NovelToon NovelToon
Omku Suamiku , 3

Omku Suamiku , 3

Status: tamat
Genre:Komedi / Contest / Cintapertama / Nikahmuda / Anak Kembar / Beda Usia / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 5
Nama Author: riena

Musim ke tiga sequel dari
Omku Suamiku season 1 dan 2

Disarankan membaca
Omku Suamiku season 1 revisi
Omku Suamiku season 2

Julie, terjebak dalam perjanjian dengan tiga orang pemuda Bara, Neo dan Alan karena iklan tipu tipu.

Jadi pembatu ketiganya karena kontrak yang sudah terlanjur disetujui tanpa melihat isi kontrak kerja yang sudah ditandatangani.

Bagaimana Julie menjalani hari hari menghadapi Bara yang dingin dan jutek, Neo yang gak jelas kadang baik kadang lebih jutek dari kembarannya dan Alan yang hobi ngegombal.
Khas playboy cap badak bercula ?

Dan Alana, adik perempuan Alan yang baru berusia enam belas tahun, akan menikahi gurunya sendiri karena rasa dan permintaan sang Opa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Jangan terlalu kejam padaku

Seperti yang dijanjikan oleh Reino, selama pengambilan gambar dan proses syuting, Kayla terus di dampingi oleh Tante Fifi.

Proses syuting juga tidak memakan waktu yang sebentar, karena Kayla yang masih sangat awam plus grogi, tapi Reino dan semua team, dengan sabar melatih Kayla.

Malika sesekali datang ke lokasi syuting yang mengambil lokasi kolam renang dan pantai,

tetapi Malika harus bersikap profesional, dia tidak mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan, apalagi hubungan keduanya yang sudah kandas ditambah juga tidak ada yang tahu selain bisik bisik yang tidak juga tahu kebenarannya.

Disaat Reino, Tante Fifi dan Kayla menjalani proses syuting, Papa Adam justru sudah membuat kesepakatan yang berbeda.

" Bang, apa Abang yakin Reino mau menerima rencana kalian, dia sudah dewasa bang "

" Re, justru dia sudah dewasa makanya Abang mengambil keputusan itu, dia tidak boleh terlalu santai, sudah waktunya dia menikah, Abang tidak mau dia di dulu'i oleh si kembar ! "

Mama Regina melangkah dan terlihat melongok ke arah bawah, ruang keluarga terlihat hanya ada Laura dan Kania, Alana pasti dikamarnya, lalu kembali ke dalam kamar.

Mansion di bangun agar semua keluarga berkumpul, tetapi sejak kepergian tiga orang diantara para tetua, suasana Mansion terasa sepi.

Apalagi keempat pria, Reino, sikembar dan Alan lebih memilih tinggal terpisah dengan alasan ingin mandiri.

Mandiri dari mana jika keuangan masih disokong sepenuhnya oleh keluarga, berbeda dengan Reino.

" Kalau Reino menolak bagaimana ? Kita bisa malu "

Papa Adam melihat ke wajah Mama Regina yang terlihat resah, dia terus membolak balikkan layar ponselnya.

Berkali kali menghubungi Reino, tetapi tidak pernah diangkat.

" Abang sudah memberikan dia waktu Re, kalau sampai waktu yang sudah Abang tentukan dia tidak bisa memperkenalkan calon istrinya, maka dia harus mau jika kita yang akan mencarikan calon istri untuknya.

Jika dia anak kita, dia tidak akan mungkin mau selamanya jadi pria yang mau pecundangi "

" Bang, dia anak kita, aku yang melahirkan Reino dari rahimku, jangan katakan hal hal yang buruk "

Mama Regina meninggalkan Papa Adam di dalam kamar begitu saja untuk turun ke bawah dengan wajah kesal.

...*****...

" Ginaaaaa....."

Teriakan Oma Maya dari dalam kamar yang pintunya di biarkan terbuka membuat Mama Regina yang baru keluar dari dalam kamar selepas sholat subuh,

gegas turun ke bawah di ikuti oleh Papa Adam, Papa Elang dan Papa Aditya serta Papa Wahyu yang seperti biasa, semuanya akan berolahraga pagi di halaman bagian samping Mansion.

" Ibuk, ada apa ? "

Mama Regina menerobos masuk ke dalam kamar.

