Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.
Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.
Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN YANG MENYUSUL DI BALIK LAYAR
Kota itu memiliki wajah ganda seperti buah yang luarnya cantik tapi dalamnya ada ulat. Di siang hari, ia adalah dunia industri yang sibuk dengan mesin yang berdecak dan orang-orang yang bekerja keras seperti semut yang mengurus sarangnya. Di malam hari, ia berubah menjadi tempat yang penuh dengan cahaya neon yang berkedip seperti mata yang tidak bisa tidur, dan suara musik yang bergema seperti gong yang terus berdentang. Di salah satu klub malam kecil di pinggiran kota yang namanya terdengar seperti bisikan yang tidak jelas, bekerja seorang pria bernama Sidak.
Sidak adalah pria yang suka menyamar seperti ular yang menyelinap dengan kulit yang menarik. Di depan orang lain, dia selalu menunjukkan dirinya sebagai pria tampan dan percaya diri seperti bunga kembang sepatu yang mekar besar tapi tidak berbau apa-apa – mengenakan baju yang terlalu ketat di tubuhnya yang kurus kering seperti pohon kayu yang sudah kering di tengah gurun, rambutnya diatur rapi seperti helai benang yang disusun dengan cermat, dan senyumnya yang ia pikir menarik seperti senyum topeng yang tidak memiliki perasaan. Tapi jika dilihat lebih dekat, wajahnya pucat seperti kertas yang tidak pernah terkena sinar matahari, dan matanya gelap seperti lubang hitam yang tidak ada ujungnya.
Sidak telah mengincar Murni sejak lama – sejak saat dia pertama kali melihatnya berjalan di jalan raya pada sore hari yang panas seperti oven besar. Saat itu, Murni sedang membawa makanan untuk rekan kerja yang sakit, wajahnya penuh dengan perhatian seperti ibu yang merawat anaknya. Sidak merasa seperti serangga yang tertarik pada sumber cahaya, tidak tahu bahwa cahaya itu bisa membakarnya. Sejak saat itu, dia selalu mengikuti jejak Murni seperti bayangan yang tidak bisa dilepaskan, menyelinap di balik gedung-gedung seperti ular yang mencari mangsanya, atau bersembunyi di sudut jalan seperti pemburu yang menunggu kesempatan.
Dia tahu segala sesuatu tentang Murni – tahu bahwa dia bekerja di pabrik makanan ringan seperti burung yang terbang ke sarangnya setiap hari, tahu bahwa dia tinggal di kontrakan kecil seperti binatang yang bersembunyi di sarangnya, tahu bahwa dia memiliki pacar yang bekerja di pabrik besi dan baja seperti raksasa yang melindungi mangsanya. Setiap informasi yang dia kumpulkan seperti batu yang dia kumpulkan untuk membangun benteng, tapi benteng itu hanya ada di dalam pikirannya yang gelap seperti malam tanpa bintang.
Sidak mulai mengirim pesan-pesan yang tidak diinginkan ke hp Murni – pesan yang penuh dengan kata-kata yang tidak pantas seperti kotoran yang dibuang ke dalam kolam yang jernih. "Kamu cantik seperti bunga tapi terbuang dengan pria kasar seperti itu," tulisnya dalam salah satu pesan. "Aku bisa memberikanmu kehidupan yang lebih baik – kehidupan yang penuh dengan kemewahan seperti harga mahal yang hanya bisa dinikmati oleh orang kaya." Murni merasa seperti burung yang diserang oleh burung pemangsa, hati nya berdebar kencang seperti mesin yang bekerja terlalu keras.
Tapi Murni tidak memberitahu Khem – dia takut seperti anak kecil yang takut memberitahu orang tuanya tentang masalahnya. Dia berpikir bahwa masalah ini bisa dia atasi sendiri seperti perang yang bisa dia menangkan sendirian, takut bahwa Khem akan marah dan melakukan sesuatu yang tidak baik seperti raksasa yang kehilangan kendali. Dia mulai berjalan dengan cepat seperti kelinci yang sedang dikejar, selalu melihat ke belakang seperti orang yang takut akan bahaya yang mengikuti, atau memilih jalan yang lebih ramai seperti kambing yang bersembunyi di dalam kawanan.
