Kelahirannya menciptakan badai dahsyat. Di saat yang sama, klan Erlang kalah telak. Kekalahan itu membuatnya dicap sebagai anak pembawa sial. Bukan hanya hampir menghilang dari alam langit, klan Erlang juga harus membayar pajak ke klan Liu setiap. tahunnya.
*******
Erlang Xuan, nama yang sama dengan Leluhur klan, tapi nasib mereka berbeda. Jika Leluhur terlahir dengan kekuatan tak terbatas, maka dia terlahir dengan tubuh cacat. Selama belasan tahun, ia disiksa dan direndahkan. Bahkan, karena masalah sepele, ayahnya menghukumnya.
Karena tak punya dantian dan meridian, Erlang Xuan tak bisa berkultivasi. Sampah pembawa sial, itulah julukannya. Tak ada yang tahu bahwa dibalik tubuh cacat itu tersembunyi sesuatu yang akan mengguncang alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 Takdir yang Berbeda
"Luka itu?"
Zhang Xue duduk di samping Erlang Xuan dan memeriksa luka di pergelangan tangan pemuda itu. Luka itu mengingatkannya kepada seseorang yang melukai dirinya hingga hampir mati.
"Penginapan matahari, kamar VIP 8, kamu orangnya!" Zhang Xue sangat senang, sementara Erlang Xuan bingung.
"Apakah kita pernah bertemu?" tanyanya.
Zhang Xue mengangguk. Ia mengeluarkan sesuatu dari cincin ruangnya. Gelang phoenix yang patah. Gelang itu membuat Erlang Xuan terkejut.
"Jadi, gadis itu kamu?" tanyanya.
"Jadi, kalian orang yang sama?"
Lagi-lagi, Zhang Xue mengangguk. Patahan gelang phoenix buktinya. Hari itu, pemuda yang ada di kamarnya mematahkan gelang itu. Patahan gelang digunakan untuk melukai pergelangan tangannya sendiri.
"Aku tidak heran mengapa tadi kamu menggunakan berbagai cara untuk menolongku!" katanya.
"Aku bahkan tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu lagi, tapi disituasi yang serupa!"
Erlang Xuan mengeluarkan patahan gelang phoenix yang selama ini disimpan. Saat kedua patahan gelang di satukan, kejadian aneh terjadi. Luka di pergelangan tangannya menghilang, dan gelang itu menyatu kembali.
"Lukamu sembuh!" Zhang Xue menunjuk pergelangan tangan Erlang Xuan.
"Seharusnya sembuh sejak dulu!" katanya.
Erlang Xuan mengambil gelang itu dan memakaikannya ke pergelangan tangan wanita itu. Menurutnya, kejadian yang sama persis bukanlah sebuah kebetulan.
"Sudah malam, istirahatlah!"
Zhang Xue hanya mengangguk. Udara dingin menusuk hingga tulangnya. Ia tidak bisa tidur, dan tatapannya tertuju pada Erlang Xuan yang tertidur sambil bersandar di dinding.
"Jangan, kumohon jangan lakukan!" Erlang Xuan mimpi buruk. Bukan mimpi, melainkan kenangan buruk yang terus menghantuinya.
Tubuhnya gemetar, dan keringat membasahi wajahnya. Bibirnya bergetar, seolah hendak mengatakan sesuatu. Kondisinya membuat Zhang Xue khawatir. Wanita itu menghampiri pemuda itu dan mencoba menyadarkan.
"Apa yang terjadi?" Ia panik saat menyentuh tubuh Erlang Xuan yang dingin.
"Gawat!" Wanita itu menarik selimut dan menutupi tubuh pemuda itu. Tetap saja, Erlang Xuan menggigil. Mimpi buruk yang berkepanjangan benar-benar menjebaknya.
Tak ada pilihan, ia menggunakan cara ekstrem. Ia mencium bibir Erlang Xuan dengan tujuan agar pemuda itu sadar. Ciuman itu menyadarkannya, tapi tetap saja dingin yang ekstrim menyiksanya.
Ia membalas ciuman Zhang Xue. Ciuman itu berubah menjadi ciuman panas. Malam itu, saat orang lain berusaha bertahan, mereka justru melakukan penyatuan sekali lagi.
...****************...
Pagi hari, udara semakin dingin. Zhang Xue bangun dari tidurnya. Ia mendapati Erlang Xuan duduk duduk bersila dengan mata terpejam.
"Kamu tidak tidur?" tanyanya.
"Aku takut mimpi itu muncul lagi!" jawabnya.
"Kamu tidak sendiri, aku akan selalu ada disisimu!"
Kata-kata Zhang Xue membuatnya tersenyum. Karena sering mimpi buruk, ia tidak pernah tidur selama bertahun-tahun. Saat matanya terpejam, mimpi buruk akan muncul di dalam tidurnya.
"Jadi, kamu tidak pernah tidur?"
"Sejak berusia 14 tahun, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Kejadian itu terus menghantuiku, dan berubah menjadi mimpi buruk. Bukan hanya mimpi, energi dingin ekstrim juga menyiksaku," jelasnya.
"Justru yang terjadi padaku sebaliknya. Energi panas selau menyiksaku, tapi tidak terlalu sering." Zhang Xue menimpali.
