NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 – Diam yang Disangka Kalah

Ratna merasa dirinya menang.

Sejak kejadian di pasar beberapa hari lalu, keyakinan itu semakin menguat. Baginya, Naya tak lebih dari perempuan lemah yang hanya bisa menunduk dan menelan hinaan. Diamnya Naya dianggap sebagai pengakuan kalah. Tidak melawan berarti tidak berdaya. Tidak menjawab berarti tak punya senjata.

Dan Ratna menikmati posisi itu.

Ia mulai lebih sering menelepon Adit. Nadanya tidak selalu keras, tapi setiap kalimatnya menusuk. Tentang usia pernikahan. Tentang keturunan. Tentang masa depan keluarga. Tentang rasa malu pada tetangga dan kerabat.

Sedikit demi sedikit, kata-kata itu menggerogoti.

Adit semakin tertekan. Namun setiap kali ia hendak membela istrinya, kalimat itu selalu terhenti di tenggorokan. Ada ketakutan yang tak ia ucapkan. Ketakutan yang bahkan tak berani ia akui pada dirinya sendiri.

Sementara Naya… tetap diam.

Bukan karena ia kalah.

Melainkan karena ia lelah.

Inah melihat semuanya dari jarak dekat.

Perempuan paruh baya itu sudah lama bekerja di rumah Naya. Ia tahu betul bagaimana majikannya selalu bersikap sopan, bahkan saat diperlakukan tidak manusiawi. Inah melihat Naya menelan air mata sendirian di dapur, menghela napas panjang, lalu kembali tersenyum seolah tak terjadi apa-apa.

Sore itu, Naya duduk termenung di ruang keluarga dengan secangkir teh yang sudah dingin. Inah memberanikan diri mendekat.

“Bu…”

Naya menoleh pelan. “Iya, Inah?”

Inah ragu sejenak, lalu berkata lirih, “Maaf kalau Inah lancang. Tapi… ibu jangan terus diam kalau ditindas.”

Naya tersenyum tipis. “Aku nggak ditindas, Nah.”

Inah menggeleng pelan. “Ibu bukan nggak ditindas. Ibu terlalu baik.”

Kalimat itu membuat Naya terdiam.

“Orang yang terus mengalah,” lanjut Inah dengan suara pelan tapi tegas, “lama-lama dianggap pantas diinjak. Bukan karena salah, tapi karena diam.”

Naya menunduk. Tangannya mengepal di atas pangkuan.

“Aku cuma nggak mau memperkeruh keadaan,” ucapnya lirih.

Inah menatapnya dengan iba. “Keadaan sudah keruh, Bu. Ibu cuma berdiri sendirian di tengahnya.”

Untuk pertama kalinya, mata Naya berkaca-kaca. Ia mengangguk pelan. Bukan karena sepenuhnya setuju—melainkan karena hatinya sudah terlalu penuh untuk menyangkal.

Malam minggu itu seharusnya sederhana.

Adit mengajak Naya makan malam di sebuah restoran yang cukup ramai namun hangat. Ia ingin memperbaiki suasana setelah beberapa hari terakhir terasa berat. Naya menyetujui, meski hatinya tak sepenuhnya ringan.

Mereka duduk berhadapan. Lampu temaram memantul di gelas dan piring. Adit berusaha bercakap ringan, sesekali tersenyum, namun senyum itu tak pernah sampai ke matanya.

Naya memperhatikannya dalam diam.

Ia ingin bicara.

Ingin bertanya.

Tapi seperti biasa, ia menunggu waktu yang tepat—atau mungkin hanya menunda rasa sakit.

Makanan baru saja tersaji ketika suasana berubah.

Suara langkah keras disertai suara lantang memecah percakapan di restoran.

“Naya!”

Tubuh Naya menegang.

Ia mengenali suara itu bahkan sebelum menoleh.

Ratna berdiri tak jauh dari meja mereka. Wajahnya merah, sorot matanya tajam. Beberapa pengunjung mulai menoleh.

“Apa-apaan ini?” Ratna menunjuk Naya tanpa basa-basi. “Makan enak-enak sementara tugasmu sebagai istri belum beres!”

