Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.
Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obat perangsang
Aula hotel itu berkilau oleh lampu kristal dan gaun-gaun mahal. Acara amal tahunan yayasan internasional Luciano sedang berlangsung penuh senyum palsu, jabat tangan, dan kamera.
Luciano berdiri dengan setelan hitam rapi, segelas anggur di tangan. Wajahnya tenang, sikapnya sempurna. Tapi pikirannya tidak pernah jauh dari Alana.
Dari sudut ruangan, Valeria memperhatikannya.
Gaun merah menyala membungkus tubuhnya dengan berani. Potongannya berani, jelas dirancang bukan untuk sekadar hadir, melainkan menarik perhatian. Jenny berdiri tak jauh, memberi isyarat kecil dengan senyum licik.
Sekarang.
Valeria melangkah mendekat, langkahnya anggun, senyumnya terlatih.
“Luciano,” sapanya lembut. “Kau terlihat memikat malam ini.”
Luciano menoleh. Alisnya terangkat sedikit, bukan karena tertarik, tapi karena curiga.
“Terima kasih. Kau bagian dari panitia?”
“Donatur,” jawab Valeria sambil tertawa kecil. Ia berdiri terlalu dekat. Aroma parfumnya menyusup. “Dan pengagum.”
Ia menyentuhkan jari ke lengannya sekilas, seolah tak sengaja.
Luciano tidak menjauh tapi juga tidak membalas. Tatapannya tetap dingin.
“Aku tidak tertarik pada permainan seperti ini,” ucapnya tenang.
Valeria tersenyum, tidak menyerah. “Banyak pria sepertimu lelah berpura-pura kuat. Kadang mereka hanya butuh seseorang yang mengerti.”
Ia memiringkan kepala, menatap Luciano dengan mata yang sengaja dibuat sendu.
Luciano menyesap anggurnya pelan, lalu menurunkan gelas.
“Yang mengerti aku bukan kau.”
Nada suaranya rendah, sopan namun menutup semua pintu.
Valeria mencoba tertawa. “Kau terlalu setia pada satu wanita, Luciano. Dunia luas.”
Luciano akhirnya menatapnya penuh.
“Justru karena dunia luas, aku memilih satu.”
Kalimat itu seperti tamparan halus.
Dari kejauhan, Jenny mengerutkan kening. Ini tidak berjalan sesuai rencana.
Valeria mencondongkan tubuh sedikit, mencoba langkah terakhir. “Jika suatu hari kau berubah pikiran—”
“Aku tidak akan,” potong Luciano, masih dengan senyum tipis. “Dan satu saran dariku, jangan biarkan orang lain menggunakanmu untuk menyerang hidup pribadiku.”
Wajah Valeria pucat seketika.
Luciano melangkah pergi, meninggalkannya berdiri kaku di tengah gemerlap pesta.
Di balkon lantai atas, Luciano menghela napas panjang. Tangannya mengepal di saku jas.
Bukan karena godaan itu hampir berhasil, melainkan karena ia sadar, Alana sedang dikelilingi bahaya yang tidak ia sadari.
Dan ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya. Dengan cara apa pun.
***
Flashback – Beberapa Jam Sebelum Acara Amal
Alana berdiri di depan jendela besar kamar yang kini terasa seperti sangkar emas. Tirai tipis bergoyang pelan tertiup angin malam, tapi dadanya justru terasa semakin sesak.
Luciano belum pulang. Ia bilang hanya acara amal. Ia bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Namun semakin malam merayap, semakin keras pula ketakutan itu mengetuk.
“Bagaimana kalau dia berbohong? Bagaimana kalau aku hanya satu dari sekian banyak?”
Bayangan-bayangan buruk tak bisa dicegah. Pesta malam, lampu gemerlap, musik pelan, perempuan-perempuan cantik dengan gaun terbuka, dan Luciano di tengahnya. Tersenyum, tertawa dan menyentuh. Dan melupakan Alana.
Tanpa sadar, air mata menggenang di pelupuk matanya.
Langkah kaki Alana berhenti di depan ruang kerja Luciano. Pintu terbuka sedikit. Di dalam, Altair sedang berdiri, memeriksa sesuatu di ponselnya.
“Altair,” panggil Alana pelan.
Altair langsung menoleh. Wajahnya berubah waspada lalu melunak saat melihat ekspresi Alana.
“Ada apa, Nyonya?”
“Luciano ke mana sebenarnya?” suara Alana lirih, tapi jujur. “Aku ingin tahu. Bukan sebagai tahanan di rumah ini. Tapi sebagai seseorang yang peduli.”
Altair terdiam sejenak. Ia tahu, menyembunyikan kebenaran justru akan melukai lebih dalam.
“Ada acara amal,” jawabnya akhirnya. “Diselenggarakan oleh yayasan internasional. Di Hotel Grand Celestia.”
Jantung Alana terasa jatuh.
“Acara amal,” ulangnya. “Pesta?”
“Ya. Pesta malam.”
Kata itu seperti pisau kecil yang menusuk perlahan.
“Dia bilang dia hanya pergi sebentar,” gumam Alana. “Dia bilang tidak ada siapa-siapa.”
Altair menatap Alana lama. Ia melihat bukan kecemburuan melainkan ketakutan seseorang yang pernah ditinggalkan secara emosional.