"Kak, kamu ada di dalam?" Hehua mengetuk pintu.
"Kakak!"
Pintu terbuka, dan di depan pintu, seorang gadis cantik dengan pakaian merah tampak tersenyum. Hehua, si phoenix suci itu terkejut saat melihat seseorang yang duduk di tempat tidur.
"Dia siapa?" tanyanya.
"Namaku Zhang Xue!"
Zhang, marga yang menunjukkan statusnya. Dia adalah putri pertama Kaisar Zhang, tapi selalu tersisihkan. Di istana, semua dilakukannya seorang diri. Tak ada pengawal atau pelayan. Yang bisa diandalkan hanya dirinya sendiri.
"Namaku Hehua!" Gadis itu memperkenalkan diri tanpa menyebut marganya.
"Erlang Hehua, aku adik bungsu Kak Xuan!" lanjutnya.
"Kakak sendiri kenapa ada di sini?" tanyanya dengan tatapan penuh selidik.
"Semalam kakakmu menyelamatkanmu dari seseorang. Makanya aku ada di sini!"
Apa yang dikatakannya memang benar. Hanya saja, cara penyelamatannya yang tak bisa disebutkannya. Baginya, cukup dia dan Erlang Xuan yang tahu.
"Kukira kalian sudah menikah!"
Pernyataan Hehua membuatnya terkejut. Ia tak menyangka kata-kata seperti itu diucapkan oleh seseorang yang baru saja terbebas dari racun aneh. Meski perkataan itu tidak salah sama sekali. Pasalnya, siapapun akan mengira mereka sudah menikah, padahal belum.
"Tidak ada salahnya kita menikah. Toh, di tempat ini ada kuil langit!" Sang Putri menghampiri Erlang Xuan dan menunggu jawaban.
"Bagaimana kalau orang tuamu tahu? Bukankah itu akan menjadi masalah?"
Zhang Xue menggeleng sambil tersenyum pahit. Ibunya hanya selir rendahan, dan statusnya di istana lebih rendah dari pelayan. Lagipula Kaisar Zhang punya beberapa putri.
"Dia tidak pernah peduli!" jawabnya.
Erlang Xuan, Zhang Xue, dan Hehua mendatangi kuil langit yang tak pernah dipedulikan orang-orang. Di sana, Mereka disambut oleh orang tua yang merupakan pengurus kuil.
(Sebut saja biksu)
"Kalian datang di waktu yang tepat!" Biksu tua menghampiri ketiganya. Sang Biksu lalu mengalihkan pandangannya ke Hehua. Ia memberikan sebuah gelang tasbih ke gadis itu. Meski bingung, gelang itu tetap dipakai sebagai bentuk penghargaan kepada sang Biksu.
Para biksu membakar dupa dan ritual sederhana dimulai. Selain para biksu, tidak ada lagi yang mengetahui pernikahan rahasia itu. Orang yang lewat pun tidak peduli sama sekali.
"Kalian memang ditakdirkan bersama!" jelas Biksu tua itu.
"Dua energi yang bertolak belakang, tapi menjadi penenang!" lanjutnya.
"Orang tua ini cuma mau bilang, seseorang telah menukar takdirmu!"
Pernyataan Sang Biksu tidak membuatnya terkejut. Ditukar atau tidak, baginya sama saja. Yang bisa dilakukannya hanya satu, merebut takdirnya atau memutar balikkan roda takdir.
"Siapa yang melakukannya?" tanyanya.
"Sebelum lahir, takdirmu sudah ditukar. Seharusnya kamu sudah mati, tapi seseorang menyelamatkanmu. Tanpa sadar orang itu mematahkan kutukan takdir! Dia ibumu!"
"Ibuku!" Ia hanya bisa menunduk. Ibunya sudah tidak ada, bahkan mayatnya pun tak tersisa. Sekarang, semuanya sudah jelas. Luka ibunya tidak pernah sembuh karena dirinya.
"Jangan sedih! Seorang ibu akan melindungi anaknya, meski ia dibenci oleh anaknya sendiri!" Zhang Xue menggenggam tangan Erlang Xuan.
"Kamu benar, tapi tetap saja seseorang harus bertanggung jawab!" balasnya. Tatapannya berubah dingin, dan kilatan amarah muncul di matanya. Topeng yang dipakainya bersinar beberapa detik, seolah merespon amarahnya.
"Aku tidak mau dipermainkan. Takdir sekalipun akan kulawan. Jika takdir membenciku, akan kupatar roda takdir sialan itu!" katanya.
Biksu tua itu tersenyum. Ia teringat dengan seseorang yang mengacaukan jalur takdir. Akibatnya, apa yang seharusnya terjadi, tidak terjadi. Bahkan, sampai hari ini pun, penguasa yang ditunggu oleh kaisar dewa tertinggi tidak dilahirkan. Semua itu karena sayu orang yang mengacaukan jalur takdir karena kesal.
"Takdir penguasa jatuh kepada seseorang yang dihantui masa lalu yang kelam!" katanya dalam hati.
"Erlang Xuan, nama yang sama, tapi takdir yang berbeda!" gumamnya.