Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Masih Jadi Beban Orang Tua.
"Kalau begini caranya, aku bakal nggak bisa dinas malam," Elok meringis, setiap sentuhan Arya terasa begitu nyeri pada kakinya.
"Telepon saja, mereka akan mengerti kalau kamu butuh istirahat dulu dalam waktu beberapa hari ini," usul Arya, tangannya dengan telaten mengompres menggunakan es batu yang telah dibalut kain.
"Benar juga," Elok mengambil ponselnya, tanpa banyak berfikir menjepret kakinya yang masih membengkak. "Apa lagi ada kamu disini, mereka akan lebih percaya," sambil mengetikan pesan yang akan dikirimnya.
"Tunggu, jangan langsung dikirim," Arya menatap sebentar pada Elok dengan sorot protes setelah melihat hasil jepretan wanita itu, memperlihatkan dirinya yang sedang mengompres dengan latar belakang restoran yang jelas terlihat.
Entah kenapa ia merasa wanita yang mampu mencuri hatinya ini sedikit ceroboh, tidak memperhitungkan apa opini atasan dan rekan medis saat melihat hasil jepretan itu.
"Jangan yang ini," Arya menghapus, lalu menjepret ulang, hanya memperlihatkan pergelangan kaki Elok yang membengkak. "Yang ini saja," sambil mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.
"Kamu malu, karena di foto tadi memperlihatkan kamu sedang mengompres kakiku?" Elok cemberut manja melihat hasil jepretannya telah terhapus.
Mendengarnya, Arya mendesah pelan tanpa disadari Elok, ternyata kekasihnya tak mampu menangkap maksudnya, malah salah faham.
"Elok," Arya menatap lembut pada kekasihnya itu. "Menurutmu, apa tanggapan rekanmu, juga atasan kita.... bila kamu minta izin karena sakit tapi melihat foto kita sedang berada di restoran?"
Elok terlihat berfikir sebentar. "Aku cederanya memang di mall sini, kan? Apa salahnya potret itu?" tanyanya polos, balas menatap Arya.
Arya menepuk jidatnya, lalu tertawa sendiri, lebih tepatnya menertawai dirinya sendiri atas apa yang ia temukan pada diri Elok. Ternyata dalam hal seperti ini saja mereka berdua memiliki pemahaman yang berbeda.
Tak ingin memperpanjang, Arya lebih memilih melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda, kembali mengompres pergelangan kaki Elok dan memberikan waktu pada kekasihnya itu mengetik pesan untuk izin berkerja.
Namun sebentar saja Arya bertahan dalam diamnya, rasa penasarannya memaksanya untuk kembali bertanya.
"Kamu kok sampai bisa terpeleset di eskalator tadi, heum?" tangan Arya memindahkan es batu berbalut kain itu ke area mata kaki bagian dalam. "Bukannya kamu bilang lagi pilih dasi di toko pakaian pria?"
Arya menghentikan kegiatannya lalu mendongak setelah sekian waktu berlalu Elok tak kunjung menjawab.
"Aw... aw... sakit, Sayang...."
Arya mengernyit mendengar erangan Elok, padahal dirinya tidak sedang menyentuh pergelangan kaki kekasihnya itu. "Masih berdenyut?" tanyanya.
"Iya, sakit sekali..." angguk Elok dengan suara mencicit.
"Kita pulang saja," ajak Arya, merasa kasihan pada Elok, melupakan pertanyaannya yang tak kunjung dijawab.
"Cincinnya gimana?" Elok mengingatkan.
"Masih di toko perhiasan. Nanti saja kita mencobanya tunggu kondisi kakimu membaik beberapa hari ke depan, nggak papa kan?" Arya tersenyum, seraya bangkit dari jongkoknya.
Elok mengangguk pelan.
Di dalam hati, sebenarnya ia sangat tidak rela menunda waktu mengambil cincin pertunangan dirinya dan Arya, tapi apa boleh buat, saat ini ia tidak mampu berdiri, juga masih merasa malu akibat insiden jatuhnya tadi.
"Sebentar ya, aku akan mengembalikan ini dulu," Arya membawa mangkuk kompres yang ia pinjam tadi menuju dapur.
...***...
Pemandangan bak kapal.pecah sudah terbiasa Soraya lihat di rumah orang tuanya.
Lap kaki bergelimpangan di lantai, jaket kedua adik perempuannya yang masih SMU dilempar begitu saja ke atas sofa tamu setelah mereka pulang sekolah.
Di dapur lebih parah, peralatan masak dan peralatan makan yang digunakan untuk sarapan pagi dan makan siang tidak ada satupun penghuni rumah yang mau jadi relawan untuk membereskannya.
"Mbak Ritaaaa!" pekik Soraya sekuat tenaga.
