NovelToon NovelToon
Forbidden Lecture

Forbidden Lecture

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Antara Keadilan dan Belas Kasih

Pagi itu, suasana di ruang kerja utama gedung pencakar langit milik Jordan Abraham terasa begitu mencekam. Matahari yang bersinar terik di luar sana seolah tak mampu menembus dinginnya atmosfer di dalam ruangan yang didominasi marmer gelap dan kayu jati mahal tersebut. Airin duduk di sofa kulit yang besar, tampak mungil dan rapuh di hadapan dua pria paling berpengaruh dalam hidupnya: Jordan, kekasihnya yang posesif, dan Tuan Rodriguez, ayahnya yang tak kenal ampun.

​Airin baru saja kembali dari pertemuannya dengan Dion. Wajahnya masih menyisakan jejak air mata, namun matanya memancarkan ketegasan yang jarang ia tunjukkan. Ia telah melihat kehancuran di mata Dion, dan meski hatinya terluka akibat pengkhianatan itu, nuraninya tidak bisa membiarkan kehancuran total menimpa orang-orang yang tidak bersalah.

​"Aku memohon padamu, Jordan. Ayah... tolong dengarkan aku kali ini saja," suara Airin bergetar namun terdengar jernih di tengah kesunyian ruangan.

​Tuan Rodriguez yang sedang menyesap cerutu mahalnya hanya diam, menatap putrinya dengan tatapan tajam yang sulit diartikan. Di sisi lain, Jordan berdiri di dekat jendela besar, membelakangi mereka. Bahunya yang lebar tampak tegang di balik setelan jas mahalnya.

​"Sebutkan permintaanmu, Airin," sahut Jordan tanpa berbalik. Suaranya rendah, namun sarat akan otoritas yang dingin.

​Airin menarik napas panjang. "Cabut sanksi terhadap keluarga mereka. Aku tidak keberatan jika mereka Dion, Kriss, Thea, dan para pembully itu dikeluarkan dari universitas. Mereka memang harus menerima konsekuensi atas perbuatan mereka di lingkungan akademis. Tapi tolong... jangan hancurkan masa depan mereka sepenuhnya. Jangan tutup akses mereka ke universitas lain, dan yang paling penting, jangan hancurkan orang tua mereka."

​Airin bangkit dan berjalan mendekati Jordan, menyentuh lengan pria itu dengan lembut. "Orang tua mereka tidak tahu apa-apa, Jordan. Ayah Dion hanyalah seorang pekerja keras yang tidak punya sangkut paut dengan kesalahan anaknya. Menghancurkan mata pencaharian mereka tidak akan membuat lukaku sembuh. Itu hanya akan membuat kita menjadi monster yang sama kejamnya dengan mereka."

​Jordan perlahan membalikkan tubuhnya. Matanya yang tajam menatap Airin dengan intensitas yang menakutkan. "Mereka membiarkanmu terluka, Airin. Mereka menontonmu saat kamu disiksa. Di duniaku, tidak ada ruang untuk pengampunan bagi siapa pun yang menyentuh milikku. Jika aku membiarkan mereka lolos, maka dunia akan menganggap aku lemah, dan mereka akan mencoba menyakitimu lagi."

​"Ini bukan soal lemah atau kuat, Jordan! Ini soal kemanusiaan!" seru Airin, air matanya mulai menggenang kembali. "Aku tidak ingin hidup dengan beban bahwa ada keluarga yang kelaparan karena amarahmu. Jika kamu mencintaiku, tolong... tunjukkan sedikit belas kasih."

​Tuan Rodriguez akhirnya meletakkan cerutunya ke dalam asbak kristal. Ia bangkit dan berjalan mendekati putrinya. Ia mengusap pipi Airin yang masih menyisakan bekas lebam tipis.

​"Airin, putriku sayang... kamu memiliki hati yang terlalu lembut, persis seperti ibumu," ucap Tuan Rodriguez dengan suara berat yang penuh kewibawaan. "Dunia bisnis dan kekuasaan tidak bekerja dengan belas kasih. Jika musuhmu jatuh, kamu harus memastikan mereka tidak pernah bisa berdiri lagi untuk menggigitmu dari belakang."

​"Tapi mereka bukan musuh bisnis, Ayah! Mereka hanya anak-anak yang salah pergaulan dan salah mengambil keputusan," bela Airin. "Aku sudah memaafkan mereka. Aku tidak ingin lagi berteman dengan mereka, aku tidak ingin melihat wajah mereka lagi, tapi aku mohon... biarkan keluarga mereka tetap hidup."

​Jordan mendengus sinis, ia melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Airin. Ia menarik pinggang Airin dengan posesif, menguncinya dalam dekapannya. "Kamu memaafkan mereka? Setelah apa yang mereka lakukan? Kamu tahu betapa hancurnya aku saat melihatmu berdarah di depan kantorku kemarin? Aku ingin membakar seluruh kampus itu jika perlu!"

​"Dan itu tidak akan mengubah apa pun!" balas Airin tegas. "Jordan, cabut sanksi ekonomi terhadap orang tua mereka. Biarkan ayah Dion tetap bekerja, meski mungkin di tempat lain. Dan biarkan mereka pindah ke kampus yang lebih kecil. Aku hanya ingin mereka pergi dari hidupku, bukan pergi dari dunia ini."