Terlihat Opa Gunawan dalam keadaan yang payah.

Papa Adam segera duduk di tepi ranjang, menggenggam erat telapak tangan ayah mertuanya.

" Kita kerumah sakit ya Yah ! "

Tidak ada jawaban, hanya genggaman tangan tua itu sedikit mengetat.

Papa Elang ikut duduk di tepi bagian sisi yang lain sembari menggeleng pelan ke arah Papa Adam.

Papa Elang mulai menuntun pelan dengan suara perlahan mentalkqin ke telinga Opa Gunawan untuk kembali kepada si pemilik kehidupan dengan terus lisan dan hati menyebut nama Allah.

Oma Maya sudah menangis pilu dalam pelukan Mama Regina.

" Gin, Ayah...."

Mama Regina hanya bisa mengangguk anggukkan kepalanya sembari matanya sudah basah melihat bagaimana Ayahnya menghadapi sakaratul maut.

Papa Elang dengan sabar terus menuntunnya.

" Innalilahi wa innailaihirrojiun "

Ucap Papa Elang pelan mengusap wajah Opa Gunawan, lalu menangis sesenggukan.

Papa Adam hanya bisa terus menangis sembari tetap menggenggam tangan dingin Opa Gunawan.

" Tidak....Tidak... Tidak...."

Oma Maya melepaskan dirinya dari pelukan Mama Regina.

" Mas Gun tidak mungkin pergi meninggalkan aku sendiri, tidak boleh ! "

Oma Maya duduk di dekat kepala Opa Gunawan, Papa Adam menyingkir dan memeluk Mama Regina.

" Kamu jangan terlalu kejam padaku Mas, jangan pergi sendiri seperti Clara yang meninggalkan suaminya duluan "

Oma Maya menggeleng gelengkan kepalanya sembari tangannya yang mulai keriput mengusap wajah Opa Gunawan yang sudah mulai dingin, kopiahnya saja masih melekat di ujung kepala, selepas sholat subuh, Opa Gunawan merasa dadanya panas dan sedikit sesak.

Opa Aris, Opa Yonan dan Opa Dimas sudah masuk ke dalam kamar dengan tangis yang tertahan.

Oma Cinta dan Oma Sushi berjalan mendekati Oma Maya yang masih meratap pilu.

Semua Papa mulai sibuk menghubungi anak anak dan keluarga serta teman terdekat.

Terdengar tangisan memilukan dari depan kamar, tangisan dari Kania, Laura dan Alana.

Kania tidak sanggup untuk menghubungi Om Leon atau Tante Miulan.

Papa Aditya yang bisa menghubungi dengan suara yang tercekat menahan tangis.

" May, ikhlaskan Mas Gun ya ! "

Oma Cinta mencoba menghibur, tetapi tangisnya tidak kalah kencang dari Oma Maya.

Oma Sushi tidak bisa berkata apa-apa selain menangis.

Wali dari Papanya juga sudah pergi, hanya tinggal suaminya yang juga sama sepuhnya dengan Opa Gun.

" Mas Gun jahat neng, dia meninggalkan aku sendiri, sama seperti Clara yang meninggalkan kita, kenapa mereka tidak setia pada kita neng hu hu hu "

Tangisan Oma Maya membuat Oma Cinta dan Oma Sushi semakin menangis, begitu juga dengan ketiga pria sepuh yang menangis dalam diam.

Ketiga pasang mata tua Opa, Aris Opa Yonan dan Opa Dimas, terus menatap jasad Opa Gunawan yang terbujur di atas ranjang dengan mata yang basah.

Satu demi satu bagian dari mereka sudah mulai kembali kepada yang punya diri.

" Neng, aku mau ikut Mas Gun, Neng, berkumpul dengan Clara dan suaminya, aku mau ikut Mas Gun, Neng "

Rintihan Oma Maya semakin menyayat hati.

Mama Freya, Mama Gaia dan Mama Quina sudah tidak tahan untuk berada didalam kamar Oma Maya, mereka segera keluar dari kamar.

Mama Regina hanya bisa meraung di dalam pelukan Papa Adam, keduanya sama sama menangis.

