NovelToon NovelToon
Janda Cantik Kesayangan CEO Tampan

Janda Cantik Kesayangan CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Penyesalan Suami / Selingkuh / Janda
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Flashback On

David sedang sibuk mencari informasi tentang wanita bernama Nafiza atas perintah Maya, Mommy-nya Zayn. Ia telah mendapatkan foto dan data diri Nafiza dari berbagai sumber. David bukan hanya sebagai asisten CEO, ia juga seorang ahli IT. Jadi tak butuh waktu lama baginya untuk mengumpulkan informasi yang ia butuhkan.

David terkejut saat mengetahui bahwa wanita yang sedang dicari oleh Mommy dari atasannya itu ternyata istri dari manager di perusahaan mereke, yang kemarin sore ia dan Zayn temui di kantor dan yang membuatnya tercengang lagi ternyata Nafiza baru saja ditalak tiga oleh Farhan sesaat sebelum mereka muncul. "Hmm! Menarik, tapi untuk apa Tante Maya menyelidikinya ya? Mencurigakan!" batin David, merasa penasaran dengan motif di balik permintaan Maya. Setelah itu ia gegas melaporkan ke Maya apa yang ia dapatkan.

Flashback off

Kembali ke sisi Nafiza. Setelah berhasil menenangkan diri, Nafiza gegas kembali ke toko kue Umi-nya. Ia berusaha memasang senyum ceria, menyembunyikan kegugupan yang masih menggelayuti hatinya. Ia tidak ingin Umi dan Zahra menyadari kegelisahannya.

Tak berapa lama Nafiza Akhirnya tiba di depan toko. Setelah mematikan mesin mobil, ia gegas menyelinap keluar dan masuk ke dalam toko. Di dalam sana sudah ada Umi dan Zahra sedang menunggu dirinya. kedua wanita berjilbab itu kompak tersenyum lega saat melihatnya.

"Gimana, Naf? Lancar antarnya?" tanya Umi Maryam, menatap putrinya dengan penuh perhatian.

"Alhamdulillah, lancar kok, Umi," jawab Nafiza sambil tersenyum. "Pelanggannya juga suka banget sama kuenya. Orangnya juga ramah," Ia berusaha menyembunyikan fakta bahwa ia bertemu dengan Zayn di rumah itu.

"Syukurlah," sahut Umi Maryam, lega. "Kamu memang anak Umi yang paling bisa diandalkan." Ia memeluk Nafiza dengan sayang, membuat Nafiza merasa nyaman dan aman.

"Eh, Kak Naf! Kita jadi bikin macaroon nggak nih?" tanya Zahra, mengingatkan kakaknya tentang rencana mereka sebelumnya.

Nafiza tersenyum. "Jadi dong! Tapi kakak shalat ashar dulu baru kita bikin ya!" Ia merasa bersemangat untuk membuat kue bersama sang adik.

_______&______

Di sisi Farhan kini ia sudah berada di kediamannya tepatnya di dalam kamar pribadinya. Setelah tadi pagi ia sempat berpikir akan menghabiskan harinya di apartemen sang kekasih. Tiba-tiba ia berubah pikiran, merasa tak nyaman dan gelisah tak seperti biasanya. Hingga ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya sendiri, ia ingin menenangkan pikirannya yang sedang kalut.

Sampai di kamarnya ia mencoba untuk tidur namun mata dan pikiranya tak bisa di ajak kompromi. Wajah Nafiza yang terluka, hinaan Riana, dan tatapan kecewa ibunya terus menghantuinya.

"Farhan! Kamu harus rujuk dengan Nafiza! Jangan bodoh lebih memilih wanita murahan itu!"

Kata-kata ibunya bagai cambuk yang memukul-mukul ulu hatinya. Ia menyesal, sangat menyesal. Dulu, ia selalu mengabaikan Nafiza. Ia bahkan tidak pernah benar-benar melihat wajahnya di balik cadar. Ia dibutakan oleh pesona Riana, oleh ambisi dan keinginan untuk bebas dari perjodohan yang tidak diinginkannya.

