Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Nafas di Ujung Maut
Pintu kamar mandi itu didobrak dengan satu tendangan keras hingga engselnya hancur. Jordan mematung selama satu detik yang terasa seperti keabadian. Pemandangan di depannya adalah mimpi buruk yang paling nyata: Airin, gadis yang menjadi pusat gravitasinya, tenggelam sepenuhnya di dalam bathtub yang meluap. Rambut panjangnya melayang-layang di dalam air seperti sutra hitam, dan wajahnya sepucat pualam.
"TIDAK! AIRIN!"
Jordan menerjang masuk, meraup tubuh mungil itu keluar dari air. Tubuh Airin terasa dingin dan sangat ringan. Jordan segera melakukan CPR dengan ritme yang putus asa. "Jangan berani-berani meninggalkan aku, Airin! Bangun!" teriak Jordan parau.
Setelah beberapa saat yang mencekam, Airin tersedak dan memuntahkan air, nafasnya terengah-engah memburu oksigen. Jordan langsung mendekapnya, tubuhnya sendiri bergetar hebat karena rasa takut yang belum pernah ia rasakan seumur hidup.
Beberapa jam kemudian, Airin sudah terbaring di tempat tidur besar di kamar utama. Wajahnya masih pucat, namun kesadarannya telah pulih sepenuhnya. Jordan duduk di tepi tempat tidur, mencoba meraih tangan Airin untuk memberikan kehangatan.
"Syukurlah kamu sadar, sayang... Aku hampir gila," bisik Jordan dengan nada yang kembali melembut, seolah ingin menghapus memori pertengkaran mereka.
Namun, saat tangan Jordan menyentuh kulitnya, Airin langsung menarik tangannya dengan sentakan kasar. Ia menatap Jordan dengan tatapan kosong yang menusuk.
"Kenapa kamu menyelamatkanku, Jordan? Bukankah aku ini 'menjijikkan'?" tanya Airin. Suaranya datar, tanpa emosi, namun kata-kata itu membuat Jordan membeku.
Jordan gelagapan. Wajahnya yang biasanya angkuh kini tampak pias. "Airin, itu... aku hanya sedang emosi. Aku tidak bermaksud"
"Kamu bilang kamu menyesal terobsesi padaku. Kamu bilang aku ini beban yang tidak tahu diuntung," potong Airin, suaranya naik satu oktav. "Kamu mengusirku di tengah malam, dan saat aku pulang ke rumah, orang tuaku membuangku karena perintahmu atau pengaruhmu! Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Jordan. Jadi untuk apa aku hidup?"
"Aku salah, Airin! Aku minta maaf! Aku akan memperbaiki semuanya, aku akan memaksamu bahagia di sini!" Jordan mencoba mendekat, hendak memeluk Airin untuk menenangkannya.
"JANGAN MENDEKAT!"
Secara kilat, Airin meraih sebuah pisau pemotong buah yang tergeletak di atas nampan makanan di meja samping tempat tidur. Ia mengarahkan mata pisau yang tajam itu bukan ke arah Jordan, melainkan ke lehernya sendiri.
"Airin! Letakkan pisaunya!" teriak Jordan, kedua tangannya terangkat di udara, ia benar-benar panik.
"Satu langkah lagi kamu mendekat, Jordan... satu sentuhan lagi kamu berani lakukan padaku, aku akan menekan pisau ini!" Airin berteriak dengan air mata yang mengalir deras. "Kamu ingin memilikiku, kan? Kamu ingin mengontrol setiap detik hidupku? Silakan! Tapi kamu hanya akan memiliki mayatku!"
Jordan terengah-engah, matanya melebar melihat mata pisau itu sudah menekan kulit leher Airin yang halus hingga menimbulkan garis merah tipis. "Oke, oke! Aku mundur! Tolong, Airin... lepaskan pisaunya. Kita bicarakan ini baik-baik."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan! Kamu monster, Jordan! Kamu menghancurkan duniaku, menjauhkanku dari teman-temanku, dan saat aku hancur, kamu malah meludahi wajahku dengan kata-kata kasar itu!" Airin tertawa histeris di tengah tangisnya. "Jangan pernah berpikir untuk merantaiku atau mengurungku. Jika aku tidak bisa keluar dari gedung ini secara hidup-hidup, maka aku akan keluar sebagai jenazah!"
Jordan terpaku di tengah ruangan, tidak berani bernapas terlalu keras. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO yang maha kuasa itu merasa benar-benar tak berdaya. Ia menyadari bahwa ia telah mematahkan semangat Airin begitu dalam hingga gadis itu tidak lagi takut pada kematian, melainkan lebih takut pada dirinya.
"Pergi dari kamar ini, Jordan! SEKARANG!" ancam Airin dengan tangan yang gemetar hebat namun tetap mengarahkan pisau itu ke lehernya.
Jordan mundur perlahan menuju pintu dengan wajah yang hancur. "Baik... aku pergi. Tapi tolong, jangan sakiti dirimu lagi. Aku mohon..."
Begitu Jordan keluar dan menutup pintu, Airin merosot di tempat tidur sambil tetap menggenggam pisau itu erat-erat. Di balik pintu, Jordan terduduk lemas di lantai lorong, menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya. Ia ingin melindungi Airin, tapi tindakannya justru menjadi ancaman terbesar bagi nyawa gadis itu.