“Ibu, kita di tempat umum,” ucap Adit pelan, wajahnya memucat.

“Justru bagus!” Ratna meninggikan suara. “Biar semua orang tahu! Perempuan ini sudah hampir empat tahun menikah tapi belum juga bisa kasih keturunan!”

Bisik-bisik mulai terdengar.

Naya menunduk. Tangannya bergetar di bawah meja.

“Mandul!” lanjut Ratna tanpa peduli. “Istri macam apa yang nggak bisa kasih anak ke suaminya?”

Adit menelan ludah. Dadanya sesak. Kata-kata ingin keluar, tapi rasa takut menahannya—takut jika kenyataan justru berpihak pada ibunya.

Ratna semakin berani. Ia mendekat dan menunjuk wajah Naya.

“Kamu pikir diam terus bikin kamu kelihatan suci? Kamu cuma nggak punya jawaban!”

BRAKK!

Naya menggebrak meja.

Restoran mendadak sunyi.

Semua mata tertuju padanya.

“Cukup, Bu.”

Suara Naya bergetar, tapi jelas.

“Cukup.”

Ratna terdiam, tak menyangka.

Dengan napas tertahan, Naya berdiri. Matanya berkaca-kaca, namun tatapannya tegak.

“Empat tahun saya diam,” katanya lirih tapi tegas. “Empat tahun saya dihina. Di rumah, di luar, bahkan di tempat umum.”

Ia mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya.

“Tapi malam ini, saya tidak akan diam lagi.”

Naya mengeluarkan selembar kertas.

“Saya sudah periksa. Ini hasil pemeriksaan saya.”

Ratna tertawa sinis. “Paling akal-akalan!”

Naya menatapnya tanpa gentar. “Kalau ibu tidak percaya, saya bisa telepon dokter saya sekarang.”

Ia menekan layar ponselnya dan mengaktifkan pengeras suara.

“Assalamu’alaikum, Dok.”

“Wa’alaikumsalam, Bu Naya.”

“Dokter, mohon konfirmasi kembali hasil pemeriksaan kesuburan saya.”

Suara dokter terdengar jelas di seluruh restoran.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan, kondisi Ibu Naya sangat baik dan tidak menunjukkan masalah kesuburan.”

Beberapa pengunjung menutup mulut.

Ratna mematung.

“Secara medis,” lanjut dokter, “Ibu Naya sehat.”

Naya mematikan sambungan. Tangannya gemetar, tapi suaranya tetap tenang.

“Sudah cukup, Bu?”

Ratna mundur selangkah. Lalu dua.

“Tidak mungkin…” gumamnya. “Anak saya tidak mungkin bermasalah.”

Seorang pengunjung berdiri. “Bu, jangan asal menuduh. Fitnah itu dosa.”

Yang lain menyahut, “Kalau saya punya anak laki-laki, sudah saya jodohkan dengan perempuan sekuat ini.”

Sorakan kecil terdengar. Ada yang bertepuk tangan.

Ratna menutup telinganya. Wajahnya pucat. Ia tak berkata apa-apa lagi, lalu berbalik dan pergi dengan langkah tergesa, menelan malu di hadapan banyak mata.

Adit masih berdiri terpaku. Kepalanya tertunduk—malu, bersalah, dan takut bercampur jadi satu.

“Naya…” suaranya serak.

Naya tidak menjawab.

Ia duduk kembali. Tubuhnya gemetar hebat.

Seorang pelayan menghampiri dengan wajah iba.

“Ibu tidak apa-apa?”

Naya mengangguk pelan.

Tanpa mereka sadari, di sudut restoran, seseorang menurunkan ponselnya. Layar menampilkan rekaman video yang baru saja berhenti.

Jarinya bergerak cepat.

Send…

Tak lama kemudian, layar itu menampilkan dua tanda centang biru.

pesan terbaca.

Siapa yang menerima video itu?

Dan untuk apa?

...----------------...

Selamat siang readers selamat membaca like komennya dong terimakasih...

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!