Di tempat yang berbeda, Papa Leon dan Mama Miu yang menempati rumah Opa Aris, peninggalan rumah almarhum mertuanya, terduduk menangis dengan ponsel yang masih berada dalam genggaman, Papa Aditya baru mengabarkan kalau Ayahnya barusan saja meninggal.

" Miu, Ayah...."

Mama Miulan tidak perlu mendengar kelanjutan ucapan yang tidak bisa keluar dari bibir suaminya, dia hanya bisa memeluk suaminya sembari memberi isyarat pada kedua anaknya Haidar dan Ayunda untuk berkemas.

Tidak jauh berbeda dengan keadaan di rumah Papa Leon.

Di rumah kediaman Papa Benua dan Mama Rania, Papa Benua juga menangis sesenggukan menerima kabar meninggalnya Opa Gunawan dari Papa Wahyu.

Papa Benua, Mama Rania, Pramudya dan Rindu, kedua anak Papa Benua, Keempatnya sudah berkendara menuju Mansion.

Bara, Neo, Alan dan Reino seperti raga yang tanpa Ruh, berada di mobil yang sama menuju Mansion juga.

Reino, lebih seperti anak kecil, dia menangis sesenggukan di kursi belakang.

Malam tadi ketika Mama Maya menghubungi ponselnya berulang kali, tidak sempat Reino mengangkatnya karena sedang fokus menyelesaikan pengambilan gambar untuk iklan yang di peragakan oleh Kayla.

Ketika Reino mau menelepon balik, malam sudah terlalu larut.

" Juliette, salah satu Opa kami ada yang meninggal, jaga rumah baik baik, kami tidak tahu berapa lama kami pulang, kamu tetap di rumah ini ya ! "

Pesan Alan sebelum masuk ke dalam mobil, dia masih sempat mengusap rambut di kepala Julie tanpa sadar, Julie hanya bisa mengangguk dengan wajah yang juga ikut berkabung.

Ketiga pria tidak ada yang berusaha menenangkan diri Reino yang menangis seperti bocah, mereka terlalu larut dengan kesedihan diri sendiri.

...******...

...🌻🌻🌻🌻🌻🌻...

1
Magda Nuraini Nursyirwan
cie cie Bara,gak bisa omong lagi,disebelah bapak mertua,Fatimeh senyum2 😎🥰
Magda Nuraini Nursyirwan
inget opa Tyo,sedih banget
Magda Nuraini Nursyirwan
gak di buat2 sesuai nalar dan logic,mengesankan critanya,ceritanya bagus,per bab perbab bikin nagih pengen tau banget,lika liku nenek kamek saudara anak dan keturunannya,akrab,dengan guyonan konyol sampai menahan rindu,penasaran dan jangan sampai ketinggalan membaca cerita indah ini,ber sambung2 garis keturunannya 💖💖💖💖💖💖💖
Magda Nuraini Nursyirwan
suka banget ceritanya Riena 👌🌺😍🥰
Mmh dew
💚💙🧡💛❤💜
Mmh dew
the best pokonya, baca di ulang ulang nga pernah bosan💜❤💛🧡💙💚
Mmh dew
💚💙🧡💛❤💜
Mmh dew
💜❤💛🧡💙💚
Mmh dew
💚💙🧡💛❤💜
Mmh dew
❤💛💜🧡💙💚
Mmh dew
💚💙🧡💜💛❤
Rabiatul Wulan
lagi kangen 🤗sama semua tulisanmu thor😁jdi rencananya mau baca ulang satu-satu 🤭😍😍
Rafli Satria
Luar biasa
Safitri Agus
udah tamat aja, rasanya ga bosan baca berulang kali OKSK,, terlalu berkesan dihati,🥰🥰🥰💞💞💞
Safitri Agus
😍😍😍
Safitri Agus
hamil berjamaah, keluarga mereka ini ada momen apa saja maunya selalu bareng ngikutin pendahulunya😂😂😂
Safitri Agus
kenny mupeng 😁,lucu sayang disini cuma figuran ga tahu jodohnya siapa 🤭
Safitri Agus
ga ada drama nangisnya,Alana benar² sudah siap,🤭
Safitri Agus
penguntit amatiran 😁😁😁
Safitri Agus
akhirnya uneg² Gio selesai endingnya diperaduan berayun-ayun 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!