Sidak merasa semakin yakin seperti pemburu yang tahu bahwa mangsanya sudah dekat. Dia mulai muncul di tempat-tempat yang sering dikunjungi Murni – berdiri di sudut pasar seperti patung yang tidak bergerak, atau duduk di warung makan kecil yang sering dikunjungi Murni seperti pelanggan yang biasa datang. Setiap kali dia melihat Murni, dia memberikan senyum yang dia pikir menawan seperti ular yang menunjukkan lidahnya, tapi bagi Murni, senyum itu seperti bahaya yang mengancam.
Suatu malam, ketika Murni pulang kerja sendirian karena Khem harus bekerja lembur seperti prajurit yang harus bertugas di medan perang, Sidak melihat kesempatan seperti pemburu yang melihat mangsanya sendirian. Dia menyusul Murni seperti bayangan yang mengikuti setiap langkahnya, kaki nya menginjak jalan dengan suara yang hampir tidak terdengar seperti ular yang menyelinap di atas tanah. Murni merasakan bahwa ada orang yang mengikutinya seperti hewan yang merasakan kehadiran pemangsa, jantungnya berdebar seperti gendang yang terus dipukul.
Ketika mereka sampai di gang kecil yang sepi seperti lubuk yang terlupakan, Sidak keluar dari tempat persembunyiannya seperti binatang buas yang menyerang. "Kamu tidak bisa menghindariku selamanya," katanya dengan suara yang kasar seperti gergaji yang memotong kayu. Murni mundur perlahan seperti kambing yang menghadapi harimau, matanya penuh dengan ketakutan seperti anak kecil yang tersesat di hutan gelap. Tapi dia tidak menyerah – dia ingat kata-kata Khem tentang kekuatan seperti besi yang kuat, dan dia tahu bahwa dia harus melindungi dirinya sendiri seperti pahlawan yang melindungi tanah airnya.
"Jangan mendekat!" teriak Murni dengan suara yang lebih kuat dari yang dia kira bisa keluarkan seperti guntur yang tiba-tiba terdengar. "Aku akan memanggil orang!" Sidak hanya tertawa seperti anjing liar yang mengejek mangsanya. "Siapa yang akan datang? Pria besimu yang sibuk dengan mesinnya? Dia tidak akan pernah tahu apa yang terjadi padamu." Saat dia mulai mendekat, tangan nya seperti cakar yang siap meraih mangsanya, tiba-tiba ada suara yang keras seperti petir yang menerangi langit.
"Jangan sentuh dia!" Khem berdiri di ujung gang dengan wajah yang merah seperti matahari yang sedang marah, tangannya sudah siap seperti petinju yang siap bertarung. Dia telah merasa bahwa ada sesuatu yang salah seperti mesin yang merasakan ada bagian yang rusak, jadi dia meninggalkan pekerjaannya dan mencari Murni seperti anjing yang mencari jejak pemiliknya. Sidak melihat Khem dan mundur sedikit seperti ular kecil yang melihat ular yang lebih besar, tubuhnya yang kurus kering terlihat lebih kecil seperti pohon kering yang akan roboh.
"Kamu tidak punya hak untuk menyakitinya," ucap Khem dengan suara yang dalam seperti getaran dari mesin yang kuat. "Dia adalah orang yang kucintai dalam hidupku – bahkan lebih berharga dari semua besi dan baja di pabrikku." Sidak melihat ke sana kemari seperti binatang yang bingung dan takut, lalu dengan cepat berlari seperti tikus yang melihat kucing, menghilang ke dalam kegelapan seperti bayangan yang lenyap ketika cahaya menyala.
Khem mendekat ke Murni dan memeluknya erat seperti tembok yang melindungi dari badai, tangan nya menyentuh wajahnya dengan lembut seperti sentuhan yang menghilangkan rasa takut. "Mengapa kamu tidak memberitahuku?" tanyanya dengan suara yang penuh dengan perhatian seperti ayah yang khawatir dengan anaknya. Murni menangis seperti anak kecil yang akhirnya menemukan tempat perlindungan, menjelaskan semua yang terjadi seperti air yang mengalir keluar dari wadah yang penuh.
