Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Malam pengajian di rumah Arunika berlangsung khidmat. Lantunan ayat suci menggema, menciptakan suasana damai yang ironisnya berbanding terbalik dengan badai di hati sang calon mempelai. Arunika tampil sangat anggun dengan kaftan sutra berwarna putih gading dan kerudung senada yang membingkai wajah cantiknya.
Abimana duduk di barisan pria. Sepanjang acara, ia tidak bisa fokus. Matanya berkali-kali mencuri pandang ke arah Arunika. Ada rasa sesak yang aneh saat melihat gadis itu bersalaman dan mencium tangan ibu-ibu pengajian dengan begitu tulus.
Bagaimana bisa dia bersikap seolah tidak ada perang di antara kita? batin Abimana gusar.
Setelah acara selesai, saat tamu mulai pulang, Saras menghampiri Abimana dan Arunika yang sedang berdiri berdekatan di teras samping.
"Abi, Nika... Besok adalah hari besar kalian." ucap Saras dengan mata berkaca-kaca karena bahagia. "Tante—maksud Ibu—hanya ingin kalian berjanji untuk saling menjaga. Abi, Ibu titip Nika. Dia permata yang sangat berharga."
Abimana terdiam. Ia merasakan tenggorokannya tercekat saat Arunika menoleh ke arahnya, menunggu jawaban dengan tatapan yang seolah menantang kejujurannya.
"Iya, Bu. Abi akan... berusaha." jawab Abimana pendek.
Arunika tersenyum, lalu meraih tangan Saras. "Ibu tenang saja. Nika akan memastikan pernikahan ini berjalan sesuai dengan yang kita semua harapkan."
Begitu Saras menjauh, suasana hangat itu seketika lenyap. Abimana menarik napas berat. "Kamu sangat hebat dalam bersandiwara, Arunika."
"Bukan sandiwara, Mas. Ini adalah bentuk pengabdian saya pada orang tua." sahut Arunika dingin. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, hingga aroma melati dari rambutnya tercium oleh Abimana. "Besok, saat tanganmu menjabat tangan Ayahku, pastikan hatimu bersih. Jika tidak bisa mencintaiku, setidaknya jangan hancurkan harapan orang-orang yang ada di ruangan ini."
Sebelum Abimana sempat membalas, ponsel di saku jasnya bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari Claudia. Di layar yang menyala, terlihat pesan singkat muncul: [Abi, aku di depan gerbang rumah Arunika. Aku ingin bicara sekarang atau aku masuk ke dalam!]
Wajah Abimana seketika pucat pasi. Ia melirik ke arah gerbang, lalu kembali ke arah Arunika yang ternyata juga sedang menatap layar ponselnya dengan alis bertaut.
"Kekasihmu punya nyali yang cukup besar, ya?" bisik Arunika dengan nada yang sangat rendah namun sarat akan ancaman. "Selesaikan, Mas. Atau aku yang akan menyelesaikannya dengan caraku sendiri."
Suasana malam yang seharusnya tenang setelah pengajian itu mendadak mencekam. Di luar gerbang, di dalam mobilnya yang terparkir agak jauh dari lampu jalan, Claudia mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu, matanya merah menahan amarah sekaligus rasa tidak percaya.
"Status? Hanya soal status katanya?!" desis Claudia dengan suara bergetar.
Ia baru saja melihat foto-foto acara pengajian yang diunggah oleh salah satu kerabat Abimana di media sosial. Di sana, Abimana tampak duduk gagah dan Arunika terlihat sangat cantik bersahaja. Claudia merasa dikhianati. Selama ini Abimana selalu meyakinkannya bahwa pernikahan ini hanyalah sandiwara dingin, namun sorot mata Abimana saat menatap Arunika di foto itu menceritakan hal yang berbeda.
"Kamu pikir kamu bisa membuangku begitu saja setelah mendapatkan mahasiswi itu, Abi? Jangan harap!"
Claudia merasa dipermainkan. Ia merasa selama ini hanya menjadi tempat pelarian sementara Abimana perlahan-lahan mulai terseret ke dalam pesona Arunika yang baru. Dengan nekat, ia keluar dari mobil. High heels-nya berbunyi nyaring di atas aspal saat ia melangkah mendekati gerbang tinggi rumah Arunika.
Sementara itu, di balik gerbang, Abimana masih terpaku menatap ponselnya. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia tahu Claudia bukan tipe wanita yang hanya menggertak. Jika wanita itu masuk sekarang, hancur sudah segalanya.
"Mas Abi tidak mau menemuinya?" tanya Arunika pelan, suaranya terdengar sangat tenang namun mematikan. Ia berdiri bersedekap, bersandar pada pilar teras. "Dia sudah di depan. Suara sepatunya terdengar sampai ke sini. Mas mau dia yang masuk dan membuat keributan di depan Ayah, atau Mas yang keluar dan mengakhirinya?"