Namun, sekarang, ia baru menyadari betapa bodohnya ia. Ia telah menyia-nyiakan permata demi mengejar kilauan palsu. Wajah Nafiza yang selama ini tersembunyi, kini muncul dengan jelas dalam ingatannya. Kulit seputih susu, mata yang teduh, dan senyum lembut yang selalu menghangatkan hatinya. Ia baru menyadari, betapa cantiknya Nafiza, betapa baiknya wanita itu. Dan yang paling menyakitkan, ia telah menalak gadis itu dengan cara yang sangat tidak terhormat di depan seluruh karyawan, di depan mata semua orang.

"Nafiza ..." bisik Farhan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia ingin memperbaiki semuanya meskipun sudah sangat terlambat. Ia ingin meminta maaf, memohon ampun, dan membuktikan bahwa ia pantas mendapatkan kesempatan kedua. Ia tak ingin kehilangan Nafiza. Ia merasa bersalah karena telah menghancurkan kebahagiaan wanita itu.

Dengan tekad yang membara, Farhan bangkit dari tempat tidur. Ia harus menemui Nafiza. Ia harus menjelaskan semuanya. Ia harus meyakinkan Nafiza bahwa ia benar-benar menyesal dan ingin memperbaiki hubungan mereka, meski ia tahu itu tidak akan mudah.

Bergegas, Farhan bersiap dan meluncur menuju rumah keluarga Nafiza. Hatinya berdebar kencang, bercampur antara harapan dan ketakutan. Ia berharap, meski kecil kemungkinan, Nafiza mau menerimanya. Jantungnya berdebar tak karuan sepanjang perjalanan, seperti genderang yang ditabuh dengan keras.

Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya ia sampai juga di depan pintu bangunan dua lantai dengan desain minimalis modern terlihat sangat nyaman dan arsi. Farhan menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Udara malam terasa dingin dan menusuk kulit, seolah mencerminkan hatinya yang sedang gundah gulana. Ia memberanikan diri mengetuk pintu.

Tok! Tok! Tok!

Tak lama pintu utama terbuka, menampilkan seorang pria paruh baya dengan wajah tegas. Dia adalah Abi-nya Nafiza, pria yang selama ini bersikap ramah, kini menatapnya dengan tatapan penuh kekecewaan dan amarah yang menyala-nyala.

"Kamu? Apa yang kamu lakukan di sini, Farhan?" tanya Abi Nafiza dengan nada dingin, menusuk seperti es.

Farhan menelan ludah. "Saya ingin bertemu dengan Nafiza, Abi. Saya ingin meminta maaf," jawabnya dengan suara bergetar namun penuh permohonan. Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata Abi Nafiza yang memancarkan kekecewaan mendalam.

"Meminta maaf? Setelah apa yang kamu lakukan padanya? Kamu pikir permintaan maafmu bisa mengembalikan harga dirinya yang sudah kamu injak-injak di depan umum? Kamu pikir permintaan maafmu bisa menghapus air matanya yang sudah kamu tumpahkan? Kamu pikir permintaan maafmu bisa mengembalikan kebahagiaan putriku?" bentak Abi Nafiza, emosinya meluap seperti gunung berapi yang meletus. Suaranya menggelegar, membuat Farhan semakin merasa kecil dan tidak berdaya.

Di dalam rumah, Umi Maryam dan Zahra yang sedang merapikan meja makan terkejut mendengar suara teriakan Abi. Mereka saling bertukar pandang, merasa khawatir dengan apa yang sedang terjadi.

Farhan menunduk semakin dalam, merasa sangat bersalah. "Saya tahu saya salah, Abi. Saya sangat menyesal. Saya mohon, beri saya kesempatan untuk berbicara dengan Nafiza."