"Aku takut kamu akan marah dan melakukan sesuatu yang tidak baik," bisik Murni dengan suara yang bergetar seperti daun yang terkena angin kencang. Khem menggelengkan kepalanya seperti orang yang tidak setuju dengan pikiran itu. "Aku akan marah karena seseorang mencoba menyakitimu, tapi aku tidak akan melakukan sesuatu yang salah. Kita adalah pasangan – kita harus saling memberitahu segala sesuatu, seperti mesin yang butuh semua bagian untuk berjalan dengan baik. Kamu tidak sendirian lagi, Murni. Kita akan menghadapi segala sesuatu bersama."
Mereka pulang dengan tangan saling memegang erat seperti dua orang yang baru saja melewati badai, hati mereka masih berdebar seperti gelombang yang belum tenang. Murni menyadari bahwa menyembunyikan masalah bukanlah solusi seperti menutup mata tidak akan membuat bahaya hilang. Khem mengajaknya untuk melaporkan kejadian itu ke polisi seperti orang yang ingin keadilan ditegakkan, dan mereka juga akan lebih hati-hati seperti pelaut yang selalu siap menghadapi ombak.
Di ruang kontrakan , Khem membuat teh hangat seperti obat yang menyembuhkan rasa sakit, dan memasang lampu tambahan seperti cahaya yang mengusir kegelapan. Murni mengenakan kalung besi yang diberikan Khem – sekarang ia terasa seperti perisai yang melindungi dirinya, bukan hanya hiasan yang indah. Mereka berpelukan seperti dua orang yang saling memberikan kekuatan, mengetahui bahwa bahaya bisa datang dari mana saja seperti angin yang bisa bertiup dari arah yang tak terduga, tapi dengan cinta dan kepercayaan, mereka bisa menghadapinya seperti besi yang kuat yang tidak akan patah.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Khem mengambil hp Murni dengan tangan yang hati-hati seperti tukang yang menangani barang berharga, layarnya menyala seperti mata yang melihat segala sesuatu dengan jelas. Dia membuka daftar pesan masuk, dan melihat deretan pesan dari nomor yang tidak dikenal – kata-katanya kasar seperti pasir yang mengikis kulit, penuh dengan harapan yang salah seperti mimpi yang tidak akan pernah jadi kenyataan. "Ini harus berhenti sekarang," ucapnya dengan nada yang tegas seperti hakim yang memberikan putusan.
Dia menunjukkan kepada Murni cara untuk memblokir nomor itu – gerakan jarinya di layar seperti tukang yang memasang kunci pada pintu yang pernah dibobol. "Begini," katanya lembut seperti guru yang mengajarkan muridnya, "sekarang dia tidak bisa lagi mengganggumu dengan pesan. Seperti memasang pagar besi di sekitar rumah kita – menjaga bahaya keluar." Murni mengangguk, rasa lega yang muncul seperti air yang keluar dari saluran yang tersumbat, tapi masih ada rasa takut yang seperti gendang yang masih berdenyut lembut.
Setelah memastikan nomor sudah terblokir dengan benar seperti pintu yang terkunci rapat, Khem mengambil jaketnya yang tebal seperti perisai tambahan. "Aku harus kembali ke pabrik untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda," katanya sambil mencium dahi Murni. "Tetapi janjiku padamu – aku akan selalu ada untukmu. Jika ada sesuatu yang tidak beres, hubungiku segera. Jangan pernah menyembunyikannya lagi ya?" Murni mengangguk dengan mata yang sudah mulai tenang seperti danau yang kembali jernih setelah badai.
Saat Khem pergi, langkahnya tetap waspada seperti prajurit yang menjaga perbatasan. Dia melihat sekeliling gang yang sepi seperti pelindung yang memeriksa setiap sudut untuk bahaya, memastikan tidak ada bayangan yang menyamar seperti ular yang bersembunyi di balik rerumputan. Setelah yakin bahwa aman, dia naik sepeda motornya yang sudah siap seperti kuda yang siap membawa pemiliknya pergi, suara mesinnya seperti janji bahwa dia akan segera kembali.