Abimana menatap Arunika dengan tatapan memohon sekaligus frustrasi. "Nika, tolong... beri aku waktu sebentar. Aku akan menyelesaikannya."
Arunika tersenyum tipis, sebuah senyuman tanpa kehangatan. "Waktumu sampai dia menyentuh bel rumah ini, Mas. Lewat dari itu, jangan salahkan aku jika besok tidak akan pernah ada akad nikah."
Abimana segera berlari kecil menuju gerbang. Begitu pintu gerbang terbuka sedikit, ia melihat Claudia sudah berdiri di sana dengan wajah yang penuh dendam.
"Abi! Jelaskan padaku! Apa maksud semua ini?!" suara Claudia meninggi, hampir menjadi teriakan.
"Diam, Claudia! Jangan di sini!" bisik Abimana panik, mencoba menarik tangan Claudia menjauh dari gerbang.
Namun, Claudia menyentak tangan Abimana. Matanya menatap tajam ke arah sosok Arunika yang masih berdiri di teras, memandang mereka dari kejauhan seolah sedang menonton sebuah pertunjukan komedi yang murah.
"Oh, jadi itu dia? Mahasiswi pendiam yang tiba-tiba berubah jadi ratu itu?" teriak Claudia sengaja agar terdengar sampai ke dalam. "Abi, kamu bilang dia tidak berarti apa-apa! Kamu bilang ini cuma sampah yang harus kamu urus demi Mama!"
Langkah kaki Arunika yang tenang namun pasti di atas ubin teras membuat Abimana seketika menahan napas. Suara gesekan kain kaftan sutranya terdengar seperti peringatan bagi siapa pun yang mendengarnya.
Arunika berhenti tepat di samping Abimana, tidak terlalu dekat, namun cukup untuk menunjukkan posisinya sebagai pemilik rumah. Ia menatap Claudia dengan pandangan yang datar, tidak ada kemarahan, tidak ada histeria—hanya ketenangan yang mengintimidasi.
"Jadi, apa yang membuat Mbak Claudia kemari?" suara Arunika memecah ketegangan, sangat lembut namun terasa dingin seperti es.
Claudia terdiam sejenak, terkejut melihat sosok Arunika dari dekat. Tanpa kacamata dan dalam balutan busana pengajian yang anggun, Arunika terlihat jauh lebih mengancam daripada yang ia bayangkan.
"Oh, kamu sudah berani keluar sekarang?" tantang Claudia, mencoba menutupi kegugupannya dengan nada sinis. "Kamu dengar kan apa yang Abi katakan tentangmu? Kamu itu cuma 'sampah' status yang dia ambil karena terpaksa!"
Abimana memejamkan mata, wajahnya pucat pasi. "Claudia, cukup!"
Arunika justru terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus hingga membuat Claudia semakin geram.
"Sampah?" Arunika mengulang kata itu sembari menoleh ke arah Abimana yang tertunduk. "Terima kasih sudah mengingatkanku, Claudia. Tapi setidaknya, sampah ini akan segera dipindahkan ke dalam istana keluarga Permana besok pagi."
Arunika kemudian melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Claudia, membuat wanita itu mundur secara refleks.
"Dengar baik-baik, Mbak Claudia." bisik Arunika, suaranya kini penuh penekanan. "Jika aku memang hanya 'sampah status', lalu kamu apa? Kamu adalah wanita yang berteriak-teriak di depan rumah orang malam-malam hanya untuk memohon cinta dari pria yang besok akan mengucapkan janji suci untukku. Di antara kita, siapa yang terlihat lebih menyedihkan?"
"Kamu—!" Claudia mengangkat tangannya, hendak menunjuk wajah Arunika, namun Arunika dengan cepat menangkap pergelangan tangan itu dengan kuat.
"Jangan di rumahku." desis Arunika tajam. "Mas Abi, bawa wanitamu ini pergi sekarang juga. Selesaikan urusan kalian di luar sana. Jika dalam sepuluh menit dia masih bersuara di depan gerbangku, aku tidak akan segan memanggil Ayah. Dan kamu tahu betul, Mas, sekali Ayah keluar... tidak akan ada akad nikah, dan tidak akan ada lagi warisan atau nama baik untukmu."
Arunika melepaskan tangan Claudia dengan sentakan halus, lalu berbalik tanpa menunggu jawaban.
"Sepuluh menit, Mas. Waktumu dimulai dari sekarang." pungkas Arunika sembari berjalan kembali masuk ke dalam rumah, meninggalkan Abimana yang kini dipenuhi rasa malu dan takut yang luar biasa di hadapan kekasihnya yang histeris.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