"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kamu sudah menjatuhkan talak atasnya dan itu artinya kamu tidak berhak lagi atasnya Farhan! Pergilah sebelum aku menyeretmu keluar dari sini!" tegas Abi Nafiza. Ia berusaha menutup pintu, namun Farhan menahannya dengan sekuat tenaga.

"Nafiza! Nafiza!" teriak Farhan, berusaha menerobos masuk. "Saya mohon, beri saya kesempatan! Untuk memperbaikinya. Saya mohon maafkan Abi."

Dari lantai dua, di balik jendela kamarnya, Nafiza menatap Farhan dengan tatapan terluka, marah, dan heran. Ia sama sekali tidak berniat menemui pria itu. Kenangan penghinaan di kantor saat itu masih terlalu segar dalam ingatannya. Bagaimana bisa Farhan dengan mudahnya datang dan memohon maaf setelah menghancurkan harga dirinya, setelah menghancurkan hatinya berkeping-keping?

"Nafiza!" teriak Farhan lagi, semakin frustrasi. Ia ingin menyentuh Nafiza, mengatakan betapa menyesalnya ia, dan berjanji tidak akan pernah menyakitinya lagi.

Namun, usahanya sia-sia. Abi Nafiza mendorongnya keluar dan menutup pintu dengan keras, mengakhiri semua harapan Farhan untuk berbicara dengan Nafiza. Suara pintu yang dibanting menutup, menggelegar seperti vonis akhir dalam hidupnya.

"Jangan pernah kembali ke sini lagi, Farhan. Nafiza tidak ingin melihatmu, pergilah sebelum kamu mempermalukan dirimu lebih jauh!" ucap Abi Nafiza dari balik pintu, suaranya tegas dan tanpa ampun.

Farhan terduduk lemas di depan pintu, merasa putus asa dan hancur. Ia tahu, ia telah kehilangan Nafiza untuk selamanya. Ia merasa pantas mendapatkan semua ini, karena ia telah menyakiti hati seorang wanita yang begitu baik dan tulus bertahan dengannya selama tahun ini.

Tiba-tiba, deru mesin mobil berhenti tepat di depan pintu pagar rumah Nafiza. Udara yang tadinya dingin dan sepi, kini terasa semakin menyesakkan. Dan tak lama sebuah suara yang familiar menyentaknya.

"Mas Farhan?"

Farhan mendongak dan melihat Riana berdiri di hadapannya. Mata Riana menyipit, dengan tatapan menilai dan menghakimi. Wajahnya terlihat kesal dan cemburu, seolah ia telah melakukan kesalahan besar.

"Kamu ngapain di sini, Mas? Kamu masih mengharapkan wanita udik ini?" tanya Riana dengan nada sinis, menusuk seperti sembilu.

Farhan terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Kehadiran Riana di sini semakin memperburuk situasi. Ia merasa terjebak dalam labirin yang ia ciptakan sendiri.

"Aku ...,"

"Mas, aku hamil!" teriak Riana tiba-tiba, memotong ucapan Farhan. Air mata palsu mulai membasahi pipinya. Ia sengaja berteriak agar Nafiza dan keluarganya mendengar, menunjukkan bahwa dialah pemenangnya, dialah yang akan menjadi ibu dari anaknya Farhan.

Pengakuan Riana bagai petir yang menyambar Nafiza dan keluarganya, yang sejak tadi menguping di balik pintu. Di dalam, Nafiza menutup mulutnya dengan tangan. Jantungnya berdegup kencang, air mata tiba-tiba menetes tanpa bisa dicegah. Ia merasa dikhianati terlalu dalam, dipermainkan, dan direndahkan. Ia tidak menyangka, Farhan dan Riana telah sejauh ini.

Abi Nafiza kembali membuka pintu dan menatap Farhan dan Riana dengan tatapan murka, mata Ayahnya memancarkan kekecewaan yang tak terhingga. "Jadi, ini alasan kamu menceraikan putriku? Bahkan kamu sudah menghamilinya?" sinisnya, dengan nada yang penuh dengan penghinaan dan rasa jijik.