Sementara itu, Murni membersihkan kamar kecilnya dengan hati-hati seperti orang yang membersihkan rumah setelah tamu tidak diinginkan pergi. Dia mengatur ulang barang-barangnya seperti menyusun kembali kehidupan yang sedikit terganggu, menyetrika baju kerja nya dengan seksama seperti menyiapkan diri untuk menghadapi hari yang baru. Patung burung besi di atas meja terlihat seperti penjaga yang selalu ada, dan kalung di lehernya seperti ikat tali yang menghubungkannya dengan keamanan.
Malam itu, Sidak mencoba mengirim pesan lagi seperti pemburu yang tidak mau menyerah, tapi layar hp nya menunjukkan pesan yang tidak bisa terkirim seperti pesan yang hilang di udara. Dia merasa seperti raja yang kehilangan kekuasaan, marah dan frustasi seperti binatang buas yang tidak mendapatkan mangsanya. Dia berjalan kesana kemari di sekitar klub malam yang sudah sepi seperti anjing liar yang tidak punya rumah, wajahnya penuh dengan kemarahan yang seperti api yang tidak bisa dipadamkan.
Dia memutuskan untuk mencoba mencari Murni lagi seperti orang yang sudah tersesat dalam kegelapan, berpikir bahwa dia bisa menemukan cara lain untuk menghubunginya seperti pencuri yang menemukan celah baru untuk masuk. Tapi ketika dia sampai di kontrakan Murni, dia melihat Khem yang sedang berdiri di depan pintu seperti raksasa besi yang tidak bisa ditembus, tangan nya sudah siap seperti pelindung yang selalu siap bertarung. Khem tidak mengatakan apa-apa, tapi matanya yang tajam seperti pisau yang siap memotong, sudah cukup untuk membuat Sidak berpaling dan berlari seperti tikus yang melihat macan.
Keesokan hari, Khem datang dengan sebuah kejutan untuk Murni – sebuah kunci baru untuk kamar kontrakan yang dia buat sendiri dari baja yang kuat seperti janji yang tidak akan pernah patah. "Ini untukmu," katanya sambil memberikannya. "Aku ingin kamu merasa aman setiap saat. Kunci ini seperti perisai yang kamu pegang sendiri – hanya kamu dan aku yang punya kuncinya." Murni menerima kunci itu dengan tangan yang stabil seperti orang yang sudah menemukan kekuatan dalam dirinya sendiri.
Khem juga mengajak Murni untuk berbicara dengan kepala pabriknya tentang kejadian itu seperti orang yang ingin melindungi lingkungan kerja. Kepala pabrik sangat prihatin seperti pemimpin yang peduli dengan anak buahnya, dan segera mengatur agar ada petugas keamanan yang menjaga pintu masuk pabrik seperti pasukan yang menjaga gerbang kerajaan. Rekan kerja Murni juga semakin peduli seperti keluarga yang saling melindungi, selalu menawarkan untuk pulang bersama seperti kawanan yang tidak akan meninggalkan salah satu anggotanya.
Murni mulai merasa lebih aman seperti burung yang kembali ke sarangnya yang terlindungi. Dia berhenti melihat ke belakang setiap saat seperti orang yang sudah tidak takut lagi dengan bayangan, dan mulai fokus kembali pada impiannya seperti pelaut yang kembali menuju arah tujuan nya. Khem selalu menemani dia ke mana saja seperti bayangan yang melindungi, tapi tidak terlalu mengganggu seperti pelindung yang tahu batasan nya.
Suatu malam, mereka duduk bersama di balkon kamar kontrakan, melihat kota yang sudah mulai tenang seperti bayangan yang kembali ke tempatnya. Murni menyentuh kalung besi di lehernya dan berkata, "Dulu aku berpikir kalung ini hanya hiasan yang indah. Tapi sekarang aku tahu – dia adalah perisai yang kamu berikan padaku. Dan kamu adalah benteng yang selalu melindungiku." Khem tersenyum seperti matahari yang menyinari dunia setelah hujan, "Kamu juga adalah perisai bagiku, Murni. Kita saling melindungi, seperti besi dan baja yang saling menguatkan satu sama lain."