"Apaan sih, teriak-teriak, bayiku bangun kan jadinya!" Rita mengomel, keluar dari kamar sambil menggendong bayinya yang belum.genap satu tahun itu.
Dari kamar sebelahnya lagi, Irma tergopoh-gopoh keluar.
"Mbak jangan pura-pura lupa ya, tadi pagi sudah tugasku memasak!" ungkit Soraya seraya melemparkan tas jalannya ke kursi meja makan. "Kenapa aku pulang mbak belum masak dan berberes? Aku lapar!"
"Kamu nggak liat Mbakmu ini lagi momong bayi?" sengit Rita tak mau di salahkan. "Memangnya di rumah ini cuma ada Mbak?"
"Sudah-sudah, malu didengar tetangga," lerai Irma, memegangi pelipisnya yang ditempeli kertas putih serupa plester. Pereda nyeri sakit kepala itu seakan hilang khasiatnya mendengar dua putrinya yang sudah berumah tangga itu kembali bertengkar.
"Lia! Yuni! Masak kalian berdua!" panggil Rita sambil mendiamkan bayinya yang menangis karena masih mengantuk.
Karena tak ada sahutan, Irma gegas ke kamar kedua putrinya itu. "Mereka sepertinya masih kelelahan setelah pulang sekolah tadi, masih tidur," gumamnya, setelah sempat mengintip sebentar ke dalam kamar.
"Kenapa nggak beli lauk masak aja, kan beres! Di magic com udah ada nasi," Rita kembali berucap pada Soraya yang memasang wajah angkernya.
'Mana uangnya?" Soraya langsung menadahkan tangannya di depan wajah kakak sulungnya itu.
"Uangmu kan banyak, kok malah minta ke Mbak, ngeledek?" Rita sangat tidak suka pada cara adiknya itu bersikap padanya.
"Kalau tak punya uang sebaiknya Mbak masak saja di dapur karena bahan-bahan yang kubeli beberapa hari lalu masih ada di dalam sini," Soraya membuka pintu kulkas di sampingnya selebar mungkin hingga full.
"Tidak masalah. Nih, momong bayiku," Rita mengalah, menyerahkan bayi dalam gendongannya pada Soraya.
"Enak aja, antar ke ayahnya!" Soraya mundur menarik dirinya. "Aku tak suka anak-anak, Mbak. Adri dan Naomi aja si Melitha yang mengurus mereka sejak bayi!"
"Ayahnya masih tidur, Raya... Kamu tahu sendiri kalau malam suamiku yang begadang momong bayi," Rita tetap menyodorkan bayinya pada Soraya.
"Ogah!" Soraya meraih tasnya.
"Mending aku pulang ke rumah mas Har, disini isinya pemalas semua! Sudah untung aku belikan bahan makanan, masih juga aku yang masak, keenakan kalian!" dongkolnya melangkah keluar dari dapur.
"Yakin mau pulang?" lantang Rita yang terlanjur kesal pada sikap dan perkataan adiknya yang menyinggung perasaannya.
"Mereka pasti tidak menginginkanmu lagi, Raya! Buktinya, jangankan menjemputmu pulang, menelpon saja tidak!"
Ucapan Rita menghentikan langkah Soraya di ambang pintu dapur. Biasanya, dua hari saja dirinya tidak pulang, Harry pasti datang untuk membujuknya pulang. Tapi sekarang, memasuki hari ketiga suami dan anak-anaknya malah tak ada kabar, seakan tanpa kehadirannya mereka baik-baik saja, dan itu membuatnya cemas.
"Kita lihat saja nanti!" Soraya menatap nyalang kakaknya lalu pergi sambil menghentak-hentakan kakinya.
"Kamu, suami dan anak-anakmu kapan pulang seperti Raya, Rita?"
Rita menoleh, menemukan Rizal, ayahnya, berdiri di samping ibunya.
"Ayah mengusir kami?" tanyanya dengan raut tidak terima.
"Bukannya seharusnya kalian yang sudah menikah memang hidup terpisah dari kami? Biar bisa mengurus rumah tangga kalian sendiri?" Rizal menatap tegas putri sulungnya itu.
"Disini, kalian hanya menambah beban saja. Kamu malas di dapur, dan suamimu malas mencari nafkah," tambahnya, lalu beralih pada isterinya.
"Bapak ngewakar dulu, Buk. Biar dikit hasilnya, tapi tetap gajian tiap akhir bulan. Dari pada tiduran sepanjang hari, dapur gak bakal ngepul," sindir Rizal, beranjak pergi setelah berpamitan pada isterinya.
Bersambung✍️
✍️Wakar : sebutan untuk tukang jaga rumah, satpam, atau orang yang bertugas mengamankan suatu area/lingkungan. (Bahasa Banjar di Kaltim).
Melitha udah mumet. Rumah tangga mamas na malah jauh lebih rumit.