Di dalam, Umi Maryam mendekap Nafiza erat, berusaha menenangkan putrinya yang sedang hancur. Zahra mengepalkan tangannya, menahan amarah pada Farhan dan Riana ingin rasanya Zahra keluar dan membantai keduanya supaya rada sadar.

Farhan semakin frustrasi. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya. Situasi ini semakin rumit dan menyakitkan. Ia merasa bersalah, malu, dan tidak berdaya di hadapan mantan mertuanya, di hadapan Nafiza.

"Aku ..." Farhan kehilangan kata-kata. Ia merasa tidak pantas untuk berbicara apa pun. Ia merasa hina dan rendah.

Riana dengan sengaja memeluk Farhan erat, mendekapnya posesif, menatap ke arah jendela kamar Nafiza dengan tatapan penuh kemenangan yang angkuh dan sinis. Ia merasa telah berhasil menyingkirkan Nafiza dan mendapatkan Farhan sepenuhnya. Ia merasa bangga telah berhasil merebut Farhan.

Nafiza memalingkan wajahnya, tidak sanggup lagi melihat pemandangan itu. Ia menutup jendela kamarnya dengan sedikit kasar, meninggalkan Farhan dan Riana dengan segala kekacauan yang mereka ciptakan di depan rumahnya. Ia merasa muak, jijik, dan hancur.

Farhan terduduk lemas di depan pintu, merasa putus asa dan hancur. Hujan tiba-tiba turun, membasahi tubuhnya yang lunglai. Ia telah kehilangan Nafiza, menyakiti keluarganya, dan kini terperangkap dalam hubungan yang lebih rumit dengan Riana. Ia merasa seperti sedang dihukum atas semua dosa-dosanya.

Bersambung ....

1
Dinar Almeera
Kakakkk terimakasih banyak dikasih bonus terus 😍😍😍😍
riniandara: sama-sama kak, terimakasih juga udah meluangkan waktunya, semoga menghibur ya kak/Kiss//Applaud/
total 1 replies
irma hidayat
lanjut bulan madu zayn nafiza
riniandara
terima kasih supportnya kak. pasti kak/Smile//Kiss/
we
tetap semangat Kakak
azela
cerita yang menyentuh dan menghibur ayo kakak semua mampir di karya ini di jamin gak akan nyesel deh. semangat buat author juga./Heart//Heart//Pooh-pooh/
azela
lanjut kakaku ceritanya makin kesini makin seru /Heart//Heart/
irma hidayat
pasang alarm nafiza
irma hidayat
ternyata baju kurang bahan hadiah momynya ya nafiza
irma hidayat
dasar perempuan dengki riana gada bersyukurnya
ari sachio
semoga mjd pasangan yg samawa d cepet dpt momongn biar mantan gigit jari ampe kukunya habis😁😁😁
irma hidayat
turut bahagia buat nafiza zayn, lanjut upnya thor
riniandara: besok lagi ya kakakku/Kiss/
total 1 replies
irma hidayat
lanjut up nya thor
riniandara: Siap kak/Applaud/
total 1 replies
ari sachio
sami mawon intine bambang.....😅😅😅
irma hidayat
ayo semangat zayn buat sahkan nafiza
riniandara: pasti semangat 45 Zayn/Applaud//Applaud/
total 2 replies
irma hidayat
enak ya farahan rasa sakit diselingkuhi tak harus nunggu lama karma ya
irma hidayat
jalang riana suatu saat buah yg kamu tuai akan lebih pahit dari kejahatanmu
ari sachio
inalillahi...ternya kuntilanak kalah serem.....kirain riana mo insaf... g taunya malah makin jadi....ampunnn dahhh wes angel tenan jiannnn......
mami syila
dasar Riana /Panic//Panic//Panic//Panic/
mami syila
janda terhoy ini mah
mami syila
lanjut kak seru abis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!