“Nona Alana,” ucap Altair rendah, “Luciano bukan pria yang bermain-main dengan ucapannya. Tapi aku mengerti ketakutanmu.”
Altair melangkah menjauh sebentar, lalu kembali dengan sebuah kotak besar berwarna putih.
“Ini milikmu.”
Alana mengernyit. “Apa ini?”
“Gaun.”
Perlahan, Alana membuka kotak itu.
Gaun biru muda terlipat rapi di dalamnya. Kainnya lembut, sederhana namun anggun. Batu-batu Swarovski kecil menghiasi bagian dada dan pinggang, memantulkan cahaya dengan lembut, tidak mencolok, tapi menawan.
“Ini… cantik,” bisik Alana, matanya terpaku.
“Luciano yang memilihkannya,” kata Altair jujur. “Beberapa hari lalu. Ia bilang… warna ini menenangkan. Mengingatkannya pada ketulusan.”
Hati Alana bergetar.
“Antar aku ke sana,” ucapnya tiba-tiba. “Aku ingin melihat sendiri. Aku ingin memastikan.”
Altair mengangguk.
“Kau berhak.”
***
Malam itu, mobil hitam Luciano berhenti di depan Hotel Grand Celestia.
Lampu-lampu pesta memantul di kaca mobil saat Alana turun dengan gaun biru mudanya. Langkahnya ragu, tapi tekadnya kuat.
Dan di dalam aula, di saat Valeria masih berdiri dengan senyum yang dipaksakan, di saat Luciano baru saja meninggalkan godaan itu dengan dingin.
takdir membawa Alana masuk ke dunia yang selama ini hanya ia bayangkan.
Dan Luciano belum tahu bahwa wanita yang paling ia lindungi kini berdiri hanya beberapa langkah dari jangkauannya.
Gelas kristal itu sudah kosong.
Luciano meletakkannya di meja tinggi dengan gerakan tenang, terlalu tenang. Ia tak tahu bahwa beberapa menit sebelumnya, Valeria menatapnya dari balik senyum palsu saat menuangkan minuman itu. Tangannya sedikit gemetar, tapi rencananya berjalan.
Kini reaksinya mulai muncul.
Panas menjalar pelan dari tenggorokan ke dada. Napas Luciano terasa lebih berat, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Bukan mabuk, ini berbeda. Indranya menjadi terlalu peka. Suara musik terasa lebih dekat. Lampu-lampu tampak lebih menyilaukan.
Ada yang salah.
Luciano mengerutkan kening, berusaha mengatur napas. Tangannya mengepal di saku jas. Disiplin bertahun-tahun membuatnya tetap berdiri tegak, namun tubuhnya mulai melawan.
Dan saat itulah, langkah kecil terdengar di belakangnya. Luciano menoleh. Waktu seperti berhenti.
Di pintu aula, Alana berdiri dengan gaun biru muda yang memantulkan cahaya lembut. Batu-batu kecil di gaunnya berkilau seperti bintang. Wajahnya pucat, matanya penuh ketakutan dan keberanian.
“Alana…?” suaranya keluar rendah, nyaris tak terdengar.
Kaget bukan kata yang cukup. Dunia Luciano runtuh dan menyatu sekaligus.
Semua yang lain menghilang. Musik, tamu, dan lampu.
Yang ada hanya dia.
“Kenapa kau di sini?” Luciano melangkah mendekat karena refleks, lalu berhenti. Tubuhnya terasa panas. Kepalanya sedikit berdenyut. Instingnya berteriak, bahaya.
Alana menelan ludah. Matanya sempat melirik ke meja minuman, lalu kembali menatap Luciano.
“Aku ingin melihat sendiri,” jawabnya jujur. “Aku ingin tahu… kau benar-benar di sini untuk apa.”
Luciano menghela napas panjang, mencoba menahan gelombang aneh yang mengalir di tubuhnya. Rahangnya mengeras. Ia sadar, minumannya telah dicampur sesuatu.
Dan Valeria, dari kejauhan, tersenyum tipis.
Luciano menangkap tatapan itu sekejap. Cukup untuk memastikan.
Ia berbalik ke Alana dengan wajah tegas namun mata yang penuh kekhawatiran.
“Dengarkan aku,” ucapnya rendah dan cepat. “Kau tidak seharusnya berada di ruangan ini sekarang.”
“Kau menyembunyikanku?” suara Alana bergetar. “Atau kau menyembunyikan sesuatu dariku?”
Luciano meraih pergelangan tangan Alana, bukan kasar, tapi protektif. Sentuhannya hangat, terlalu hangat. Alana terkejut merasakan getaran halus di tangannya.
“Aku tidak pernah berbohong soalmu,” katanya, menahan napas. “Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun,siapa pun memanfaatkan malam ini untuk menyakitimu.”
Ia mencondongkan tubuh, berbisik dengan nada yang tegas namun penuh kendali yang dipaksakan.
“Aku perlu membawamu pergi. Sekarang.”
Alana menatap matanya. Ada sesuatu yang berbeda, bukan hasrat, melainkan perjuangan. Perjuangan seorang pria yang sedang melawan tubuhnya sendiri demi melindunginya.
Di kejauhan, Valeria menyadari rencananya tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Karena Luciano tidak goyah. Ia hanya semakin posesif, waspada, dan berbahaya bagi siapa pun yang mencoba menyentuh apa yang ia cintai.
***