Mereka berjanji satu sama lain bahwa mereka akan selalu saling memberitahu segala sesuatu seperti dua orang yang berbagi satu hati dan pikiran. Bahaya bisa datang kapan saja seperti angin yang bisa bertiup dari arah mana saja, tapi dengan cinta yang kuat seperti besi yang sudah dilebur dan dibentuk, mereka tahu bahwa mereka bisa menghadapi segala sesuatu seperti pasangan yang tidak akan pernah terpisahkan oleh apa pun.
Di kejauhan, Sidak melihat mereka dari tempat yang tersembunyi seperti bayangan yang tidak bisa lagi menyakitkan siapapun. Dia menyadari bahwa dia tidak akan pernah bisa mendapatkan Murni seperti orang yang tidak bisa mendapatkan bintang di langit, dan perlahan-lahan dia pergi seperti kabut yang hilang ketika matahari muncul, menghilang ke dalam kegelapan yang tidak akan pernah lagi mengganggu kehidupan pasangan itu.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Sidak berjalan tanpa tujuan seperti orang yang tersesat di dalam hutan yang tidak pernah keluar. Jalanan kota yang dulu dia kenal seperti telapak tangan sendiri kini terasa asing seperti lantai bulan yang belum pernah diinjak. Setiap langkahnya terasa berat seperti orang yang membawa batu besar di pundaknya, pikirannya penuh dengan rasa frustrasi yang seperti asap yang memenuhi paru-parunya.
Dia kembali ke klub malam yang dulu jadi tempatnya seperti anjing yang kembali ke sarangnya yang sudah rusak. Tapi tempat itu tidak lagi terasa seperti rumah – lampu neon yang dulu terlihat menarik kini terasa menyilaukan seperti matahari yang terlalu terang, musik yang dulu dinikmati kini terdengar seperti suara kebisingan yang menyakitkan telinga. Rekan kerjanya melihatnya dengan wajah yang tidak peduli seperti orang yang melihat orang asing lewat, tidak ada yang peduli dengan nasibnya yang seperti daun kering yang terbawa angin.
Sidak mencoba mencari pekerjaan lain seperti burung yang mencari cabang baru untuk bertengger, tapi tidak ada yang mau menerimanya. Wajahnya yang penuh dengan kemarahan dan kesalahan masa lalu seperti label yang tidak bisa dilepas, membuat orang-orang menjauhinya seperti hewan yang menghindari makhluk sakit. Dia menghabiskan uangnya yang tersisa seperti air yang mengalir dari tangan yang terbuka, sampai akhirnya tidak punya lagi tempat untuk tinggal seperti binatang liar yang tidak punya sarang.
Pada pagi yang sangat panas seperti oven yang tidak pernah dimatikan, Sidak berjalan ke tepi sungai besar yang mengalir seperti nadi kehidupan yang tidak pernah berhenti. Dia melihat ke dalam air yang jernih seperti cermin yang menunjukkan dirinya yang sebenarnya – seorang pria kurus kering seperti pohon yang sudah mati, wajahnya pucat seperti kertas kosong, dan matanya kosong seperti lubang yang tidak ada isinya. Dia menyadari bahwa dia telah menghabiskan waktu nya untuk mengejar sesuatu yang tidak pernah bisa menjadi miliknya seperti orang yang mengejar bayangan di atas tanah.
"Dia adalah bintang di langit," bisik dia dengan suara yang lemah seperti angin yang hampir tidak terasa. "Sementara aku hanyalah tanah yang tergeletak di bawahnya – tidak mungkin untuk menyentuhnya, tidak mungkin untuk memilikinya." Rasa kesalahan yang muncul seperti air yang menyiram dirinya dari atas kepala, membuatnya menyadari bahwa semua yang dia lakukan adalah salah seperti jalan yang ditempuh ke arah yang salah.
Dia mengambil barang-barang kecil yang masih dimilikinya – beberapa baju yang sudah lusuh seperti kain yang sudah sering dicuci, dan uang sedikit yang masih tersisa seperti butir beras yang tidak cukup untuk makan. Dia pergi ke stasiun bis seperti orang yang akan pergi meninggalkan masa lalu yang kelam, membeli tiket dengan tujuan yang tidak jelas seperti pergi ke tempat yang tidak pernah diketahui. Ketika bis datang seperti harapan baru yang muncul dari kejauhan, dia naik tanpa berpikir dua kali seperti orang yang ingin melarikan diri dari dirinya sendiri.