​Ruangan kembali senyap. Terjadi perang urat syaraf antara kelembutan Airin dan kekerasan hati Jordan. Tuan Rodriguez hanya mengamati, ia ingin melihat sejauh mana Jordan bisa mengendalikan amarahnya demi putrinya.

​Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, Jordan menghela napas kasar. Ia melepaskan pelukannya dan berjalan kembali ke meja kerjanya. "Baiklah. Aku akan mencabut sanksi terhadap orang tua mereka. Aku akan memastikan ayah Dion mendapatkan pekerjaan di vendor luar, tapi tidak akan pernah lagi di bawah naungan Abraham Corp. Untuk para pembully, mereka tetap akan dilarang masuk ke universitas papan atas, tapi aku tidak akan menutup akses mereka ke kampus-kampus kecil di pinggiran kota."

​Airin mendesah lega, bahunya yang tegang akhirnya melonggar. "Terima kasih, Jordan."

​"Tapi ada satu syarat," potong Jordan dengan nada dingin yang kembali muncul. "Mulai hari ini, kamu tidak akan pernah lagi berkomunikasi dengan siapa pun dari masa lalumu di kampus itu. Thea, Kriss, terutama Dion. Jika aku melihatmu menerima satu saja panggilan dari mereka, aku tidak akan segan untuk kembali menghancurkan mereka dalam semalam. Dan mulai besok, kamu akan menjalani kuliah secara privat atau pindah ke gedung khusus di bawah pengawasanku. Aku tidak ingin kamu berada di lingkungan yang tidak bisa kukontrol."

​Airin mengangguk pelan. Ia sadar, ini adalah harga yang harus ia bayar untuk belas kasihnya. Ia harus merelakan kehidupan mahasiswi normalnya demi keamanan yang dijanjikan Jordan.

​Tuan Rodriguez hanya tersenyum tipis. "Keputusan yang adil, Jordan. Meski menurutku kamu terlalu baik." Ia kemudian menatap Airin. "Airin, ingatlah satu hal. Teman-temanmu itu mungkin tetap bisa berkuliah, tapi mereka tidak akan pernah lagi memiliki martabat di depanmu. Dan kamu... kamu tetap putriku, namun kamu harus belajar bahwa di puncak kekuasaan, kesepian adalah teman terbaikmu."

​Airin hanya bisa diam tertunduk. Ia merasa menang karena berhasil menyelamatkan nasib keluarga orang lain, namun ia juga merasa kalah karena menyadari bahwa lingkaran pertemanannya telah musnah. Thea yang biasanya cerewet, Kriss yang selalu membantunya dalam tugas, kini hanya tinggal kenangan pahit yang tersisa di balik luka lebam di wajahnya.

​Jordan kembali menghampiri Airin, kali ini ia mencium keningnya dengan sangat lama dan penuh perasaan. "Jangan sedih. Kamu punya aku, kamu punya ayahmu. Kami lebih dari cukup untuk memenuhi duniamu, sayang."

​Jordan terus memberikan usapan lembut di pinggang Airin, seolah sedang menandai wilayahnya kembali. Ia merasa puas. Dengan memisahkan Airin dari teman-temannya, ia kini memiliki kontrol penuh atas setiap aspek kehidupan Airin. Tidak akan ada lagi pengkhianatan, tidak akan ada lagi pria lain yang bisa mendekati mahasiswinya yang cantik ini.

​Di bawah temaram lampu kantor, Airin menyadari bahwa meski ia telah memberikan maaf, hidupnya telah berubah total. Ia tidak lagi sekadar Airin si gadis dress bunga yang sederhana. Ia adalah milik Jordan Abraham, dan setiap langkahnya kini berada di bawah bayang-bayang kekuasaan sang CEO yang narsis dan posesif.

1
brawijaya Viloid
jgn lupa update thorrr 🥲
shabiru Al
mungkin karena status yang dmiliki jordan sebagai kelurga abraham kali ya.. jadinya tuan rodriguez menerima baik kehadiran jordan
shabiru Al
keluarga jordan menerima baik airin,, tpi apakah keluarga rodriguez pun sebaliknya...
shabiru Al
benarkah jordan tulus mencintai airin... bukan hanya obsesi semata
shabiru Al
airin udah dtandai sama jordan.. gak akan bisa kabur
shabiru Al
ternyata jordan lawan yang seimbang bagi kelurga rodriguez....
shabiru Al
dan jordan.... apa seimbang dengan keluarga rodriguez ?
shabiru Al
kenapa juga airin mau d intimidasi sama jordan... memangnya seberapa besar nama rodriguez itu ya sampai airin gak mau teman2nya tahu
shabiru Al
ternyata hanya sesama pria yang bisa memahami sikap jordan sama airin,, airin nya polos banget
shabiru Al
mesti kasihan gak sih sama airin ntar d possesifin sama jordan
jajangmyeon
menarik bgt, saran update trus y thor 😊🥳
jajangmyeon
kepo bgt 2 bocah 🤣
brawijaya Viloid
jordan mw ngapain hayoo🤭
brawijaya Viloid
okk
brawijaya Viloid
cool bgt
jajangmyeon
lanjuttt
Anonymous
gantung bgt plis thor update terussss 💪💪
Anonymous
lanjut thor
shabiru Al
mulai dekat nih....
shabiru Al
hhmmm semakin tertarik nih kayaknya jordan sama airin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!