dingin, tapi sorot matanya menunjukan kekhawatiran yang besar. Itu tidak bisa membohongi siapapun.
"Tuan, Nona hanya tidak sengaja ketiduran di dalam. Sekarang sedang ganti baju" jelas Mbak Eni.
Marvin terdiam, kedua tangan memegang pinggiran tempat tidur dengan erat. Urat-urat tangan sampai terlihat menonjol, ada perasaan lega tapi seperti ada marah yang tidak jelas dalam dirinya.
"Baiklah, kalian keluar saja"
"Baik Tuan"
Ketika keduanya sudah keluar kamar, Marvin hanya diam menunggu Raina juga keluar dari ruang ganti. Masih tidak cukup mengerti dengan perasaannya barusan, kenapa dia bisa merasa seperti itu hanya karena Raina. Marvin menatap foto Raina dan Amira yang berada di atas nakas. Dia sudah menyadari tentang keberadaan foto itu sejak masuk ke dalam kamar ini tadi malam.
"Kau tahu kenapa aku seperti ini, Amira? Aku tidak bisa mengikat lagi adikmu, meski dia menjadi penggantimu, tapi kau tidak bisa untuk digantikan siapapun"
Suara pintu terbuka akhirnya mengalihkan pandangan Marvin dari foto Amira. Dia melihat Raina yang sudah memakai pakaian lengkap, rambutnya sudah di sisir namun masih sedikit basah.
"Kau melakukan apa di kamar mandi sampai selama itu?"
"Tidak sengaja ketiduran Kak, maaf membuatmu khawatir"
Marvin tertegun, mendengar ucapan Raina barusan membuatnya ingin menolak. "Aku tidak khawatir padamu, aku hanya tidak mau kau mati di rumah ini. Hanya akan membuat tidak nyaman saja suasana di rumah ini"
Raina tersenyum miris, mungkin memang dia yang terlalu berharap lebih, menganggap sikap yang dilakukan oleh Marvin barusan adalah sebuah perhatian. Namun nyatanya, tidak mungkin Marvin mempunyai sedikit saja perhatian padanya. Dia membencinya, dan itu akan selamanya.
"Kak Marvin mau makan? Aku buatkan bubur ya"
"Tidak perlu, aku sudah meminta pelayan untuk membuatnya"
Raina mengangguk pelan, dia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada atasan untuk meminta izin tidak masuk bekerja. Sudah melampirkan alasan jika suaminya sedang sakit dan butuh perawatan. Tentu langsung bisa mendapatkan izin, karena di Perusahaan itu sudah banyak yang tahu jika Raina yang menjadi pengganti Amira untuk menikah dengan Marvin.
Suasana di ruangan ini begitu canggung setelah percakapan mereka di ruang ganti tadi. Raina juga mulai menjaga batasan, tidak lagi berharap akan ada sebuah kebaikan dan perubahan dalam pernikahan ini.
Ketika suasana masih canggung, hening dan senyap, dan suara ketukan pintu terdengar memecah keheningan. Raina langsung membukakan pintu dan melihat Mbak Eni dengan nampan berisi makanan untuk Marvin.
"Biar saya saja, Mbak"
"Iya Nona"
Raina menyuapi kembali Marvin seperti tadi malam. Kali ini keduanya hanya diam dengan perasaan yang lebih canggung dari sebelumnya. Pembicaraan tentang perceraian itu, seperti boomerang yang menjadikan suasana semakin terasa canggung diantara pasangan ini.
"Kau pergilah makan, aku bisa makan sendiri" ucap Marvin sambil meraih mangkuk di tangan Raina. Mulai merasa tidak nyaman dengan suasana canggung diantara keduanya ini.
"Em, baiklah. Aku keluar makan dulu ya, Kak"
Raina berlalu keluar kamar, pergi ke ruang makan dan melihat Mbak Eni sudah menyiapkan makanan untuknya. Raina menarik kursi meja makan dan duduk disana, mulai mengambil beberapa masakan Mbak Eni.
"Nona juga harus makan yang banyak, karena merawat Tuan Marvin bukanlah hal mudah"
Raina hanya tersenyum saja, dan melanjutkan makannya tanpa mengatakan apapun.
"Raina, Rain"
Panggilan lembut itu membuat Raina menoleh, dan cukup terkejut melihat Mama mertuanya yang datang. Raina langsung berdiri dan menyalami Mama Sonia.
"Mana Marvin? Mama baru dengar kabarnya kecelakaan, bagaimana keadaannya?"
"Baik-baik saja, Ma. Ayo kita lihat ke kamar"
"Tapi kamu lagi makan, habiskan dulu makannya" ucap Mama sambil mengelus kepala Raina dengan lembut.
Raina tersenyum dan mengangguk, merasakan usapan lembut di kepalanya membuatnya berkaca-kaca. Merasa dirinya sangat merindukan tangan hangat seorang Ibu.
Bersambung
Dikasih dua bab lagi, awas pada ditabung. Nabung mah duit ya kata gue, bukan bab novel..
👍
pergi dari rumah Marvin,,