Sidak menghilang seperti kabut yang hilang ketika matahari mulai tinggi, tidak ada yang tahu kemana dia pergi – tidak ada yang peduli. Klub malam menggantinya dengan orang baru seperti tanah yang tumbuhkan rumput baru setelah daun kering jatuh, jalanan yang dulu dia lalui kembali ramai seperti pasar yang selalu sibuk, dan kehidupan kota kembali berjalan seperti mesin yang tidak pernah berhenti berputar.
Beberapa hari kemudian, Murni mendengar kabar bahwa Sidak telah pergi dari teman-teman yang bekerja di daerah itu seperti berita yang datang dari jauh. Dia merasa lega seperti orang yang akhirnya bisa bernapas lega setelah lama tidak bisa bernapas, tapi juga ada rasa iba yang seperti air mata yang hampir keluar tapi tertahan. Khem melihatnya dan memeluknya dengan lembut seperti pelindung yang mengerti perasaan nya. "Dia sudah memilih jalan nya sendiri," ucap Khem. "Dan kita harus memilih jalan kita sendiri – jalan yang penuh dengan cinta dan kebaikan."
Murni mengangguk, merasakan bahwa beban yang selama ini ada di hatinya seperti batu besar yang diangkat oleh tangan yang kuat. Dia mulai fokus kembali pada hidupnya seperti burung yang mulai terbang lagi setelah lama tidak bisa terbang. Dia mendaftar ke kelas kuliah malam seperti orang yang membuka buku baru dengan halaman kosong, mulai belajar dengan giat seperti siswa yang ingin meraih prestasi terbaik. Khem selalu mendukungnya seperti temannya yang selalu ada di samping, membantu dia belajar ketika ada waktu seperti guru yang sabar mengajar muridnya.
Di pabrik, kehidupan kembali tenang seperti danau yang tidak ada ombak. Rekan kerja Murni semakin dekat seperti keluarga yang saling menyayangi, selalu memberikan dukungan seperti teman yang selalu siap membantu. Khem juga semakin sukses di bengkelnya, membuat karya-karya yang indah dari besi dan baja seperti menjadikan barang bekas menjadi permata yang berharga. Mereka menyimpan uang dengan giat seperti orang yang sedang menumpuk batu bata untuk membangun rumah masa depan.
Suatu malam, mereka berdiri di atas jembatan yang sama seperti dulu, melihat kota yang bersinar seperti kota yang penuh dengan harapan. Murni mengenakan kalung besi yang sudah menjadi bagian dari dirinya seperti kulit yang melindungi tubuhnya, dan tangan nya terjalin erat dengan tangan Khem seperti dua benang yang tidak bisa dipisahkan. Mereka melihat ke langit yang penuh dengan bintang seperti jalan yang panjang dan penuh dengan kemungkinan, tahu bahwa mereka telah melewati masa-masa sulit seperti kapal yang melewati badai untuk sampai ke pelabuhan yang aman.
"Bintang itu tetap ada di langit," ucap Murni sambil menunjuk ke arah langit yang gelap. "Tetapi sekarang aku tahu bahwa aku tidak perlu menyentuhnya – cukup melihatnya saja sudah membuat hidupku lebih cerah." Khem tersenyum seperti matahari yang muncul di ufuk timur, "Kamu juga adalah bintang bagiku, Murni. Bintang yang selalu bersinar dan menerangi jalan hidupku. Dan kita akan selalu bersama, melihat bintang-bintang itu bersama-sama."
Kehidupan mereka berjalan seperti aliran sungai yang tenang dan penuh dengan makna, jauh dari bayangan masa lalu yang sudah hilang seperti kabut di pagi hari. Mereka tahu bahwa masa depan akan penuh dengan tantangan seperti jalan yang tidak selalu mulus, tapi dengan cinta yang kuat seperti besi yang tidak akan patah, mereka siap menghadapinya seperti pasangan yang tidak akan pernah menyerah pada apapun.
....